Playboy Insaf

Playboy Insaf
Tigapuluh Sembilan



Tak lama kemudian Aril mendapat intruksi dari Refan agar Bapak dan Ibu Akarsana ikut masuk ke dalam mobil. Kini hanya tinggal dia dan Bela berdua di dalam mobil.


"Dek Bela duduk di depan donk, Mas kok ngerasa jadi gak enak ngobrol seperti ini" ucap Aril sambil melihat Bela yang duduk di kursi belakang.


Karena Bela menghormati Aril yang sudah bersedia membantu keluarga mereka akhirnya Bela pindah duduk di samping Aril.


"Maafkan Mas Aril ya Bel udah mikir sembarangan. Mana salah lagi tebakannya. Mas malu banget" ucap Aril tulus.


Bela tersenyum karena merasa lucu dengan sikap Aril sebelumnya. Kok bisa - bisanya Aril berpikiran Bela adalah pembantu Bapak dan Ibunya.


"Hahaha.. gak apa - apa Mas. Aku gak ambil hati kok. Tapi aku malah heran kok bisa ya Mas Aril mikirnya aku ini pembantu?" tanya Bela penasaran.


"Maaf Bel. Saat Mas datang ke rumah kalian di Surabaya itu pertama kali Mas melihat kamu membawa nampan dan menghidangkan minuman untuk tamu. Mas sudah banyak bertemu relasi, biasanya yang menghidangkan makanan atau minuman di rumah mereka selalu asisten rumah tangganya. Jarang lho gadis sekarang maksud Mas anaknya tuan rumah yang memberikan hidangan untuk tamunya" jawab Aril membela diri.


"Iya ya, Mas kan hidupnya di sini. Kalau kami yang tinggal di daerah, hal itu masih sangat wajar Mas. Apalagi di rumah kami asisten rumah tangga tidak tinggal menginap di rumah. Mereka hanya datang pagi dan sore sudah kembali ke rumah mereka" ujar Bela.


"Oh pantas saja kamu yang hidangin minuman. Tapi kamu baik ya, zaman sekarang kan anak muda lebih cuek di rumah. Kerjanya hanya di kamar aja dengan segala kesibukannya dan malas keluar lagi" puji Aril.


"Mas kami di rumah hanya tinggal bertiga, kalau aku kerjanya hanya mengurung diri di kamar kasihan Bapak dan Ibu hidupnya kesepian" jawab Bela.


"Itulah bedanya tinggal di daerah dengan ibukota ya. Kalau di Ibukota hubungan keluarga sudah tidak sehangat keluarga yang masih tinggal di daerah. Keluarga di Ibukota semua pada sibuk bekerja dan sekolah. Paling antara orang tua dan anak - anak bertemunya di meja makan setelah itu mereka sibuk dengan urusannya masing-masing" ucap Aril.


"Bapak itu pria yang keras dan tertib Mas. Kalau makan itu harus bareng - bareng, shalat juga dan kami diajarkan untuk harus peduli dengan keadaan sekeliling. Itu aja bukan karena aku seorang wanita makanya bersikap seperti itu. Kalau dulu kakak - kakakku semua masih lengkap, seperti Kak Bimo dia paling sering mijitin kaki Ibu di ruang TV dan kami berkumpul dan berbincang - bincang bersama" jawab Bela.


"Keluarga kalian hangat ya, harmonis tapi maaf kok bisa Bimo jadi seperti itu?" tanya Aril.


"Saat itu aku masih SMP dan belum mengerti apapun. Aku melihat Bapak sangat marah besar kepada Mas Bimo dan Mas Bimo mulai jarang pulang ke rumah. Ibu selalau menangis setiap teringat dengan Mas Bimo.Dan sejak saat itu suasana di rumah mulai berbeda" jawab Bela sedih.


