Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Tujuh



"Berarti Bapak yang ngidam ya Bu" ujar Dokter merasa lucu.


"Haaaa.. emang ada ya Dok seperti itu?" tanya Arik, sesaat tangisnya berhenti.


"Ada donk Pak. Gak semuanya harus istri yang alami. Terkadang anaknya mau orang tuanya berbagi" jawab Dokter.


"Iya saya memang merasa aneh dua hari ini, saya kok jadi lebih cengeng ya.. Gampang banget sedih bahkan menangis seperti ini. Padahal saya pria macho lho" ujar Aril bingung.


Bela tertawa mendengar ucapan Aril.


"Bisa - bisanya saya sangat merindukan sahabat saya yang sedang umroh dengan istrinya, sampai - sampai saya menangis seperti anak kecil. Istri saya sempat curiga lho dok kepada saya, dia mengira saya sudah berubah haluan jadi pecinta sesama jenis" ungkap Aril.


"Hahaha... Mas lucu sekali" sambut Bela gak kuat menahan tawanya.


Dokter jadi ikutan tersenyum mendengar cerita Aril.


"Terkadang ngidam itu memang lebih sering diluar nalar kita Pak. Sering bersikap dan bertindak aneh seperti Bapak saat ini. Memang pada umumnya biasanya para calon Ibu yang merasakannya. Tapi peristiwa Bapak dan Ibu ini malah berbeda, Bapak lah yang merakan ngidamnya. Pembagian tugas yang baik sekali ya Pak" sambut Dokter dengan nada yang menahan tawa.


"Jadi saya emang cuma sakit ngidam kan dok? bukan berubah haluan seperti yang istri saya duga?" tanya Aril polos.


"Sekarang saya tanya Bapak ya.. Bapak masih bergaira* tidak melihat Ibu?" tanya Dokter.


"Gaira* banget Dok, malah rencananya setelah pulang dari sini saya mau ajak istri saya enak - enak" jawab Aril cepat.


Dokter semakit tersenyum lebar.


"Mohon maaf Pak, sayang sekali di kehamilan muda jangan terlalu sering berhubungan ya.. sebaiknya diawal kehamilan seperti ini si Bapak puasa dulu" ujar Dokter memperingatkan.


"Apa Dok saya harus puasa lagi? Diawal pernikahan saya sudah puasa selama sebulan Dok, gak kuat kalau harus puasa lagi. Lama - lama saya alergi dengan yang namanya puasa" ungkap Aril.


Aril merasa tidak terima mendengar penjelasan Dokter


"Bapak ingin punya anak tidak?" tanya Dokter.


"Pengen banget Dok, usia saya sudah diatas tiga puluh saya gak mau menunda - nunda punya anak" jawab Aril.


"Kalau begitu Bapak harus tahan selera, puasa lagi ya.. karena berhubungan di awal kehamilan sangat beresiko untuk si calom bayi yang ada di dalam perut Ibu. Apalagi ada dua calon bayi lho Pak di perut Ibu" ujar Dokter.


"Ba.. Baik Dok" sahut Aril tidak bersemangat.


Aril menggaruk kepalanya yang tak gatal. Membuat Bela semakin tertawa melihat wajah kecewa suaminya. Saat ini wajah Aril sangat lucu sekali.


Dokter memberikan resep obat mual dan vitamin hamil untuk Bela. Setelah itu Aril dan Bela pulang kembali ke apartemen mereka.


"Maaas akhirnya aku bisa merasakan seperti Ibu dan Mbak Kinan alami" ucap Bela senang.


"Hamil?" tanya Aril bingung. Mamanya kan dulu juga pernah hamil mengapa Bela tidak menyebutnya.


"Hamil anak kembar" jawab Bela.


"Ooh iya ya. Kamu mau makan apa sayang biar kita singgah beli makanan. Ingat ada dua anak kita di perut kamu?" tanya Aril sambil mengelus perut Bela.


"Aku pengen makan seafood saus asam pedas Mas" Jawab Bela.


Waduh gawat nih, kalau aku ikutan makan seafood gaira*ku bisa semakin meningkat. Saat ini Bela gak boleh disentuh. Duh mati aku. Umpat Aril dalam hati.


