
Mama Riko sibuk menyiapkan hidangan makan malam bersama asisten rumah tangganya. Dini sangat sungkan kalau harus berdiam diri saja. Dini memberanikan diri untuk menyusul Mama Riko di dapur.
"Sudah Din kami di depan saja nanti Ibu panggil. Ngapain coba repot - repot ikut ke belakang. Ibu juga cuma menata makanan Bapak saja kok, yang lainnya sudah disiapkan bibik" ucap Mama Riko.
"Gak apa - apa Bu, biar cepat selesai kan" sambut Dini sambil tersenyum.
"Kalian dari mana sebelumnya?" tanya Mama Riko.
"Dari perusahaan Pak Reno Subrata Bu" jawab Dini.
"Ngapain kalian ke sana? Bukannya itu perusahaan keluarga almarhumah Renita?" tanya Mama Riko.
Tentu saja dia ingat nama pria yang disebutkan Dini tadi karena anak pria itu adalah cinta pertama Riko yang tak kesampaian.
"Saya bekerja di sana Bu. Sejak Pak Reno pemilik perusahaan itu meninggal, Mas Refan yang mengurus Perusahaan itu. Jadi saya dan teman saya membantu Mas Refan di sana" jawab Dini.
"Sudah lama kamu bekerja di sana?" tanya Mama Riko.
"Belum Bu, besok baru mulai bekerja. Tadi kami menyusun bahan untuk meeting besok dengan para pejabat perusahaan" jawab Dini.
Mama Riko selesai menata meja.
"Din, tolong panggilkan Riko dan Papanya, ajak makan bareng yuk" perintah Mama Riko.
"Baik Bu" sambut Dini.
Dini segera berjalan menuju ruang keluarga dan memanggil Riko dan Papanya untuk makan makan bersama.
"Papa Dini kerja dimana?" tanya Papanya Riko.
"Papa pensiunan PNS Pak, Mama ibu rumah tangga" jawab Dini.
"Wah berarti Papa dan Mama Dini tinggal menikmati masa tua ya" ujar Papa Dini.
"Dini anak ke berapa?" selidik Mama Riko.
"Saya anak bungsu dari dua bersaudara Bu" jawab Dini.
"Wah syukur deh alhamdulillah punya saudara gak sepi sendirian seperti Riko. Sekarang tinggal kami berdua saja di rumah ini, Riko lebih sering di apartemen. Kami jadi kesepian" ungkap Mama Riko.
"Iya makanya nanti kalau Riko menikah kami ingin mendapatkan banyak cucu biar rumah kami ini kembali ramai" sambut Papa Riko.
Riko dan Dini saling lirik, Dini terlihat sedih saat Papanya Riko membicarakan hal itu.
"Do'ain aja ya Pa" ujar Riko.
Mereka akhirnya selesai makan malam dan kembali duduk di ruang keluarga. Duduk santai sambil berbincang-bincang hangat.
"Pa, Ma.. ini Dini yang dulu pernah Riko ceritain. Kami menjalani proses ta'aruf beberapa bulan yang lalu hanya saja ada sedikit kendala, alhamdulillah sekarang semuanya sudah selesai. Maaf kalau baru kali ini aku bisa membawa Dini ke rumah kita dan mengenalkannya kepada Papa dan Mama" ungkap Riko.
Papa dan Mama Riko saling lirik dan tersenyum.
"Papa dan Mama sangat senang menyambut niat baik kalian. Jadi kapan kami bisa datang ke rumah orang tua Dini?" tanya Papa Riko.
"Secepatnya Pa" jawab Riko.
"Tapi Mas, Bapak dan Ibu harus tau tentang... " ujar Dini.
"Nanti Mas akan kasih tau, yang penting Papa dan Mama sudah kenal dengan kamu dan sudah lihat wajah kamu. Kata orang tak kenal maka tak sayang. Jadi aku ajak kenalan dulu biar Papa dan Mama juga sayang sama kamu" potong Riko.
Dini masih merasa sungkan karena Riko belum jujur ke orang tuanya tentang penyakitnya.
