Playboy Insaf

Playboy Insaf
Empatpuluh dua



Keesokan harinya Aril pergi ke Surabaya. Bukan hanya dengan Bimo tapi Reni adiknya Refan juga ikut. Selama dalam perjalanan Aril melihat ada sesuatu yang bermakna dalam tatapan Bimo.


Tanpa sadar selama dalam perjalanan Reni tertidur di bahu Bimo dan Bimo dengan sabarnya tetap bertahan di samping Reni.


Dia tidak bergerak sedikitpun takut Reni terbangun karena pergerakannya. Fix... Aril semakin yakin Bimo sudah mulai ada getar - getar cinta.


Aril yang merupakan playboy ulung bisa menilai dengan mata keranjangnya, bisa melihat ciri - ciri laki - laki yang tertarik dengan wanita.


Tiba - tiba mata Aril membesar dan bersinar. Seperti mendapatkan bisikan entah dari mana. Aril seperti mendapatkan sebuah ilham.


Ahhaaaa... aku jadi punya ide. Gimana kalau mereka aku jodohin aja. Bimo juga pria yang baik kok, aku rasa Refan akan setuju. Nah kalau Bimo dapatkan Reni dan aku berhasil membantunya pasti dia akan memberi restu aku mendekati Bela. Batin Aril.


Aril tersenyum penuh makna, akal bulusnya benar - benar akan segera dia jalankan agar langkahnya untuk mendekati bidadari surganya juga berjalan dengan baik dan lancar.


Mereka sampai di Bandara Internasional Juanda malam hari. Mereka dijemput supir dari kenalan Aril di kota ini.


Aril dan Bimo sengaja tidak memberikan kabar kepada Bapak dan Ibu Akarsana juga Bela akan kedatangan mereka ke Surabaya karena mereka ingin buat kejutan.


"Mas kita makan malam dulu yuk, aku laper banget" rengek Reni pada Aril.


"Duuuh habis tidur dan mimpi indah setelah bangun laper ya.... " goda Aril.


"Aaaah Mas Ariiiiil.... " protes Reni dengan wajah merah merona.


Bimo tersenyum tipis, sebenarnya dia sedikit merasa malu karena itu artinya Aril tadi memperhatikan interaksinya bersama Reni.


"Ya sudah kita makan aja dulu Ril. Kasihan Dek Reni lapar" sambut Bimo.


"Okey... ku punya referensi, tempat makan yang enak Bim?" tanya Aril.


"Sudah lama sekali Ril. Sudah sepuluh tahun berlalu. Kota ini juga sangat banyak berubah. Aku tidak tau mau makan dimana lagi sekarang" jawab Bimo.


"Ya sudah nanti kita tanya Pak Supir aja dan minta dia carikan kita tempat makan yang enak di sini" sambut Aril.


Mereka masuk ke dalam mobil yang menjemput. Aril duduk di depan disamping Pak Supir sedangkan Reni dan Bimo duduk di belakang. Lagi - lagi mereka duduk berdekatan.


Pak Supir membawa mereka makan malam di salah satu Restoran setelah itu baru mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Bimo.


Sesampainya di rumah Bimo pintu di buka oleh Bela. Bela tampak sangat terkejut dengan kedatangan mereka.


Aril tampak tersenyum ketika melihat wajah Bela. Rasa rindu nya beberapa minggu ini rasanya sudah terobati. Walau Bela tampak sedih karena kepulangan Bimo Kakaknya setelah sepuluh tahun ke rumah orang tua mereka.


Tapi semua itu tidak mengurangi kecantikan yang terpancar dari wajah Bela dan Aril semakin yakin dengan perasannya.


"Mas Bimoooo.... " ucap Bela begitu dia membuka pintu rumahnya.


"Paaaak Buuuu Mas Bimo pulaaaang" teriak Bela sangkin senangnya.


Bapak dan Ibu Akarsana yang sedang bersiap hendak istirahat ke kamar terkejut mendengar teriakan Bela. Mereka langsung menyusul Bela ke depan.


Bu Akarsana langsung memeluk Bimo, matanya tampak berkaca - kaca. Mereka saling berpelukan. Suasana harus sangat terasa menyambut kedatangan mereka bertiga.


Setelah itu baru mereka tersadar kalau ada Reni dan Aril juga yang ikut datang kw Surabaya.


"Eh ada Nak Reni dan Nak Aril rupanya. Mereka ikut juga ke sini?" tanya Pak Akarsana terkejut melihat kehadiran Reni dan Aril.


