
Sudah sepekan Papa Dini di rawat di Rumah sakit, selama itu juga setiap hari Riko datang menjenguk sekalian bertemu dengan pujaan hatinya.
Tapi selama itu juga Papanya Dini tidak pernah mengajaknya berbicara. Bagi Riko itu tidaklah menjadi masalah asalkan dia tidak diusir dari sana.
Hari ini Papa Dini akan pulang karena keadaannya semakin pulih dan membaik. Riko datang untuk menjemput mereka karena Galuh berhalangan. Galuh harus keluar kota untuk urusan pekerjaannya sedangkan Anita sibuk menyiapkan rumah untuk menyambut orang tuanya pulang.
Riko menjemput tepat waktu. Di rencanakan jam empat sore Papa Dini sudah boleh pulang. Satu jam sebelumnya Riko sudah tiba di Rumah Sakit dan sudah selesai mengurus semua administrasi Rumah Sakit.
Walau Galuh, Anita dan Dini menolak bantuan dari Riko untuk membayar semua biaya Rumah Sakit tapi akhirnya Riko berhasil mengurus semuanya. Pihak Rumah Sakit menolak pembayaran dari pihak keluarga Pak Dharmawan dengan alasan bahwa biayanya sudah dibayar semua oleh Riko.
Kini Riko sudah tiba di kamar rawat inap Pak Dharmawan.
"Sudah siap semuanya Pak, Bu, Din?" tanya Riko penuh perhatian.
"Sudah Mas" jawab Dini.
Riko membawa kursi roda dan meletakkannya tepat dihadapan Pak Dharmawan.
"Ayo Pak saya bantu duduk di kursi roda" ajak Riko.
"Tidak usah, saya bisa sendiri" jawab Pak Dharmawan.
Pak Dharmawan duduk sendiri dengan pelan - pelan. Kemudian Riko mendorong kursi roda itu dari belakang. Sedangkan Dini dan Mamanya membawa barang - barang kecil yang tertinggal. Yang lainnya sudah lebih dulu dibawa Riko dan Dini ke mobil Riko.
Riko mendorong Pak Dharmawan dengan kursi roda sampai ke mobil.
"Kenapa sih harus di jemput, kita kan bisa naik taxi kalau Galuh dan Anita gak bisa jemput" ucap Pak Dharmawan.
"Maaf Pak, saya yang meminta kepada Ibu dan Dini untuk menjemput dan membawa Bapak pulang ke rumah" jawab Riko.
"Paaaak" tegur Mamanya Dini.
Wajah Pak Dharmawan tampak sekali tidak suka dengan keadaan ini.
"Maaaas" panggil Dini, dia merasa bersalah.
"Ssst... " Riko mencoba menenangkan Dini. Dia bisa menerima perlakuan Papanya Dini dengan lapang dada.
Riko membantu Pak Dharmawan masuk ke dalam mobilnya dan duduk di kursi belakang bersama istrinya. Sedangkan Riko dan Dini duduk di depan.
Riko mulai menyalakan mobil dan menjalankannya menuju rumah Dini. Di tengah perjalanan Riko bertanya kepada Dini dan Mamanya.
"Ada yang ingin dibeli lagi sebelum kita sampai di rumah?" tanya Riko.
Dini melirik ke belakang.
"Ada Ma, Pa?" tanya Dini.
"Tidak ada, Papa mau cepat sampai rumah" jawab Pak Dharmawan ketus.
"Gak ada Mas" ujar Dini kepada Riko.
"Baiklah" sambut Riko santai. Dia tidak mau terlihat mati gaya di hadapan Papa Dini.
Akhirnya mereka sampai di rumah orang tua Dini. Lagi - lagi Riko ingin membantu Pak Dharmawan naik ke kursi roda tapi di tolak Pak Dharmawan.
"Sudah Mas biarin aja" bisik Dini.
Setelah Pak Dharmawan berhasil duduk sendiri Riko akhirnya mendorong sampai ke dalam rumah.
"Bapak dibawa kemana Bu?" tanya Riko.
"Ke kamar aja ya Nak Riko" jawab Mama Dini.
"Oh baiklah... Mari Pak kita ke kamar" ajak Riko.
Riko membawa Pak Dharmawan sampai ke kamar. Sesampainya di kamar Pak Dharmawan akan di bantu Riko untuk naik ke atas tempat tidur.
"Sudah.. sudah.. saya bisa sendiri" ujar Pak Dharmawan.
Riko membiarkan Pak Dharmawan sendirian naik ke atas tempat tidur setelah beliau berhasil naik Riko segera meninggalkan kamar Pak Dharmawan.
