
Berita pagi ini...
Pengusaha senior Rahardian tadi malam dilarikan ke Rumah Sakit Permata Kasih karena terkena serangan stroke. Diduga karena stres akibat panggilan dari kepolisian terkait kasus berita hoax yang melibatkan putrinya dan Pengusaha Muda Romu Hidayat.
Sampai saat ini belum ada konfirmasi dari pihak keluarga terkait kabar terbaru dari Bapak Rahardian. Kabarnya Putri tunggalnya juga telah melarikan diri dari rumahnya kemarin siang. Ini juga menjadi pemicu beliau stres dan akhirnya terkena stroke.
"Apa?" ucap Romi saat dia sedang sarapan bersama kedua orang tuanya.
"Papa belum sempat bertemu dan berbicara dengannya. Rencana Papa hari ini mau janjian ketemu dia" sambut Pak Hidayat.
"Kasihan sekali ya nasibnya, saat seperti ini tidak ada siapa pun keluarga yang menemaninya" ujar Mama Romi.
Romi segera menghubungi Klara.
"Halo Kla.. kamu sudah dapat kabar?" tanya Romi langsung.
"Rom.. Papaku Rom.. Papaku masuk rumah sakit. Papa kena stroke dan katanya sampai saat ini masih belum sadar" sambut Klara sambil menangis.
"Jadi gimana Kla, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Romi.
"Aku akan pergi ke Rumah Sakit pagi ini sendirian. Mas Edo biar di apartemen saja jaga anak kami. Aku takut kalau Papa sadar dan melihat Mas Edo penyakitnya tambah parah. Biarlah kami mengalah saat ini" jawab Klara.
"Kamu naik apa ke sana?" tanya Romi.
"Aku akan naik taxi aja Rom" jawab Klara.
"Aku jemput ya" Romi menawarkan diri.
"Jangan Rom, masalah kita belum selesai. Disana pasti banyak wartawan, kalau mereka melihat kita datang berdua itu bisa membenarkan berita hoax kemarin. Mereka akan mengira kira memang punya hubungan spesial" cegah Klara.
"Sial... aku lupa Kla. Ya sudah kalau begitu kamu hati - hati. Kamu yang kuat ya Kla, fokus aja dulu sama kesehatan Papa kamu. Nanti lama kelamaan dia pasti akan menerima keberadaan Edo" ucap Romi memberi semangat.
"Iya Rom, terimakasih ya.. " sahur Klara.
Romi menutup teleponnya.
"Bagaimana kabar Rahardian?" tanya Pak Hidayat.
"Katanya masih belum sadar Pa" jawab Romi.
"Papa akan tetap bertemu dia hari ini. Papa akan lihat keadaannya di Rumah Sakit" ujar Pak Hidayat.
"Tapi maaf Pa aku tidak bisa ikut. Di sana pasti banyak wartawan" elak Romi.
"Iya, Papa mengerti" sambut Pak Hidayat.
"Hati - hati Pa, sebaiknya Papa menyamarkan tampilan Papa. Aku rasa pasti akan ada wartawan yang mengenali Papa disana" pesan Romi.
"Baiklah, Papa akan lebih berhati - hati" jawab Pak Hidayat.
"Kalau begitu aku berangkat ke kantor ya. Assalamu'alaikum Pa, Ma" pamit Romi setelah dia selesai sarapan.
Pak Hidayat juga pamit dengan istrinya setelah selesai makan. Dia segera berangkat menuju Rumah Sakit. Benar kata Romi disana banyak sekali wartawan.
Untung saja Pak Hidayat memakai topi dan kaca mata hitam. Dia juga memakai masker untuk menyamarkan wajahnya. Pak Hidayat akhirnya bisa melewati para wartawan dan berhasil mendekati ruang ICU.
Dia melihat Klara sedang duduk di depan ruangan ICU sambil menangis.
"Klara" sapa Pak Hidayat.
Klara langsung menatap wajah Pak Hidayat dan langsung mengenalinya karena Pak Hidayat sudah membuka masker wajahnya.
"Bagaimana keadaan Papa kamu?" tanya Pak Hidayat.
"Papa masih belum sabar, kata dokter ada pembuluh darah yang pecah di otaknya. Sebentar lagi Papa akan segera di operasi" jawab Klara.
"Bapak harap semua berjalan lancar dan Papa kamu segera pulih" sambut Pak Hidayat.
