
Riko menatap wajah Dini dengan sendu begitu juga Dini. Mereka saling tatap tapi dengan tatapan sedih. Cinta sudah terjalin tapi terhalanh restu orang tua.
Anita dan Kinan merasa bersalah pada mereka. Karena merekalah yang sudah mengenalkan Dini kepada Riko. Diawal rencana, mereka sangat berharap rencana mereka akan berhasil sungguh tidak disangka Papa Dini tifan setuju.
Anita sendiri saja tidak memprediksikan hal itu. Selama ini dia berfikiran kalau orang tuanya pasti akan setuju tapi nyatanya semua tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi.
"Udah Ko jangan dipandangi terus, nanti makin sakit hati" bisik Aril.
"Ya diperjuangkan donk, kan belum ada janur kuning yang menari - nari di depan rumah orang tua Dini. Itu artinya kesempatan masih terbuka lebar" sambut Bagus.
"Aku hanya merindukannya tapi tak bisa kusentuh dan kumiliki" jawab Riko.
"Sama seperti Renita dulu ya, apes kali nasib kamu" potong Aril.
"Husss.. kamu teman lagi sedih malah diledekin" Romi menyenggol lengan Aril.
"Lebih baik dari pada cinta di tolak" Riko memberi perlawanan.
"Belum di tolak bro" jawab Aril.
"Tapi dicuekin" sambut Romi.
"Dari pada kamu gadis yang di cari - cerita selama beberapa tahun ini sudah ada di depan mata tapi malah disia - siakan" Sindit Aril.
"Aku gak tau saja kalau dia ternyata gadis yang aku cari, coba kalau aku tau udah aku kejar dari dulu. Bukan aku tempatkan dibagian keuangan tapi aku suruh dia jadi sekretarisku" jawab Romi.
"Dari awal Ela bekerja di perusahaan kamu aku sudah ingatkan kamu bro. Tapi kamunya bandel sih" sambut Aril.
"Kamu sudah tau kalau Ela itu adalah Cici yang selama ini aku cari?" tanya Romi penasaran.
"Udah" jawab Aril.
"Sudah lama taunya?" tanya Romi.
"Saat aku ke Surabaya wisudanya Bela dan Ela. Aku malah udah pernah datang ke rumah Ela dan bertemu dengan orang tuanya. Bela cerita kalau Ela itu dulu gak pakai jilbab dan dia sangat tomboy. Aku ingat nama universitas mereka dan jurusannya persis sama dengan kampus mereka. Jadi aku tanya sama Bela siapa nama aslinya Ela. Cishela.. dari situ aku bisa menyimpulkan kalau Cici dan Ela itu adalah orang yang sama. Kan biasa Rom, nama panggilan di sekolah itu nama depan tapi nama panggilan di rumah pakai nama belakang" ungkap Aril.
"Trus kenapa kamu gak kasih tau aku sejak awal?" desak Romi.
"Gak seru donk, aku pengen kamu menemukan Cici sendiri, kamu udah aku kasi kode - kode tapi tetap saja gak ngerti" jawab Aril.
"Terus setelah kamu tau Cici itu adalah Ela gimana menurut kamu?" tanya Riko.
"Aku ingat pesan Ustadz, kalau orang yang aku cari itu baik agama ya layak diperjuangkan. Mulai besok aku akan berjuang untuk mendapatkan Cici, bidadari surgaku" tegas Romi.
"Ciee... yang udah ketemu gebetannya" goda Aril.
"Selamat berjuang bro" Riko menepuk bahu Romi.
"Kami juga, semoga berhasil" balas Romi serius.
"Ehm... tiga mantan playboy insaf mengejar cintanya" sindir Refan.
"Ditambahin Fan, playboy insaf yang jomblo sedang mengejar bidadari surganya" sambut Bagus.
"Semoga kalian berhasil dan segera menyusul aku dan Bagus. Siapa yang lebih dulu menikah aku kasih kado spesial saat pernikahan kalian" ungkap Refan.
"Apaan?" tanya Aril.
"Rahasia donk, namanya juga kado spesial ya nanti aku pikirkan apa spesialnya. Siapa tau spesial pakai telor" jawab Refan.
