
Keesokan paginya Aril dan rombongan para sahabatnya gantian berangkat ke Surabaya. Aril duduk di dekat Bimo abang iparnya.
"Lho Ril tumben gak cari tempat duduk di dekat Riko?" tanya Bagus.
"Ssst... diam jangan ganggu aku" jawab Aril.
Aril berusaha mengikuti pesan Mama Romi kemarin waktu mereka bertemu di Bandara.
"Waaaw... Aril sedang jadi anak baik budi. Guys... jangan ada yang ganggu ya.. Nanti Aril tantrum sudah dieminnya Gak ada Bela" ucap Bagus kasih pengumuman.
Semua tersenyum mendengar ucapan Bagus.
"Kok tumben kamu diam aja Ril? Kamu baik - baik saja kan?" tanya Bimo khawatir.
Bimo melihat wajah Aril berkeringat.
"Aku baik - baik saja Bim" jawab Aril.
"Jadi ada apa dengan kamu?" tanya Bimo menyelidik.
"Aku sedang mengumpulkan perhatian dan konsentrasi untuk tidak mengganggu Riko hari ini. Kata Mama Romi aku bisa melawan ngidamku dengan cara memfokuskan pikiranku ke tempat yang lain dan melupakan Riko. Aku harus bisa. Harga diriku udah rendah banget di hadapan mereka" ungkap Aril.
Bimo menatap perjuangan Aril. Kasihan juga dia melihat sahabat plus adik iparnya ini. Berat banget cobaannya saat istrinya hamil. Bimo aja gak ngerasa apa - apa saat Reni hamil muda kemarin.
Akhirnya Aril memejamkan mata dan tertidur selama di dalam pesawat. Dan saat mereka mendarat di Bandara Aril merasa sangat lega sekali.
"Aku berhasil Bim" bisik Aril kepada Bimo.
"Hebat kamu" puji Bimo.
"Kenapa Aril diam aja? Kamu lagi sakit Ril?" tanah Refan.
Riko sebenarnya juga sangat penasaran dengan keanehan Aril hari ini. Tapi dia trauma dan takut Aril kembali dekat - dekat dengan dia lagi.
"Nggak, Aril hanya sedang tidak ingin banyak bicara hari ini" bela Bimo.
"Kangen Bela mungkin" sambut Kinan.
"Iya Nanti, tau aja" jawab Aril.
"Kita makan dulu atau langsung ke hotel?" tanya Bagus.
"Langsung aja deh, aku mau ketemu Bela secepatnya" potong Aril.
"Kalau begitu kita pisah di sini ya. Kami ke rumah Bapak dan Ibu kalian ke Hotel" ucap Bimo.
"Oke Bim, sampai ketemu lagi. Salam sama Bapak Ibu ya" balas Refan.
Aril, Bimo dan Reni masuk ke dalam mobil yang menjemput mereka. Sedangkan rombongan lainnya di jemput sama mobil Hotel tempat mereka menginap.
"Mas.. Mas Aril kenapa sih?" tanya Reni berbisik disamping Bimo.
Bimo menggenggam erat tangan istrinya dengan lembut.
"Aril itu sedang melawan ngidamnya" jawab Bimo.
"Emang bisa?" tangan Reni tak yakin.
"Tuh bisa, buktinya selama diperjalanan tadi Aril tidak ada sedikit pun mendekati Riko" jawab Bimo lagi.
"Ih Mas Aril hebat ya bisa melawan ngidamnya. Soalnya sulit lho, aku aja kalau udah pengen es krim gak bisa menahannya. Air liur ku rasanya udah banjir membayangkan es krim yang lembut dan manis masuk ke dalam mulut ku. Hemmmmm pasti lezat" ungkap Reni.
"Sedang dilatih Ren, alhamdulillah hari ini berhasil" sambut Aril.
"Mas singgah beli es krim ya" rengek Reni pada Bimo.
Aril melirik ke kursi belakang tempat Reni dan Bimo duduk. Dia iri dengan keromantisan Reni dan Bimo.
Ya Tuhaaan nasibku kenapa begini. Aku sudah berhasil mengatasi ngidam aneh ku ini, sebentar lagi aku akan berjuang untuk tidak menyentuh Bela. Tangis Aril dalam hati.
Mobil berhenti di depan supermarket. Sang supir turun untuk membelikan es krim yang Reni inginkan.
"Pak beli yang banyak ya.. Bela pasti mau juga" pinta Aril.
"Baik Pak" jawab supir.
