Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Empatpuluh Sembilan



Setelah makan siang bersama teman - temannya Bela kembali ke kantornya. Bela kemudian mulai mencari file untuk mengajukan cuti. Niat hati Bela sebenarnya ingin pergi diam - diam agar Aril merasa kehilangan tapi Bela sadar pekerjanya.


Tugasnya sebagai sekretaris harus menyusun semua jadwal Aril. Tak mungkin Bela pergi begitu saja tanpa memberitahu Aril.


Walau Bela sedang kesal kepada Aril tapi Bela tidak bisa bertindak seegois itu kepada Aril. Bela tak tega, entahlah.. banyak pikiran yang sedang berperang di dalam kepala Bela.


Setelah surat cuti selesai dibuat Bela langsung membawanya ke ruangan Aril dan meletakkannya dia atas meja kerja Aril.


Dengan wajah lesu, Bela memandang ruangan Aril yang tersusun rapi. Tiba - tiba dia merindukan kehangatan di ruangan ini. Dulu Aril dan dia sering berdiskusi masalah pekerjaan sambil bercanda. Aril terlihat sangat sabar menghadapi dia yang belum berpengalaman dalam bekerja.


Aril dengan penuh perhatian terus mengajari Bela dan membimbing Bela mengenal dunia usaha, negosiasi dan bisnis.


Di ruangan ini juga mereka sering bekerja lembur sampai larut malam mengerjakan rancangan proyek kerjasama dengan para client mereka.


Kini ruangan ini terasa sepi dan dingin. Siapa yang disalahkan atas semua ini? Aril atau dirinya sendiri? Tanpa Bela sadari air matanya menetes.


Apakah aku memang sudah jatuh cinta? Apakah aku sudah mencintainya? Apakah aku terlambat menyadarinya? Dan apakah sudah tidak ada peluang untukku lagi merasakan kehangatan yang dulu pernah aku rasakan?


Sepertinya aku memang sudah terlambat. Tak mungkin aku mengganggu hubungan Mas Aril dengan Mbak Sintia? Pasti semua orang akan mengalahkanku karena dulu aku sendiri yang sudah menolak lamaran Mas Aril.


Ya Allah beginikah sakitnya yang Mas Aril rasakan dulu saat aku menolak lamaran nya? Apakah aku egois jika ingin mendapatkannya lagi? Sedangkan dia sudah berhasil move on dari aku yang sudah menyakitinya.


Mungkin aku harus menerima kenyataan pahit ini? Salahku terlambat menyadari perasaan ini. Kini semua sudah tiada artinya lagi. Aku hanya bisa mendoakan Mas Aril, semoga dia mendapatkan kebahagiannya dengan Mbak Sintia.


Bela menghapus air mata yang jatuh di pipinya. Kemudian Bela segera menjauh dari meja kerja Aril. Saat dia hendak keluar dari ruangan Aril, Aril masuk ke dalam ruangannya.


"Lho Bel, ngapain ke ruangan aku?" tanya Aril penasaran.


"Eh a.. anu Mas, aku mau letakin surat cuti" jawab Bela.


"Surat cuti siapa, kamu? Kamu mau cuti? Kamu mau kemana? kok tiba - tiba banget?" tanya Aril kaget.


"Gak tiba - tiba kok Mas, masih seminggu lagi. Aku mau pulang ke Surabaya. Kangen Bapak sama Ibu, kangen rumah" jawab Bela sendu.


"Kamu ada masalah?" tanya Aril.


Bela hanya diam saja.


"Jangan sungkan Bel, cerita aja padaku? Kan aku ini Masnya kamu? Anggap aja kamu lagi curhat sama Bimo. Mungkin saat ini Bimo kan lagi sibuk urusin istrinya yang lagi hamil muda jadi kamu bisa cerita padaku. Sama aja kok, aku tidak akan buka dengan yang lain. Rahasia kamu akan aman aku simpan" bujuk Aril.


Dalam hati Aril tersenyum. Apakah kamu ingin lari dariku Bel? Kamu gak sanggup melihat aku dekat dengan Sintia? Apa kamu merasa sakit? Apakah kamu sudah mencintai aku, Bela Akarsana? tanya Aril dalam hati.


