Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Sembilanpuluh Enam



Pagi - pagi sekali semua sudah sibuk berdandan dan bersiap - siap untuk menghadiri pernikahan Riko dan Dini.


Keluarga Dharmawan dan keluarga Wardhana juga sudah berkumpul di aula hotel.


Riko hari ini sangat tampan sekali memakai pakaian pengantin berwarna putih. Terlihat wajah tegang karena moment ini memang adalah pengalaman pertamanya.


"Ril apa kamu setegang ini saat ijab kabul?" tanya Riko kepada Aril yang duduk disampingnya sebelum acara berlangsung.


"Tentu donk, kamu tau kan perjuangan aku menjelang hari H. Aku sangat takut tuan kadi tidak jadi datang ke acara pernikahanku" jawab Aril tak kalah serius.


Membuat Riko menjadi semakin tegang.


"Aku mengerti apa yang kamu rasakan saat itu Ril, karena aku juga merasakan hal yang sama" balas Riko.


"Sekarang setelah aku pikir - pikir ada satu pria yang tidak tegang seperti kita" ujar Aril.


"Siapa?" tanya Riko penasaran.


"Refan, saat dia menikah dengan Kinan. Aku yakin saat itu dia malah ingin lari" jawab Aril sambil tersenyum nakal ke arah Refan.


"Seandainya aku lari saat itu pasti sekarang aku akan sangat menyesalinya" sambut Refan.


"So pasti bro" potong Bagus.


"Tapi kan aku pernah tegang juga" ujar Refan.


"Kapan?" tanya Aril dengan tampang bodoh.


"Ya saat menikah pertama kali lah" sambut Refan.


"Iya.. iya.. eh tapi ada yang tegang dua kali bro" potong Aril.


"Siapa..? Siapa?" tanya Romi ingin tahu.


"Tuh si Bimo" jawab Aril.


Sontak semua melirik kearah Bimo yang lagi asik mengelus lembut perut istrinya. Bimo merasa aura panas disekelilingnya.


"Ada apa?" tanya Bimo bingung melihat tatapan teman - temannya semua menarapnya.


"Beneran kamu dua kali tegang saat menikah?" tanya Riko.


Dengan bodohnya Bimo terbawa suasana dan mengangguk.


"Tapi pasti lebih tegang saat menikah dengan si setan kecil?" tebak Aril.


Dengan bodohnya juga Bimo mengangguk.


"Tuh sudah bisa ditebak" sambut Aril.


"Kok bisa?" tanya Riko polos.


"Ya iyalah bro... bayangin aja sudah hampir dua tahun puasa. kebayang gak gimana tegangnya senjata tajamnya" jawab Aril seenaknya.


"Dasar adek ipar durhaka" umpat Bimo.


"Hahaha... " tawa Aril tanpa takut.


"Ih gak takut dia?" tanya Romi.


"Ngapain takut, udah halal gak mungkin dipisahkan lagi. Apalagi istriku sekarang lagi bucin - bucin ya" jawab Aril sombong.


"Oooh begitu ya.. awas kamu" ancam Bimo.


"Hahaha.. sorry.. sorry.. kakak ipar" Aril tertawa sambil mengangkat kedua tangannya ke dadanya.


"Ren... " panggil Riko.


"Heeemmm" jawab Reni yang lagi asik sarapan pagi yang gak kelar - kelar dari tadi maklum ibu hamil nafs* makannya tidak bisa diimbangi.


"Reeeen udahan donk makannya. Aku udah kenyang banget lihat kamu makan terus. Mual tau lihatnya" ucap Riko.


Reni langsung menghentikan makannya karena memang sudah habis makanan yang ada diatas piring yang dia pegang.


"Nih udah selesai... udah habis juga" jawab Reni cuek.


"Kamu tolong intip bidadari hatiku donk. Cantik atau cantik banget dia saat ini?" bujuk Riko.


"Istriku baru aja selesai makan Ko" cegah Bimo.


Reni menarik nafas panjang dan meletakkan piring yang ada di tangannya keatas meja.


"Lho kok janda sih Ren, nikah aja belum udah jadi janda" protes Riko.


"Lah yang nebak Dini itu udah nikah dan punya satu anak siapa donk kalau bukan Mas Riko sendiri" ujar Reni.


"Benar juga tuh Ko, setuju aku" sambut Aril senang.