"Saya pamit keluar ya Pak, semoga lekas sembuh" ucap Riko.
Riko berbalik badan dan hendak keluar kamar tapi saat Riko membuka gagang pintu tiba - tiba dia mendengar suara Pak Dharmawan.
"Terimakasih sudah membantu saya" ucap Papa Dini.
Riko langsung membalikkan badannya.
"Sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu Bapak" jawab Riko.
Pak Dharmawan merebahkan tubuhnya dan beraring di atas tempat tidur, sambil tersenyum tipis Riko keluar dari kamar Papanya Dini.
"Kenapa Mas, kok senyum? Ada yang lucu?" tanya Dini curiga.
"Bapak ngucapkan terimakasih padaku" jawab Riko senang.
"Oh ya? Mas serius?" tanya Dini tak percaya.
Riko tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya serius.. Bapak bilang, terimakasih sudah membantu saya setelah itu dia berbaring tidur" ulang Riko.
"Alhamdulillah.. syukurlah Mas kalau Papa sudah berkata begitu. Itu artinya Papa sudah mulai membuka hatinya" ucap Dini ikut senang.
"Aamiin... semoga semuanya semakin baik dan lancar ya" doa Riko.
"Aamiin.. aku juga berharap begitu Mas" sambut Dini.
"Mas Riko silahkan duduk... " panggil Anita.
"Iya Nit" jawab Riko.
Riko duduk di ruang keluarga bersama Dini, Yoga dan Anita sedangkan Mamanya baru saja masuk ke kamar.
"Tadi Papa ngucapin terimakasih sama Mas Riko Mbak, karena sudah membantunya" Dini mengadu pada kakaknya.
"Oh ya.. suatu kemajuan itu. Mudah - mudahan Papa semakin membuka hatinya. Harap maklum ya Mas Riko, Papa kami memang sangat keras" sambut Anita.
"Tidak apa Nit, aku mengerti kok. Kamu kapan balik ke Bandung Din?" tanya Riko.
"Mm lusa Mas. Aku sudah cuti satu minggu, gak bisa ditambah lagi" jawab Dini.
"Mau aku antar ke Bandung?" Riko memberi penawaran.
Dini melirik ke arah kakaknya, Anita membalasnya dengan senyuman.
"Tenang aku bawa supir kok, jadi kita gak berdua aja di dalam mobil" sambung Riko.
"Boleh Mas" jawab Dini akhirnya.
"Ya sudah, lusa pagi atau sore pulangnya. Biar aku jemput ke sini?" tanya Riko.
"Pagi aja Mas, biar cepat sampai di kosan. Aku mau beres - beres dulu biar gak terlalu capek" jawab Dini.
"Kalau begitu lusa pagi aku datang kemari ya untuk jemput kamu" ujar Riko.
"Iya Mas" jawab Dini.
"Mas Galuh berapa lama diluar kota?" tanya Riko kepada Anita.
"Lusa juga pulang kok" jawab Anita.
"Kalau butuh sesuatu jangan sungkan panggil aku, di rumah ini kan gak ada pria yang besar selain Bapak. Bapak juga masih lemah. Kalau ada yang penting kabari aku secepatnya ya" ujar Riko.
"Baik Mas Riko" jawab Anita dan Dini barengan.
"Mas main sama Yoga sebentar ya kami mau siapkan makan malam" pinta Dini.
"Oke.. " jawab Riko.
Dini dan Anita berjalan ke arah dapur untuk memasak sedangkan Riko mengajak Yoga bermain di ruang keluarga. Setelah selesai shalat maghrib mereka makan bersama di ruang makan.
"Bapak makan dimana Bu?" tanya Riko.
"Bapak makan di kamar saja katanya masih belum kuat jalan keluar" jawab Mama Dini.
"Kan ada kursi roda, kok gak panggil aku. Aku bisa bantuin Bapak dan bawa ke sini" ujar Riko.
"Gak apa - apalah Nak Riko biar Bapak makan di kamar saja" ucap Mamanya Dini.
Mereka melanjutkan makan malam berlima saja karena Pak Dharmawan memilih makan di kamar. Tak tau apakah ingin mengelak bertemu dengan Riko atau memang dia masih lemas sehingga memilih makan di kamar saja.
Yang jelas hati Riko saat ini sedang berbunga - bunga karena calon mertuanya sudah mulai bisa membuka hatinya untuk menerima Riko di rumah ini.
Setelah selesai makan malam bersama Riko berpamitan pulang kepada Dini dan seluruh keluarganya.
.
.
BERSAMBUNG