Playboy Insaf

Playboy Insaf
Sembilanpuluh



"Setelah aku pikir - pikir tak baik kalau kamu masuk ke kamar saya. Ini Kota Surabaya, kota kelahiran kamu. Disini pasti banyak teman dan saudara - suadara kamu. Kalau mereka melihat kamu di kamar Hotel sama seorang laki - laki bisa rusak nama kamu. Bagaimana kalau sebaiknya kita bahas pekerjaan ini di rumah kamu saja? Kita kerjakan semua disana?" tanya Romi memberi tawaran.


Ela melirik wajah Bapaknya.


"Tidak masalah Nduk" ucap Pak Budi sambil tersenyum ramah.


"Baiklah.. kalau Bapak tidak keberatan. Bapak kan tau sendiri kalau rumah saya kecil. Gak sebesaaaar... " jawab Ela.


"Kan saya yang pinta tadi?" potong Romi.


"Oke.. tapi kenapa Bapak bawa koper?" tanya Ela.


"Aku takut kita kerja sampai larut malam dan gak sempat balik ke Hotel. Besok kita harus meeting lagi. Sekalian saja aku bawa koper kan biar besok dari rumah kamu langsung ke lokasi" jawab Romi.


Ela terdiam sesaat kemudian Pak Budi menyenggol lengan putrinya.


"Ah baiklah.. " jawab Ela.


Yeees.. rencanaku berhasil. Sorak Romi dalam hati.


"Ya sudah Pak, mari saya bawa kopernya ke mobil" pinta Pak Budi.


"Gak usah Pak biar saya bawa aja sendiri. Mobilnya parkir dimana?" tanya Romi.


"Disana.. Mari Pak Romi" ajak Pak Budi.


Romi dan Pak Budi berjalan menuju mobil sementara Ela masih terdiam menatap dua pria yang ada di hadapannya.


Pak apa sih mau Bapak? Aku berusaha membangun dinding yang kokoh di hatiku agar aku tidak jatuh hati padamu. Tapi kalau kau terus masuk dalam kehidupanku dindingnya bisa roboh Pak. Aku gak mau aku terluka nantinya, kamu sudah punya tambahan hati Pak. Batin Ela.


"Cishelaaa... ayo" panggil Romi.


Ela tersadar dan dia segera berjalan menyusul dua pria itu dan sampai ke mobil mereka. Mobil melaju menuju rumah Pak Budi.


"Lho udah balik lagi, cepat toh?" tanya Bu Budi heran.


"Gak jadi kerja di Hotel bu, di rumah saja" jawab Ela saat masuk ke dalam rumah.


"Lah gimana Pak Romi nya Nduk?" tanya Bu Budi bingung.


"Pak Romi ikut ke rumah kita, dia mau menginap di sini" jawab Ela.


"Lah.. lah.. gimana ceritanya? Dia tidur dimana Nduk? Rumah kita sederhana gini, lebih besar dan empuk lagi tempat tidur di hotel, ada ACnya. Disini cuma ada kipas angin dan AC alam" ujar Bu Budi panik.


"Biarin aja Bu, itu maunya Pak Romi. Biar dia tidur di kamar aku. Aku nanti tidur di kamar Mbak Ranti. Aku mau beresin kamarku dan pindahin koperku" ungkap Ela.


Romi dan Pak Budi duduk di ruang tamu. Romi merasa sangat lega akhirnya bisa berkunjung ke rumah ini lagi. Hatinya sangat senang karena seperti mendapatkan pengalaman baru. Dia bosan tinggal di Hotel, mending sesekali ngerasain tinggal di rumah kampung.


"Banyak nyamuk disini lho Pak" ujar Pak Budi.


"Gak apa - apa Pak, dimana - mana nyamuk juga banyak. Namanya nyamuk juga mau hidup Pak mau cari darah manusia" balas Romi.


"Ah Pak Romi bisa aja hahaha" sambut Pak Romi.


Bu Budi keluar dari kamar Ela dan berjalan untuk melihat tamu mereka malam ini.


"Lho ada Pak Romi toh" ujar Bu Budi.


"Ah iya Bu maaf malam - malam mengganggu. Sebelum Ela sampai saya terus berpikir, gak enak kalau Ela yang datang ke kamar saya. Lebih baik saya yang kesini Bu. Di sini kan ada Bapak dan Ibu jadi tidak akan ada fitnah kan?" ungkap Romi.


