
"Yuk Pa kita ke Hotel" ajak Anita.
"Papa di sini saja" jawab Papa Dini.
"Paaa.... cuma boleh satu orang saja yang jaga di sini" ujar Mamanya Dini.
Papa Dini tampak sedang berpikir.
"Ya sudah lah.. yok" Jawab Papanya Dini akhirnya.
"Kami pergi dulu ya sayang.. kamu tidur dan istirahat yang cukup" pesan Papa Dini.
"Iya Pa" jawab Dini.
Papa Dini mencium puncak kepala anaknya. Anita dan Galuh beserta Yoga juga pamitan dengan Dini.
"Aku juga pergi dulu Din, besok balik lagi bareng Bapak, Mas Galuh, Anita dan Yoga. Kamu istirahat ya, besok baru diperiksa semuanya" ucap Riko sebelum pergi.
"Iya Mas, terimakasih ya" jawab Dini dengan mata berkaca - kaca.
Sungguh dia tidak ingin Riko melihatnya terbaring lemah seperti ini di rumah sakit. Tapi apa daya semua telah terjadi, tak mungkin mencegah Riko melihatnya sementara Riko sudah bela - belain jauh - jauh datang dari Jakarta ke Bandung demi dirinya.
Riko menatap wajah bidadari surganya yang terlihat pucat itu sekali lagi sebelum pergi.
"Bu, kami pergi dulu ya.. tolong jagain Dini" ucap Riko pada Mama Dini sebelum pergi.
Mama Dini tersenyum membalas ucapan Riko.
"Pasti Ibu jagain Ko, Dini kan putri ibu" jawab Mama Dini.
Riko tersenyum tipis membalas ucapan calon mertuanya itu. Riko dan keluarga Dini lainnya kembali berjalan menuju mobil dan mencari Hotel terdekat dari Rumah Sakit.
Sesampainya di Hotel.
"Bapak mau kamar sendiri atau mau bareng aku biar gak sendirian" ucap Riko menawarkan diri.
"Gak usah, biar aku sendiri saja" jawab Papa Dini ketus.
"Oh ya udah Pak, gak apa - apa. Siapa tau tadi Bapak gak mau tidur sendiri. Aku bersedia kok menemani" balas Riko.
"Kamu pikir aku anak kecil, takut tidur sendirian di kamar" ujar Papa Dini tak senang.
"Paaa.... " potong Anita.
"Ya sudah Mbak, tiga kamar ya. Papa sama Yoga aja ya kalau gitu tidurnya" ucap Galuh.
"Kalau Yoga aku mau asal bukan dia" jawab Papa Dini sambil melirik Riko.
"Papaaaa... " potong Anita.
"Gak apa - apa Nit" balas Riko.
Petugas hotel memberikan tiga kunci kamar untuk Riko dan keluarga Dini tempati malam ini. Mereka berjalan menuju kamar mereka.
"Maafin Papa ya Ko" ucap Galuh yang merasa gak enak pada Riko atas sikap mertuanya yang terlihat sangat tidak menyukai Riko.
"Tidak apa - apa Mas. Aku mengerti kok" jawab Riko.
Mereka masuk ke kamar masing-masing dan beristirahat. Setelah selesai bersih - bersih Riko merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya.
Riko kembali teringat wajah lemah Dini tadi di rumah sakit. Perasaanya rasanya sangat tak tega melihat pujaan hatinya seperti itu
Kamu sakit apa Din? Apakah sesuatu yang berbahaya? Mengapa kamu merasa kesakitan setiap kali datang bulan? Apakah kamu mengidap penyakit yang berat? Apakah kalau kita menikah nanti kita bisa memiliki anak?
Banyak pertanyaan silih berganti muncul di kepala Riko membuat dia pusing memikirkan semuanya.
Sudahlah lebih baik aku tidur saja agar besok bisa lebih segar kembali ke rumah sakit. Apapun yang terjadi harus dihadapi. Semoga tidak ada yang berbahaya dengan Dini. Doa Riko dalam hati.
Riko kemudian menutup matanya dan mecoba berdamai dengan pikirannya. Tak lama kemudian Riko sudah terlelap.
Keesokan paginya.
"Ko, kami pergi duluan ke Rumah Sakit ya... Papa sudah gak sabar minta ke Rumah Sakit sejak subuh tadi" ucap Galuh lewat teleponnya kepada Riko.
"Lho gak sarapan dulu Mas?" tanya Riko.
"Gak usah, kata Bapak sarapan di Rumah Sakit aja bareng Mama dan Dini" jawab Galuh.
"Ya sudah kalau begitu Mas bareng Bapak dan lainnya langsung aja ke Rumah Sakit, biar aku yang cari sarapan pagi untuk kita semua" balas Riko.
