
Setelah selesai mandi Dini keluar hanya menggunakan bathrobes dari kamar mandi karena tadi dia salah bawa pakaian. Bukan pakaiannya yang terbawa melainkan handuk yang masih di pakai Riko.
Dengan takut bercampur malu Dini keluar dari kamar mandi. Dia takut kalau Riko akan membalas perlakuannya dengan cara mogok berpakaian.
Saat melihat Riko duduk pinggir tempat tidur dengan pakaian lengkap, Dini bisa menarik nafas lega.
"Kok lama banget mandinya yank?" tanya Riko penuh lemah lembut.
"A.. aku lupa bawa pakaian Mas" jawab Dini malu.
"Lupa atau salah tarik?" goda Riko.
"Maaaas" sahut Dini cepat.
"Untung tarik handuk aku, coba kalau tarik tangan aku tadi. Pasti aku ikutan mandi lagi bareng kamu" sambung Riko.
Dini menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena terlalu malu.
"Terus kita mau sampai kapan begini? Gak mau shalat?" tanya Riko mengalihkan pembicaraan. Dia kasihan juga melihat wajah Dini merah merona seperti ini.
"Lho Mas Riko belum shalat?" tanya Dini terkejut.
Dia tadi sangat lama sekali di kamar mandi, Riko dengan begitu sabarnya menunggu dia keluar.
"Kita kan mau shalat bareng? Ini pertama kali lho setelah kita menikah? Kamu gak mau kita dapat pahala banyak?" tanya Riko.
"Mau Mas... tunggu sebentar ya, aku pakaian dulu dan berwudhu" jawab Dini cepat.
Dini meraih pakaiannya dan kembali ke kamar mandi. Tak lama kemudian dia sudah kembali di hadapan Riko. Mereka melaksanakan shalat ashar berjamaah.
Setelah itu Dini bingung harus melakukan apa. Dia hanya duduk di pinggiran tempat tidur dengan tubuh yang kaku dan takut bergerak sedikitpun sangkin tegangnya.
"Sayaaaang.. aku ini suami kamu lho bukan penjahat yang sedang menyandera kamu. Santai donk jangan tegang gitu" bujuk Riko kemudian dia duduk disamping Dini.
"Kelihatan banget ya Mas?" tanya Dini polos.
Riko tersenyum manis.
"Banget yank... kamu cantik banget" puji Riko.
Blush... pipi Dini kembali merona.
"Duuuh apa lagi pakai perona pipi alami seperti ini. Aku semakin gemas" sambung Riko.
"Mas a... aku malu" ungkap Dini.
"Gak apa - apa malu - malu. Aku suka" ujar Riko.
Riko mendekatkan wajahnya tepat di hadapan Dini. Dini hanya bisa pasrah sambil menutup matanya dan menahan nafasnya.
Hidung mereka sudah saling bertabrakan tiba-tiba...
Ting... Tong...
Bunyi bel kamar mereka membuat Riko membatalkan niatnya untuk mencium Dini. Dini bernafas lega setelah ketegangan yang melanda barusan.
"Siapa sih yang pencet bel sore - sore begini?" tanya Riko kesal.
Ting... Tong..
Bel tak berhenti berbunyi. Riko dengan kesal berjalan ke pintu kamar. Sebelum membukanya Riko mengintip dari lobang pengintaian. Dia melihat wajah Aril begitu dekat dengan pintu.
"Sial.. ngapain juga kampre* ini datang. Merusak acara mesra - mesraan saja" Umpat Riko kesal.
Walau kesal dia tetap membuka pintu kamarnya karena Aril terus menekan bel pintu kamarnya.
"Ada apa sih Ril, kamu berisik tau?" tanya Riko.
"Sengaja Bro.. aku takut kalian akan melakukan sesuatu sampai lupa waktu dan akhirnya gak shalat maghrib. Aku mau ngajak kamu shalat di Mesjid, yuk.... " ajak Aril.
"Besok pagi aja, malam ini aku shalat di kamar aja. Capek" jawab Riko.
"Ih mau jadi suami solehah? Dulu waktu selesai resepsi pernikahanku kalian juga ajak aku shalat di Mesjid. Gantian donk... emang aku aja yang diganggu" ujar Aril.
"Cih.. kamu seperti anak - anak saja, suka balas dendam" umpat Riko.
