Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Sembilanbelas



Aril dan Romi sudah kembali ke hotel. Bela menyambutnya dengan suka cita.


"Maaas" Bela langsung memeluk Aril.


Aril membalas pelukan Bela.


"Aku sangat takut kemarin melihat kamu pingsan Mas" ungkap Bela sambil menangis.


"Maaf sayang sudah membuat kamu khawatir. Kamu tidak apa - apa kan? Anak - anak kita sehat kan?" ucap Aril sambil memeluk Bela.


Bela menganggukkan kepalanya. Sementara Romi menatap istrinya yang sudah sangat dia rindukan. Walau mereka hanya berpisah setengah hari.


Romi bermain mata dan memberi kode kepada Ela untuk meninggalkan kamar Aril dan Bela tapi sayangnya Ela tidak mengerti isyarat yang diberikan Romi.


"Ada apa Mas?" tanya Ela polos.


Aril dan Bela sadar kalau mereka tidak hanya berdua tapi ada Romi dan Ela di kamar mereka.


"Makasih ya El kamu sudah jagain istriku selama aku di rumah sakit" ucap Aril.


"Ah itu kan memang sudah menjadi tugasku Mas. Bela kan sahabat aku" jawab Ela.


"Iya, aku juga mau minta maaf pada kamu. Karena aku sekali lagi sudah menjadi pembuat onar yang menggagalkan malam pertama sahabatku" ungkap Aril dengan wajah bersalah dan menyesal.


Ela tersenyum menatap wajah Aril.


"Gak apa - apa kok Mas yang penting Mas Aril sudah sehat" jawab Ela.


"Udah selesai kan kata sambutannya?" tanya Romi.


Ela terkejut mendengar ucapan suaminya.


Romi segera menggendong Ela dan keluar dari kamar Aril.


"Maaaas" teriak Ela terkejut.


"Selamat menikmati honeymoon broooo" ucap Aril dengan suara yang nyaring.


Ela langsung membenamkan wajahnya di leher Romi karena malu dengan tingkah suaminya. Sedangkan Bela dan Aril tersenyum menatap kepergian sahabat mereka sambil berpelukan.


Romi dan Ela sampai di kamar mereka. Romi meletakkan Ela diatas ranjang dengan sangat lembut.


"Mm... Maaaas" ucap Ela.


Wajah Romi terlihat sangat tidak sabaran, membuat bulu kuduk Ela berdiri antara takut dan malu.


Saat Romi mendekatkan wajahnya ke wajah Ela tiba - tiba.


Krucuk... krucuk...


Terdengar suara perut Ela.


"Ma.. maaf Mas" ucap Ela malu.


Romi jadi tersenyum melihat wajah istrinya yang sudah bersemu merah.


"Kamu laper?" tanya Romi.


Dengan malu - malu Ela menganggukkan wajahnya yang sudah memerah.


"Maaf yank aku terlalu terburu - buru, habis aku udah kangen banget sama kamu. Ya sudah kita pesan makanan dulu ya. Aku juga belum makan dari tadi pagi karena ngurusin Aril biar bisa cepat - cepat pulang dan bertemu kamu" Ujar Romi.


Romi segera meraih telepon yang ada di kamar dan menghubungi resepsionis Hotel untuk memesan makanan. Ela langsung berjalan menuju kamar mandi untuk bersih - bersih.


Melihat wajah suaminya Ela sangat mengerti ada hasrat suaminya yang harus di penuhi dan tidak bisa ditunda lagi. Jadi lebih baik dia bersiap - siap. Walau sebenarnya dia sangat malu tapi ini adalah ibadah pertama untuk suaminya.


Ela mandi sekali lagi padahal tadi pagi dia sudah mandi. Biar lebih percaya diri terlihat bersih dan wangi di hadapan suaminya. Setelah selesai mandi Ela langsung memakai lingerie yang diusulkan Bela dan Dini.


Mereka bilang pakaian ini bisa menjerat suami untuk terus - terusan tidak beranjak dari tempat tidur. Meskipun sangat malu memakainya tapi Ela ingin membuat suaminya bahagia.


"Lama banget di kamar mandinya yaaaaaa... nk" Romi terpana ketika melihat tampilan Ela yang keluar dari kamar mandi.


