
Akhirnya malam pertama Aril sukses. Dengan penuh sukacita keduanya saling melepas kerinduan mereka setelah tiga minggu tidak bertemu.
Kini Bela sudah dalam pelukan Aril. Setelah pertarungan panjang dan panas mereka.
"Yank... teman - teman kok pada tahu sih kita malam pertama kita gagal?" tanya Aril penasaran.
Bela langsung terkejut dan menatap wajah Aril dengan tatapan bersalah.
"Maaf Mas aku keceplosan ngomong sama Reni" jawab Bela.
Aril menarik nafas panjang.
"Sudah aku duga, si Setan Kecil itu biang keroknya. Pasti dia cerita sama suaminya" tebak Aril.
"Jangan marahin Reni ya Mas, aku gak enak" pinta Bela.
"Nggak kok yank, justru aku mau berterimakasih padanya. Karena dia sudah mengajari istriku berdandan seperti tadi" goda Aril.
Bela hanya diam tersipu malu.
"Kamu tau, tiga minggu ini setiap malam aku merasa sangat tersiksa hanya bisa melihat kamu melalu kamera menggunakan lingerie. Ngences aku yank atas bawah" ungkap Aril.
Aril mempererat pelukannya karena gemas dengan Bela.
"Ih Mas Aril jangan bicara yang begituan ah, telingaku masih gatel mendengarnya" protes Bela.
"Yakin cuma telinga kamu saja yang gatel? yang lain gak ada yang gatel lagi? Aku bersedia kok menggaruknya" goda Aril.
"iiiiih Mas Ariiiil... udahan ah" Bela memukul dada Aril.
"Uhuk.. uhuk.. " Aril terbatuk.
"Maaf.. maaf.. kekencangan ya" ucap Bela merasa bersalah.
Bela membelai lembut dada Aril lembut tentu saja memberikan reaksi besar bagi Aril.
"Ouwh... siiiiit.... " pekik Aril.
"Kenapa Mas? Ada yang sakit lagi?" tanya Bela polos.
"Iya yank, bagian bawahku sakit" jawab Aril.
"Bagian mana?" tanpa sadar Bela meraba ke bawah.
"Ya Allah... Mas Ariiiiiil" teriak Bela sangkin terkejutnya"
"Yaaaaank satu ronde lagi pleeease.. aku janji akan pelan - pelan" ikrar Aril dengan wajah memelas.
Tentu saja Bela tak tega menolak permintaan Aril. Apalagi suaminya sudah terlalu lama menunggu hal ini terjadi. Dengan wajah memerah akhirnya Bela mengangguk malu.
"Yes makasih sayang... " Aril langsung mengecu* lembut bibir Bela.
******
Keesokan harinya.
"Maaas... Mas Ariiil.. bangun. Mandi gih mau diajak shalat sama Bapak ke Mesjid" ucap Bela membangunkan suaminya yang masih nyenyak tidur.
"Heeem udah jam brp yank?" tanya Aril.
"Sudah jam setengah empat" jawab Bela.
Bela membelai lembut kepala Aril hingga Aril membuka matanya.
"Kamu sudah mandi?" tanya Aril ketika melihat handuk kecil sudah ada di kepala Bela.
"Sudah" jawab Bela.
"Yaaah mandi kok gak ngajak - ngajak sih yank.. Aku kan mau mandi bareng. Katanya itu sunah bagi pasangan yang sudah menikah dan sangat baik untuk kesehatan" ujar Aril.
"Besok - besok masih banyak waktu Mas. Sekarang kamu sudah ditunggu Bapak. Buruan mandi gih" bujuk Bela.
"Mandiin... " rengek Aril manja.
"Ih manja banget" Bela menarik tangan Aril sampai Aril duduk.
Setelah beberapa menit Bela kembali menarik Aril dan mendorongnya sampai ke kamar mandi. Bela pun mempersiapkan pakaian lengkap suaminya.
"Mas pergi dulu ya sayang. Ingat jangan merindu, itu berat" godanya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Aril sampai dilantai dasar dimana keluarga dan teman - temannya sudah berkumpul.
"Nah ini dia yang ditunggu - tunggu sudah datang" ucap Papa Aril.
Mereka kemudian berjalan menuju Mesjid yang ada di taman belakang Hotel. Aril masih terlihat mengantuk walau tadi dia sudah mandi.
