Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Sembilan



Keesokan paginya mereka semua bersiap - siap hendak kembali ke Jakarta. Sebelum berangkat menuju Bandara Refan janjian bertemu dengan Pak Reno, Bu Thalita dan Naila di loby Hotel.


Refan dan keluarganya sedang lepas kangen sebelum pulang dengan keluarga mantan mertuanya sedangkan Romi dan kawan - kawan berbincang - bintang tak jauh dari mereka.


"Gimana keadaan kamu Ril?" tanya Bimo.


"Alhamdulillah sudah lebih baik" jawab Aril.


"Berarti obat dari Bela ampuh donk?" tanya Reni.


"Ya begitulah" sambut Aril tapi dengan dingin.


Reni melirik ke arah Riko dan Romi. Tapi kedua lelaki itu bersikap biasa saja. Mungkin karena baru sembuh Aril bersikap seperti itu seperti tak bersemangat. Pikir Reni.


Aril terlihat lebih banyak diam, Bela semakin menyadari itu. Rasanya sungguh tak nyaman dengan keadaan ini.


"Mas Aril sepertinya masih sakit Bel, gak semangat gitu" ujar Ela.


"Tadi malam aku udah kasih obat kok" jawab Bela.


"Mudah - mudah Mas Aril segera pulih dan bersemangat lagi ya. Kan gak asik jalan rame - rame ada yang sakit" sambut Dini.


Bela menarik nafas panjang dan merasa serba salah jadinya.


"Sudah jam sepuluh bapak - bapak, ibu - ibu.. silahkan naik ke bus, kita akan berangkat menuju Bandara" ujar salah satu pegawai Hotel milik Bimo.


Mereka saling berpamitan dan naik ke dalam bus satu persatu. Tinggal Reni, Bimo dan keluarga Pak Reno di Hotel. Bus meluncur menuju Bandara.


Aril terlihat duduk sendirian. Riko duduk bersama Romi, Gery bersama Rizal. Bela duduk bersama Salman, Dini dengan Ela.


Sepanjang perjalanan menuju Bandara Aril hanya diam saja, biasanya dia yang selalu menghangatkan suasana sehingga tidak menjadi sepi.


"Bel... kelihatannya Mas Aril beneran sakit, dari tadi diam saja" bisik Ela.


"Biar aja El, mungkin dia mau istirahat. gak enak kan kalau ganggu dia" jawab Bela.


Ternyata bukan hanya para remaja saja yang merasa sepi. Bapak dan Ibu Akarsana juga merasa ada yang berbeda dengan Aril.


"Bela Nak Aril kenapa? Dari tadi ibu lihat dia diam saja?" tanya Ibunya Bela.


"Mas Aril masih sakit mungkin Bu" jawab Bela.


"Kamu sudah kasih obat untuk Nak Aril pagi ini?" tanya Bu Akarsana.


"Belum Bu, tapi tadi malam sudah" balas Bela.


"Kamu ini sekretaris apa sih, Bosnya sakit bukannya diurusin" sambut Pak Akarsana.


"Nih kasih sama Nak Aril, Ibu bawa persediaan tola*angin. Siapa tau Nak Aril masuk angin. Cepetan kasih ke dia" Bu Akarsana mengambil obat di dalam tasnya.


Dengan berat hati Bela terpaksa berjalan sampai ke kursinya Aril.


"Mas... maaf mengganggu" ucap Bela sungkan.


Aril menatap Bela dengan tatapan dingin.


"Ya Bel, ada apa?" tanya Aril.


"Ini dari Ibu Mas, siapa tau Mas masuk angin. Biar badannya enakan" jawab Bela.


"Oh iya, sampaikan terimakasihku pada Ibu ya" sambut Aril dengan sikap biasa saja cenderung dingin.


Aril menerima pemberian Bela dan segera meminumnya kemudian menatap ke arah jendela. Bela semakin merasa sungkan karena dicuekin Aril.


Bela berjalan kembali ke tempat duduknya.


"Udah gimana Nak Aril?" tanya Bu Akarsana.


"Katanya sudah baikan Bu" jawab Bela.


Tak lama kemudian mereka tiba di Bandara. Setelah menunggu beberapa saat di ruang tunggu akhirnya mereka masuk ke dalam pesawat.


Mereka berpisah dengan keluarga kecil Jelita. Kakaknya Refan dan Reni itu balik ke Medan kota tempat mereka tinggal.


Kebetulan sekali Bela lagi - lagi duduk di samping Aril. Membuat keduanya semakin canggung. Tapi Aril sudah meyakinkan dirinya untuk bersikap biasa saja kepada Bela.