Dengan malu - malu Ela berjalan mendekati Romi yang sudah duduk di sofa. Makanan yang mereka pesan ternyata sudah datang.


"Ka... katanya udah laper banget. Ayo buruan makan yuk.. setelah itu aku ingin makan kamu" ajak Romi.


Sontak kata - kata Romi itu membuat wajah Ela semakin merah karena malu. Ela duduk tepat di hadapan Romi dengan penampilan yang sangat membuat Romi bersemangat untuk segera menghabiskan semua makanan siang mereka.


Berkali - kali Romi menelan salivanya ketika melihat wajah polos istrinya dan melihat indahnya lekuk tubuh istrinya.


Sebentar lagi aku akan berbuka puasa dengan sangat indah. Teriak Romi dalam hati.


Ela segera meraih piring dan mengambil makanan kemudian dia memberikannya kepada Romi.


"Ini Mas makanan kamu" ucap Ela menyodorkan piring yang sudah berisikan makanan.


"Suapi yank, seperti makan siang kali ini lebih enak kalau langsung dari tangan kamu" pinta Romi.


Wajah Ela semakin memerah. Dia berdiri dan mendekati Romi. Duduk tepat di samping Romi agar lebih mudah untuk menyuapi Romi makan siang.


"Aku pengen jadi anak nakal deh hari ini" ucap Romi.


Seketika bulu kuduk Ela berdiri karena Romi mendekatkan tubuh mereka dan saat ini tubuhnya terkunci oleh tangan Romi yang mulai nakal.


"Ka.. katanya mau ma.. kan?" ucap Ela.


"Iya donk, suapin yank" pinta Romi.


Ela segera menyodorkan tangannya ke mulut Romi. Romi mulai menikmati suapan demi suapan dari tangan istrinya.


"Gantian yank kamu juga makan jangan aku saja. Kan enak kalau kita sama - sama kenyang" ujar Romi.


Ela akhirnya menyuap makanan ke mulutnya sendiri. Hampir saja dia tersedak ketika dengan lihainya tangan Romi mulai menyentuh tubuhnya.


"Gak apa - apa kan yank begini?" tanya Romi mulai menggoda.


Ela hanya tertunduk malu dengan wajah merah merona.


"Habisnya kamu gemesin" bisik Romi ditelinga Ela.


Ela menyodorkan tangannya kembali yang penuh makanan ke mulut Romi. Romi kembali menerima suapan dari Ela. Tentu saja dia menerimanya dengan nakal sambil terus menggoda Ela.


Tangan Romi yang nakal sudah bergerilya keseluruhan tubuh Ela. Membuat Ela merinding disko.


Akhirnya suapan demi suapan berhasil mengisi kekosongan perut mereka. Makan siang yang lumayan lama karena Romi makan sambil bermain. Tingkahnya benar - benar membuat jantung Ela tak henti berdetak kencang.


Setelah selesai makan Ela langsung ke kamar mandi untuk mencuci tangannya dan menggosok gigi. Dia tidak ingin aroma makanan mempengaruhi service indahnya pada suami tercinta.


Begitu Ela keluar gantian Romi yang ke kamar mandi untuk bersih - bersih. Tentu saja dengan cara sesingkat - singkatnya karena dia sudah sangat tidak sabar melakukan aksi selanjutnya.


Ela sudah duduk di tempat tidur sambil bersandar di kepala tempat tidur saat Romi keluar dari kamar mandi. Dengan semangat empat lima Romi langsung menyusul Ela dan duduk tepat di samping Ela.


"Kamu sudah siap yank?" tanya Romi dengan napas yang memburu.


Ela tak mampu lagi bersuara dia hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil menunduk malu. Romi langsung menyentuh dagu Ela dan mengangkat wajah Ela agar sejajar dengan wajahnya.


Dengan sangat lembut Romi menyentuh bibir Ela dengan bibirnya dan ibadah panas mereka dimulai siang ini. Memang malam pertama mereka sudah gagal tapi bukan berarti tidak ada siang berikutnya.


Gagal malam tak apalah, toh melakukan ibadah indah itu tak harus malam, siang hari juga boleh. Apalagi dengan tempat dan suasana yang sangat mendukung seperti ini.


Romi dan Ela kini mulai melayang kelautan asmara tanpa ada lagi gangguan dari manapun.


.


.


BERSAMBUNG