Playboy Insaf

Playboy Insaf
Tujuhpuluh Empat



Romi, Silva dan Ela sudah sampai di kantin perusahaannya. Kali ini mereka datang sedikit lebih cepat sehingga meja kantin belum penuh semuanya.


Romi memilih meja yang berada di depan sehingga setiap karyawan yang baru masuk ke kantin langsung bisa melihat keberadaan mereka.


Silva berusaha mencari perhatian penuh Romi dan mencoba untuk melayani Romi dengan baik.


"Bapak mau makan apa?" tanya Silva.


"Kamu makan apa Cishela? Tolong pesankan saya sama seperti pesanan kamu" pinta Romi.


Ela terkejut mendengar permintaan Bos besar pemilik perusahaan tempat dia bekerja.


"Ba.. baik Pak" jawab Ela.


Ela berdiri dan langsung memesan makanan yang dia inginkan. Ela memesan dua porsi sekaligus untuk dia dan Romi. Silva langsung mendekat rapat ke tubuh Ela.


"Hei kamu gak usah baper karena si Bos minta kamu yang pesanin" ujar Silva dengan wajah sinis.


"Aku gak baper, aku cuma menjalankan apa perintah Pak Romi" jawab Ela.


"Halaaaah bilang aja kamu kesenangan. Asal kamu tau ya hati - hati sama Pak Romi. Dia memang sangat mempesona dan cewek - cewek banyak yang menyukainya. Jadi kamu jaga perasaan kamu baik - baik sebelum akhirnya kamu parah hati dan terluka" pesan Silva.


"Harusnya kata - kata itu kamu berikan untuk diri kamu sendiri. Karena kelihatan banget kalau kamu menyukai Pak Romi. Tapi yah kalau usaha kamu berhasil aku juga gak perduli. Aku gak mau berhubungan dengan kamu ataupun Pak Romi jadi kamu gak perlu dan menganggap aku saingan kamu" tegas Ela.


Ela langsung membawa dua porsi nasi sop dan sambel kentang untuk dia dan Romi kemudian berjalan menunju meja tempat Romi duduk.


Para karyawan sibuk kasak - kusuk dan berbisik karena melihat Ela sedang membawakan makanan untuk atasan mereka. Tak lama Silva juga kembali ke meja mereka dan makan bersama.


Selama makan siang berlangsung Ela hanya diam sedangkan Silva sibuk mencari perhatian Romi.


"Pak Romi mau pesan minuman apa?" tanya Silva.


"Kamu tadi pesan apa?" tanya Romi kepada Ela yang sedang asik menikmati makanannya.


"Saya pesan jus pelangi Pak. Kemarin Bapak kan suka minum jus itu, mau saya pesankan lagi?" tanya Silva.


"Saya bukan tanya kamu tapi saya sedang bertanya pada Cishela" ujar Romi.


"Uhuk... uhuk... " Ela tersedak karena namanya di sebut Romi.


"Nih minum dulu" Romi memberikan segelas air putih untuk Ela dan Ela langsung menerima dan meminunnya.


Setelah Ela sudah mulai tenang baru Romi bertanya lagi.


"Kamu pesan minum apa?" tanya Romi.


"Saya pesan jus belimbing Pak" jawab Ela.


"Berapa?" tanya Romi.


"Harganya Pak?" Ela balik bertanya.


"Berapa porsi yang kamu pesan?" tanya Romi.


"Oh.. dua Pak, bukankah tadi Bapak bilang mau pesan seperti yang saya pesan. Jadi saya pesan semuanya dua porsi" jawab Ela.


"Bagus" puji Romi.


Silva tampak semakin emosi melihat sikap Romi yang terlihat sangat baik kepada Ela sedangkan keberadaannya malah dicuekin dan dianggap sebagai pengganggu antara Romi dan Ela.


Tak lama pegawai kantin datang mengantarkan minuman untuk Romi, Ela dan Silva.


"Ini Pak minumannya. Jus pelangi" ucap pelayanan.


"Punya saya Mas" sambut Silva.


"Berarti untuk Pak Romi dan Non Ela jus belimbingnya" ujar pelayan di kantin.


