Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Enampuluh Lima



"Bisa Pak.. saya bisa mengurusnya" jawab Aril cepat.


"Waaah kalau itu maah pasti akan diperjuangkan Aril Pak sampai tetes darah pengabisan" ucap Romi dari kejauhan.


Semua tersenyum menatap wajah malu - malu Aril.


"Sorry bro.. aku duluan" ujar Aril kepada Riko dan Romi.


"Asem lu.. terakhir ngelamar kok malah duluan nikahnya" protes Riko kesal.


"Jalan jodoh tidak ada yang tau. Aku niatnya bulan depan Allah Maha Baik mempercepat pernikahanku jadi minggu depan. Yes nikah... nikaaah... " ujar Aril senang.


Bela hanya tersenyum malu melihat tingkat laku calon imamnya.


"Nak Bela.. yakin kan tidak berubah pikiran?" tanya Papa Aril.


"Papa... jangan buat Bela galau donk" protes Aril.


"Hahaha..." semua tertawa melihat candaan Bapak dan Anak itu.


Kini Aril bisa bernafas lega karena masalah tanggal pernikahannya sudah jelas dan sudah ditetapkan.


"Mulai besok kita harus bergerak Bel mempersiapkan semuanya" ujar Aril.


"Iya Mas" sambut Bela.


"Ingat ya cobaan menjelang pernikahan itu banyak lho. Mulai saat ini kalian harus bisa saling menguatkan" pesan Pak Akarsana.


"Baik Pak" jawab Aril cepat.


Acara penting sudah selesai. Kini para orang tua sedang terlibat dalam pembicaraan santai. Para anak muda kini sudah pindah di teras belakang rumah Bimo.


"Kalian harus segera menyiapkan gaun pengantin, cincin dan mahar perbikahan Bel" ucap Reni.


"Tenang Ren.. aku sudah menyiapkan semuanya. Sudah lama aku persiapkan. Tinggal gaun pengantinnya saja" jawab Aril.


"Waaah hebat lu bro.. sedia payung sebelum hujan" puji Bagus.


"Iya donk... Aril gitu lho" jawab Aril.


"Pede amat lamaran kamu diterima sampai jauh - jauh hari semua udah disiapkan. Kalau seandainya lamaran kamu kemarin di tolak lagi gimana? Mau diapain tuh barang - barang yang udah kamu persiapkan?" tanya Romi.


"Ya aku meseumkan dulu sampai Bela menerimanya. Tapi Alhamdulillah cuma dua kali aja, lamaran aku sudah diterima" jawab Aril menang.


Sementara dibagian para wanita.


"Bel nanti kamu datang aja ke Butik langganan aku. Di sana juga menjual gaun pernikahan kok. Waktu seminggu aku rasa tidak cukup untuk menempah gaun pernikahan. Mending beli gaun yang sudah jadi aja" usul Reni.


"Iya Ren aku juga berpikiran seperti itu tadi" jawab Bela.


"Nanti gaun resepsinya baru kamu jahit ke perancang busana yang bagus" ujar Kinan.


"Iya Mbak.. " sahut Bela.


"Yang penting dari yang paling penting adalah ijab kabul. Itu satu hal yang wajib kalau resepsi itu kan tergantung kondisi dan kemampuan" nasehat Anita.


"Iya Mbak" jawab Bela.


"Besok kami akan menemani kamu belanja. Demi sahabat kami bisa kok meluangkan waktu untuk kamu" ucap Ela.


"Iya Bel, kita akan bantu kamu mempersiapkan semuanya" sambut Dini.


"Terimakasih ya semuanya" balas Bela lega.


Alhamdulillah semua sangat antusias menyambut rencana pernikahan Aril yang akan dilaksanakan minggu depan. Semua bersedia membantu kelangsungan acara tersebut.


Para tamu undangan yang akan mereka undang tidak akan banyak, hanya keluarga dekat, para sahabat dan beberapa rekan kerja Aril dan Bela. Agar nanti tidak ada fitnah dikantor.


Bimo sudah menemani Reni di kamar karena Reni sudah ingin segera istirahat. Maklum Ibu hamil pengennya cepat - cepat rebahan.


Tinggal Aril dan Bela yang masih menyusun keperluan yang akan mereka cari dalam waktu seminggu ini untuk membangun rumah tangga baru mereka.


