Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Duapuluh Dua



"Saya mencintai Dini apa adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya seperti Dini yang juga bisa menerima semua kekurangan dan kelebihan saya. Benar kata Bapak, tidak ada manusia yang sempurna, saya juga punya lebih banyak kekurangan dari Dini. Saya tidak mempermasalahkan penyakit yang Dini derita. Jika kami diberi Allah kesempatan dan amanah seorang anak dalam rumah tangga kami, saya sangat bersyukur tapi jika tidak saya tidak akan mempermasalahkannya. Bapak tidak perlu memberikan waktu pada pernikahan kami kelak, saya tidak butuh itu. Saya akan tetap menikah dengan Dini hingga maut memisahkan kami kelak. Saya mau menikah dengan Dini" ucap Riko dengan tegas.


Papa Dini langsung memeluk tubuh Riko.


"Terimakasih Nak Riko.. terimakasih. Maafkan Bapak selama ini yang sudah berbuat jahat kepada kamu" sambut Papa Dini.


Dini menatap mata Riko, mereka saling tatap untuk beberapa saat. Dini kembali menggelengkan kepalanya.


"Mas.. jangan.. jangan Mas.. Nanti kamu akan menyesalinya" ujar Dini.


"Tidak Din, aku tidak akan pernah menarik kata - kataku tadi. Aku tidak akan pernah menyesal menikah dengan kamu karena saat ini kamu adalah tujuan hidupku" jawab Riko untuk meyakinkan Dini.


"Aamiin..." ucap Galuh suami Anita.


"Alhamdulillah... " sambung Anita.


"Kalau boleh pinta saya, sebaiknya Dini berhenti saja bekerja disini dan kembali ke Jakarta. Kalau Dini masih mau tetap bekerja, dia bisa bekerja di Perusahaan saya. Tapi kalau boleh saya meminta lagi sebaiknya Dini tidak usah bekerja lagi. Lebih baik Dini menjaga kesehatannya, saya berjanji setelah menikah saya akan penuhi apapun yang Dini butuhkan dan inginkan" pinta Riko kepada kedua orang tua Dini.


Papa Dini menatap wajah putri bungsunya.


"Bagaimana Din?" tanya Papa Dini.


"Mas.. aku masih.. aku.. " ucap Dini.


"Kamu tidak yakin dengan kata - kataku Din? Apa perlu kita membuat surat perjanjian pra nikah?" tanya Riko kepada Dini karena Dini masih saja belum yakin dengan jawab Riko


Dini terdiam sesaat dan terus menatap mata Riko mencari kekuatan dan jawaban.


"Aku mau Mas.. aku akan ikut apapun permintaan kamu" jawab Dini.


"Alhamdulillah... " sambut yang lain dengan lega.


"Terimakasih Din. Sebaiknya kalau dokter sudah memberi izin Dini pulang. Kita segera membawa Dini pulang ke Jakarta. Nanti saya akan secepatnya meminta kedua orang tua saya datang ke rumah Bapak dan Ibu untuk melamar Dini secara resmi" ungkap Riko.


"Iya Nak Riko. Nanti kita akan tanyakan kepada Dokter, kapan Dini bisa kita bawa pulang" sambut Papa Dini.


"Sudah.. sudah.. jangan nangis lagi. Kan sebentar lagi mau jadi pengantin" Anita membujuk adiknya.


"Tapi Mbak..." Dini kembali masih merasa pernikahan ini nanti tidak akan adil untuk Riko.


"Mas Riko kan udah bilang tadi pada kita semua. Dia siap menerima kamu apa adanya, dengan segala kekuarangan kamu. Sudah yang penting kamu fokus untuk pemulihan ya. InsyaAllah bisa segera pulang dan kita urus semua pernikahan kalian" potong Anita.


Dini mulai berhenti menangis, dia menatap seluruh keluarganya.


"Maaf Mbak, Mas, Pa, Ma. Bisa tinggalkan aku berdua sama Mas Riko? Aku ingin bicara berdua saja dengannya" pinta Dini.


Anita melirik kearah Papanya, Papa Dini memberikan kode dengan menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah kami akan keluar sebentar ya" ujar Papa Dini.


Satu persatu keluarga Dini pergi meninggalkan Dini dan Riko di dalam kamar rawat inap. Kini hanya tinggal Dini dan Riko berdua di dalam.


