
Rendy sudah sampai di hotel tempat Aldi membawa Sindi,namun baru saja Rendy keluar dari dalam mobil,tiba tiba dia di hadang oleh 5 preman berwajah sangar suruhan Aldi,5 preman itu saling pandang,seakan akan meminta pendapat,bagai mana ini ?, apa Kita sikat Artis nomor 1 itu?,
"Mau apa Kalian?," tanya Rendy dengan wajah tenang,
"Maaf Tuan Prastya," jawab preman 1 terlihat ragu,
"Lebih baik Anda pergi dari sini." timpal preman 2,
"Minggir! Aku tidak punya banyak waktu!" jawab Rendy sudah memasang wajah sangar nya,
"Maaf Tuan,ini sudah tanggung jawab Kami!" jawab preman 3,
Rendy langsung menyerang dan berkelahi dengan Kelima preman itu. Rendy menyerang Kelima nya dengan gagah berani,dia sudah tidak peduli apa pun yang akan terjadi. bagi Rendy Gadis Mungil nya adalah segala nya.
*
*
*
*
*
"BIMO..... kenapa Kamu malah bawa Aku ke kamar?,Aku pengen berenang Bimo bukan pengen menginap!" celoteh Sindi panjang lebar,Gadis itu dalam keadaan setengah mabuk dan badan nya sangat kepanasan.
Brugh...
Aldi mendorong tubuh Mungil Sindi lumayan kuat,sampai Sindi ambruk ke atas kasur. Sindi yang terkejut atas prilaku si pendorong,langsung menoleh ke arah nya dan mengamati wajah nya dengan seksama.
"Aldi,,,mau apa Kamu?," Sindi bertanya sambil menjauh kan badan nya,karena Aldi hendak menyerang nya,
"Aku mengingin kan tubuh mu Sayang! ayo kemarilah Kita bersenang senang!" jawab Aldi dengan suara berat,
"Tolong,,,tolong,,,tolong,,," Aldi langsung membekap mulut Sindi yang berteriak,
"Diam Sayang,Aku akan bermain sangat lembut!"
Sindi tidak mendengar ucapan Aldi,Gadis itu malah menggigit tangan Aldi dengan kuat,dan berlari ke arah pintu. Sindi mencoba mendobrak pintu yang Aldi kunci dengan keadaan badan nya yang gemetaran karena menahan panas di dalam tubuh.
"Aaaaaaaa,,,,Sialan Kau..." teriak Aldi sambil menghampiri Sindi dan menjambak rambut panjang nya.
Plak....
Aldi menampar wajah Sindi dengan keras,sampai Gadis itu tersungkur,dan bibir nya mengeluar kan sarah segar. lalu Aldi mencengkram dagu Sindi,dan mengarah kan wajah Sindi agar melihat nya.
Cuih...
Sindi meludahi wajah Aldi,membuat Pemuda itu semakin emosi sekaligus menahan Hasrat nya yang sudah ingin di salurkan.
Plak...plak...plak...bugh...
Aldi menampar wajah Sindi dan di akhiri dengan tinjuan keras di kening nya,membuat Gadis itu semakin lemah. kemudian Aldi menggendong tubuh Sindi.
"Diam Sayang! atau Kau Aku bunuh!" ancam Aldi sambil melempar kan tubuh Mungil Sindi ke atas kasur,lalu Aldi kembali menyarang Sindi,
"Aaaaaaa... Gadis sialana!" teriak Aldi karena Sindi kembali menggigit bibir Aldi dan menendang dada nya.
Plak...plak...bugh...bugh...
Tamparan dan pukulan yang Aldi berikan lebih keras dari sebelum nya. Sindi langsung pingsan seketika dengan wajah yang memar kebiru biruan.
"Sialan! dia malah pingsan." gumam Aldi sambil menggaruk kepala nya yang terasa sangat pusing.
"Bodo amat! yang Gw mau tubuh nya!" Aldi mulai melepas kan kameja yang dia pakai.
Ceklek... Brak....
Suara kunci yang terbuka sekaligus dobrakan dari luar,membuat Aldi kaget dan menoleh ke arah sumber suara. Aldi melihat Rendy berlari ke arah nya dan menyerang nya dengan keadaan wajah Rendy setengah lebam.
Buguh..bugh...bugh...
Rendy memukuli Aldi dengan tehnik yang di ajar kan Kakek nya,sehingga Aldi tidak bisa melawan sedikit pun. Rendy terus memukil wajah Aldi dengan pukulan yang tidak Manusiawi,sampai Aldi pingsan dengan wajah yang sudah tidak tertolong. Melihat Aldi sudah pingsan,kemudian Rendy menghampiri Gadis Mungil nya.
"Nona,,,Nona,,bangun Nona,,,"
Rendy menepuk nepuk wajah Sindi,namun Gadis itu masih tidak bergeming. Rendy langsung menggendong Sindi keluar dari hotel,dan membawa nya ke Rumah Sakit dengan raut wajah yang sangat panik.
20.30 di Rumah Sakit
"Tuan,,,harap menunggu di luar." ucap Dokter perempuan yang menangani Sindi.
