Playboy Insaf

Playboy Insaf
Limapuluh Sembilan



Tiga minggu berlalu setelah kepergian Dini ke Bandung. Walau Dini sudah tidak tinggal di rumah orang tuanya tapi setiap minggu Riko datang ingin bertamu ke rumah Dini.


Riko tetap saja belum mendapatkan sambutan yang baik dari Papa Dini. Dia selalu diusir dengan cara yang tidak baik. Tapi Riko sudah bertekad tidak akan sakit hati kepada Papanya Dini. Karena Riko menganggap itulah tantangannya dan perjuangannya untuk mendapatkan Dini.


Hari ini adalah hari acara tujuh bulanan Kinan. Beberapa hari sebelumnya Refan sudah sibuk memberi kabar kepada para sahabatnya agar datang ke rumahnya untuk menghadiri acara tersebut.


Riko, Romi, Aril dan Bagus datang sepuluh menit sebelum acara di mulai sedangkan Bimo sudah datang sejak tadi dikarenakan rumah Bimo dan Refan sangat dekat di banding yang lainnya.


Acara dimulai tepat pukul sepuluh pagi. Seluruh keluarga sudah berkumpul di rumah Refan dan Kinan. Begitu juga dengan para sahabat dan anak - anak panti asuhan beserta ustadznya.


Seluruh acara berjalan dengan lancar. Setelah pengajian dan mendengarkan ceramah ustadz baru mereka makan siang bersama.


Reni, Bela dan Ela lagi sibuk menyusun cake ke dalam piring kecil dan akan dihidangkan ke para tamu. Tiba - tiba Dini mendekati mereka.


"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Dini.


"Eh hai Dini... datang juga rupanya. Mbak Anita ya?" tanya Reni.


Reni dan Dini sudah berkenalan dengan Dini dulu saat Kinan mengadakan acara empat bulanan.


"Iya, tadi malam aku baru sampai Jakarta" jawab Dini tersenyum ramah.


"Lho emangnya kamu dimana sekarang?" tanya Reni.


"Aku kerja di Bandung Ren" jawab Dini.


"Waaah selamat ya... Eh kenalin ini teman - teman aku. Bela dan Ela" ujar Reni.


Dini saling berjabat tangan dengan Bela dan Ela.


"Dini"


"Bela"


"Ela"


"Aku bantuin ya... " ucap Dini.


Mereka berempat membantu menghidangkan makanan yang di sajikan siang itu kepada seluruh tamu. Termasuk kehadapan para sahabat Refan.


"Mas dimakan ya hidangannya" ucap Reni kepada teman - teman Refan.


"Di.. Dini... " ucap Riko terkejut.


Dini hanya diam dan menundukkan wajahnya. Riko sangat terkejut melihat Dini ada di sini. Karena Dini tidak ada memberi kabar padanya dia akan datang ke acara tujuh bulanan Kinan.


"Kapan datang dari Bandung?" tanya Riko lagi.


"Tadi malam Mas" jawab Dini.


"Sama siapa datang ke sini?" tanya Riko lagi.


"Sama Mbak Anita Mas" balas Dini.


Dini menghidangkan minuman kepada Riko dan yang lainnya. Riko terus saja melirik gerak - gerik Dini dan kemanapun dia pergi.


Bagus dan Aril saling lirik melihat reaksi Riko yang masih terkejut dengan kehadiran Dini di rumah Refan ini. Sedangkan Romi memperhatikan Ela sedari tadi.


Rasanya dia pernah melihat wajah wanita ini? Tapi kapan dan dimana? Pikir Romi.


"Ril siapa dua gadis itu?" tanya Romi sambil melirik ke arah Bela dan Ela.


"Oh yang itu bidadari surgaku dari Surabaya. Adiknya Bimo" bisik Aril.


"Trus yang satu lagi?" tanya Romi.


"Yang satu lagi ya karyawan kamu. Masak gak pernah lihat dia dikantor. Bos apaan sih kamu sama pegawainya saja gak perhatian" celetuk Aril.


"Di.. dia karyawan di perusahaanku? Yang kemarin Refan bilang itu?" tanya Romi masih tak percaya.


"Iya" jawab Aril.


Aril segera memanggil Ela yang sedang membawa makanan kecil untuk mereka.


"El.. sini" panggil Aril.


"Ya Mas Aril" jawab Ela sopan.


"Kamu kenal pria yang ada di samping aku ini?" tanya Aril.


Ela menggelengkan kepalanya.


"Ini Bos kamu di kantor. Dia pemilik perusahaan tempat kamu bekerja" ujar Aril.


Wajah Ela langsung tampak tegang dan salah tingkah menatap Romi. Dia langsung menunduk hormat dan mengulurkan tangannya ke arah Romi.


"Ma.. maaf Pak, saya terlambat mengenali Bapak. Saya Ela" ucap Ela sopan.


Romi menyambut uluran tangan Ela.


"Romi. Siapa tadi nama kamu?" tanya Romi lagi.


"Ela Pak" jawab Ela.


"Cishela Budianto" jawab Ela pelan.


"Siapa?" tanya Romi kurang jelas.


"Cishela Budianto Pak, biasa di panggil Ela" jawab Ela lebih keras.


"Ci.. Cishe... La... " eja Romi.


"Iya Pak" balas Ela.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Romi.


Ela menggelengkan kepalanya.


