Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Limabelas



Malam harinya Aril dan Bela sudah bisa mesra - mesraan dikamar mereka. Mereka tidur dengan saling berpelukan. Aril berusaha membuat Bela merasa nyaman, sambil mengelus perut rata Bela.


"Yank masih ingat kan janji kamu tadi siang?" tanya Aril.


"Janji yang mana Mas?" tanya Bela.


"Itu lho, kamu akan mengabulkan apapun permintaan aku" jawab Aril.


"Oh yang itu. Ingat, aku masih ingat sama janjiku" sambut Bela.


"Kalau begitu aku mau minta sesuatu kepada kamu" ujar Aril.


"Apa itu Mas?" tanya Bela.


Aril segera merapat bibirnya ke telinga Bela dan membisikkan sesuatu.


"Apa?" tanya Bela terkejut.


"Iya yank, please.... " pinta Aril sambil memelas.


"Mas yakin? Itu tidak akan menyakiti siapapun?" tanya Bela, sebenarnya dia tidak ingin mengabulkan permintaan Aril.


Suaminya ini ada - ada aja ide anehnya. Permintaannya kali ini sangat sulit untuk Bela penuhi.


"Aku sangat yakin" jawab Aril pasti.


"Aku tidak mau Mas" tolak Bela.


"Ayo donk sayang, please.... mau ya.. ya.. " pinta Aril semakin memohon.


"Itu sangat beresiko Mas. Gak ada keinginan lain gitu?" tanya Bela.


"Aku pengen itu sayang.. please donk.. hanya itu satu - satunya cara agar aku bisa fokus melupakan ngidamku pada Riko" jawab Aril.


"Mas yakin?" tanya Bela lagi.


"Yakin, sangat yakin. Setelah itu aku tidak akan mengganggu Riko lagi" tegas Aril.


"Janji tidak akan mengganggu siapapun lagi" desak Bela.


"Iya aku janji" pinta Aril dengan wajah penuh pengharapan.


Bela menatap mata suaminya yang terlihat berkaca - kaca. Dia tidak ingin menolaknya tapi permintaan suaminya itu sangat mengejutkannya.


Bela menarik nafas panjang.


"Baiklah.. tapi jangan minta yang aneh - aneh lagi ya setelah itu" jawab Bela.


"Iya sayang aku janji. Makasih ya sayang.. Aku akan puasa sampai nanti tiga saatnya" jawab Aril semangat.


Tiba - tiba saja matanya yang tadi sudah sempat berkaca - kaca jadi bersinar penuh bahagia. Bela rasanya tak percaya kalau yang di hadapannya ini adalah suaminya. Dia merasa seperti sedang berhadapan dengan anak kecil. Lebih tepatnya Aril versi anak kecil. Mungkin waktu kecil Aril sangat menggemaskan kali ya..


"Ya sudah kalau begitu kita tidur saja malam ini" ajak Bela


"Assshiap sayang... " jawab Aril langsung.


Mereka langsung bersiap - siap untuk tidur tentunya tetap saling berpelukan satu sama lain.


Keesokan harinya mereka sudah disibukkan dengan persiapan untuk menghadiri acara resepsi pernikahan Romi dan Ela.


Mereka segera berangkat menuju hotel tempat acara berlangsung. Disana para sahabat mereka sudah berkumpul. Begitu juga dengan keluarga Ela dan juga Romi.


Bela dan Reni langsung mengambil tempat didekat Dini. Dini dan Ela berjalan menuju tempat Ela di make up. Setelah itu menemani Ela diruangan tersendiri sampai ijab kabul selesai.


Sedangkan Reni duduk di dekat Kinan dan Ayu.


Sedangkan Romi dengan wajah tegang masih duduk bersama teman - temannya menunggu intruksi dari WO kalau akad nikah akan di mulai.


Aril menatap wajah Romi yang tegang.


"Baru tegang lo?" tanya Aril.


"Iya" jawab Romi jujur.


"Kamu harus fokus contoh aku saat ini. Aku sudah berhasil lepas dari pesona Riko" ujar Aril.


"Eh iya ya.. kemarin sejak dari Bandara kamu gak pernah ketemu sama Riko. Kata Bagus waktu di pesawat juga kamu duduknya dekat Bimo gak mau deketan sama Riko" sambut Romi.


"Sepertinya ngidam aku sudah sembuh" ungkap Aril.


"Gimana caranya?" tanya Romi.


"Aku mengalihkan pikiranku ke hal yang lain" jawab Aril bangga.


"Hebat kamu" puji Romi.


"Ciiih... emang kamu yang suka ngerepotin" ejek Romi.


"Hahaha... barusan tegang di wajah kamu hilang. Kamu bisa ngalih kan pikiran kamu" ujar Aril.


