
Keesokan harinya setelah menjemput Dini ke kantor barunya dan mengantarkannya pulang ke rumahnya. Riko pulang ke rumah orang tuanya.
"Assalamu'alaikum Ma, Pa" ucap Riko sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
"Wa'alaikumsalam" jawab Papa dan Mama Riko.
Riko duduk di sofa ruang keluarga dan ikut bergabung dengan kedua orang tuanya.
"Kamu sudah makan?" tanya Mama Riko penuh perhatian.
"Sudah Ma, tadi aku makan malam diluar sama Dini setelah aku jemput dari kantor. Kemudian aku antar dia baru aku pulang ke rumah" jawab Riko.
"Jadi gimana rencana pernikahan kalian?" tanya Papa Riko.
Riko menarik nafas panjang.
"Ada yang ingin aku sampaikan pada Papa dan Mama" ujar Riko.
"Kamu mau bicarakan apa lagi? Bukannya orang tua Dini sudah merestui kalian? Dulu kan halangannya itu, sekarang semua sudah baik - baik saja kan? Papa Dini terima kamu kan?" tanya Papa Riko penasaran.
"Iya Pak, keluarga Dini semua sudah bisa menerima aku dengan baik. Tapi ini bukan masalah restu mereka, ini masalah tentang Dini. Dini mengidap penyakit Endometriosis Ma, Pa" ungkap Riko.
"Itu penyakit Mama dulu" sambut Mama Riko.
"Benarkah?" tanya Riko tak percaya.
"Iya benar. Waktu gadis Mama sering pingsan setiap datang bulan tapi alhamdulillah setelah menikah tidak lagi" ungkap Mama Riko.
Riko langsung menarik nafas panjang.
"Oh syukur lah.. " jawab Riko.
"Emang kenapa Ko? Kamu kok gusar begitu?" selidik Papa Riko.
"Sejak mengetahui penyakit yang dia derita, Dini jadi tidak percaya diri untuk menikah denganku Ma, Pa. Dia takut nanti disalahkan jika kami tidak memiliki anak. Apalagi aku hanya anak tunggal dan kemarin waktu Dini datang ke sini, Papa dan Mama cerita cucu. Dia merasa terbebani dan merasa bersalah. Dia tidak mau pernikahan kami ini diawali dengan sebuah kebohongan, jadi dia memintaku untuk jujur kepada Mama dan Papa menceritakan bagaimana keadaan Dini saat ini " ungkap Riko pasrah.
Mama Riko berdiri dan menghampiri Riko. Dia duduk tepat disamping putranya.
"Endometriosis bukan mandul, memang mungkin sulit untuk punya keturunan tapi banyak kok wanita yang menderita penyakit itu berhasil hamil. Buktinya Mama, walau anak Mama hanya kamu, tak mengapa" ujar Mama Riko memberi semangat.
"Aku juga berkata seperti itu Ma pada Dini tapi dia sangat takut mengecewakan kalian" jawab Riko.
Mama Riko tersenyum melihat putra tunggalnya ini terlihat sangat tertekan.
"Mama minta maaf ya sayang, mungkin kata - kata Mama membuat kalian terbebani. Mama kan tidak tau penyakit Dini sebelumnya. Sebagai seorang orang tua, kami memang sangat ingin sekali mempunyai cucu yang banyak. Tapi kalau Allah memang tidak memberi kalian kepercayaan, mau bagaimana lagi? Mama harus marah pada kalian? atau marah pada Allah? Kamu lahir saja sudah sebut anugerah untuk kami sayang dan Mama yakin Dini juga akan bisa hamil sama seperti Mama. Nanti kalau kalian menikah kita atur pola makan dan pola hidup sehat Dini ya. InsyaAllah berhasil yang penting tetap ikhtiar dan berdoa" sambut Mama Riko penuh kasih sayang.
Riko langsung memeluk Mamanya dan bisa bernafas lega.