Setelah selesai membeli es krim mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah orang tua Bimo. Setibanya di sana Bela menyambut Aril dengan manja.
Maklum setelah perpisahan mereka saat targedi kebakaran pabrik di Singapura. Bela dan Aril tak pernah berpisah lagi seperti ini. Ini kali kedua mereka berpisah.
Bela rasanya sangat rindu karena sudah terbiasa tidur sambil memeluk Aril setiap malamnya.
Bela mencium tangan Aril dengan hormat dan lembut penuh kasih sayang.
Seeer.... jantung Aril berdesir. Perjuanganku di mulai. Batin Aril.
"Iya sayang aku juga kangen" jawab Aril.
"Akhirnya kalian sampai juga" sambut Bu Akarsana.
"Iya Bu" jawab Reni.
Reni, Bimo dan Aril bergantian mencium tangan Bapak dan Ibu Akarsana.
"Sudah besar sekali perut kamu ya Nduk.. sebentar lagi mau lahiran" ucap Bu Akarsana.
"Iya Bu, nanti waktu anak kami lahir Bapak dan Ibu datang ya ke Jakarta" pinta Reni.
"Pasti donk" jawab Bu Akarsana.
"Ayo ajak masuk Bu, Reni pasti capek tu selama di perjalanan" ujar Pak Akarsana.
"Bawa koper kalian ke kamar kalian masing-masing. Ibu udah siapkan semuanya, setelah itu kita makan siang bersama, yuuuk... " ajak Bu Akarsana.
"Baik Bu" jawab Bimo dan Aril berbarengan.
Bela mengikuti Aril ke kamar mereka. Sesampainya di kamar Aril langsung duduk di pinggiran tempat tidur sambil bernafas lega.
"Kenapa Mas? Kok tarig nafas panjang gitu?" tanya Bela penasaran.
"Hari ini aku berhasil menjauhi Riko. Aku berjuang untuk mengalihkan pikiranku dari Riko" jawab Aril.
"Waaah hebat kamu Mas, katanya sulit lho bisa mengabaikan perasaan ngidam" sambut Bela bangga.
"Sebenarnya hatiku tersakiti yank.. sejak aku ngidam, aku jadi bahan tertawaan teman - teman" ungkap Aril sedih.
"Owh... Masku sayaang.. maafkan anakmu ini" bujuk Bela.
Aril mengelus perut Bela yang masih rata. Dan kembali menarik nafas panjang.
"Papa tidak menyalahkan kalian sayang. Yang penting kalian berdua di dalam sehat - sehat ya. Bantuin donk Mamanya biar makan yang banyak. Dengan begitu kalian berdua akan tumbuh jadi anak yang sehat di dalam perut Mama" ucap Aril ke arah perut Bela.
Melihat Aril yang penuh kehangatan seperti ini membuat Bela semakin mencintai suaminya ini. Sebenarnya sudah sebulan ini dia merasa sangat kasihan kepada Aril.
Selain Aril harus berpuasa di ranjang. Aril juga harus berperang dengan batinnya setiap harinya.
"Kalau Mas berhasil melawan keinginan ngidam Mas. Aku akan mengabulkan apapun permintaan Mas" ucap Bela sambil tersenyum.
"Benarkah sayang?" tanya Aril senang.
"Iya Mas" jawab Bela.
"Apapun?" tanya Aril.
"Apapun" ucap Bela.
"Asiiiik... " sambut Aril.
Aril mengecup lembut bibir Bela yang sudah dia rindukan selama sehari ini. Berpisah dengan Bela merupakan hal yang sangat sulit untuk saat ini. Tapi mau bagaimana lagi.
Kemarin dia masih punya tugas kantor yang harus diselesaikan sampai malam hari. Sedangkan Bela ingin secepatnya sampai di Surabaya.
Apalagi acara ini adalah acara pernikahan sahabatnya. Aril sangat mengerti, pasti Bela ingin sekali membantu Dini. Selain itu Bela juga merindukan kedua orang tuanya dan rumahnya.
Saat Aril ingin melanjutkan ke tingkat yang lebih intim tiba - tiba.
Tok.. tok.. tok..
"Bel... Ril... yuk makaaan" panggil Bu Akarsana.
Bela dan Aril saling tatap menahan kerinduan yang hanya sehari saja. Enggan rasanya berpisah tapi apa daya. Ketukan pintu dari mertua membuat Aril tak bisa melanjutkan kangennya pada istrinya.
"Iya Bu, kami akan datang" jawab Bela.
Gagal deh.. Batin Aril
.
.
BERSAMBUNG