
Bela dan Aril akhirnya keluar dari kamar siang hari saat mereka makan siang bersama keluarga besar. Bela sangat malu untuk bertemu semuanya karena dia menduga pasti nanti mereka akan habis - habisan di bully.
"Mas sih tadi pagi minta tambah lagi, jadinya kan kita melewatkan sarapan pagi" ujar Bela kesal.
"Namanya sudah lama puasa yank, sekali berbuka pasti tamboh cieeek" sambut Aril.
"Nanti kalau mereka ngeledek kita gimana Mas?" tanya Bela takut.
"Cuekin aja, selain Romi, Riko, Dini dan Ela. Semua pernah muda dan pernah merasakan menjadi pengantin baru. Kalau Romi dan Riko biar aja aku yang hadapi mereka" jawab Aril.
Mereka turun ke restoran hotel dan menemui yang lainnya sambil bergandengan tangan.
"Cieee pengantin baru.. " sindir Reni.
"Yang baru belah dureeen" sambut Romi.
Wajah Bela langsung memerah karena malu. Bela hanya menundukkan wajahnya.
"Iri bilang bro.. makanya buruan nikah. Halal itu lebih enak lho" sambut Aril cuek.
Bela menggenggam tangan Aril dengan erat.
"Sudah.. sudah.. kalian duduk dulu dan makan yuk.. nanti keburu dingin" potong Bu Suci.
Geng Refan emang selalu tunduk dengan Bu Suci karena bagi teman - teman Refan, Bu Suci adalah Ibu kedua. Saat mereka kuliah dulu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Refan sehingga mereka sangat akrab dengan Bu Suci.
Aril dan Bela duduk di kursi mereka. Bela mulai mengambilkan hidangan untuk Aril. Reni memasukkan bebarapa kepiting ke piring Aril. Bela melirik ke arah Reni.
"Udah kamu hidangin aja buat Mas Aril. Nikmati sensasinya nanti malam" bisik Reni.
Bela tertunduk malu mendengar bisikan sahabatnya.
"Kalian memang beneran pulang siang ini ke Jakarta?" tanya Pak Wijaya.
"Iya Pak, aku sudah sangat lama meninggalkan kantor" jawab Aril.
"Untuk kedua kalinya ya kita ditinggal pergi pengantin" potong Bu Suci.
"Maaf Tante aku memang harus pulang ke Jakarta. Masalah di Singapore masih belum selesai" jawab Aril merasa bersalah.
"Dia cuma tidak ingin diganggu Tante. Kalau sudah bagian yang enak - enak dia lupain kita" ujar Romi.
"Tau aja lu" potong Aril.
"Kalau kantor biar Papa pegang sebentar Ril" ujar Pak Wijaya.
"Papa kan sudah lama banget gak urusin kantor. Lagian banyak yang harus aku selesaikan sendiri. Aku ada mengirim beberapa barang untuk pabrik di Singapore" jawab Aril.
"Sudah dek Jaya biarin aja mereka pulang. Tidak apa - apa kok. Kami mengerti" sambut Pak Akarsana.
"Kami juga pulang duluan ya Ma. Si Kembar masih terlalu kecil khawatir kalau dibawa jalan jauh" ungkap Refan.
"Sama Fan, Ayu juga gak bisa ambil cuti. Jatah cutinya sudah habis" sambut Bagus.
"Ya sudah kita bareng aja baliknya ke Jakarta" ajak Aril.
"Mas aku pamit ya langsung pulang ke apartemen Mas Aril" ujar Bela kepada Bimo.
"Iya, lagian ngapain kamu balik ke rumahku di rumah cuma ada Bibik. Aril juga sudah pulang" jawab Bimo.
"Siap - siap yuk, biar gak kemaleman sampai Jakarta" ajak Refan.
Mereka mempercepat makan siang dan bersiap - siap pulang ke Jakarta. Ada tiga keluarga yang pulang siang ini. Mereka adalah keluarga Refan, Bagus dan Aril.
Rombongan yang pulang kembali ke kamar mereka untuk packing semua barang - barang mereka. Sedangkan yang lainnya masih tinggal di balkon Hotel menunggu Refan dan yang lainnya berberes.
Rombongan yang lainnya memutuskan untuk tetap tinggal di Surabaya menikmati liburan mereka. Ela dan Romi juga sekalian mengurus pernikahan mereka yang tinggal dua bulan lagi waktunya. Semua keluarga masih menginap d Hotel semula karena sudah di booking Bimo.
