Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Limapuluh



Seminggu sudah berlalu. Bela sudah menyusun semua jadwal Aril dengan lengkap selama dia cuti seminggu dan menyerahkan kepada asisten Aril.


Hari ini adalah hari pertama Bela cuti. Sejak pagi Aril sudah tidak bersemangat ketika melewati meja kerja Bela. Aril berhenti sesaat tepat di depan meja Bela.


Bel... jangan betah di sana ya.. Aku merindukan kamu. Belum juga ditinggal satu hari. Batin Aril sedih.


Aril kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya.Tak lama kemudian Dedi, asisten pribadi Aril masuk ke ruangan menyusul Aril.


"Pagi Pak" sapa Dedi.


"Pagi Ded, apa jadwal saya hari ini?" tanya Aril tanpa semangat.


"Ada meeting dengan Ibu Sintia Pak pagi ini" jawab Dedi.


"Eh iya aku lupa" sambut Aril.


"Bu Sintia sudah menunggu di luar Pak" lapor Dedi.


"Lho bukannya meetingnya jam sembilan ya? Aku yang salah atau Sintia yang datangnya kecepatan" tanya Aril terkejut.


"Bu Sintia yang datang kecepatan Pak. Katanya sengaja, beliau ingin bertemu Bapak dan ngobrol sebelum meeting di mulai" jawab Dedi.


Untung Sintia pengertian, tau aja kalau aku lagi kesepian. Aku butuh teman curhat. Batin Aril.


"Ya sudah Ded, suruh Sintia masuk" perintah Aril.


"Baik Pak" Dedi balik badan dan keluar dari ruangan Aril.


Tak lama kemudian Sintia pun masuk.


"Assalamu'alaikum... " ucap Sintia sambil mengetuk pintu ruangan Aril dengan ramah.


"Wa'alaikumsalam Sin, masuuuuk... " sambut Aril.


Sintia berjalan masuk.


"Duduk yuk" ajak Aril.


Mereka berdua duduk di sofa yang ada di dalam ruangan Aril.


"Bela mana? Aku gak lihat dia di mejanya?" tanya Sintia heran.


"Bela sedang cuti seminggu. Dia pulang ke Surabaya, kangen kampung katanya" jawab Aril


"Cuti seminggu? Lama juga ya kalau hanya untuk pulang kampung. Apa ada alasan lain?" selidik Sintia.


"Romi kan mau lamaran sama Ela, sahabatnya Bela. Jadi katanya dia mau ikutan bantuin di acara lamaran Ela" jawab Aril tak semangat.


"Trus kamu kan temannya Romi, kamu gak bantuin Romi juga?" tanya Sintia.


"Jadwalku padat seminggu ini Sin, aku gak bisa pergi ke sana" jawab Aril sedih.


"Pantesan wajah kamu nelangsa banget. Udah kayak di tinggal mati" balas Sintia.


"Hus.. ucapan adalah doa. Aku gak mau Bela mati muda, dia belum terima cintaku" ujar Aril kesal.


Sintia yang melihat wajah Aril saat itu merasa lucu.


"Baru aja di tinggal sebentar udah patah hati banget kayak gitu" goda Sintia.


"Ya soalnya aku udah kangen banget sama dia" balas Aril.


"Ya di susul donk" balas Sintia.


"Gak bisa Sintiaaaa... kan dari tadi sudah aku jelaskan" jawab Aril kesal.


"Iya.. iya.. sorry.. jangan marah. Aku cuma bercanda" ujar Sintia tulus.


"Aku merasa sikapnya berubah saat kita ketemuan minggu lalu Sin. Saat aku balik ke kantor, aku mendapati Bela sedang meletakkan surat cuti di ruangan aku. Tapi aku tidak yakin apakah memang aku penyebabnya atau memang karena acara Romi dan Ela" ungkap Aril.


"Kamu tanya aja sama Ela, dari pada kamu penasaran dan galau seperti ini" ucap Sintia.


Aril langsung semangat.


"Iya ya, kok aku bisa lupa mikirin hal itu" sambut Aril semangat.


Dia langsung beranjak dari tempat duduknya dan mengambil ponselnya yang terletak di atas meja kerjanya. Aril mencari nomor Ela dan langsung menghubungi Ela.


"Wa'alaikumsalam. Ya Mas Aril?" jawab Ela.


"Kamu sedang bersama Bela gak?" tanya Aril.