Pak Bu dan istrinya saling pandang.


"Benar Pak, tapi rumah kami ini... " sambut Bu Budi.


"Tidak apa - apa Bu. Saya suka kok tinggal di sini. Rumahnya hangat" potong Romi tersenyum.


Tak lama Ela muncul.


"Pak kamarnya sudah siap, Bapak bisa letakkan koper atau mau istirahat. Saya mau siapkan laporan yang Bapak pinta tadi" ujar Ela.


Ela menunjukkan kepada Romi dimana dia akan menginap malam ini. Romi masuk ke dalam kamar Ela. Dia melihat sekeliling kamar dan melihat beberapa foto - foto Ela di dalamnya.


Romi tersenyum senang. Akhirnya aku bisa semakin dekat denganmu Cishela.. Aku bisa tidur dikamar kecilmu ini, bahkan tempat tidur ini adalah tempat tidur yang mungkin tadi baru kau tiduri. Hahaha.. indahnya jatuh cinta. Teriak Romi dalam hati.


Romi berganti pakaian dengan pakaian santai. Dia memakai celana pendek dibawah lutut dan bajo kaos. Setelah itu Romi kembali keluar kamar dan menemui Ela dan Bapaknya di ruang keluarga.


Ela sedang sibuk mengetik pekerjaannya di laptop sedangkan Pak Budi menonton TV. Bagitu Romi datang Pak Budi langsung mematikan TV-nya karena takut mengganggu Ela dan Romi bekerja.


"Kenapa dimatikan Pak? lanjut aja nontonnya" ujar Romi.


"Terlalu ribut Pak nanti Bapak dan Ela terganggu kerjanya" jawab Pak Budi.


"Justru kalau dimatikan terasa sepi Pak. Pekerjaan kami tidak banyak kok, saya hanya tinggal cek hasil kerja Ela" ucap Romi.


Pak Budi kembali menyalakan TVnya. Romi duduk tepat di kursi yang paling dekat dengan Ela sedangkan Ela duduk di lantai sedangkan laptopnya berada di atas meja.


Ela memakai baju rumah tapi tetap mengenakan jilbab. Wajahnya sangat polos tanpa polesan tapi aura kecantikannya tetap terlihat.


Romi benar - benar menikmati saat - saat seperti ini. Hampir saja dia tidak bisa menyembunyikan rasa senang hatinya.


"Kalian tidak kepanasan?" tanya Pak Romi.


"Nggak Pak" jawab Ela


Ela melirik ke arah Romi.


"Bapak?" tanya Ela.


"Nggak cuma aku dahaga Cishela" bisik Romi.


"Eh maaf.. maaf Pak aku lupa ambilkan minum Bapak" ujar Ela.


"Ibu sudah buatin di dapur kok El" sambut Pak Budi.


"Pengen es dawet tadi siang" ungkap Romi.


"Oh iya aku lupa masih ada es dawet ya. Tunggu sebentar Pak" ujar Ela.


Ela berdiri dan berjalan ke dapur, tak lama kemudian membawa es dawet yang sudah dia masukin ke dalam gelas. Bu Budi juga berjalan disampingnya membawa singkong goreng dan kopi.


"Ibu udah buatin minum rupanya" ujar Ela.


"Gak apa - apa buat nanti biar gak ngantuk" sambut Romi senang.


Bu Budi meletakkan kopi dan singkong di atas meja.


"Maaf Pak Romi cuma ada makanan begini di kampung" ucap Bu Budi.


"Tidak masalah Bu, saya suka. Sesekali ganti suasana" sambut Romi.


"Silahkan diminum Pak" perintah Ela.


Mereka kembali menikmati es dawet yang mereka beli tadi sore. Setelah itu Ela dan Romi melanjutkan pekerjaan mereka sampai jam sebelas malam ditemani Pak Budi sambil menonton TV.


Bu Budi sudah masuk ke kamar lebih dahulu dan beristirahat. Setelah pekerjaan mereka selesai barulah mereka masuk ke kamar mereka masing-masing.


Romi masuk ke kamar Ela dan tidur diatas ranjang Ela juga. Dia bersorak kegirangan tanpa suara diatas ranjang Ela.


Wangi kamu masih sangat terasa di ranjang ini El. Ah bahagianya... malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak dan mimpi indah. Mimpi bersama Ela.. Cinta memang gila hahahaha.... Suara hati Romi.


.


.


BERSAMBUNG