"Ng... gak ada Mas? Aku hanya kangen pulang aja. Sekalian mau ikut bareng Ela dan Mas Romi. Minggu depan kan keluarga Mas Romi mau datang ke rumah orang tua Ela untuk lamaran resmi. Aku ingin hadir di acara itu" jawab Bela.


"Eh iya ya, aku aja lupa kalau minggu depan lamaran Romi dan Ela di Surabaya. Kenapa kamu gak bilang dari tadi. Aku kan ingin hadir juga" sambut Aril.


"Eh tapi minggu depan kan Mas ada meeting dengan Perusahaan Pratama? Dan gak bisa diundur lagi" jawab Bela mengingatkan.


"Jadi gimana Mas? Aku dapat izin cuti kan?" tanya Bela.


"Berapa hari?" tanya Aril lagi.


"Seminggu Mas" jawab Bela.


"Buset lama amat Bel? Terus kerjaan kamu di sini gimana?" tanya Aril.


Seminggu mana sanggup aku tidak melihat wajah kamu selama itu Bel. Batin Aril.


"Aku udah pesan sama Mas Dedi (asisten Aril) untuk menggantikan tugas aku selama seminggu ini Mas, dan dia setuju. Tergantung izin dari Mas. Kalau Mas kasih izin cuti ku, dia siap menggantikan kerjaku" jawab Bela.


Aril tampak sedang berpikir untuk memutuskan permintaan Bela barusan. Aril menarik nafas panjang.


"Ya sudah kalau begitu, aku gak bisa cegah atau tolak cuti kamu. Soalnya Ela pasti butuh kamu kan di sana. Kalau aku tolak bisa - bisa Romi marah padaku karena kamu gak bisa temani Ela" jawab Aril.


"Terimakasih Mas. Seminggu ini aku akan siapkan semua kerjaan aku untuk seminggu kedepan selama aku cuti. Agar Mas Dedi gak terlalu repot dan Mas juga bisa persiapan" janji Bela.


"Ya sudah, kamu atur saja semuanya. Yang penting semuanya beres" balas Aril.


"Baik Mas, aku balik dulu ke mejaku ya" ucap Bela pamit.


Bela hendak berbalik.


"Eh Bel.. dapat salam dari Sintia. Katanya dia pengen kenal dekat sama kamu. Kapan - kapan dia ingin ajak kamu shopping atau makan siang diluar" ucap Aril.


"Bo.. boleh Mas. Aku tunggu kabarnya dari Mbak Sintia. Salam balik sama Mbak Sintia ya Mas" balas Bela.


Hatinya terasa semakin perih ketika Aril dengan cerianya menyebut nama Sintia di hadapannya. Bela melanjutkan langkahnya keluar ruangan Aril.


Ngapain Mbak Sintia mau kenal dekat denganku? Dia mau korek informasi tentang Mas Aril padaku? Atau dia menganggap aku adalah saingan? Tenang Mbak walau aku memang sudah mencintai Mas Aril tapi aku bukan wanita jahat. Aku tidak akan mengganggu atau merusak hubungan kalian. Biarlah rasa sakit ini aku pendam sendiri. Suatu saat rasa sakit ini akan hilang dan lukaku akan sembuh. Batin Bela.


Bela kembali menatap layar monitornya dan melanjutkan pekerjaannya. Sementara Aril duduk di meja kerjanya sambil menatap surat cuti Bela yang tadi dia letak di atas meja kerja Aril.


Aril menarik nafas panjang.


Maafkan aku Bel, aku tidak ada niat untuk menyakiti hati kamu. Aku hanya ingin berjuang untuk mendapatkan kamu. Mungkin dengan cara seperti ini kamu akan merasa kehilangan aku dan menyadari kalau selama ini aku punya tempat di hati kamu. Apakah kamu kehilangan aku Bel? Apakah kamu sudah mencintai aku? Apa arti surat cuti ini Bel? Apakah benar - benar karena Ela atau kamu ingin lari sebentar dari aku dan menata hati kamu untukku? Semoga setelah kamu kembali, kamu sadar kalau kamu mencintaiku. Harap Aril dalam hati.


.


.


BERSAMBUNG