Riko duduk di kursi yang tak jauh dari tempat tidur Dini. Mereka saling tatap mencoba menyelami perasaan mereka saat ini. Mencoba untuk mencari titik temu dari permasalahan yang mereka hadapi saat ini.


"Mas.. Mas yakin dengan keputusan Mas?" tanya Dini.


Riko menarik nafas panjang.


"Kamu masih belum percaya padaku? Kamu belum yakin dengan cintaku?" tanya Riko balik.


"Mas pernikahan itu bukan hanya cinta? Tujuan kita menikah adalah untuk mendapatkan keturunan" bantah Dini.


"Kamu dengar kan tadi apa yang dokter katakan? Kamu bukan di vonis mandul. Kamu bisa saja hamil asalkan bisa jaga pola hidup sehat, terus berusaha dan berdoa. Aku jatuh cinta pertama kali pada kamu karena kamu adalah wanita solehah. Jadi kamu tidak boleh putus asa karena manusia yang suka berputus asa temannya siapa coba?" hibur Riko.


"Mas.. dalam pernikahan kalau tidak memiliki keturunan pihak mana yang sering di salahkan? Pasti pihak wanita, apalagi dalam kasus kita memang aku yang salah. Kamu mungkin terima semua kekuranganku tapi belum tentu keluarga kamu Mas" ujar Dini.


"Aku bisa kasih pengertian kepada mereka" jawab Riko.


"Kamu anak tunggal Mas, pasti Mama Papa Mas sangat menginginkan cucu" sambung Dini.


"Din... kita belum menikah, belum berusaha dan belum tau apakah kita gagal atau tidak. Banyak cara Din yang bisa kita lakukan untuk memiliki keturunan dan kalau pun semua cara itu sudah kita lakukan tapi kita tetap tidak bisa memiliki anak kita bisa meminjam Yoga pada Anita dan Mas Galuh. Atau kita bisa adopsi anak. Banyak cara kan? Di luar sana banyak anak - anak yang kurang beruntung yang tidak memiliki orang tua dan kita bisa menyayangi mereka seperti anak kita sendiri" ucap Riko lebih tenang dan berusaha meyakinkan Dini.


Dini terdiam.


"Aku.. aku takut kalau kita sudah menikah Mas akan meninggalkanku sendirian, Mas pergi dan bahagia dengan orang lain sedangkan aku.. aku.. " air mata Dini kembali menetes.


"Percayalah padaku. Hanya kamu yang aku mau, aku tidak butuh orang lain. Sudah banyak wanita - wanita dulu yang aku temui tapi hanya kamu yang aku inginkan. Aku tidak menginginkan siapapun untuk menemaniku sampai tua Din, hanya kamu.. kamu yang aku inginkan menjadi pendamping hidupku sampai kita tua kelak" potong Riko.


Riko mengambil tisu diatas nakas dekat tempat tidur Dini dan memberikannya kepada Dini.


"Hapus air mata kamu, aku tidak tahan melihatnya, rasanya aku ingin sekali memeluk kamu untuk membuat kamu percaya padaku. Tapi kita belum bisa melakukannya" perintah Riko.


Dini menyeka air matanya yang jatuh di sudut matanya.


"Tadi di hadapan keluarga kamu, kamu sudah katakan akan mengikuti apapun permintaanku. Sekarang aku meminta kamu untuk semangat kembali. Aku akan selalu bersama kamu menjalani hari - hari kita kelak. Aku akan menjadi kekuatan kamu. Mari berjalanlah bersamaku, jika kamu lelah pegang dan genggam kuat tanganku. Jika kamu mengantuk bersandar di bahuku dan istirahat lah, jika kami sedih menangis di dadaku. Aku akan selalu ada untukmu. Dini Dharmawan jadilah pasangan hidupku.. Menikahlah denganku" Riko berdiri dari kursinya kemudian bersimpuh memohon kepada Dini.


"Maaaa.. maaas" ucap Dini tak bisa berkata - kata lagi.


"Maaf aku melamar tanpa cincin dan kembang. Tapi aku punya hati yang tulus yang akan aku serahkan hanya untuk kamu. Maukah kamu menjadi istriku" pinta Riko lagi.


Air mata Dini kembali mengalir.. sebuah lamaran yang sangat manis Riko lakukan padanya. Dengan segala kekurangan dan kelemahannya Riko masih mau menerimanya dan memintanya menjadi istrinya.


"A.. aku mau Mas" jawab Dini akhirnya.


.


.


BERSAMBUNG