"Untuk sementara kita tinggal di apartemen Mas dulu ya.. Nanti pelan - pelan kita akan cari rumah masa depan kita" ucap Aril serius.


"Iya Mas, aku tidak mempermasalahkan hal itu" sambut Bela.


"Setelah akad nikah kamu pengen honeymoon dimana?" tanya Aril.


Bela tampak berpikir sejenak lalu menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tau Mas. Ini begitu cepat untuk kita, aku belum sempat memikirkannya" jawab Bela.


"Bali sudah, Labuhan Bajo sudah, kalau di pulau Jawa kurang asik. Ahaaaaa... aku tau tempat yang bagus" ucap Aril sambil tersenyum senang.


"Dimana?" tanya Bela penasaran.


"Tempat tidur" jawab Aril cuek.


"Kok tempat tidur sih. Mas Aril ini pikirannya emang gak jauh - jauh dari tempat tidur" ucap Bela kesal.


"Tempat yang bagus itu hanyalah selingan Belaaa... bagi pengantin baru tempat yang paling ingin segera di tuju ya tempat tidur.. Jauh - jauh pergi , ujung - ujungnya yang mau dicari juga tempat tidur" ungkap Aril.


Bela terdiam sesaat.


Benar juga. Apalagi menikah dengan Mas Aril, aku tau banget apa yang ada dalam kepalanya. Pasti semuanya tidak jauh - jauh dari yang namanya tempat tidur. Duh.. aku sudah siap belum ya? Bela bertanya dalam hati.


Aril tersenyum melihat wajah lucu calon istrinya itu.


"Duh gitu aja kening kamu udah mengkerut.. Tenang aku tidak akan setega itu mengajak kamu bulan madu hanya di kamar saja. Reni dan Bimo aja honeymoonnya ke Labuhan Bajo masak kita kalah sama mereka" ujar Aril.


"Jadi kemana donk?" tanya Bela bingung.


"Kamu percaya kan sama Mas?" tanya Aril serius.


"Kalau aku gak percaya sama Mas aku tidak akan terima lamaran kamu Mas" bantah Bela.


"Iya ya.. aku tidak akan membuat kamu kecewa, percaya padaku kita akan menjalani honeymoon yang indah. Yang tidak akan pernah bisa kamu lupakan seumur hidup kamu. Setelah akad nikah, kita cuti selama seminggu. Kantor biar Dedi yang urus. Kita terbang ke kota tempat kita honeymoon" ungkap Aril.


"Baiklah Mas... semuanya aku serahkan kepada kamu. Aku percaya sepenuhnya dengan kamu" jawab Bela.


"Baiklah kalau begitu aku pinjam KTP dan Kartu Keluarga kamu donk, besok aku mau urus surat - surat pernikahan kita. Besok kamu kirimkan juga ya data pas fhoto kamu" pinta Aril.


"Sebentar ya Mas aku ambil dulu ke kamar" ujar Bela.


Bela langsung bergegas menuju kamarnya mencari apa yang Aril minta dan membawanya keluar. Setelah itu Bela menyerahkannya kepada Aril.


"Nih Mas yang kamu minta. Sekalian ini pas photo aku udah ada jadi aku gak perlu kirim datanya lagi" ucap Bela sambil menyerahkan semuanta kepada Aril.


Aril menatap pas photo Bela.


"Mas masih tidak percaya akan menikah dengan gadis ini. Semua masih seperti mimpi. Allah Baik banget ya padaku. Padahal aku masih penuh dosa, tapi Allah dengan cepatnya mengabulkan semua doa - doaku. Bahkan dia memberikan lebih padaku" ucap Aril dengan mata berkaca - kaca sambil menatap pas photo Bela untuk buku nikah mereka nanti.


Bela seperti tak percaya menyaksikan bagaimana wajah Aril saat ini. Selama dia mengenal Aril baru tiga kali dia melihat Aril berwajah seperti ini. Saat lamaran pertama, lamaran kedua dan malam ini.


Aril terlihat serius dan dewasa membuat Aril terlihat semakin tampan dimata Bela.


Aaah.. Mas Aril aku jadi semakin jatuh kedalam pesona kamu. Terimakasih ya Allah, KAU hadirkan dia bukan hanya sebagai pelindung yang akan menjaga dan menyayangiku tapi dia juga kau kirim untuk menjadi penghiburku dalam hidup ini. Ucap Bela dalam hati.


.


.


BERSAMBUNG