Tapi demi istri tercintanya Aril singgah juga di sebuah Restoran yang menjual makanan yang Bela mau.


"Makan di sini atau di apartemen saja sayang?" tanya Aril.


"Oke deh sayang, apapun yang kamu mau akan aku penuhi" sambut Aril.


Aril dan Bela turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran. Bela memesan dua porsi seafood dengan variasi yang berbeda. Dia pesan seafood asam pedan dan sup kepiting. Sedangkan Aril hanya memesan sup daging saja.


Bela merasa aneh melihat tingkah suaminya. Gak biasanya Aril tidak mau makan seafood. Bukannya itu adalah makanan favorit Aril.


"Mas gak pesan seafood?" tanya Bela penasaran.


"Ha.. eh nggak yank, aku lagi gak pengen" jawab Aril.


"Tumben biasanya kan seafood makanan kesukaan Mas" sambut Bela.


Pelayan datang dengan membawa semua pesanan mereka. Bela langsung menyantap hidangan mereka. Aril berulang kali menelan salivanya karena selera sekali dengan makanan yang Bela makan.


Gleeeg.... enak banget tuh pasti. Batin Aril.


"Kenapa Mas, Mau?" tanya Bela.


"Aah.. ng.. gak sayang. Gak usah, Mas cukup makan ini saja" tolak Aril.


Duh sayang seandainya kamu tau perang batinku saat ini. Aku ingin sekali makannya setelah itu makan kamu. Tapi aku ingat pesan dokter. Aril menangis dalam hati.


Akhirnya mereka selesai juga makan dan segera kembali ke apartemen. Saat mereka hendak tidur Aril sengaja meletakkan guling diantara dia dan Bela sebagai pembatas.


Bela merasa aneh dengan sikap Aril.


"Kenapa Mas pakai pembatas?" tanya Bela penasaran.


"A.. aku takut tanpa sengaja aku melakukan sesuatu kepada kamu dan menyakiti perut kamu karena gaya tidurku" jawab Aril.


"Ooo.. baiklah kalau begitu aku tidur duluan ya Mas" sambut Bela.


Bela memejamkan matanya sedangkan Aril masih tidak bisa tidur dan hanya bisa menatap wajah Bela.


Ya Tuhan apa ini karmaku karena sudah mengganggu malam pertama Riko? Kini aku kembali puasa lagi. Sedih banget nasibku.. Kamu malah enak - enakan di sana Ko honeymoon. Oh Riko... aku kok kangen banget sih sama kamu. Ada apa dengan diriku? Apa anakku ini ngefans berat sama kamu? Aril mengalami perang batin.


Aril mecoba menutup matanya tiba - tiba Bela menggeser dan menendangnya sampai kebawah. Kini pembatas diantara mereka sudah tidak ada.


Tangan Bela meraba ke arah perut bawah Aril. Aril segera menahan nafas.


Cobaan apa lagi ini Tuhaaaan.. Ya Allah sayang kalau sikap kamu seperti ini aku bisa gak kuat puasa sayaaang... Teriak Aril dalam hati.


Perlahan-lahan Bela merapatkan tubuhnya ke tubuh Aril. Bela memeluk Aril dengan erat seperti malam - malam mereka setiap hari.


Dua bulan menikah sudah membuat Bela terbiasa tidur dengan memeluk tubuh Aril dengan erat. Aril seketika berkeringat dingin menahaa sesuatu yang bangkit karena sentuhan Bela.


Ya Allah... kuatkan imanku, walau dia sudah halal untukku tapi waktunya tidak tepat. Hai imron, aku mohon kali iniiiii saja berdamailah denganku. Biarkan aku dan istriku tidur dengan tenang malam ini. Doa Aril.


Aril hanya terdiam kaku tak berani bergerak dan pada akhirnya malam semakin larut Aril terpaksa mengalah dengan keadaan. Rasa kantuk mengalahkan semuanya hingga akhirnya dia dan Bela tidur dengan saling berpelukan.


Benar - benar malam yang sangat berat untuk Aril. Mungkin malam inilah malam panjang akan dimulai. Semoga Aril kuat.


.


.


BERSAMBUNG