
"Enaaak iya Papa benar, cake ini enak. Lembut banget" jawab Mama Romi dengan senyuman.
Seketika Ela dan Romi berwajah lega melihat wajah Mama Romi yang sudah mulai ramah. Pak Hidayat juga tersenyum membalas ucapan istrinya.
"Pa kita shalat maghrib ke Mesjid yuk" ajak Romi.
"Boleh, yuk siap - siap sebentar lagi adzan" sambut Pak Hidayat.
Pak Hidayat dan Romi segera bergegas untuk pergi shalat maghrib ke Mesjid. Kini tinggal Ela dan Mamanya Romi berdua. Ela sangat merasa kikuk menghadapi Mamanya Romi sendirian.
Rasanya lebih tegang bersama Mamanya Mas Romi dibanding ketemu klient yang rewel. Tapi semua ini memang harus aku hadapi. Batin Ela.
"Maaf Tante aku numpang shalat di sini boleh kan?" tanya Ela kikuk.
"Boleh donk Shela, masak orang mau shalat di larang" jawab Mama Romi ramah.
Ela bisa bernafas lega mendapat sambutan yang baik dari calon mertuanya.
"Shela... Tante boleh mengajukan beberapa pertanyaan kepada kamu?" tanya Mama Romi.
"Boleh Tante, silahkan" jawab Ela.
"Kamu serius sama Romi?" selidik Bu Hidayat.
"InsyaAllah serius Tante" jawab Ela jujur.
"Apa yang kamu lihat dari Romi?" tanya Mama Romi lagi.
"Yang pertama kali aku lihat dari Mas Romi adalah keinginannya untuk hidup lebih baik dari masa lalu. Dia tidak malu mengakui kesalahan yang pernah dia lakukan dulu dan dia serius ingin bertaubat dan hidup lebih baik. Yang kedua Mas Romi pria yang baik, InsyaAllah soleh, dia juga bertanggung jawab dan pekerja keras. Dia juga tidak membeda - bedakan teman. Misalnya dengan aku yang hanya berasal dari keluarga sederhana, dia tidak sungkan untuk berteman dengan saya Tante. Mas Romi itu setia kawan dan yang utama dia sangat menyayangi dan menghormati orang tua" jawab Ela.
Bu Hidayat tersenyum puas mendengar jawaban Ela.
"Ela maaf ya kalau sebelumnya Tante berbuat kurang baik kepada kamu. Semua Tante lakukan demi kebahagian dan masa depan Romi. Kamu tau kan kami hanya punya seorang anak yaitu Romi. Tante ingin Romi mendapatkan yang terbaik. Jujur Tante sangat takut kalau wanita yang mendekati Romi hanya melirik apa yang Romi miliki tanpa tulus mencintai dan menyayangi Romi. Makanya Tante sempat berpikiran negatif kepada kamu" Bu Hidayat menyentuh bahu Ela lembut.
"Gak apa - apa Tante, saya mengerti. Setiap orang tua saya rasa akan berpikiran sama seperti Tante" balas Ela.
"Maaf juga tanpa sepengetahuan kamu Tante sudah selidiki semua informasi tentang kamu. Tante ingin benar - benar mengenal wanita yang dicintai Romi. Tante juga sudah melihat bagaimana usaha Romi untuk memperjuangkan kamu di depan Tante. Belum pernah Tante melihat dia serius ini. Oleh sebab itu sekarang Tante sangat mendukung hubungan kalian " sambung Bu Hidayat.
"Alhamdulillah terimakasih Tante" ucap Ela lega.
"Mulai hari ini jangan panggil Tante, panggil saja Mama seperti Romi. Mama sangat senang anak Mama jadi bertambah. Mama pasti tidak akan kesepian lagi. Kini Mama sudah punya seorang anak perempuan. Impian yang sudah lama Mama inginkan, akhirnya terkabul juga" Mama Romi memeluk Ela penuh kasih sayang.
"I.. iya Ma... " sahut Ela.
Mereka saling berpelukan sesaat. Tak lama terdengar suara adzan maghrib.
"Sudah adzan, kira shalat aja yuk" ajak Mama Romi.
"Iya Ma" jawab Ela.
Mereka berdua bangkit dari sofa kemudian beranjak menuju ruang shakat yang ada di rumah orang tua Romi.