Reni dan Aril langsung mencium tangan Bapak dan Ibu Akarsana bergantian.


"Iya Pak, mau kasih kejutan buat Bela. Besok kan dia wisuda. Aku udah izin juga seminggu sama Mas Refan. Jadi bisa sekalian liburan dan jalan - jalan di kota ini" jawab Reni sopan.


"Waaah aku tersanjung sekali kalian mau datang ke acara wisudaku" sambut Bela.


"Apalagi kedatangan calon Bos ya kan Bel? Jarang banget ada kesempatan seperti ini. Calok Bos datang ke wisuda calon sekretarisnya" ujar Reni sambil melirik ke arah Aril.


Aril tersenyum lebar dan merasa tersanjung dengan ucapan Bela barusan.


"Senin Mas ada pertama dengan client dan besok acara Mas kosong. Gak ada salahnya kan kedatangan ke Kota ini dipercepat. Udah janji juga sama Bimo mau berangkat bareng. Rupanya Reni tertarik untuk ikut ke sini juga ya sudah sekalian kami bareng - bareng ke sini" jawab Aril.


"Ayo masuk.. masuk.. " ajak Bu Akarsana.


Mereka masuk ke dalam rumah dengan membawa koper mereka masing-masing.


"Kalian sudah makan?" tanya Bu Akarsana.


"Sudah Bu, tadi sebelum ke sini kami singgah ke Restoy makan dulu. Dek Renita udah kelaperan katanya" jawab Bimo sambil merangkul tubuh Ibunya dalam pelukannya sembari berjalan menuju ruang keluarga.


"Kenapa gak kasih kabar, Ibu kan bisa siapkan makanan spesial untuk kalian" ujar Bu Akarsana.


"Saya gak ada rencana ikut Bu. Pulang kerja Mas Aril dan Mas Bimo sudah kumpul di rumah Mad Refan dengan koper mereka. Aku penasaran mereka mau kemana? Ternyata mau ke sini dan aku di ajak. Alhamdulillah Mas Refan kasih izin jadinya dadakan aku ikutnya. Langsung susun baju dan pamitan sama Mama dan yang lainnya" jawab Reni.


"Ren siapkan kamar Almarhum Mas Bima untuk Aril, kamar Bimo juga" perintah Bu Akarsana.


"Iya Bu, Ren kamu tidur dikamar aku ya" ajak Bela.


"Iya Bel" sambut Reni senang.


Bela langsung pergi mengerjakan perintah Ibunya sedangkan Bu Akarsana bergegas hendak ke dapur.


Aril, Bimo dan Pak Akarsana melanjutkan perbincangan mereka mengenai perkembangan kasus pembunuhan almarhum suami pertama Kinan yang tak lain adalah putra Bapak Akarsana dan saudara kembarnya Bimo.


Tak lama Bu Akarsana sudah kembali bersama Bela yang sedang membawa nampan berisi gelas minuman untuk Aril, Bimo dan Reni.


Bela membagikan gelas kepada mereka dan mempersilahkan mereka minum.


"Silahkan diminum" perintah Bela.


Reni tersenyum menatap Bela.


"Jadi gara - gara kamu melakukan ini sampai dikira pembokat?" tanya Reni sambil tersenyum.


"Yah begitulah. Namanya tampangnya mirip gembel" jawab Bela.


Wajah Aril langsung memerah karena malu.


"Aku sudah minta maaf" ujar Aril.


Aril kembali teringat kejadian kali pertama dia datang ke rumah ini dan pertama kali melihat Bela. Sekarang Aril sadari ada perbedaan dulu dengan saat ini.


Saat ini Bela tampak cantik sekali walaupun dulu juga cantik. Tapi sekarang tambah cantik karena Aril sudah tau kenyataan yang sebenarnya. Bela bukan seorang pembantu di rumah ini. Aril jadi semakin semangat mengejar surganya.


"Aku kira masalahnya sudah selesai, ternyata kamu belum ikhlas memaafkan Aril?" tanya Bimo.


"Ya kan kilas balik Mas" protes Bela..


"Kalian ini seperti anak - anak" ujar Bu Akarsana


"Udah sana Bel antar Aril dan Reni ke kamar biar mereka bisa segera istirahat" perintah Pak Akarsana.


"Baik Pak, yuk Mas Aril, Ren aku tunjukin kamar kalian selama tinggal di sini" ajak Bela.


Aril dan Reni dengan senang hati langsung mengikuti Bela menuju kamar mereka.


.


.


BERSAMBUNG