Playboy Insaf

Playboy Insaf
Tujuhpuluh Sembilan



Tiba - tiba pintu kamar Pak Dharmawan di ketuk dan muncullah Riko.


"Assalamu'alaikum... " ucapnya saat masuk.


"Wa'alaikumsalam. Sambut semua yang ada di ruangan itu.


Riko memberikan semua belanjaannya kepada Mamanya Dini.


"Apa ini Nak Riko?" tanya Mama Dini.


"Makan malam untuk kita semua Bu, pasti semua sedang panik sampai lupa makan malam. Kita kan harus jaga Bapak jadi semua harus sehat jangan ada yang sakit karena telat makan" ujar Riko.


Semua serba salah menatap wajah Riko, sementara Pak Dharmawan kembali tertidur. Mungkin dia pura - pura tidur karena tidak mau berbicara dengan Riko.


Mama Dini memberi kode kepada anak - anaknya agar bersikap biasa saja dan menghargai kehadiran Riko yang sangat cukup banyak membantu saat ini.


Bahkan Riko sampai ingat isi perut mereka semua, padahal mereka sendiri saja sampai lupa. Oh betapa malunya Mama Dini melihat sikap suaminya itu.


"Kalian makan duluan gih di sofa, biar Mama gantian jagain Papa" Mama Dini memberikan bungkusan yang tadi dikasih Riko kepada Dini.


Anita, Galuh, Dini dan Yoga menuju sofa bersama Riko.


"Kamu sudah lama sampainya?" tanya Riko dengan lembut kepada Dini.


"Sudah sekitar setengah jam yang lalu Mas" jawab Dini.


Dini menyajikan makanan untuk Riko dan mempersilahkan Riko untuk makan.


"Makan Mas" ujar Dini.


"Terimakasih" jawab Riko.


Mereka makan malam bersama di dalam kamar rawat inap Pak Dharmawan. Setelah Anita selesai makan dia bergantian dengan Mamanya untuk makan malam.


"Nak Riko kamarnya terlalu luas, kita pindah ke ruangan yang biasa aja ya" ucap Mama Dini sambil makan.


"Jangan Bu, gak apa - apa biar aku yang urus semuanya. Yang penting Bapak nyaman dan dirawat dengan baik di sini. Ibu dan yang lainnya juga nyaman menjaga Bapak di sini" sambut Riko.


"Tapi Nak Riko" ujar Mama Dini.


"Gak apa Bu, jangan sungkan pada saya. Sudah kewajiban saya membantu Bapak dan Ibu" potong Riko.


Setengah jam berlalu.. Riko melirik jam di tangannya sudah pukul sembilan malam. Sebenarnya dia ingin terus berada di sini menemani bidadari surganya tapi apa daya dia bukan siapa - siapa di antara keluarga ini. Bahkan Riko belum mendapatkan lampu hijau dadi Papanya Dini untuk melamar Dini.


"Sudah larut malam, aku pulang ya" ucap Riko kepada Dini.


"Iya Mas, makasih ya Mas dan hati - hati di jalan" sambut Dini.


"Iya Din. Nita, Mas aku pulang dulu ya" Riko berdiri menghampiri Mama Dini yang sedang duduk di dekat Papa Dini.


"Bu saya pamit dulu, titip salam pada Bapak kalau nanti beliau sudah bangun. Semoga Bapak lekas sembuh" ucap Riko tulus.


"Iya Nak Riko, InsyaAllah nanti Ibu sampaikan. Nak Riko hati - hati ya di jalan" balas Mama Dini.


"Kalau ada apa - apa kabari aku ya Bu. Jangan sungkan - sungkan" ujar Riko.


"Iya Nak Riko, sekali lagi terimakasi. Din antarkan Nak Riko sampai depan" perintah Mama Dini.


"Iya Ma" jawab Dini.


Dini mengikuti Riko sampai keluar dari ruang rawat inap.


"Ngapain kamu suruh Dini menemani pria itu?" tanya Papa Dini.


Anita mendekati Papanya.


"Pa bukan kah dulu Papa yang selalu mengingatkan kami untuk berteman dengan seseorang tanpa melihat dan memilih - milih level dan derajat orang tersebut. Tapi saat ini, apa yang terjadi sekarang sangat berbeda dengan ucapan Papa itu. Aku seperti tidak mengenal Papa saat ini" ucap Anita.


Pak Dharmawan terdiam menatap wajah putrinya.