"Ngantuk banget kayaknya? Gak bisa tidur ya karena panas dingin cuma bisa icip gak bisa celup" ledek Romi.
"Hahaha... " tawa yang lain.
"Tuh lihat Bagus, Refan bahkan Bimo seger banget pasti tadi malam udah celup beneran. Gak kayak kamu" sambut Riko.
"Heh... kalian salah bro.. aku gak seperti kalian berdua yang masih merana menunggu hari - H.. perjuangan kalian masih panjang hahaha" jawab Aril.
"Maksud kamu?" tanya Romi.
"Tidak seperti yang kalian pikirkan. Tadi malam aku sudah menunaikan tugasku sebagai seorang suami. Memberikan nafkah lahir dan batin kepada istriku hahaha" jawabnya bangga.
"Serius kamu? Bukannya Bela lagi datang bulan? Kata Ela aja kemarin dia masih belum bisa shalat" tanya Romi tak percaya.
"Allah sayang banget padaku sehingga menghadiahkan padaku malam yang indah seperti tadi malam. Secara tulus aku mengucapkan terimakasih kepada kalian karena sudah merencanakan semua ini dengan sempurna" jawab Aril.
"Sia* dia lebih beruntung bro dari kita" ujar Riko kepada Romi.
"Hahaha... " tawa yang lain.
Akhirnya sampai juga di Mesjid mereka langsung berwudhu dan shalat berjamaah. Untung semua sudah pada tobat, walau dulunya mereka semua berandal.
Para orang tua mereka juga sangat bersyukur akhirnya anak - anak yang mereka saksikan pertumbuhannya sejak remaja sampai saat ini bisa kembali ke jalan yang benar. Kenakalan remaja mereka memang sempat membuat para orang tua khawatir. Tapi ternyata hidayah Allah datang.
Alhamdulillah satu persatu mulai berubah dan saling mengajak teman - temannya untuk berbuat kebaikan. Walau terkadang masih tersisa kenakalan - kenakalan kecil mereka, tapi para orang tua masih memakluminya.
Setelah selesai shalat Aril buru - buru hendak balik ke kamar.
"Lho Nak Aril buru - buru banget" sapa Pak Budi Bapaknya Ela.
"Iya Pak aku masih ngantuk banget, maklum selama tiga minggu di Singapore aku kurang istirahat. Maaf ya Pak aku duluan" pamit Aril.
"Alasan klise tuh Pak. Dia mah mau nambah ronde extra" sambar Bagus.
"Huss.. sama orang tua gak sopan" ucap Romi mengingatkan.
"Halaaaah pura - pura baik lu di depan calon mertua" sindir Riko.
Romi jadi salah tingkah.
Nah kenalakan seperti itulah yang masih bisa diberi toleransi dari para orang tua. Mereka masih suka ngomong yang nyerempet - nyerempet mesu* di depan orang tua.
Pak Budi hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Selamat berjuang bro... semoga langsung jadi ya.. Bulan depan nikahan Riko udah dapat kabar gembira" ucap Bagus memberi semangat.
Aril hanya melambaikan tangannya ke arah teman - temannya. Dia memang ngantuk berat karena memang kurang tidur selama tiga minggu ini. Apalagi tadi malam dia hanya tidur beberapa jam saja setelah adegan panas dia dengan istrinya.
Akhirnya Aril sampai di kamarnya. Begitu sampai di kamar dia mendapati istrinya sedang terbaring di atas tempat tidur dengan menggunakan lingerie yang berbeda dengan yang tadi malam Bela pakai.
Ya Tuhaaan... cepat banget rasa ngantuk ini hilang, padahal tadi saat shalat subuh yang hanya dua rakaat perjuangannya sangat berat sekali. Batin Aril.
Aril langsung menanggalkan semua pakaiannya dan ikut berbaring di samping Bela. Pelan - pelan Aril menyentuh tubuh istrinya dengan sangat lembut hingga akhirnya Bela terbangun karena merasakan sesuatu yang hangat di tubuhnya.
"Ma.. Maaaaaas" panggil Bela.
Ya Tuhan.. Nikmat Allah yang mana lagi yang harus aku dustakan. Batin Aril.
Aril kembali menerkam Bela menyambut pagi dengan panasnya ranjang mereka.
.
.
BERSAMBUNG