"Maaf ya Om masalah keluarga saya jadi merepotkan keluarga Bapak, terlebih Romi" ucap Klara merasa bersalah.
"Tidak apa. Kamu rawat Papa kamu dengan tulus ya. Sabar, tunjukkan bakti dan cinta kasih kamu kepada Papa kamu. Ajak suami kamu, pelan - pelan nanti Papa kamu pasti akan sadar dan bisa menerima keberadaan suami kamu" pesan Pak Hidayat.
"Iya Pak, terimakasih" sambut Klara.
"Bapak tidak bisa lama - lama. Kalau ada apa - apa jangan sungkan hubungi Bapak. Kami akan bantu sebisa mungkin" ucap Pak Hidayat.
"Sekali lagi terimakasih Pak" jawab Klara.
Pak Hidayat pergi meninggalkan Klara dan keluar dari area rumah sakit.
Malam harinya berita keberhasilan operasi Pak Rahardian sudah sampai ke telinga Romi dan keluarganya. Mereka turut senang atas kabar gembira itu. Kini hanya tinggal menunggu Pak Rahardian sadar pasca operasi.
Keesokan harinya Pak Rahardian sadar. Tapi kondisinya masih sangat lemah. Klara senantiasa menemani dan mengurus Papa nya dengan penuh kasih sayang.
"Di.. ma.. na.. a.. nak.. ka.. mu?" tanya Pak Rahardian.
"Sama Papanya Pa" jawab Klara pelan - pelan. Dia melihat reaksi Papanya jika bicara tentang suaminya. Syukurlah tanggapan Pak Rahardian baik.
Klara menarik selimut Pak Rahardian hingga menutupi dada.
"Sekarang Papa istirahat saja ya, jangan pikirkan apapun. Masalah kita semua sudah selesai, Romi sudah menarik tuntutannya" ungkap Klara.
Pak Rahardian hanya diam saja. Dia menatap wajah putrinya. Terlihat jelas mata putrinya itu sangat sembab bekas menangis.
Apakah dia menangisi diriku? Menangis karena takut kehilangan atau menangis karena aku tidak jadi mati? Kalau aku mati kan dia dan pria brengse* itu akan hidup bahagiakan? Batin Pak Rahardian.
"Tadi Pak Hidayat datang menjenguk Papa dan dia titip salam" ungkap Klara.
Dia bingung harus berkata apa dengan Papanya. Situasi mereka sebelumnya tidak sangat baik. Klara melarikan diri dari rumahnya.
Klara menatap wajah Papanya, sesaat mata mereka saling tatap dalam diam. Mencoba menyelami perasaan masing - masing. Klara kembali meneteskan air matanya dan memeluk erat tubuh Pak Rahardian.
"Paaa..... terimakasih Papa sudah sangat kuat untuk bertahan hidup. Terimakasih Papa sangat cepat sadar kembali. Aku sangat takut kehilangan Papa. Aku belum sanggup hidup tanpa Papa. Maafkan aku yang selalu membuat Papa kecewa. Maafkan aku tidak bisa memenuhi keinginan hati Papa" ucap Klara.
Seketika hati Pak Rahardian menghangat. Sudah lama sekali rasanya dia dan anaknya tidak bisa sedekat ini. Air mata menetes dari sudut matanya, sekuat tenaga dia menahan haru. Mungkin ini efek dari operasi membuat dia jadi cengeng.
Tapi tenaganya masih sangat lemah, dia tidak bisa banyak berucap. Padahal banyak sekali yang ingin dia katakan pada putrinya itu.
"Su.. dah... ja.. ngan.. me.. na.. ngis" ucapnya terbata - bata.
"Papa istirahat lagi ya... mulai besok kita akan lalui semuanya bersama - sama. Aku tidak akan meninggalkan Papa lagi. Aku akan membantu Papa untuk sembuh seperti semula, tapi janji Papa harus semangat dan mau ikut semua perintah dan pesan - pesan dokter" ujar Klara lagi.
"Ba.. ik.. Pa.. pa.. a.. kan.. i.. ku.. ti.. se.. mu.. a... per.. ka.. ta.. an.. dok.. ter.. " sahut Pak Rahardian.
Klara menghapus air matanya dan memandang lembut wajah Papanya.
.
.
BERSAMBUNG