Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Sembilanpuluh Delapan



Acara pernikahan Riko berjalan dengan lancar. Semua keluarga, tamu undangan dan para sahabatnya sangat senang menyaksikan kebahagiaan kedua mempelai hari itu.


Senyum Riko dan Dini tak pernah surut. Riko juga tak perlah melepaskan tangannya dari tangan Dini. Dia selalu menggenggamnya erat disetiap kesempatan.


"Kita berangkat honeymoonnya besok aja ya yank" bisik Riko.


Seeer... jantung Dini berdesir. Baru ini kali pertama Riko memanggilnya sayang.


"I.. Iya Mas" jawab Dini.


Sore harinya pesta sudah selesai, semua sudah kembali ke rumah mereka masing - masing. Hanya tinggal Riko dan Dini yang tinggal di Hotel untuk menikmati malam pertama mereka.


Tapi ternyata mereka tidak benar - benar tinggal sendiri. Saat mereka naik lift mereka bertemu dengan sibiang kerok.


"Lho kalian kok gak pulang?" tanya Riko kesal melihat temannya itu.


"Kami kan mau honeymoon juga. Kami masih penganten baru" jawab Aril.


"Penganten baru apa? Kalian sudah dua bulan menikah" ujar Riko.


"Tapi kan kamu tau kalau seminggu nikah kami berpisah selama tiga minggu. Kami baru bisa hidup normal sebagai suami istri sebulan ini. Jadi kami mau honeymoon yang kedua. Ya kan Yank?" jawab Aril.


Bela terlihat sungkan dan merasa tidak enak dengan Riko dan Dini.


"Maaf ya Din, suamiku ini memang langka" bisik Bela kepada Dini.


Dini hanya membalasnya dengan senyuman.


"Apa yank? Suami kamu ini memang langka, makanya harus dilestarikan dengan cara kita cetak penerusku sebanyak - banyaknya. Nah saat ini adalah salah satu waktu yang tepat. Kita harus sesering mungkin melakukannya agar kita berhasil. Jangan sampai keduluan Riko dan Dini" komentar Aril.


Bela mencubit pinggang Aril karena geram.


Ting... lift berhenti. Aril dan Bela siap - siap hendak keluar lift.


"Lho kalian tidur dilantai ini juga?" tanya Riko.


"Iya donk, kita mana mau kamar murahan yang kecil. Gak leveeel" jawab Aril sombong.


Lagi - lagi cubitan Bela mendarat di pinggang Aril.


"Maaas gak usah lebay" bisik Bela.


"Aaaw... sakit yank" teriak Aril kesakitan.


Riko tertawa lebar menyaksikan sahabatnya kesakitan.


"Maaf ya Mas Riko atas tingkah Mas Aril yang suka nyebelin. Kalau aku tau sifat aslinya begini, pasti aku akan menolak lamarannya yang kedua" ujar Bela menyesal.


"Hahaha... kamu baru dua bulan menikah dengan Aril sudah menyesal Bel. Aku sudah setengah hidup aku berteman dengan dia. Udah gak tau lagi harus berbuat apa" sambut Riko.


"Apa yank, kamu menyesal menikah denganku? Mau menolak lamaran kedua aku dulu? Sini kuingatkan ya Yank, sebelum aku melamar kamu yang kedua kalinya bukannya kamu duluan yang melamar aku diTanah Lot? Kamu mendadak amnesia?" tanya Aril.


"Itu kan karena aku gak tau Mas aslinya kamu begini. Malu - maluin tauuuuk" jawab Bela kesal melihat tingkah suaminya itu


Dini hanya tersenyum melihat peperangan manja sahabatnya ini.


"Malu tapi kamu mau kan yank?" Aril langsung merangkul pinggang Bela.


"Yuk yank kita masuk ke kamar kita yang tak kalah indahnya dengan kamar pengantin dikamar sebelah" ajak Aril.


"Sial... bisa - bisanya kamarku sebelahan dengan kamar dia" umpat Riko kesal.


Aril dan Bela segera meninggalkan Riko dan Dini di depan pintu lift. Mereka berjalan menuju kamar mereka yang hanya ada dua kamar dilantai ini.


Riko menatap lembut wajah istrinya.


"Yuk sayank kita nikmati hari indah ini tanpa ada gangguan" goda Riko dengan senyuman mautnya.


Wajah Dini langsung bersemu merah dan menunduk malu. Melihat wajah istrinya seperti itu Riko jadi gak tahan melihatnya.