"Papa tidak bisa kah melihat perjuangan Mas Riko untuk mendekati keluarga dia. Dia benar - benar sangat serius ingin menjalin hubungan dengan Dini. Lihat ketulusannya Pa.. Dia sudah menolong Papa sebanyak dua kali. Apa kejadian itu tidak bisa mengetuk hati Papa?" tanya Anita.


"Papa hanya ingin yang terbaik untuk Dini. Kalau kalian cuma berteman Papa tidak melarang tapi kalau untuk hubungan yang lebih Papa sangat keberatan. Papa merasa sangat sedih melihat Dini jika disakiti pria itu" jawab Papa Dini.


"Disakiti bagaimana Pa?" tanya Anita.


"Dia pria mempunyai banyak wanita Nita.. Kamu mau adik kamu jadi korban dia selanjutnya?" tanya Papa Anita.


"Itu Mas Riko yang dulu Pa, sekarang berbeda. Mas Riko sucah benar - benar berubah dan bertaubat. Dia sudah berjalan menuju masa depan yang lebih baik" jawab Anita.


"Pa... Aku berani bertanggungjawab, aku sudah melihat kerja keras Riko. Bagaimana dia mencoba untuk memperbaiki diri. Aku bisa menjamin kalau Riko adalah pria yang bertanggung jawab, pekerja keras dan pantang menyerah. Buktinya sudah berulang kali dia Papa usir tapi dia tetap tidak menyerah dan terus datang ke rumah untuk menjalin silaturahmi walau tidak ada Dini di rumah" sambung Galuh.


"Itu semua dia lakukan karena ada maunya" ujar Papa Dini.


"Ya Allah.. Pa... sejak kapan sih Papa suka suudzon seperti ini? Dulu Papa kan selalu positif thinking dalam menatap sebuah masalah" sambut Anita.


"Kalau menyangkut masa depan anak Papa tidak bisa. Apalagi untuk Dini. Dia adik kamu, anak bungsu Papa. Sampai kapanpun Papa tetap menganggap dia sebagai gadis manja. Papa tidak sanggup kalau nanti dia akan terluka. Selagi Papa masih hidup Papa akan berjuang untuk kebahagiannya. Papa ingin dia mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya" ungkap Papa Dini.


"Tapi satu hal yang menurut Papa baik belum tentu juga baik untuk Dini. Yang menjalaninya adalah Dini Pa. Yang merasakan bahagia atau tidak itu Dini Pa. Kita hanya bisa melihat dan mendoakan untuk kebahagiaan Dini" balas Anita.


Papa Dini kembali terdiam mendengar perkataan Anita.


Di depan rumah sakit.


"Udah Din, sampai sini aja antarinnya. Udah malam, nanti kamu balik ke ruangan Bapak sendirian" cegah Riko.


"Terimakasih ya Mas udah selamatin Papa" ucap Dini sedih.


Riko tersenyum lembut membalas perkataan Dini membuat hati Dini semakin sakit.


Kamu masih bisa tersenyum Mas padahal Papa segitunya menolak kehadiran kamu. Maafkan Papaku Mas. Ucap Dini dalam hati.


"Jangan pikirin yang berat - berat ya, do'ain aja Papa kamu cepat sembuh. Apapun yang Papa kamu lakukan padaku aku tulus menolongnya. Aku sudah menganggap mereka sebagai orang tuaku juga. Besok aku akan datang lagi. Kamu jangan begadang dan jaga kesehatan. Kan bisa gantian jaga sama Ibu dan Anita" pesan Riko lembut.


"Iya Mas" jawab Dini semakin sedih dan merasa bersalah.


"Mas pulang ya.. Assalamu'alaikum" ucap Riko.


"Wa'alaikumsalam hati - hati ya Maa" balas Dini.


Riko meninggalkan Dini sendirian dan segera berjalan ke parkiran mobil kemudian bergerak pulang ke apartemennya.


Dini berjalan kembali ke kamar rawat inap Papanya. Wajah Dini tampak sedih tapi dia berusaha untuk tidak menunjukkan kepada keluarganya bagaimana sedihnya hatinya.


Diam - diam Pak Dharmawan melihat perubahan raut wajah putrinya itu. Sebenarnya dia sangat kasihan melihat putrinya itu tapi entah mengapa setiap melihat Riko emosinya kembali terpancing.


Naaak.. bagaimana Papa harus merelakan kamu bersama pria itu? Batin Papa Dini.


.


.


BERSAMBUNG