"Kamu mau duduk dimana?" tanya Aril pada Bela.


"Kali ini aku saja ya yang duduk dekat jendela" pinta Aril.


"Iya Mas, silahkan" balas Bela.


Aril masuk lebih dulu dan duduk di dekat jendela. Dia segera memasang headset di telinganya dan menatap ke arah jendela.


Pesawat mulai berangkat, Aril mencari posisi aman untuk memejamkan matanya. Bela terlihat tegang dengan situasi seperti ini.


Tak lama kemudian Aril tertidur. Mungkin karena badannya masih belum fit dan pengaruh obat yang dia minum tadi pagi. Sepanjang perjalanan Aril tertidur dengan nyenyak.


Aril sangat lega setidaknya dia tidak memikirkan cara bagaimana menjaga jarak kepada Bela. Termasuk menahan keinginannya untuk mengajak Bela berbincang-bincang.


Akhirnya rombongan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Mereka berpencar disana. Riko bersama Dini dan keluarga kakaknya, Refan bersama keluarga kecilnya, Romi mengantarkan Bela, Ela, Bapak dan Ibu Akarsana.


Sedangkan Aril meminta Gery dan Rizal untuk mengantarkannya ke apartemen.


"Maaf Pak, Bu, aku tidak bisa mengantar kalian pulang" pamit Aril sebelum berpisah.


"Tidak apa Nak Aril. Kami mengerti, istirahat yang cukup dan jangan lupa minum obat biar cepat sembuh" sambut Pak Akarsana.


"Iya, kalau perlu apa - apa jangan sungkan bilang saja sama Bela. Dia kan sekretaris kamu" sambung Bu Akarsana.


"Ah gak usah Bu. Bela kan sekretaris aku di kantor. Kalau urusan pribadi gak enak ngerepotin Bela" elak Aril.


"Kita kan sudah saling kenal dan sudah seperti keluarga, gak ada salahnya" ujar Bu Akarsana.


Aril hanya tersenyum menanggapinya.


"Bro sorry ya aku gak bisa antar" ujar Romi.


"Gak apa - apa Rom. Hati - hati" balas Aril.


Mereka masuk ke dalam mobil masing - masing menuju rumah mereka. Di dalam mobil yang di tumpangi Aril.


"Zal boleh aku tanya sesuatu pada kamu?" tanya Aril.


"Boleh, Mas mau tanya apa?" Rizal balik bertanya.


"Sejak kapan kamu menyukai Bela?" tanya Aril.


Rizal yang duduk di depan disamping Gery langsung membalikkan badannya menatap Aril.


"Gak apa Zal, posisi kita sama. Aku bukan siapa - siapa Bela. Yang aku katakan pada kamu di Surabaya dulu bohong" ungkap Aril.


Rizal menarik nafas panjang.


"Aku mulai menyukai Bela saat tahun - tahun terakhir kami kuliah" jawab Rizal.


"Kamu sudah utarakan perasaan kamu pada Bela?" selidik Aril.


"Sudah Mas tapi aku di tolak" ungkap Rizal.


"Apa alasan Bela saat menolak kamu?" tanya Aril.


"Dia bilang, dia tidak mempunyai perasaan padaku" jawab Rizal.


"Setau kamu dia sudah punya pacar?" tanya Aril.


Rizal menggelengkan kepalanya.


"Tidak Mas, aku pernah dengar pembicaraan dia dengan Ela. Katanya Bela gak mau pacaran, dia trauma dengan pengalaman kakak sulungnya, Mas Bimo yang pacaran dengan wanita beda agama sampai menikah. Menurut Bela pacaran itu menentang logika. Dia maunya langsung nikah saja saat sudah ketemu orang yang tepat" jawab Rizal.


Rizal kembali melirik Aril dengan penuh penasaran.


"Mas Aril bukannya juga menyukai Bela. Maaf Mas, kita kan sesama lelaki. Aku yakin Mas punya perasaan berbeda kepada Bela" sambung Rizal.


"Ya aku memang menyukainya dan aku sedang mencari jalan bagaimana melamar Bela" jawab Aril berbohong.


Kamu tau Zal, nasib kita sama. Aku juga di tolak Bela dengan alasan yang sama. Bagaimana cara untuk membuka hati kamu Bel? Ya Allah berilah aku petunjuk untuk mendapatkan bidadari hatiku. Jangan jadikan ini sebagai hukuman atas dosa - dosaku yang telah lalu. Aku sudah bertaubat ya Allah dan tidak akan mengulang kesalahanku yang dulu. Lihatlah ketulusan hatiku dan kabulkan niat suciku. Aamiin..


.


.


BERSAMBUNG