Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Duapuluh Empat



Riko sudah sampai di kantor Romi. Dan ternyata semua teman - temannya sudah lebih dulu sampai.


"Assalamu'alaikum" ucap Riko saat masuk ke ruangan Romi.


"Wah calon pengantin sudah datang" sambut Romi.


"Aaah kamu" balas Riko.


Riko duduk di sofa tepat di samping Refan.


"Gimana ceritanya kamu bisa mendapat restu dari Papa Dini?" tanya Refan penasaran.


"Ceritanya nanti saja ya, Mas Galuh sudah hampir sampai" jawab Riko.


"Dari mana kamu tau" tanya Romi.


"Hei bro... Mas Galuh itu kan sebentar lagi akan jadi iparnya Riko. Ya pasti komunikasinya lancar" ujar Aril.


"Iya.. iya.. aku lupa" balas Romi.


"Ya sudah yuk kita keruangan sebelah. Tempat biasa kan Rom?" tanya Bagus kepada Romi.


"Iya.. ya sudah kalian masuk duluan aku mau suruh Silva siapkan snack kita" jawab Romi.


Refan dan yang lainnya masuk ke dalam ruangan yang ada tepat di samping ruang kerja Romi untuk bersiap menunggu ustt datang bersama Galuh.


"Silva suruh OB antar snack dan minum ke ruangan meeting ya. Ingat jangan kamu yang antar karena kamu gak pakai jilbab. Kalau kamu yang mau antar kamu harus pakai jilbab dan menutup aurat terlebih dahulu" pesan Romi.


"Ba.. Baik Pak" sambut Silva sekretaris Romi.


Romi langsung menutup teleponnya.


Pak Romi dan teman - temannya semakin aneh saja sekarang. Sudah dua kali aku lihat mereka berkumpul seperti itu. Emangnya mereka mau ngapain sih. Kok aku boleh masuk kalau menutup aurat? Apa Pak Romi dan teman - temannya ikut - ikut aliran agama yang aneh ya? tanya Silva dalam hati.


Romi langsung menyusu teman - temannya berjalan ke ruangan meeting. Tak lama kemudian Galuh datang bersama seorang Ustadz dan pengajian dimulai.


Satu jam kemudian mereka sudah selesai pengajian, Galuh dan Ustadznya sudah pulang tinggal Romi dan teman - temannya yang masih asik ngobrol di ruangan meeting kantor Romi.


"Jadi cerita donk gimana kamu bisa mendapatkan restu dari orang tua Dini?" tanya Romi penasaran.


"Kalian ingat waktu kita di Labuhan Bajo Dini sakit?" tanya Riko pada teman - temannya.


"Maksud kamu sakit bulanan, karena datang bulan?" tanya Refan.


"Iya, kemarin Dini pingsan karena menahan rasa sakit yang luar biasa" jawab Riko.


"Ya Allah.. sampai segitunya sakitnya? Perasaan Reni biasa - biasa saja kalau datang bulan" sambut Bimo.


"Emangnya sejak menikah kamu pernah lihat Reni datang bulan?" tanya Refan.


"Eh iya ya aku lupa. Gitu kami menikah Reni langsung hamil" jawab Bimo sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Emangnya Dini sakit apa Ko sampai segitunya dia datang bulan? Ayu gak pernah begitu kalau datang bulan?" tanya Bagus penasaran.


"Dini mengidap penyakit Endometriosis adalah kondisi di mana jaringan yang melapisi dinding rahim (endometrium) tumbuh dan menumpuk pada organ lain" jawab Riko.


Riko menjelaskan kepada teman - temannya pengertian penyakit Dini dengan lengkap kepada teman - temannya.


"Jadi saran Dokter sebaiknya Dini segera menikah, dan katanya kalau berhasil hamil. Penyakitnya itu bisa berkurang atau hilang setelah melahirkan. Jadi karena itu Papa nya Dini meminta aku untuk menikahi Dini" sambung Riko.


"Wah bencana membawa anugerah ya" sambut Aril.


"Tapi apakah penyakit itu berbahaya?" tanya Refan.


"Tidak hanya mungkin Dini akan sulit hamil" jawab Riko.


"Kamu siap menerima semua itu? Aku sudah menikah dulu selama delapan tahun tapi istriku tidak juga kunjung hamil. Refan juga sama kan? Semua itu berat Ko" pesan Bimo.


Riko menarik nafas panjang.


"Lantas apakah kalian meninggalkan istri - istri kalian karena tidak juga kunjung hamil?" tanya Riko.


"Ya nggak sih" jawab Refan dan Bimo bersamaan.


