Playboy Insaf

Playboy Insaf
Sembilanpuluh Delapan



Reni, Dini, Bela dan Ela sudah selesai makan. Mereka mulai berjalan mengelilingi Mall untuk membeli beberapa barang untuk keperluan mereka ke Labuhan Bajo.


Mereka membeli baju renang yang sama, membeli beberapa baju, sepatu, tas dan keperluan mereka yang lainnya.


Tanpa terasa waktu terus mengalir hingga sore hari. Mereka shalat maghrib di Mushola Mall. Setelah itu akan dilanjutkan makan malam.


Setelah mereka shalat dan sedang bersiap - siap tiba - tiba ponsel Reni bergerta.


Calon Imam


Ren, Mas sudah sampai nih. Kalian dimana?


Bidadari Surga


Mas kami mau makan dulu


Calon Imam


Ya sudah kalau begitu bareng aja makannya. Makan dimana? Biar Mas datang ke sana?


Bidadari Surga


Di Restoran XXX


Calon Imam


Ya sudah, tinggu ya.. sebentar lagi Mas sampai di tempat.


"Mas Bimo udah sampai Ren?" tanya Bela.


"Sudah, sebentar lagi nyusul. Yuk kita makan dulu" ajak Reni.


"oke... " sambut Bela.


Reni dan teman - temannya berjalan menuju Restoran XXX. Mereka mencari tempat yang nyaman.


Tak lama Bimo datang dan ternyata tidak sendiri. Bimo membawa pasukan yang lain. Mereka adalah Riko, Romi dan Aril.


"Hai.. para bidadari surga kami boleh bergabung" sapa Aril.


"Silahkaaaaan.. " sambut Reni.


"Banyak banget belanjaannya?" tanya Bimo.


"Iya kami beli beberapa baju untuk dipakai di Labuhan Bajo" jawab Reni.


Romi mengambil tempat duduk disamping Ela.


"Belanjaan kamu mana?" tanya Romi.


"Ini Mas" jawab Ela sambil menunjukkan barang belanjaannya.


"Cuma ini?" tanya Romi.


"Iya cuma ini yang aku butuhkan" jawab Ela.


Romi menatap ke arah Reni dan Reni memberikan kode memainkan sebelah matanya ke arah Romi. Romi mengerti pesan tak tertulis Reni dan dia tersenyum.


Mereka memesan makan malam bersama.


"Mas kok bisa datang bareng Mas Bimo?" tanya Dini.


"Tadi jadwal Bimo mampir ke apartemen Romi saat kami semua kumpul disana. Bimo bilang dia baru aja pulang dari antar Reni, Bela dan Ela ke sini dan janjian sama kami. Akhirnya kami semua ikutan ke sini biar kita semua bisa makan malam bareng. Asik kan rame?" tanya Riko.


Dini membalas ucapan Riko dengan senyuman.


"Jadi udah sejauh mana persiapan kalian untuk berangkat ke Labuhan Bajo minggu depan?" tanya Aril.


"Kami sudah beli baju renang, baju jalan, tas, sepatu dan lainnya" jawab Bela.


"Pantesan belanjaan kamu banyak" sambut Aril.


Tiba - tiba muncul tiga wanita yang berpakaian sexy dan menghampiri mereka.


"Hai Aril, Romi.. Riko.. Apa kabar? Lama udah gak ketemu kalian? Kemana aja?" tanga wanita yang paling menor.


Semua mata menatap ke empunya suara. Riko, Romi dan Aril terkejut melihat kedatangan tiga wanita itu.


"Kalian, ngapain di sini?" tanya Aril tak senang.


"Makan donk, gak mungkin mancing kan" balas wanita itu.


"Mungkin juga, mancing keributan ahahahaha... Ril minum yuk di tempat biasa. Udah lama banget kan gak jalan bareng" ajak wanita itu dengan senyum menggoda.


Bela tampak sedang melirik tak senang kearah wanita itu.


"Maaf Fina aku sedang jalan bareng teman - temanku" jawab Aril.


Fina menatap Bela dan Ela yang duduk dekat dengan Aril. Tatapannya terlihat tidak suka dan merendahkan Bela dan Ela karena tampilan mereka yang memakai pakaian tertutup.


"Tumben kamu jalan bareng cewek seperti mereka" sindir Fina.


