Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Enampuluh Sembilan



Akhirnya hari yang dinanti - nantikan oleh Aril dan Bela tiba juga. Acara akad nikah mereka berlangsung di rumah Bimo Kakak sulungnya Bela. Halaman rumah Bimo sudah disulap bak gedung mewah dengan dekorasi yang tak kalah mewah.


Acara yang semulanya sederhana gagal karena Aril yang heboh memesan segala sesuatunya dari WO terkenal yang bisa menyiapkan semuanya dalam waktu satu minggu.


Tamu undangan bukan hanya kelurga dan pada sahabat saja, Aril mengundang semua karyawan kantornya. Semua wajib datang, siapa yang tidak datang bersiap - siap untuk dipotong gajinya.


Aril juga mengundang pada client dan relasi bisnisnya. Kali ini dia memakai alasan yang tak kalah absurdnya. Dia ingin semua client dan rekan bisnisnya tau kalau Bela adalah istrinya. Jadi nanti saat pertemuan dan meeting tidak ada lagi yang berani melirik Bela.


Para sahabat sampai menggeleng - gelengkan kepalanya dan salut dengan usaha Aril demi menikah dengan pujaan hatinya.


Tiga puluh menit lagi sebelum acara dimulai Aril beserta keluarga dan para sahabat sudah tiba di rumah Bimo.


"Gila bener usaha kamu Ril dalam mewujudkan semua ini" puji Romi yang terpukau dengan dekorasi pesta Aril dan Bela di rumah Bimo.


"Bener juga ya julukan kamu, emang gak sia - sia dikasih title sebagai Master Of Percepatan Pernikahan" sambut Bagus.


"Menikah itu sekali seumur hidup, terkecuali untuk Refan dan Bimo ya.. Oleh sebab itu aku ingin segala sesuatunya aku lakukan dengan maksimal. Masak pestaku kalah dengan perjuanganku meraih cinta Bela. Ngejar Bela aja sampai melakukan segala cara, eh udah dapat Bela nya masak cuma mau pesta sederhana. Malu donk sama Bela. Entar dikira aku pas ada maunya aja berkorban, gitu udah dapat hatinya aku jadi pelit, gak level" jawab Aril.


"Bibirmu Ril.. pengen rasanya aku emu*" ucap Romi gemas.


"Iiih jijay... " elak Aril.


"Hahahaha.. " sambut para sahabatnya yang lain.


"Jadi malam pertamanya dimana? Hotel atau di rumah Bimo?" tanya Riko.


"Langsung honeymoon donk, begitu akad nikah selesai kami akan langsung terbang" jawab Aril tak sabar.


"Truuus pestanya?" tanya Refan.


"Ya selebihnya kalian yang selesaikan. Aku udah repot - repot menyiapkan ini semua masak kalian cepat pulang" jawab Aril.


"Woi.. mana ada pesta tanpa pengantin?" tanya Bagus.


"Ada... nih di pesta aku" jawab Aril.


"Lah terus siapa donk yang naik ke kelamina* eh maksud aku pelaminan?" tanya Romi.


"Bapak dan Ibu, biar mereka serasa pengantin baru kembali" jawab Aril.


"Durhaka kamu sama mertua" ledek Riko.


"Durhaka dari mananya? Aku tidak membentak mereka? Tidak melawan kata - kata mereka. Malah aku mewujudkan impian mereka yang selama menikah belum pernah naik pelaminan. Bapak dan Ibu dulu katanya ijab kabul nya cuma di KUA karena saat mereka menikah rumah Ibu kebanjiran" jawab Aril.


"Menantu idaman lu" ledek Refan.


"Oh yoaaa bro.. siapa dulu. Ariiil geto loh" sambut Aril.


"Lu udah hapal ijab kabulnya?" tanya Bagus.


"Udah tadi malam sudah aku hapal" jawab Aril bangga.


"Cih udah ngebet bener dia guys mau kawen" sambut Romi.


"Hahahaha" para sahabat kembali tertawa.


"Udah.. udah.. ambil posisi. Sebentar lagi acara akan dimulai" ucap Bimo yang baru keluar dari dalam rumah.


"Kakak ipar, calon istriku udah cantik kan?" tanya Aril.


"Kamu lihat aja sendiri" balas Bimo yang sudah maklum kalau calon adik iparnya ini memang rada gesrek dan lebay.


Pak Akarsana juga sudah mengambil tempat tepat di hadapan Aril. Disamping mereka sudah duduk kadi nikah yang akan menuntun acara ini.


"Silahkan saling bersalaman. Kita akan segera mengucapkan ijab kabul" perintah kadi nikah.