"Mau aku gendong?" Riko memberikan tawaran.


Riko menggandeng mesra tubuh Dini dan mereka berjalan berdua menuju kamar mereka yang memang berada tepat disamping kamar Aril.


Sesampainya di dalam kamar, Riko meletakkan Dini duduk di kursi yang ada di depan kaca untuk berhias.


"Sini aku bantuin kamu buka jilbab? Aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah kamu sayang" bujuk Riko.


"Maaas... " sahut Dini malu.


"Gak usah malu sayang, aku kan sekarang sudah menjadi suamiku kamu. Jadi sejak saat ini apapun yang kita lakukan untuk pasangan akan dianggap pahala. Hari ini dan seterusnya aku ingin mendapatkan pahala yang banyak dengan membahagiakan kamu" ungkap Riko.


Wajah Dini semakin merah merona. Dengan sangat hati - hati Riko membantu Dini untuk melepas jilbabnya. Satu persatu kain yang menutupi kepala dan wajah Dini dibuka.


Kini wajah Dini polos tanpa jilbab sudah terlihat jelas di hadapan Riko.


"Subhanallah sayaaang... kamu cantik sekali. Benar - benar bidadari Mas Riko" puji Riko.


"Maas aku malu" jawab Dini.


"Jangan malu, ingat semua ini sudah halal bagi kita" balas Riko.


"Sekarang kita mandi ya setelah itu shalat ashar. Kamu mau kita mandi bareng?" tanya Riko.


"Ma.. maaf Mas. Aku belum siap. Mas aja ya duluan" tolak Dini lembut.


Riko dapat mengerti apa yang dirasakan istrinya. Semua ini adalah hal pertama bagi Dini. Tidak seperti dia yang sudah sangat berpengalaman dibidangnya.


"Ya sudah aku duluan ya.. Ingat kamu jangan kemana - mana ya" ucap Riko.


"Maaas, emangnya aku mau kemana dalam keadaan seperti ini?" tanya Dini.


"Aku hanya takut kamu pergi sayang. Karena aku sudah sangat lama memimpikan hal seperti ini terjadi. Kamu menjadi istriku sampai maut memisahkan kita" jawab Riko.


Dini langsung mendorong tubuh Riko karena salah tingkah.


"Udah Maaaas, sana kamu duluan mandi. Biar aku siapkan pakaian kamu" ucap Dini.


"Oke.. oke sayang" sambut Riko.


Riko berjalan menuju kamar mandi, sedangkan Dini mempersiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Ini adalah kewajiban pertama Dini melayani semua kebutuhan suaminya.


Tak lama kemudian Riko keluar hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya. Dada polos Riko yang sangat bagus mirip roti sobek terpampang jelas dihadapan Dini.


Seketika Dini menelan salivanya karena pemandangan ini. Riko hanya tersenyum simpul.


"Sampai kapan kamu mau menikmati tubuhku ini sayang? Hari sudah sore lho. Nanti malam aja ya kita saling menikmati tubuh masing-masing" goda Riko.


"Aah Mas Rikooo" Tanpa sadar Dini langsung menarik handuk Riko karena malu dan berlari ke kamar mandi.


"Sayaaang apa yang kamu lakukan?" teriak Riko.


Dini terdiam dan berbalik arah, alangkah terkejutnya dia melihat tubuh polos Riko tanpa memakai apapun. Dini melihat ke tangannya ternyata handuk Riko yang dia pegang. Padahal tadi dia mau mengambil pakaiannya.


Tapi Dini salah ambil karena salah tingkat di hadapan Riko.


"Astaghfirullah.. Ma.. maaf Mas" ucap Dini kemudian dia segera melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.


Jantung Dini rasanya sangat kencang berdetak karena baru saja menyaksikan apa yang dia lihat. Walau semua itu sudah halal baginya tapi tetap saja dia masih sangat takut dan malu.


"Ya Tuhaaan... apa yang aku lakukan pada Mas Riko? Pasti dia mikirnya aku udah gak tahan banget saat ini. Duuuuh malunya" gumam Dini yang bersandar di balik pintu kamar mandi sambil menenangkan jantungnya.


Sementara Riko tertawa bahagia dengan apa yang baru Dini lakukan padanya.


"Hahahaha... Dini ku sayaaang... Oh indahnya seperti ini. Kalau aku tau yang halal itu lebih indah sudah dari dulu akan aku lakukan" gumam Riko sambil tertawa.


.


.


BERSAMBUNG