"Aku bukan balas dendam, justru aku sahabat yang sangat baik mau ajak kamu dalam kebaikan. Biar nanti kita sama - sama bareng ke surga. Yuk cepetaaan" desak Aril.
"Iya.. iya.. aku ambil peci dulu ya" jawab Riko.
Sebenarnya tetap berada di kamar berdua - duaan dengan Dini istrinya lebih menggoda dari pada pergi sama Aril.
Walau berat meninggalkan Dini karena mereka baru saja menikah dan sudah halal. Tapi Riko tidak bisa menolak ajakan Aril karena Aril memang mengajaknya untuk berbuat kebaikan.
Riko kembali kedalam kamar dan menemui Dini.
"Aril, dia ngajak shalat maghrib di Mesjid" jawab Riko.
"Ooo ya sudah pergi aja Mas. Laki - laki kan emang shalatnya di Mesjid" sambut Dini.
"Iya, aku mau ambil peciku dulu" ujar Riko.
"Eh ini Mas" Dini segera mengambilkan peci Riko.
"Mas pergi dulu ya sayang. Gak apa - apa kan kamu shalat sendirian di kamar?" tanya Riko penuh kasih sayang.
Dini tersenyum menanggapi ucapan Riko.
"Iya Mas gak apa - apa" jawab Dini.
Dini segera mencium tangan Riko sebelum pergi. Riko membalasnya dengan mengecup lembut kening Dini.
"Dah sayaaaang... I love you" pamit Riko.
Dini tersenyum mendengar ucapan Riko.
"Lho gak dijawab?" tanya Riko balik.
"Iya Mas love you too" jawab Dini.
"Sayangnya mana?" goda Riko.
"Love you too Mas Riko sayaaaang" balas Dini.
Riko tersenyum manis membuat Dini semakin cinta dengan suaminya itu. Riko pergi meninggalkan Dini dan keluar kamar. Aril sudah menunggunya di depan kamar.
"Yuk Ril kita pergi" ajak Riko.
Mereka berjalan ke basement menuju mobil Aril.
"Lho kita naik mobil? Emang gak ada Mesjid di dalam hotel?" tanya Riko.
"Gak ada, adanya uma musholla. Kita cari Mesjid dekat sini" jawab Aril.
Aril dan Riko naik ke dalam mobil dan pergi meninggalkan hotel. Mereka sudah melewati satu Mesjid.
"Ril itu Mesjid" tunjuk Riko.
"Gak asik, Mesjidnya kecil. Kesana dikit ada Mesjid besar dan cantik. Kita shalat di sana aja. Lagian waktunya masih cukup" ujar Aril.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di parkiran Mesjid yang memang lebih besar dan megah.
"Rame amat kayak ada pengajian" komentar Riko.
"Baguskan berarti langkah kanan, kita bisa dapat banyak pahala hari ini dengarkan pengajian" sambut Aril.
Riko menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Aku punya pahala besar yang sedang menungguku Ril di kamar. Batin Riko sambil membayangkan wajah bidadari hatinya, Dini.
Mereka langsung berwudhu dan mengambil tempat untuk shalat Maghrib. Setelah selesai shalat Magrib di umumkan kalau di Mesjid akan ada ceramah dari ustadz terkenal.
"Waaah bagus banget ya nasib kita. Aku suka sama Ustadz itu, dia kan lagi viral. Ceramahnya bagus - bagus" ucap Aril.
"Iya Ril tapi bakalan lama nih pulangnya?" sambut Riko khawatir.
"Udah, Dini bakalan ngerti kok. Santai bro, jarang - jarang nih ada kesempatan begini" balas Aril.
Akhirnya mereka menunggu sampai tiba shalat Isya dan shalat isya berjamaah. Setelah itu mereka menunggu Ustadz datang. Tapi ternyata Ustadznya kejebak macet sehingga telat sampai.
Riko sudah sangat gelisah, mana dia lupa bawa HP lagi untuk mengabari Dini. Pasti Dini sudah menunggunya sedari tadi.
"Ril kamu bawa HP gak?" tanya Riko.
"Aduuh lupa karena buru - buru tadi" jawab Aril.
"Sama donk" balas Riko.
"Kamu mau ngabari Dini? Udah gak apa - apa tuh Ko. Dini kan sabaran orangnya" sambut Aril.
Rasain lo, emang enak malam pertama gagal? aku gak mau cuma aku saja yang merasakannya. hahahaha.... Tawa Aril dalam hati.
.
.
BERSAMBUNG