"Lama kelamaan aku mulai tau apa yang terjadi dengan Mas Bimo. Semuanya berubah sejak Mas Bimo mengenal wanita itu. Mas Bimo jarang pulang kalau libur kuliah dan kalaupun dia pulang dia jadi jarang sekali beribadah bersama. Dia selalu pergi saat shalat maghrib dan Isya dan pulang hampir larut malam. Itulah awal - awal terjadinya peperangan di rumah antara Mas Bimo dan Bapak. Mas Bimo dan Bapak jadi sering terlibat perang mulut dan puncaknya saat Mas Bimo meminta izin menikah dengan pacarnya yang beragama non muslim. Bapak murka dan merasa gagal mendidik anaknya. Tapi Mas Bimo tidak mau mendengarkan perkataan Bapak dan Ibu walau mereka sudah melarang Mas Bimo dengan sangat keras. Seperti yang Mas Aril dengar dari cerita Bapak kemarin Mas Bimo memilih meninggalkan keluarga demi mengejar pacarnya dan ikut pulang ke kampung halaman pacarnya dan menikah di sana. Sejak saat itu kami hilang kontak, dia seperti hilang di telan bumi bahkan Bapak melarang kami untuk menyebut namanya dan membicarakan tentangnya saat di rumah. Rumah jadi semakin sepi, karena biasanya Mas Bimo yang selalu membuat suasana di rumah ramai. Kalau Mas Bima dia lebih serius dan lebih pendiam. Mas Bimo periang, usil dan suka bercanda" ungkap Bela.


"Oooh jadi begitu ceritanya" sambut Aril mengerti.


Mata Bela berkaca - kaca mengingat kenangannya bersama kedua kakak kembarnya.


"Maaf ya Mas" ucap Bela.


"Gak apa - apa" jawab Aril.


Bela tampak sedang merapikan posisi duduknya.


"Sudah berapa lama kamu tidak bertemu dengan kakak kamu?" tanya Aril.


"Mm.. sekitar sepuluh tahun Mas" jawab Bela.


"Iya Mas, aku lebih dekat sama Mas Bimo ketimbang Mas Bima. Mas Bima orangnya seriusan sedangkan Mas Bimo lucu dan mau bermain bersamaku, walau jarak usia kami sangat jauh" ungkap Bela.


"Pasti sedih banget ya gak ketemu dengan kakak kamu dalam waktu yang sangat lama?" tanya Aril.


"Begitulah Mas, apalagi Bapak tidak memperbolehkan kami untuk menyebut atau menyinggung sesuatu yang berhubungan dengan Mas Bimo. Bapak selalu terlihat marah setiap kami mengungkit nama Mas Bimo. Aku selalu berdoa agar suatu saat Mas Bimo pulang kembali dan kami bisa bertemu lagi. Ternyata Allah mengabulkan doa - doaku hari ini" Bela menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Aril tak tega melihat Bela menangis seperti itu, rasanya ingin sekali dia membelai kepala Bela untuk menenangkannya.


Dia adalah anak tunggal, saat di rumah dia sering merasa kesepian, apalagi Bela yang sejak kecil sudah tumbuh dan besar bersama kakak - kakaknya. Kini hanya tinggal sendirian di rumah.


Kakak sulungnya sudah pergi sejak sepuluh tahun yang lalu. Sedangkan Kakak kedua sudah meninggal satu tahun yang lalu. Jadi wajar saja saat ini Bela menangis seperti ini. Ini adalah tangisan bahagia karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan kakaknya yang telah lama pergi.


Tiba - tiba ponsel Aril bergetar tanpa pesan masuk dan dia membukanya.


Refan


Ril keadaan aman. Kamu dan Bela udah bisa masuk ke Restoran dan kita makan bersama.


Aril


Oke bro.


Aril menutup ponselnya dan menyimpannya kembali ke dalam saku celananya.


"Ada apa Mas? Apa itu pesan dari Mas Refan?" tanya Bela penasaran.


"Iya Bel, Refan menyuruh kita masuk ke dalam Restoran dan makan bersama" jawab Aril.


"Ya sudah Mas, yuk kita turun" ajak Bela.


Mereka langsung keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam Restoran dan mencari meja yang dipesan atas nama Refan.


Tak lama kemudian mereka sampai di meja yang dituju. Saat melihat wajah Bimo, Bela berhenti dan diam terpaku.


"Maaaaas Bi.. mooooo" panggil Bela dengan mata yang berkaca - kaca menahan haru.


.


.


BERSAMBUNG