"Nggak Mas, masih juga pagi. Dan kita baru sampai Surabaya tadi malam. Ketemu dan berkumpul dengan keluarga dulu donk, nanti setelah itu baru ketemuan lagi. Besok kami janjian mau cari sesuatu untuk menyambut kedatangan keluarga Mas Romi ke rumah orang tuaku" jawab Ela.


"El aku boleh tanya sesuatu gak?" tanya Aril.


"Boleh Mas, tanya aja silahkan. InsyaAllah kalau aku bisa jawab, akan aku jawab" sambut Ela.


Aril tampak sedang berpikir.


"Bela ada cerita pada kamu gak tentang perasaannya belakangan ini?" selidik Aril.


"Mm.. nggak. Emang kenapa Mas? Apa yang terjadi dengan kalian? Apakah kalian ada masalah?" Ela balik bertanya.


"Nggak sih, aku hanya terkejut aja, tiba - tiba dia minta cuti, seminggu lagi. Lama banget, aku kan butuh dia di sini" jawab Aril.


"Oooh itu toh... kami emang udah janjian. Mas. Bela katanya mau bantuin acara lamaran aku di sini" ujar Ela.


"Apa kamu merasa ada yang aneh gak dengan sikap Bela?" tanya Aril lagi.


"Aneh gimana?" Ela bertanya penasaran.


"Ya seperti Bela lebih pendiam sekarang. Suka menyendiri atau apa kek?" desak Aril.


"Ada sih Mas. Minggu lalu dia kelihatan sangat murung sekali. Seperti banyak pikiran. Aku tanya apa masalahnya? Bela gak mau jawab. Tapi aku coba ajak dia ikutan pulang ke Surabaya, siapa tau bisa membantu dia lebih ceria. Mungkin dia kangen kampung halaman" jawab Ela.


"Gitu ya... apa dia belum berubah pikiran terhadapku?" tanya Aril tak sabaran.


Ela menarik nafas panjang.


"Maaf Mas, aku gak tau. Akhir - akhir ini Bela memang sedikit tertutup. Dia seperti galau. Setiap aku dan Reni coba menanyakannya tapi dia selalu mengelak. Mas sabar ya.. mudah - mudahan di waktu cutinya Bela ini, membawa sebuah perubahan. Siapa tau Bela merasa kangen Mas dan kehilangan. Mudah - mudahan selama seminggu ini Bela menyadari perasaannya kepada Mas" jawab Ela memberi semangat.


"Aamiin.. semoga saja begitu ya El. Kabari aku kalau ada kabar bahagia" pinta Aril.


"Kabar bahagianya, lusa aku lamaran Mas" ujar Ela.


"Itu mah aku udah tau dari kemarin - kemarin. Maksud aku kabar bahagia tentang Bela" jawab Aril kesal.


"Iya.. iya.. gitu aja marah. Entar cepat tua lho, Bela makin gak mau sama Mas Aril" ledek Ela.


"Eh jangan gitu donk do'anya, kayak gak ada doa yang lain" protes Aril.


"Hahaha... sensitif amat sih Mas. Kayak sedang datang bulan aja" goda Ela.


"Kamu sih, udah tau aku lagi serius malah diajak bercanda" ucap Aril.


"Baiklah.. nanti kalau ada perkembangan dengan Bela, aku laporin deh sama Mas Aril" bujuk Ela.


"Nah gitu donk, itu baru namanya calon istrinya Romi Hidayat" puji Aril.


"Ada maunya baru muji orang" ledek Ela.


"Hahaha... kalau gitu aku tunggu kabarnya ya El. Aku tutup dulu teleponnya. Sebentar lagi aku ada rapat sama Sintia" ungkap Aril.


"Awas lho Mas jangan main - main sama Mbak Sintia. Nanti rencana awal pengen buat Bela cemburu eh gak taunya Mas Aril kecantol beneran sama Mbak Sintia. Kasihan sahabat aku patah hati" ancam Ela.


"Nggak lah.. aku dan Sintia kan emang berteman. Cintaku masih milik Bela seorang, aseeek... " jawab Aril.


"Pede banget. Eh udah dulu ya Mas, ada telepon masuk dari calon suami" ujar Ela.


"Cih segitunya kamu senangnya" sambut Aril.


"Iri bilang Bos. hahahaaha.... " goda Ela


"Dasar... " umpat Aril sambil menutup teleponnya karena kesal.


.


.


BERSAMBUNG