Aril menggenggam tangan Pak Akarsana dengan kuat. Sesaat mereka saling bertatapan.


Inilah kekuatanku wahai Bapak calon mertua. Dengan tanganku ini aku akan sekuat tenaga mengambil alih tanggung jawabmu dalam menjaga dan melindungi Bela. Dengan tangan ini juga aku akan menyayangi dan membahagiakannya.


Tatapan Aril dapat dimengerti oleh Pak Akarsana. Beliau memberikan senyum yang lembut penuh bijaksana dan kasih sayang sebagai orang tua.


Ijab kabul diucapkan dengan lantang hanya satu kali.


"Saaah.... " sambut semua yang menjadi saksi pada acara itu.


"Alhamdulillah... " Aril bisa bernafas lega.


Terimakasih ya Allah kini aku sudah berstatus seorang suami. Ridhoi awal perjalanan rumah tanggaku ini. Doa Ar dalam hati.


Aril terlihat tegang sangat serius sebelumnya. Kini dia sudah bisa tersenyum dengan lega.


"Mana pengantin wanitanya. Sudah bisa dibawa ke sini?" ucap kadi nikah.


Bela keluar dari dalam rumah Bela bersama dengan Dini dan Ela yang mengiringinya. Mata Aril tampak berkaca - kaca menatap wanita yang kini sudah menjadi istrinya.


Ingatan Aril kembali mengulang saat pertama kali dia melihat Bela. Dia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Kemudian Aril salah sangka dengan mengira Bela adalah seorang pembantu rumah tangga.


Waktu berjalan Bela menjadi sekretaris di kantornya dan bunga - bunga cinta semakin bermekaran setelah itu. Namun mendadak layu karena penolakan Bela yang pertama. Aril jadi patah hati, namun dia tidak bisa move on dari Bela.


Hatinya mengatakan kalau dia harus berjuang dan mendapatkan hati Bela. Walau dengan berbagai taktik termasuk membuat Bela cemburu kepadanya sampai akhirnya Bela sendiri mengungkapkan isi hatinya. Barulah kemudian Aril melamar Bela untuk yang kedua kalinya dan akhirnya diterima.


Kini Bela sudah ada di hadapan Aril. Aril meraih lembut tangan Bela dan mengenggamnya. Bela mencium hormat tangan suaminya untuk pertama kalinya sebagai seorang istri.


Barulah Aril memasangkan cincin nikah mereka yang baru pertama kali ini Bela lihat. Aril tetap bersikukuh untuk tidak memperlihatkan cincin nikah mereka kepada Bela hingga setelah akad nikah.


Kini Bela terus menatap cincin yang sudah melingkar dijari manisnya. Cincin yang sangat indah dan Bela sangat menyukainya. Aril memang sangat mengerti keinginan dan selera Bela.


Tapi mungkin bukan karena itu saja. Sebenarnya cintalah yang membuat cincin itu terlihat indah. Sebenarnya apapun bentuk cincin yang Aril berikan akan tetap indah karena Bela sangat mencintai Aril. Jadi apapun yang Aril berikan dia akan menerimanya dengan bahagia.


Seluruh keluarga dan para sahabat bergantian mengucapkan selamat kepada pasangan suami istri yang baru saja sah mengikat hubungan mereka beberapa saat lalu.


"Selamat ya Aril, Bela.. hadirkan lah pernikahan yang sakinah, mawaddah, warrahmah dalam rumah tangga kalian" ucap Pak Akarsana dengan bijak.


"Aamiin... makasih Pak dan terus doakan kami ya Pak" jawab Aril.


Kemudian ucapan selamat disusul oleh keluarga yang lain secara bergantian. Begitu selesai semua, Aril langsung pamit kepada seluruh keluarga.


"Mohon maaf jika ini kejutan untuk seluruh keluarga. Mohon maaf kami tidak bisa berlama - lama dengan kalian di sini karena kami akan segera pergi. Pesta akan tetap berlangsung walau tanpa kami disini. Terimakasih yang sebesar - besarnya buat Bapak, Ibu, Papa, Mama, Bimo, Reni dan semua keluarga dan para sahabat. Kalian sudah membantu terlaksananya acara ini. Silahkan nikmati pesta ini, kami pamit undur diri. Bapak Ibu silahkan naik ke atas pelaminan karena kami akan mewujudkan impian kalian dulu saat menikah. Wassalam" ucap Aril yang membuat terkejut semua orang.


"Dasar anak nakal" umpat Papa Aril.


"Hahaha aku sudah menduganya dan sudah mempersiapkan diriku" sambut Pak Akarsana.


.


.


BERSAMBUNG