"Terimakasih Mas" sambut Ela sambil tersenyum menatap pelayan Kantin.


Romi merasa panas melihat Ela dan pelayan kantin saling melempar senyuman. Setelah pelayan itu pergi Romi langsung bertanya kepada Ela untuk menjawab rasa penasarannya.


"Sepertinya kamu sudah kenal baik ya sama pelayan tadi?" tanya Romi.


"Oh Mas itu? Alhamdulillah Pak saya dapat teman di sini. Mas tadi ternyata orang Surabaya juga" Jawab Ela.


"Ooh.. " balas Romi.


Apa kamu akan seramah itu dengan semua orang yang berasal dari Surabaya? Kalau benar seperti itu saat ini juga aku akan pindah ke Surabaya biar kamu tidak hanya ramah padaku tapi juga mau aku ajak nikah. Batin Romi.


Setelah selesai makan Romi berkata kepada Ela.


"Kamu yang teraktir makan siang ini kan? Kamu kan belum traktir aku gaji pertama karena telah bekerja di sini. Kamu juga baru dapat bonus dan bulan depan akan naik gaji" ucap Romi.


"Eh iya Pak.. Gak apa biar saya yang traktir" sambut Ela.


"Harusnya kamu traktir aku di tempat yang lebih mewah. Masak cuma segini traktirannya, kan aku yang bantuin kamu masuk kerja disini? Aku yang hubungi Pak Agus kan?" ujar Romi.


"Ja.. jadi Bapak mau ditraktir dimana dan kapan?"tanya Ela sungkan.


Dia benar - benar bingung, bagaimana cara mentraktir Bos tempat dia bekerja dan anehnya mengapa Bosnya ini malah minta traktir padanya?


Si Bos ini aneh... Kan dia pemilik perusahaan ini, dia yang menerima aku bekerja di sini. Dia yang mengumumkan bonus dan dia juga yang berjanji menaikkan gajiku bulan depan. Mengapa minta traktir padaku? Tanya Ela dalam hati.


"Besok siang, nanti aku akan kabari kami tempatnya" jawab Romi.


Wajah Ela tampak khawatir dan Romi bisa melihat ke khawatiran Ela. Romi tersenyum dalam hati.


Kamu takut ya aku minta traktir di tempat mewah hahaha.. biarkan saja kamu ketakutan. Aku jadi semangat untuk ngerjain kamu. Tawa Romi dalam hati.


"Kenapa kamu diam saja? Kamu takut dan keberatan?" tanya Romi.


"Eeeh.. nggak Pak. Saya gak takut kok. Saya tunggu kabar dari Bapak" jawab Ela.


Hahahaha... tadi aku gak berhasil ajak kamu makan siang di luar. Sekarang kamu yang pasrah menunggu kabar dariku untuk diajak makan siang. Sorak Romi dalam hati.


"Silva bilang sama pelayan kantin, hari ini saya yang traktir makan mereka semua" perintah Romi.


"Baik Pak" jawab Silva.


Wajah Silva sudah full kesal karena dia mendengar semua pembicaraan antara Ela dan Romi. Silva merasa Bosnya ini memberikan perhatian khusus kepada karyawan baru ini.


Ada apa ini dengan mereka, mengapa Pak Romi malah minta di traktir gadis kampung ini? Apa hebatnya dia sampai naik gaji, dia kan anak baru dan baru dua bukan bekerja di perusahaan ini? Apa sih istimewanya dia? Cantik.. lumayan sih tapi gayanya kampungan. Umpat Silva dalam hati.


"Ayo" ajak Romi.


"Ayo kemana Pak?" tanya Ela bingung.


Apa Pak Romi mau ajak aku kesuatu tempat lagi? tanya Ela dalam hati


"Ya kerja kamu" jawab Romi.


"Eh iya Pak, saya akan kembali ke ruangan saya" balas Ela lega.


Romi berjalan keluar dari kantin diikuti Silva dibelakangnya. Sedangkan Ela tinggal sendiri menatap kepergian Bosnya itu dengan banyak pemikiran - pemikiran yang bermain di kepalanya.


.


.


BERSAMBUNG