"Dari pada kamu menikah dengan pembantu" sahut Riko membela diri.


Aril mati kata dia langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Hahaha... kalian memang aneh" ledek Romi.


"Halaaah sama aja kamu lebih parah cari - cari gadis sampai ke Surabaya ketemu sama bapak - bapak eh gak taunya calon mertua sendiri" ledek Bagus.


"Hahaha... semua punya aib ya" potong Galuh suami Anita.


"Untung aja kamu kenal kami sudah seperti ini Gal kalau nggak aib kamu juga pasti akan ketahuan" sahut Refan.


"Hahaha... itu yang paling aku syukuri" jawab Galuh.


"Ren.. buruan ya.. sampai sana foto atau video call" bujuk Riko gak sabar.


"Eh gak boleh, pantang. Itu terlarang, sabar napa Mas tinggal beberapa detik lagi" jawab Reni.


Reni berjalan ke arah belakang tempat Dini disembunyikan sebelum acara dimulai. Sesampainya Reni di ruangan dia langsung menghampiri para sahabatnya.


"Lho kamu kok disini? Katanya mau nunggu di depan aja? Capek jalan - jalan mondar mandir?" tanya Dini.


"Ini karena membawa misi dari calon suami kamu yang sudah gak sabar lagi pengen lihat kamu. Sebentar aja aku telepon dia dulu" jawab Reni.


Reni meraih ponselnya dan melakukan panggilan video. Tak lama kemudian tampak wajah Riko dengan senyuman bahagia karena Reni memenuhi keinginannya.


"Ren.. mana.. mana bidadari hariku?" tanya Riko gak sabar.


"Nih" Reni mengarahkan kamera ke bagian tangan Dini.


"Mana Ren? Wajahnya donk masak jentiknya?" protes Riko yang hanya bisa melihat jari tangan calon istrinya yang sudah dihiasi inai cantik.


"Hahaha... jentiknya dulu Mas yang kamu lihat, nanti setelah akad baru semuanya" sambut Reni.


"Perhatian kepada Bapak dan Ibu silahkan mengambil tempat yang sudah dipersiapkan... " terdengar suara dari tim WO memanggil.


"Nah acara sebentar lagi akan dimulai. Udah dulu Mas Riko, aku mau balik ke depan" ucap Reni sampil menutup panggilan videonya.


"Bismillah... " ucap Dini mulai tegang.


"Santai Din, semua pasti berjalan dengan lancar. Aku ke depan ya mau nyaksikan langsung Mas Riko ijab kabul. Kalian bertiga aja di sini ya lihat dari televisi" ujar Reni.


Reni langsung berjalan kembali ke tempat duduknya semula disamping Bimo. Sedangkan Riko sudah duduk di depan meja ijab kabul. Dia sudah duduk berhadapan dengan Papanya Dini.


Wajah Riko terlihat sangat tegang dan sedikit pucat. Reni memberi kode saad Riko melirik kearahnya.


"Dini cantik banget" ucapnya dari jauh dengan kode.


Riko lega dan tersenyum tipis.


Acara pun segera di mulai. Riko sudah berjabat tangan dengan Pak Dharmawan Papanya Dini untuk mengucapkan ijab kabul.


"Bagaimana saksi?" tanya Tuan Kadi.


"Sah... " jawab para saksi.


"Alhamdulillah... barakallah... " sahut Tuan Kadi dan semua yang hadir disana.


Kini Riko bisa menarik nafas lega dan menunggu bidadari hatinya datang. Pelan - pelan Dini berjalan didampingi Ela dan Bela hingga sampai di hadapan Riko.


Dini menundukkan wajahnya karena malu. Riko segera memasangkan cincin nikah mereka ke jari Dini. Dini kemudian melakukan hal yang sama memasang cincin ke jari Riko. Setelau itu Dini mencium tangan suaminya dengan penuh hormat.


Ini adalah cium tangan pertama mengawali pernikahan mereka. Riko kemudian meletakkan jarinya di kening Dini dan mengucapkan doa pernikahan mereka.


Suasana sangat hikmad dalam hati pasutri yang baru saja halal itu. Mereka berdoa dalam hati meminta ridho penguasa Bumi dan langit untuk merestui kehidupan mereka di masa yang akan datang hingga maut yang memisahkan mereka.


.


.


BERSAMBUNG