"Shalat jamaah aja yuk, tapi kamu jadi imamnya ya" ucap Mama Romi.
"Iya Ma" sahut Ela.
Ela dan Bu Hidayat shalat maghrib berjama'ah setelah itu mereka langsung ke dapur untuk bersama - masak menghidangkan menu makan malam.
Tak lama kemudian Romi dan Papanya sudah kembali dari mesjid. Mereka langsung menghampiri dua wanita yang sangat penting dalam hidup Romi.
"Mmm... wangi banget, masak apa Ma?" tanya Romi begitu sampai.
"Mama minta tolong Shela bantuin Mama masak cumi goreng tepung. Shel hati - hati nanti kamu kena percikan minyak panas" ucap Bu Hidayat kepada Ela.
"Iya Ma" sahut Ela.
Romi dan Papanya saling pandanga.
"Mama?" tanya keduanya bersamaan.
Romi tersenyum bahagia dan langsung menggenggam tangan Mamanya.
"Terimakasih ya Ma, Mama sudah merestui hubungan kami" ungkap Romi.
"Dengan satu syarat" pinta Mama Romi.
Romi dan Ela saling pandang.
"Syarat? Syarat apa Ma?" tanya Romi penasaran.
"Syaratnya nanti setelah kalian menikah, kalian harus tinggal bersama kami. Papa dan Mama gak mau kesepian di rumah. Cuma berdua aja ditambah beberapa asisten rumah tangga. Kalau ada kalian ditambah lagi nanti cucu - cucu kamu lahir, Papa dan Mama akan sangat senang sekali" potong Papa Romi.
Romi menatap Ela.
"Gimana Shel?" tanya Romi pasrah.
"Aku gak keberatan Mas. Lagian tugas kita sebagai anak kan harus berbakti kepada orang tua. Kita akan menemani Papa dan Mama Mas" jawab Ela.
"Papa dan Mama dengar?" tanya Romi.
"Alhamdulillah Ma... " sambut Papa Romi.
"Syukurlah, kita gak sepi lagi Pa di rumah" ucap Mama Romi.
Ela mematikan api kompor karena hidangan sudah masak. Kemudian menghidangkannya diatas meja makan.
"Yuk kita makan" ajak Papa Romi.
Mereka mengambil posisi masing - masing dan mulai menyantap hidangan makan malam bersama.
"Selanjutnya apa rencana yang akan kalian lakukan?" tanya Papa Romi.
"Minggu depan insyaallah kami akan ke Surabaya untuk bertemu keluarga Ela. Karena sebenarnya mereka juga belum tau kalau aku dan Ela berhubungan. Aku akan melamar Ela langsung ke orang tuanya" jawab Romi.
"Bagus, lebih cepat lebih baik. Bila perlu kami akan ikut bersama kalian" sambut Papa Romi.
"Jangan dulu Pa, nanti kalau keluarga Shela bisa menerima kedatangan kami dengan baik baru kita berangkat lagi ke Surabaya untuk melamar Shela secara resmi" jawab Romi.
"Baiklah kalau itu rencana kalian. Mudah - mudahan keluarga Ela menyambut itikad baik kalian dan langsung merestui" ucap Papa Romi.
"Mama sudah tidak sabar untuk melihat kalian menikah" sambut Mama Romi.
"Sekarang bilangnya gak sabar Pa, siapa coba dulu yang membuat rencana ini jadi lebih lama" sindir Romi.
Papa Romi tertawa mendengar ucapan putranya.
"Kemarin Mama kan masih menyeleksi dan menyelidiki apakah Shela pantas menjadi menantu Mama atau tidak" jawab Mama Romi cemberut.
"Terus hasilnya apa?" goda Romi.
"Ya setuju" jawab Mama Romi.
"Hahaha" tawa Papa Romi bahagia.
Romi dan Ela juga tersenyum bahagia. Mereka makan malam keluarga dengan sangat hangat dan sambil menyusun rencana pernikahan Romi dan Ela.
Kini perjuangan Romi dan Ela tinggal sedikit lagi, mendapatkan restu dari keluarga orang tua Ela. Tapi sepertinya itu tidak sulit karena sebelumnya hubungan Romi dengan keluarganya terlebih dengan Bapak Ela sangat baik sekali.
Semoga jalan mereka menuju pernikahan lancar.
.
.
BERSAMBUNG