Ela tampak mengepal tangannya. Romi menyadari kalau Ela mulai terpancing emosinya.


Gawat kalau sampai Ela menunjukkan aksi beladirinya di sini. Batin Romi.


"Tolong jangan ganggu kami Fina" sambut Riko.


Riko menatap Fina dengan tatapan tajam dan mengancam, membuat wanita sadar bahwa ketiga pria ini tidak suka dengan kehadirannya.


"Yuk Fin kita balik saja" ajak wanita yang satunya lagi.


Akhirnya Fina dengan kedua temannya pergi meninggalkan Riko dan teman - temannya.


"Sulit memang bersih dari bayang- bayang masa lalu. Kalian harus bersabar dan lebih kuat" ujar Bimo.


"Iya Bim, kami tau resiko apa yang akan kami lalui" sambut Riko.


"Kamu juga harus kuat Din dan siap menerima jika hal ini terjadi dimasa yang datang" ujar Bimo.


Riko melirik ke arah Dini dan Dini tersenyum lembut


"Saya sudah siap Mas, InsyaAllah" jawab Dini.


"Alhamdulillah... " sambut Riko bahagia.


Aril dan Romi saling lirik.


Enak banget jadi Riko, Dini bisa menerima segala resiko masa lalu Riko. Andaikan Ela juga bisa menerima aku seperti itu, alangkah indahnya hidup ini. Batin Romi.


Gimana mau terima masa laluku, terima hatiku saja Bela belum mau. Kalau aku sudah bisa mendapatkan hatinya pasti dia bisa menerima aku apa adanya. Batin Aril sedih.


Setelah selesai makan mereka memutuskan untuk pulang. Riko mengantar Dini pulang ke rumahnya. Sedangkan Bimo pulang bersama Reni, Bela dan Ela. Aril dan Romi pulang berdua.


Saat mereka hendak masuk ke dalam mobil. Romi mendekati Reni dan berbisik di dekat Reni.


"Setan kecil terimakasih ya" ucap Romi.


"Sama - sama Mas Rombeng" sambut Reni.


Reni duduk di depan di samping Bimo sedangkan Bela dan Ela duduk di kursi penumpang.


"Ril, Rom.. kami duluan ya" ujar Bimo.


"Oke Bim, hati - hati ya" sambut Romi.


Bimo mulai menyalakan mobilnya dan melaju menuju arah rumah mereka. Memang pilihan memilih rumah dekat daerah rumah Refan tidak salah. Bimo tidak kesulitan wara - wiri mengantar dan menjemput Reni setiap kali mereka mau pulang.


Akhirnya mereka sampai juga di rumah Refan. Reni turun dan mengambil barang - barangnya di dalam bagasi mobil Bimo. Sebelum pergi Reni memanggil Ela.


"El sini sebentar" panggil Reni.


Ela turun dari mobil dan mendekati Reni.


"Ya Ren, ada apa?" tanya Ela.


"Ini bungkusan untuk kamu ya" ujar Reni.


"Lho kenapa Ren? Kan kamu beli untuk kamu pakai nanti di Labuhan Bajo" tolak Ela.


"Aku sengaja membelinya untuk kamu anggap saja kado pernikahanku" ujar Reni.


"Reni... harusnya aku yang memberi kado pada kamu. Kan kamu yang mau nikah, aku yang harus ngasi kado pernikahan untuk kamu" elak Ela.


Ela merasa sungkan atas pemberian Reni.


"Jangan di tolak ya El.. Aku memang sudah berencana untuk membelikan kamu semua ini" ungkap Reni.


Ela menatap wajah Reni, terlihat Reni memang sangat tulus memberikan semua ini padanya.


"Baiklah Ren... makasih ya" ujar Ela.


Ela memeluk Reni dengan erat kemudian masuk kembali ke dalam mobil. Reni melambaikan tangannya mengiringi kepergian calon suaminya dan calon adik iparnya.


Reni segera meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada Romi.


Setan Kecil


Rombeng... misi selesai.


Rombeng


Makasih Setan Kecil... nanti Mas kasih kado spesial untuk kamu ya...


Setan Kecil


Benar ya.. awas jangan cuma janji saja. Kalau gak aku ngambek. Gak mau bantuin Mas Rombeng lagi.


Rombeng


Oke Setan Kecil...


.


.


BERSAMBUNG