Rendy duduk di kursi yang telah di sedia kan pihak Rumah Sakit. kemudian Rendy menelpon Alfi dan Dewi untuk memberi tahu keadaan Sindi. Setelah menelpon Alfi dan Dewi,tiba tiba Rendy di hampiri oleh 2 Orang Polisi.
"Iya Pak,ada apa?," jawab Rendy dengan wajah tenang,
"Kami menerima panggilan dari pihak Hotel,bahawa Tuan Prastya membawa seorang Gadis yang sedang pingsan?," jelas Polisi panjang lebar,
"Benar."
"Apakah Tuan Prastya bisa memberikan keterangan di Kantor Polisi?," tanya Polisi,
"Baik. Saya akan ke Kantor Polisi setelah Orang Tua Kekasih Saya datang." mendengar jawaban Rendy,Kedua Polisi saling pandang,lalu menganggukan Kepala nya.
"Kalau begitu,Kami pamit undur diri."
"Silahkan."
Setelah Kedua Polisi pergi,20 menit kemudian Alfi dan Dewi tiba di hadapan Rendy dengan raut wajah yang sangat cemas,bahkan Dewi terlihat sudah menangis.
"Nak Rendy,apa yang terjadi?,"
Alfi bertanya dengan raut wajah mencoba tenang. Rendy tidak sempat menjawab Pertanyaan Alfi,karena tiba tiba Dokter sudah keluar untuk memberi informasi tentang keadaan Sindi.
"Dokter bagai mana Keadaan Kekasih Saya?!" Rendy bertanya dengan wajah berharap,
"Tenang Tuan,lebih baik Kita bicara kan di ruangan Saya" ujar Dokter sambil berjalan menuju ruangan nya.
"Biar Paman saja yang menemui Dokter." ujar Alfi sembari mengikuti Dikter. Sedang kan Rendy dan Dewi menunggu di luar,dan duduk di kursi yang telah di sediakan pihak Rumah Sakit. sambil menunggu Alfi keluar,Rendy dan Dewi terus berdoa supaya Sindi tidak perlu mengalami hal hal yang tidak di ingin kan,10 menit kemudian Alfi keluar dari ruangan Doktet dengan raut wajah bingung. Rendy dan Dewi langsung menghampiri nya.
"Paman,bagai mana?," tanya Rendy dengan wajah berharap,
"Sindi harus di rawat,,Tubuh nya sangat lemah karena efek obat perangsang yang tidak tersalur kan. Di tambah pukulan yang sangat keras di bagian kepala." ujar Alfi dengan suara lemah.
Pria paruh baya itu ingin sekali menangis,namun dia urung kan. Alfi lebih memilih menghampiri Dewi yang sedang histeris dan memeluk Istri nya untuk saling menguat kan satu sama lain,serta selalu memberikan Doa,agar Sindi lekas sembuh. sedang kan Rendy,Pemuda itu duduk sambil membungkuk di lantai,dia mengacak acak rambut karena sangat Frustasi.
"Semua ini salah ku! Andai kan Aku tidak membiar kan Sindi jalan bersama si Penjahat Kelamin itu,mungkin tidak akan seperti ini kejadian nya."
Suara Rendy terdengar sangat lirih,dan mata nya sudah memerah. Melihat Rendy sama terpuruk nya,Alfi dan Dewi saling pandang,lalu Mereka Berdua menghampiri Rendy,
"Nak Rendy jangan seperti itu," Nasehat Alfi sambil berjongkok dan memegang pundak Rendy,
"Lebih baik Kita lihat kondisi Sindi sekarang." imbuh Alfi,sambil mengajak Rendy ikut berdiri dan Menuju ruangan Sindi. Mereka Bertiga menuju ruangan Sindi.
Setelah tiba di ruangan Sindi,Dewi langsung berlari ke arah Putri nya,Wanita paruh baya itu menatap serta meraba wajah cantik Putri nya yang terdapat 3 luka lebam berwarna biru,serta bibir nya sobek akibat tamparan yang begitu keras. Dewi menangis histeris melihat Putri nya tergeletak dengan wajah bonyok serta selang infus yang menempel di hidung nya. melihat Istri nya histeris,Alfi segera memeluk nya. Kedua Pasutri itu saling menguat kan satu sama lain.
"Paman,Tante,Saya permisi." ucapan Rendy membuat Alfi dan Dewi menoleh ke arah nya.
"Nak Rendy mau kemana?," tanya Alfi sambil menghampiri Rendy.
"Rendy mau ke Kantor Polisi Paman,ada yang harus Rendy selesai kan."
"Kami sangat Berterima Kasih karna Nak Rendy sudah menolong Sindi" ucap Alfi kemudiam memeluk Rendy,
"Sudah Tanggung Jawab Saya Paman." jawab Rendy kemudian melepas pelukan Alfi,
"Kalau begitu,Saya permisi" Rendy menghampiri Alfi dan Dewi.
"Hati - hati Nak Rendy."
Nasehat Dewi di angguki oleh Rendy. Setelah menyalami Alfi dan Dewi,kemudian Rendy keluar dari ruangan Sindi dengan raut wajah yang sangat merah akibat perpaduan antara amarah dan rasa sedih yang begitu menyayat Hati.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
BERSAMBUNG