"Nah begitu juga denganku. Aku tidak akan mundur dan menjauhi Dini karena kekurangannya itu. Aku malah semakin ingin segera menikahinya. Aku bukan pria egois meninggalkan wanita yang aku cintai karena satu kekurangannya sedangkan dia sejak awal sudah menerima banyak kekurangan yang aku punya" ungkap Riko.


"Wah hebat kamu Ko" puji Bimo


"Tapi beneran gak apa - apa Ko? Kamu akan anak tunggal. Apa kedua orang tua kamu bisa menerimanya juga?" tanya Refan khawatir.


"Itu yang Dini ragukan, dia malah berat menerima lamaranku karena tidak percaya diri dengan kekurangannya. Tapi alhamdulillah akhirnya aku bisa meyakinkannya" jawab Riko.


"Syukurlah Dini menerima lamaran kamu. Dari pada kamu di tolak sepet aku Ko" sambut Aril sedih.


"Kamu harus bersabt dan terus berusaha Ril. InsyaAllah hasilnya pasti indah" balas Riko.


"Apa aku ikut cara kamu ya Ko?" tanya Romi.


"Maksud kamu ikut caraku seperti apa?" tanya Riko balik karena bingung dengan pertanyaan Romi.


"Aku pura - pura sakit berat dan hampir mati kemudian mengajukan permintaan terakhir pada Mamaku kalau aku mau menikah dengan Ela" ungkap Romi.


"Huuss.. istighfar Rom. Ucapan adalah doa. Kamu mau sakit beneran" potong Bagus.


"Benar itu Rom jangan ambil jalan pintas. Lagian pernikat dengan diawali sebuah kebohongan itu tidak baik" pesan Refan.


"Benar" sambut Bimo.


"Kalian berdua harus terus berusaha InsyaAllah Allah akan melihat perjuangan dan niat baik kalian" ucap Riko memberi semangat pada kedua sahabatnya.


Romi menarik nafas panjang.


"Jadi gimana sekarang keadaan Dini?" tanya Bagus.


"Dini sudah kembali ke Jakarta. Mulai hari ini dia resmi resign dari pekerjaannya. Aku sih tidak melarang kalau dia mau bekerja lagi tapi kalau bisa ya gak usah bekerja biar aku saja yang mencari nafkah buat keluarga" jawab Riko.


"Tapi kan mungkin dianya punya keinginan yang berbeda. Jangan dipaksakan Rom, apalagi kalian belum menikah. Dia bisa stres kalau tidak bekerja, udah beneran seperti orang pesakitan" pesan Bagus.


"Gimana kalau Dini aku ajak kerja di Perusahaan Papa Reno bareng Ela" ujar Refan semangat.


"Dini mau bekerja di kantor Om Reno? Ela juga?" tanya Riko bingung.


"Saat ini perusahaan Papa Reno sedang ada masalah Ko. Kemarin aku ajak kalian ngumpul bareng untuk meminta bantuan investasikan dana kalian ke Perusahaan itu. Untuk sementara aku akan membenahi perusahaan itu. Aku butuh seseorang yang bisa aku percaya di dalam perusahaan itu. Jadi aku meminta Ela untuk membantu aku di sana. Kalau Dini juga mau, aku akan merasa sangat senang sekali. Ela juga pasti senang ada teman di sana dan mereka bisa saling bantu" jawab Refan.


"Tapi Dini tidak boleh terlalu capek Fan dan stress. Dia harus menjalani hidup sehat untuk therapi agar bisa hamil" ujar Riko.


"Takutnya kalau gak kerja malah tambah stres Ko, dia kan udah biasa bekerja dipaksa diam di rumah" ucap Bagus.


"Nanti mereka kan bisa berbagi tugas dengan Ela. Aku rasa kalau kita ceritakan tentang penyakit Dini, Ela pasti akan mengerti dan tidak akan memberikan beban yang berat untuk Dini" sambut Romi.


"Mmm.. baiklah nanti aku akan cerita pada Dini. Siapa tau dia mau. Aku sih sebelumnya menawarkan padanya untuk bekerja di Perusahaan aku. Tapi memang Dini belum menjawab mau" ungkap Riko.


"Nah kamu kasih aja dia tiga pilihan. Kerja di perut kamu, perusahaan Refan atau tidak bekerja. Nanti biar dia yang memikirkannya dan memilihnya" sambut Refan.


"Oke.. nanti aku kabari kamu ya apa jawaban Dini" balas Riko.


"Alhamdulillah.. aku sangat senang kalau semakin banyak yang membantuku. Terimakasih Ko" jawab Refan senang.


.


.


BERSAMBUNG