
Mereka sampai di ruang ICU. Layar monitor sudah menunjukkan garis lurus.
Tiiiiiiiiiit.......
Suara mesin monitor.
Dokter Mutya langsung memberikan pertolongan pertama. Dia segera melakukan pacu jantung. Tapi tidak berhasil. Dilanjutkan dengan kejut jantung dengan alat.
Tetap tidak berhasil hingga akhirnya Dokter Mutya pasrah dan memerikaa nadi Hana.
"Innalillahi wa innalillahi rojiun" ucap Dokter Mutya.
"Mbak Hanaaaa.... " Tangis Dini pecah.
"Ma.. maaaaa... Mamaaaaa" Rihana ikut menangis.
Dini memeluk Rihana dengan erat, mencoba menenangkannya.
"Sudah sayang Mama sudah ke surga, Mama sudah tidak merasa sakit lagi" ujar Dini.
Riko menggenggam erat besi di ujung tempat tidur Hana.
"Hanaaa... mengapa kamu sembunyikan semuanya kepada kami" ucap Riko.
Dini mendekati Riko dan menyentuh bahunya.
"Maaas Mbak Hana sudah pergi, jangan ada penyesalan. Biarkan jalannya tenang, jangan kita beratkan dengan masalah - masalah dunia" ucap Dini mencoba membuat Riko tenang.
Riko langsung beristighfar dan memberikan doa untuk Hana. Dokter dan perawat melepas semua alat - alat kedokteran yang dipasang di tubuh Hana.
"Bagaimana Pak Riko selanjutnya?" tanya Dokter Mutya.
"Kami akan membawanya malam ini juga" jawab Riko.
"Baiklah kalau begitu kami akan segera mempersiapkannya" sambut Dokter Mutya.
Riko segera mengirim pesan kepada teman - temannya untuk membantunya menyiapkan semuanya.
Riko
Guys Hana meninggal dunia. Tolong bantu aku untuk menyiapkan segala sesuatunya di rumahnya yang berada di kompleks XXX. Aku sedang dalam perjalanan dari Bandung menuju Jakarta.
Aril
Hana sakit apa Ko?
Romi
Ya Tuhaaan.
Refan
Innalillahi wa innalillahi rojiun
Bimo
Innalillahi wa innalillahi rojiun
Bagus
Innalillahi wa innalillahi rojiun
Riko
Nanti saja aku ceritakan pada kalian. Aku lagi sibuk mengurus keberangkatannya.
Aril
Baik
"Sayang kabari Mama kamu, kita gak jadi ke rumah Mama hari ini" pesan Riko pada Dini.
"Astaghfirullah.. aku lupa Mas" sambut Dini.
Dini segera mengirim pesan kepada Anita.
Dini
Assalammualaikum. Mbak aku gak bisa ke rumah Papa hari ini. Aku dan Mas Riko sekarang di Bandung. Mamanya Rihana meninggal dunia.
Anita
Wa'alaikumsalam. Innalillahi wa innalillahi rojiun.. iya dek nanti Mbak bilang sama Papa dan Mama. Kamu hati - hati ya di sana.
Dini
Iya Mbak terimakasih.
Setelah semua selesai Riko dan Dini berangkat kembali ke Jakarta. Rihan berada dalam pangkuan Dini, dia tertidur karena kelelahan menangis.
Dini memeluk dan membelai lembut kepala Rihana penuh kasih sayang.
"Kasihan sekali Rihana Mas.. Bagaimana nasib dia selanjut? Apakah dia akan tinggal bersama kita?" tanya Dini.
Riko ingat surat yang tadi diberikan Dokter Mutya kepadanya. Karena mendapat kabar Hana kritis Riko segera berlari menuju ruang ICU. Surat dari Hana dia simpan dalam saku celananya.
Nanti kalau sudah ada waktu Riko akan membaca surat dari Hana.
Sekitar jam dua belas malam mereka sudah sampai di rumah kontrakan Hana. Beruntung Riko memiliki sahabat yang tanggap. Segala sesuatunya sudah dipersiapkan.
Hana disemayamkan di rumah duka, rumah kontrakannya. Mereka sudah melapor kepada pengurus komplek. Sehingga mereka juga mendapatkan bantuan oleh tetangga sekitar.
Riko dan teman - temannya berkumpul di teras depan rumah Hana.
"Hana sakit apa Ko?" tanya Aril tak sabar.
"Hana sakit kanker serviks. Sudah enam bulan dia berjuang melawan penyakit itu" jawab Riko.