"Mas Romi" panggil seorang wanita yang sedang memegang seorang anak bayi dalam gendongannya.
Sontak semua mata memandang ke arah wanita itu setelah itu bergantian menatap Romi dengan tatapan yang mengandung banyak arti.
"Klara, kamu ngapain disini?" tanya Romi terkejut.
Ela yang ada di dekat Romi menatap dengan curiga. Apalagi ketika melihat wanita itu menggendong bayi.
Bu Budi menggenggam erat tangan Ela mencoba untuk memenangkan Ela.
"A.. aku sedang... " wanita itu melihat Romi sedang bersama banyak orang. Pasti mereka semua keluarga Romi.
Wanita yang bernama Klara menatap ke arah Ela yang berdiri paling dekat dengan Romi.
Apa Romi sudah menikah? Apa wanita ini adalah istri Romi? Aku rasa tidak, tidak mungkin Romi menikahi wanita seperti ini. Cantik sih, tapi bukan tipe Romi. Batin Klara.
"Rom tolong aku.. tolong aku Rom" ucap wanita itu dengan wajah yang terlihat sangat khawatir. Klara menarik tangan Romi untuk melindunginya.
"Mas kamu kenal wanita itu?" tanya Dini sambil berbisik kepada Riko.
Riko menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tidak mengenalnya" jawab Riko.
"Tapi kok kayaknya dekat gitu Mas sama Mas Romi?" tanya Dini.
Riko hanya mengangkat kedua bahunya untuk jawaban kalau memang dia tidak tau apa - apa tentang wanita itu.
Wajah Ela terlihat cemburu melihat wanita itu sepertinya sangat dekat dengan Romi.
"Tolong Rom" pinta wanita itu memelas.
Romi melirik ke arah Ela dan kedua calon mertuanya.
"Sebentar Klara" ujar Romi melepaskan tangan Klara yang sedang memegang lengannya.
"El bisa bicara sebentar" pinta Romi, dia berjalan mendekati Ela
Ela melirik wajah Ibunya. Bu Akarsana menganggukkan kepalanya yang berarti setuju.
Ela dan Romi menjauh dari rombongan yang lain.
"Mas siapa wanita itu?" tanya Ela penasaran.
"Temanku?" tanya Romi.
"Apakah Mas Riko dan Mas Aril mengenalnya?" tanya Ela.
"Tidak" jawab Romi.
"Itu anak siapa? Apa kamu dan dia punya hubungan dimasa lalu? " tanya Ela lagi.
"Aku tidak tau El, itu anak siapa yang dia gendong dan aku tidak punya hubungan apapun dengan dia di masa lalu tapi sepertinya dia saat ini memang benar - benar membutuhkan pertolongan" jawab Romi.
Ela terdiam dan menunduk sedih.
"Eeel please.. kamu jangan berpikiran yang negatif. Aku tidak ada hubungan apapun dengan Klara El" Romi memberi penjelasan.
Ela menatap wajah Romi dan mecari sesuatu kedalam mati Romi yang menatapnya dengan tajam. Ada kejujuran disana, tapi mengapa dia masih ragu. Mengapa ada ketakutan di hatinya juga ke khawatiran?
"Lantas Mas mau apa dariku?" tanya Ela bingung harus berbuat apa.
"Izinkan aku menolongnya. Sepertinya dia benar - benar dalam kesulitan. Kamu percaya pada Mas ya.. Mas hanya murni ingin menolongnya saja sebagai teman tidak lebih. Yakinlah tidak ada hubungan apapun antara Mas dengan dia dimasa lalu ataupun di masa yang akan datang" ucap Romi berusaha meyakinkan Ela.
Ela menarik nafas panjang.
"Baik Mas, aku percaya pada kamu. Tapi tolong jaga kepercayaanku. Kamu lihat saat ini pandangan seluruh keluarga mengarah pada kita. Jangan bertindak sesuatu yang dapat menghancurkan hubungan kita Mas" jawab Ela.
"Iya aku berjanji akan menjaga hubungan kita ini dengan baik El. Terimakasih El, Mas pergi bantu Klara dulu ya" balas Romi.
Romi menghampiri kedua orang tua Ela dan yang lainnya.
"Maaf ya Pak, Bu dan yang lainnya. Aku pergi dulu bersama Klara. Nanti setelah aku kembali aku akan jelaskan semuanya" ujar Romi pada semuanya.
.
.
BERSAMBUNG