"Kalau begitu nanti sampaikan kepada orang tua kamu ya Dini. Minggu ini kami akan datang ke rumah orang tua kamu untuk silaturahmi" ujar Papa Riko.
"Ba.. baik Pak" jawab Dini ragu.
Wajah Dini semakin pucat dan tegang saat mendengar perkataan Mamanya Riko.
Sekitar jam sembilan malam Riko dan Dini pamit untuk pulang. Riko akan mengantarkan Dini ke rumah orang tuanya setelah itu baru dia kembali ke apartemennya.
"Ma.. Pa.. aku pamit dulu ya. Aku antar Dini pulang dulu ke rumahnya setelah itu baru aku akan kembali ke apartemen. Besok rencananya aku akan pulang dan menginap di sini" ujar Riko.
"Benarkah?" tanya Mama Riko tak percaya.
"Bagus, banyak hal yang harus kita bicarakan prihal tentang rencana pernikahan kalian" sambut Papa Riko.
"Iya Pa" balas Riko.
Dini mencium tangan kedua orang tua Riko untuk berpamitan.
"Pak, Bu, Dini pulang ya" pamit Dini.
"Iya Din, terimakasih kamu sudah mau datang ke rumah kami. Sering - sering datang ke sini ya walau pernikahan kalian masih sedang dalam perencanaan" pinta Mama Riko.
"Iya Bu" jawab Dini.
"Nanti kita akan masak bareng. Saya akan ajari kamu masak makanan favorit Riko" ujar Mama Riko penuh semangat.
"Ba.. baik Bu" sambut Dini.
Dini dan Riko keluar dari rumah orang tua Riko dan masuk ke dalam mobil. Kemudian mereka melaju menuju rumah Dini.
"Mas kenapa gak jujur saja pada Bapak dan Ibu tentang penyakit aku. Kamu dengar tadi, mereka sangat menginginkan cucu yang banyak. Jangankan banyak Mas, satu aja mungkin akan sulit terwujud" ujar Dini sedih.
"Diiin.. kamu jangan bicara seperti itu. Dokter tidak memvonis kamu mandul. Kandungan kamu hanya bermasalah. Kalau ditangani dengan baik insyaallah pasti akan sembuh" sambut Riko.
"Tapi aku tidak mau pernikahan kita diawali dengan sebuah kebohongan. Aku lebih suka jujur walau itu pahit. Walau mungkin akhirnya akan sakit tapi setidaknya aku lega dan tidak merasa bersalah" ungkap Dini.
"Gak ada yang mau berbohong. Besok Mas kan mau menginap di rumah Mama. Besok Mas akan cerita semuanya tentang kita" ungkap Riko.
"Tapi kalau Papa dan Mama Mas membatalkan rencana pernikahan kita gimana?" tanya Dini khawatir.
Riko tersenyum lembut sambil menatap Dini.
"Kamu tidak perlu khawatir, yakinlah Papa dan Mama akan memberikan restu untuk pernikahan kita. Percaya padaku, aku akan bisa meyakinkan mereka tentang pernikahan kita. Mereka akan menerima kamu, karena kamu adalah pilihanku" jawab Riko.
Dini menarik nafas panjang.
"Aku sangat takut Mas" ujar Dini.
"Lho dulu siapa coba yang suka kasih semangat padaku? Kok sekarang malah kamu yang gak punya semangat" tanya Riko.
"Entahlah Mas aku rasanya.. Oh ya Allah aku hanya bisa berserah diri" jawab Dini.
"Nah gitu donk, yang penting kita sudah berusaha dan berdoa, Allah pasti akan melihat niat suci kita untuk membangun sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrahmah" ucap Riko memberi semangat.
"Aamiin... " sambut Dini.
"Sekarang kamu tenang ya.. setelah sekian banyak yang kita lalui, aku tidak akan menyerah begitu saja. Kita akan saling menguatkan dan berjuang bersama" sambung Riko.
"Iya Mas... aku akan berusaha lebih tenang" balas Dini.
.
.
BERSAMBUNG