"Syukurlah kalau masalahnya bisa kita atasi. Anak itu adalah rezeki, dan rezeki setiap orang berbeda - beda. Dan Rezeki juga tidak semata - mata dilihat dari materi. Banyak kategori rezeki. Ada orang yang punya anak yang banyak tapi hidupnya susah. Ada orang yang punya harta banyak tapi sulit punya anak. Kalau semua orang menatap semua itu dari sudut pandang taat kepada Allah. Semua itu adalah rezeki yang telah Allah beri pada kita. Asal kita tidak lupa bersyukur, InsyaAllah tidak ada yang akan terasa berat" sambut Papa Riko.
"Iya Pa, aku mengerti" balas Riko.
"Sekarang kamu susun saja waktunya pada keluarga Dini, kapan mereka siap menerima kedatangan kita? Langsung lamaran saja. Ngapain di lama - lamain, kalau semua sudah setuju tak baik dilama- lamakan nanti bisa masuk setan diantaranya" perintah Papa Riko.
Riko tersenyum bahagia.
"Baik Pa, aku mau bersih - bersih dulu ya dikamar. Mau mandi dan ganti baju. Baru setelah itu aku kabari Dini untuk menanyakan kapak kepastian jadwal kita datang ke rumah mereka" sambut Riko ceria.
"Ya sudah, sana kamu mandi" jawab Papa Riko.
Riko langsung berdiri dan berjalan dengan ceria sambil bersiul riang. Pertanda hatinya sedang sangat baik saat ini. Sehingga tertular pada kedua orang tuanya.
Papa dan Mama Riko saling tatap dan tersenyum bahagia.
"Lihat Ma, dia sangat bahagia sekali malam ini. Malah lebih bahagia saat ini dari pada kemarin waktu ada Dini" ujar Papa Riko.
"Iya Pa, mungkin dia sudah menahan perasaan ini sejak kemarin malam dan baru bisa dia ungkapkan sekarang, sehingga dia merasa sangat lega sekali" sambut Mama Riko.
"Walau sedih dan kecewa tapi kita tak bisa berkata apa lagi kan Pa. Mama malah lebih merasa bersalah jika melarang pernikahan mereka. Mama saja punya penyakit yang sama dengan Dini, masak Mama mau menyakiti hati Dini dengan memvonis dia tidak bisa punya anak? Dimana coba hati nurani Mama" ungkap Mama Riko.
"Iya Ma, lagian selain alasan itu yang terpenting adalah kebahagiaan putra kita. Coba kalau kita larang dia menikah dengan Dini pasti dia akan patah hati lagi. Dan kalau seandainya dia merasakan patah hati untuk yang kedua kali, Papa rasa imbasnya akan sangat fatal dari pada patah hatinya yang pertama. Kalau yang pertama kan dia masih muda. Kesempatan untuk melirik dan mencari wanita lain sangat terbuka lebar walau akhirnya karena itu juga membuat Riko terjerat dalam dunia bebas. Sekarang dia sudah dewasa dan sangat siap untuk menikah. Dia sudah menemukan calon istrinya, kalau sampai kali ini gagal dia pasti akan sangat hancur Ma. Lebih baik kita doakan saja putra kita dan yang terpenting adalah kebahagiaannya" sambut Papa Riko.
"Iya Pa, Mama setuju dengan Papa" balas Mama Riko.
"Ya sudah kita istirahat ke kamar yuk. Besok pagi kita bicarakan lagi sama Riko acara lamarannya" ajak Papa Riko.
Meret berdua berjalan menuju kamar tidur untuk beristirahat. Sementara Riko di kamar sudah selesai mandi dan shalat. Saat ini dia sedang tiduran di kamar sambil memegang ponselnya.
Riko ingin menyampaikan kabar gembira kepada bidadari surganya. Dini pasti sangat senang mendengar kabar ini.
Riko
Alhamdulillah Papa dan Mama merestui hubungan kita. Tolong tanya Papa dan Mama kamu, kapan Papa dan Mama aku bisa datang ke rumah untuk melamar kamu.
Ting... pesan terkirim
.
.
BERSAMBUNG