"Belum pernah Pak" jawab Ela hormat.


"Maaf kalau saya bertanya sedikit hal pribadi. Kamu dari Surabaya kan?" tanya Romi.


"Iya Pak" jawab Ela.


"Jurusan apa dan tamatan dari Universitas mana?" desak Romi.


"Universitas XXX jurusan Fakultas Ekonomi Pak" jawab Ela.


"Sudah lama memakai jilbab?" tanya Romi.


"Ma.. maksud Bapak? Saya tidak mengerti arah pertanyaan Bapak?" Ela balik bertanya.


"Kamu sudah lama pakai jilbab? Saya seperti tidak asing dengan wajah kamu tapi gadis yang pernah aku kenal dulu tidak memakai jilbab?" tanya Romi.


"Saya sudah satu tahun Pak pakai jilbabnya" jawab Ela.


Romi semakin yakin siapa gadis yang ada di hadapannya.


"Kamu Cici kan?" tebak Romi.


"Ci.. ci?" tanya Ela bingung.


"Bro maksud kamu dia Cici, gadis yang kamu cari beberapa tahun ini?" tanya Aril.


Aril tersenyum dalam hati.


Rasain kamu, aku udah kasih clue dari dulu sama kamu untuk mencari karyawan baru di kantor kamu tapi kamu tidak mau mendengar ucapanku. Sekarang rasakan kan? Kamu pasti terkejut melihat kenyataanya. Tawa Aril dalam hati.


"Iya, kamu pernah ke Jakarta sekitar dua tahun yang lalu? Saat itu kamu masih kuliah semester lima?" tanya Romi.


Ela mengangguk polos ke arah Romi. Dia masih tidak ingat kemana arah pembicaraan Romi.


"Saat di Jakarta kamu main ke diskotik bersama saudara kamu. Tapi kamu malah di ganggu dua orang pria dan ada pria yang nyelamatin kamu. Kemudian mengajak kamu makan di cafe setelah itu mengantar kamu pulang ke rumah?" ungkap Romi.


Wajah Ela tegang seketika, dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia kini sudah mengingat kejadian dua tahun yang lalu. Saat dia jalan - jalan ke Jakarta bersama Bela. Tapi saat itu dia tinggal di rumah majikan bukdenya di Jakarta.


Malam itu, Ela diajak oleh anak majikannya. Katanya mau ngajak dia jalan - jalan tapi ternyata Ela dibawa ke diskotik dan ditinggal disana.


Ela diganggu oleh dua orang pria. Sebenarnya Ela bisa beladiri tapi dia tidak mau buat keributan di Jakarta akhirnya dia memilih pergi. Saat di pintu keluar tanpa sengaja dia menabrak seorang pria yang akhirnya menyelamatkan Ela dari kejadian dua pria sebelumnya.


Kemudian Ela dibawa makan oleh pria itu dan diantarkan pulang sampai rumah majikan Bukdenya. Setelah itu Ela tidak pernah berhubungan lagi dan tidak pernah bertemu dengan pria itu lagi.


Siapa sangka besarnya kota Jakarta ini ternyata mereka bisa bertemu lagi setelah dua tahun dan sungguh Ela tak pernah bayangkan kalau pria itu adalah Bos di kantornya.


Dan yang membuat Ela terkejut pria itu masih mengingat kejadian dua tahun yang lalu. Bahkan dia sendiri saja sudah lupa kalau tidak diingatkan kembali oleh pria itu.


"Benarkah kamu Cici?" desak Romi penuh harap.


Ela menganggukkan wajahnya pertanda iya.


"Ma.. Maaf Pak. Bapak masih mengingat saya?" tanya Ela takut.


"Tentu saja saya mengingat kamu karena kamu sudah berbohong kepada saya. Esok harinya saya datang lagi ke rumah dimana kamu saya antar pada malam itu. Tapi seorang wanita yang keluar dari dalam rumah itu tidak mengenal gadis yang bernama Cici" jawab Romi dengan suara lantang.


"Saya tidak berbohong Pak. Nama saya kan memang Cishela. Jadi saya memakai nama depan Saya. Kalau teman - teman di sekolah dulu memanggil saya dengan nama Cici. Hanya keluarga dekat dan sahabat saja yang memanggil saya Shela atau Ela" jawab Ela.


"Benar juga Rom, dia gak bohong kok pada kamu. Kamunya aja yang kurang beruntung saat itu" potong Aril.


Hahaha... mampu* lo Rom, bandel sih. Umpat Aril dalam hati.


Romi merasa dia seperti dipermainkan gadis yang ada di depannya.


"Besok di kantor temui saya di ruangan saya. Sepertinya kita harus berkenalan dengan cara yang benar sebagai atasan dan bawahan. Saya tunggu kamu besok diruangan saya jam sepuluh pagi" perintah Romi.


Tatapannya dingin kepada Ela membuat Ela menunduk takut.


Ya Tuhan.. benar kata teman - teman di kantor pria ini sangat kejam. Lihat tatapannya saja aku tak sanggup. Apakah besok aku akan dipecat? Maafkan Ela Pak, Bu.. Ela belum bisa membuat kalian bangga. Tapi Ela janji pada diri sendiri. Ela tidak akan pulang ke Surabaya sebelum berhasil membahagiakan Bapak dan Ibu. Batin Ela.


.


.


BERSAMBUNG