"Ya Allah malangnya nasibnya" sambung Romi.
"Apa dia sempat mengatakan pesan - pesan terakhir sebelum dia meninggal? Apa benar putrinya itu anak kandung kamu?" tanya Refan.
"Tidak, saat kami datang Hana sudah tidak sadarkan diri. Tapi Dokter yang menanganinya menitipkan surat untukku. Katanya itu pesan terakhir dari Hana" ungkap Riko.
"Apa kamu sudah membacanya?" tanya Bagus.
"Belum, aku belum sempat membacanya. Tiba - tiba Hana anfal dan gagal jantung" jawab Riko.
"Itu anaknya Ko?" tanya Bimo sambil menatap ke dalam rumah.
Dengan penuh kesabaran Dini menemani Rihana yang sedang tertidur.
"Iya, namanya Rihana" jawab Riko.
"Gila.. apa memang benar dia anak kamu? Ri - Hana.. Riko dan Hana" ucap Aril.
"Aku tidak tau. Nanti kalau semua sudah tenang baru aku akan membaca surat yang di tuliskan Hana untukku" ungkap Riko.
"Kapan hasil tes DNA kamu keluar?" tanya Refan.
"Tiga hari lagi" jawab Riko.
Bimo menepuk bahu Riko memberikan semangat.
"Mudah - mudahan dia bukan anak kamu. Tapi kasihand dia, apa Hana tidak punya keluarga?" tanya Bimo.
"Hana tinggal sebatang kara, Papa dan Mamanya sudah lama meninggal. Dia tidak punya keluarga" jawab Riko.
"Siapa yang akan mengurus anaknya Ko? Anak sekecil itu akan tinggal di panti asuhan? Kasihan sekali" tanya Bagus.
Riko terdiam sesaat.
"Aku belum memikirkannya. Semua ini sangat tiba - tiba bagiku. Aku baru tau hari ini kalau Hana sakit dan keadaannya langsung kritis" ungkap Riko bingung.
"Aku seperti menatap Naila Ko, usia mereka juga hampir sama, nasib mereka juga sama" ujar Refan.
"Tapi Naila masih punya kamu Opa dan Omanya Fan. Rihana tinggal sendiri dalam usia sekecil itu" sambut Aril.
"Nasib Rihana lebih menyedihkan Fan. Belum tentu Riko ayah kandungnya. Kalau ternyata terbukti dia memang bukan anak Riko siapa ayah kandungnya? Dia juga tidak punya siapa - siapa?" tanya Romi.
Riko mengacak rambutnya karena bingung.
"Tenang Ko, kamu harus bisa berpikir dengan tenang. Semua pasti akan ada jalan keluarnya" pesan Bimo.
"Maaf Ko sudah larut malam, aku pulang dulu ya. Kasihan Bela sendirian di apartemen" Aril pamit.
"Ela juga Ko. Maklumlah hamil muda, terkadang sering minta yang aneh - aneh tengah malam" sambut Romi.
"Kapan rencananya Hana akan dimakamkan?" tanya Bagus.
"Besok pagi, paling lama jam sepuluh, karena tidak ada lagi yang ditunggu lebih baik dipercepat prosesnya" jawab Riko
"Baiklah.. kami pulang dulu ya Ko. Besok pagi kami akan datang kembali" ucap Refan.
"Iya tidak mengapa. Aku mengerti, terimakasih kalian sudah menolong aku malam ini" jawab Riko.
"Itu sudah menjadi tugas kami" sambut Bagus sambil menepuk bahu Riko.
Akhirnya teman - teman Riko pulang ke rumah mereka masing - masing. Kini hanya tinggal Riko, Dini, Rihana dan beberapa tetangga yang menemani di rumah Hana.
Lama kelamaan para tetangga juga pulang dan kini hanya tinggal Riko, Dini dan Rihana yang ada di rumah menemani jasad Hana.
Rumah ini terasa sangat sepi, dan situasinya sangat memilukan. Tiba - tiba Riko memikirkan nasib Rihan ke depannya. Riko segera meraih surat yang diberikan dokter Mutya tadi dan mulai membacanya.
Alangkah terkejutnya Riko membaca dan mengetahui apa isi dari surat Hana. Tangis Riko pecah, dia menatap tubuh Hana yang terbaring kaku di hadapan mereka.
"Ya Allah Hana.. mengapa jadi begini" ucap Riko.
.
.
BERSAMBUNG