Riko segera bersiap untuk keluar dari kamar hotelnya. Untung saja tadi subuh sebelum shalat subuh dia sudah mandi. Jadi tidak perlu terburu - buru saat - saat seperti ini.
Riko keluar dari kamarnya dan berjalan keluar dari lobby hotel dan masuk ke dalam mobilnya kemudian berkeliling kota Bandung sebentar untuk mencari sarapan pagi untuk dia dan keluarga Dini.
Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan akhirnyaa Riko kembali menuju Rumah Sakit dengan membawa semua belanjaannya.
"Apa itu Nak Romi? Banyak sekali barang bawaannya?" tanya Mama Dini.
"Sarapan untuk kita semua Bu" jawab Riko.
Riko meletakkan belanjaannya di meja sofa kamar rawat inap Dini.
"Silahkan Pak, Mas di makan" ucap Riko.
"Makasih ya Mas Riko" sambut Anita.
Anita memberikan makanan kepada suami dan Papanya.
"Papa masih kenyang" tolak Papa Dini.
"Pa... Papa harus sarapan biar kita semua kuat menjaga Dini di sini. Kalau ada yang sakit lagi diantara kita kan nanti repot Pa" bujuk Anita sambil memegang makanan untuk Papanya.
Akhirnya Papa Dini mau juga menerima makanan yang dibeli Riko dan memakannya.
Sekitar jam sembilan pagi Dini mulai menjalani pemeriksaan lengkap. Tahap demi tahap sudah dijalani. Dan sekitar jam dua siang hasilnya akan keluar.
Siang harinya Riko mendapat telepon dari rekan bisnisnya yang mengetahui kalau dia sedang di Bandung saat ini. Riko pamit kepada Dini dan keluarganya untuk bertemu dengan rekan bisnisnya.
Sebenarnya Riko sangat berat pergi tapi dia tidak enak menolak undangan rekan bisnisnya untuk makan siang bersama.
Akhirnya Riko pergi juga menemui rekan bisnisnya setelah berpamitan dengan Dini dan keluarganya.
"Aku pergi dulu ya Din, aku usahain kembali ke Rumah Sakit sebelum hasil pemeriksaan kamu selesai" ucap Riko.
"Iya Mas, hati - hati" jawab Dini.
"Kalau kamu atau siapapun ingin sesuatu jangan sungkan hubungi saja aku ya. Nanti akan aku cari" ungkap Riko.
"Iya Mas, terimakasih" Jawab Riko.
Riko pergi menemui rekan bisnisnya dan meninggalkan rumah sakit. Mereka janjian bertemu di sebuah Restoran terkenal di Kota Bandung.
"Hai Pak Riko senang bertemu Anda kembali" sapa rekan bisnis Riko.
"Hai Pak Albert" balas Riko sambil tersenyum.
"Ada acara apa ke Bandung ini?" tanya pria yang ternyata bernama Albert.
"Calon istri saya sakit Pak, dia tinggal di kota ini" jawab Riko.
"Wah sudah punya calon istri rupanya. Orang Bandung juga?" tanya pria itu.
"Sebenarnya dia orang Jakarta tapi bekerja di Bandung Pak" jawab Riko.
"Oh begitu, ayo silahkan duduk.. mari kita pesan menu makan siang kita" ajak pria itu ramah.
Riko dan rekan bisnisnya makan siang bersama sambil berbincang-bincang tentang bisnis mereka. Setelah selesai makan siang Riko melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan jam dua siang.
"Maaf Pak Albert saya harus kembali ke Rumah Sakit segera" ucap Riko pamit.
"Oh iya ya silahkan.. salam buat calon istri anda, semoga cepat sembuh dan semoga Pak Riko dan calon istrinya segera menikah" ucap Pak Albert mendoakan Riko.
"Aamiin... makasih Pak Albert" Riko dan Pak Albert saling berjabat tangan.
Riko segera bergegas kembali ke Rumah Sakit. Entah mengapa semakin dekat tujuan perasaanya semakin tidak karuan apalagi kalau sudah memikirkan penyakit apa yang sedang di derita Dini.
Sesampainya di Rumah Sakit Riko langsung berjalan menuju ruang rawat inap Dini. Dia memang sudah telat sedikit dari waktu yang sudah ditentukan. Tak apalah setidaknya nanti dia tetap bisa mengetahui hasilnya dari Dini atau keluarganya.
Begitu Riko masuk ke dalam ruang inap Dini tiba - tiba semua menatap ke arahnya. Seketika Riko jadi grogi karena tatapan seluruh keluarga Dini.
Jantung Riko berdegup sangat kencang. Apa yang terjadi? Apakah Dini mengidap penyakit yang parah? tanya Riko dalam hati.
.
.
BERSAMBUNG