"Bener juga" Romi menarik nafas panjang.


Pembawa acar mulai acara, Romi diperintahkan duduk di meja akad bersama para saksi. Di hadapannya ada Pak Budi yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya. Orang tua keduanya setelah Papa dan Mamanya.


"Kamu sudah siap?" tanya Pak Budi lembut.


"InsyaAllah siap Pak" jawab Romi sigap.


"Baik kita mulai ya" ujar Pak Penghulu.


Romi dan Pak Budi saling berkabat tangan. Ijab kabul di mulai dan suasana seketika hening dan hikmad.


Setelah mengucapkan ijab kabul Romi mengusap wajahnya dengan kedua tangannya sembari mengucapkan syukur.


"Alhamdulillah... " ucap Romi.


"Sudah selesai... mana pengantin wanitanya?" tanya Pak Penghulu.


Pembawa acaranya memanggil pengantin wanita untuk keluar dari persembunyiannya.


Dini dan Bela membawa Ela keluar. Ela terus tersenyum sambil berjalan menuju ke tempat Romi berdiri. Romi memandang wajah istrinya tanpa henti. Dalam hati berjuta kata - kata syukur dia ucapkan.


Perjuangan selama berberapa tahun ini akhirnya berbuah bahagia. Kini Cici, Shela, Ela atau lengkapnya Cishela Budianto sudah menjadi istrinya.


Alangkah bahagianya hati Romi saat ini. Statusnya sekarang sudah berubah menjadi seorang suami. Seorang imam dalam rumah tangga baru mereka.


Sesampainya di hadapan Romi, Ela dan Romi saling tatap mesra.


"Dipasangin donk cincin nikahnya, jangan cuma saling pandang" goda pembawa acara.


Romi dan Ela tersadar dan mereka tersenyum malu. Romi segera memasanhkan cincin pernikahannya ke jari manis Ela. Begitu juga sebaliknya. Setelah itu Ela mencium tangan Romi penuh hormat.


Kini kapal rumah tangga mereka akan mulai berlayar tentunya Romi sebagai nakhoda yang akan menjalankannya. Dia kini sudah menjadi imam dalam hidup Ela.


Seluruh keluarga bergantian mengucapkan selamat saat Romi dan Ela sudah diatas pelaminan. Setelah itu baru gantian dengan para sahabatnya.


"Jadi gimana rasanya naik diatas kelamina*?" Tanya Bagus.


"Hus... belum. Ini masih pelaminan. Nanti malam baru naik ke kelamina*" potong Aril.


Romi hanya tersenyum mendengar candaan teman - temannya. Karena kata - kata itu biasanya dia yang ucapkan.


"Rasanya sangat luarrrrrr biasa" jawab Romi.


"Belum bro... nanti malam kamu akan rasakan bagaimana dahsyatnya kata halal" ucap Riko.


"Betuuul" sambut Aril.


"Dan kamu harus bersyukur karena bisa dipastikan nanti malam akan sukses karena tidak akan ada pengganggu" potong Refan.


Romi tersenyum penuh bahagia. Acara resepsi pernikahan Romi dan Ela berjalan lancar dan sangat meriah. Para tamu undangan sangat menikmati acara demi acara dalam resepsi pernikahan Romi.


Siang harinya sekitar jam tiga sore Romi dan Ela bersiap - siap untuk pergi meninggalkan hotel dan berangkat menuju Bandara. Seluruh koper mereka sudah ada di dalam mobil. Mereka diantar supir menuju Bandara.


Romi dan Ela saling bergandengan tangan mesra menuju ruang tunggu Bandara. Mereka akan berangkat menuju Pulau Cinta di Gorontalo.



Pulau berbentuk hati tempat yang sudah lama Ela impikan. Romi tentu saja akan melakukan apapun untuk istri tercintanya. Apalagi tempatnya memang sangat romantis.


Dari Jakarta mereka naik pesawat sampai ke Gorontalo lalu dengan helikopter kecil mereka terbang ke Desa Potoameme. Lalu naik kapal sampai Teluk Tomini. Sampailah mereka di Pantai Cinta malam hari.


"Malam hari saja tempat ini sangat indah ya Mas, apalagi siang hari" ucap Ela.


"Menurutku malam atau siang sama saja sayang. Pasti semua tetap indah asalkan ada kamu disampingku" rayu Romi.


Mereka sedang berada di lobi hotel. Tiba - tiba mereka dikejutkan oleh suara seseorang.


"Lho kalian sudah sampai rupanya?" tanya seseorang yang sangat Romi kenali suaranya.


"Ka.. kamu.....?" ucap Romi.


.


.


BERSAMBUNG