"Ya memang harus pakai kalau tidak buahayyaaaa... " sambung Bagus.
"Hahahaha.... " Refan dan Bagus tertawa.
"Kalian lagi cerita apa sih, kok pakai telur segala?" tanya Bimo penasaran.
"Hahaha... beda Bim. Kami bukan bicara telur tapi telor. Catet, ingat! Beda artinya hahaha... " sambut Bagus.
"Dasar kalian" balas Bimo.
"Nih jomblo tambah satu cuma bedanya yang ini tipe setia. Kalau dia nikah kita kasih kado spesial pakai telor gak ya?" tanya Bagus.
"Kado apa?" tanya Bimo masih bingung.
"Ini nih Bim, mereka bertiga sedang berjuang untuk mendapatkan bidadari surga mereka. Nah siapa yang lebih dulu menikah akan mendapatkan kado spesial dari aku dan Refan. Nah kalau kamu mau ikutan juga boleh, hadiahnya masih berlaku" jawab Bagus.
"Dia mah udah menang duluan. Bimo gak usah ikut" protes Aril.
"Menang dari mana?" tanya Bagus.
"Sudah sama - sama taulah kita.. Bimonya aja yang belum sadar" jawab Aril.
"Apaan sih?" tanya Bimo semakin bingung.
"Sudah yang bersaing cuma kami bertiga saja karena nasib kami hampir sama. Sampai saat ini belum ada kejelasan. Masih abu - abu" tegas Aril.
"Baiklah. Mohon maaf Bim kamu dikeluarkan dari persaingan mereka. Nanti kalau kamu nikah aku pasti akan tetap kasih kamu hadiah. Jangan takut" ujar Bagus.
"Terserah kalian aja deh" sambut Bimo.
Riko, Aril dan Romi sedang melirik target mereka masing-masing. Semuanya belum ada kejelasan tentang masa depan mereka. Dengan permasalahan yang berbeda-beda.
Tapi inilah yang dinamakan proses perubahan mereka menuju kebaikan. Apalagi selama ini mereka sudah terbiasa mendapatkan wanita dengan mudah. Kali ini mereka mendapatkan sebuah tantangan yang berat.
Mereka berbincang - bincang sampai sore hari. Anita bersama suami dan anaknya juga Dini pamit undur diri. Riko tampak tak rela berpisah dari Dini. Karena rasa kangennya belum terobati.
"Kami pamit ya" ucap Suami Anita.
"Iya Mas, terimakasih ya sudah datang" sambut Refan.
Suami Anita bersalaman dengan Refan dan para sahabatnya. Saat berjabat tangan dengan Riko, Suami Anita menepuk bahu Riko.
"Kamu yang sabar ya, Papa memang keras hatinya. Berdoalah terus dan berjuang, semoga Allah melembutkan hatinya" ucap Suami Anita memberikan semangat kepada Riko.
"Iya Mas, terimakasih ya" jawab Riko.
"Yuk semuanya kami pulang ya" ucap Anita kepada semuanya begitu juga Dini yang menyusul di belakangnya. Dia dan Riko hanya bisa saling tatap dalam diam.
Memeberikan isyarat untuk saling menguatkan. Melemparkan senyuman kerinduan. Riko hanya bisa menatap kepergian keluarga Dini dari rumah Refan dan Kinan.
"Sudah sore, kita juga pulang yuk. Kinan mau istirahat" ujar Bagus.
"Yuk bubar" sambut Ayu.
Bagus dan keluarga, Romi, Riko dan Aril berpamitan kepada seluruh keluarga Refan dan Kinan.
"Kalau begitu kita keluar bareng aja" sambut Bimo.
Bimo, Bela dan Ela juga saling berjabat tangan kepada seluruh kekuarga Refan. Saar berpapasan dengan Ela, Romi sempat berpesan.
"Jangan lupa besok temui saya di ruangan saya" perintah Romi.
"Ba.. baik Pak" jawab Ela.
"Jangan telat, saya tidak menerima kata - kata terlambat" ancam Romi.
"I.. iya Pak. Besok InsyaAllah saya akan sampai tepat waktu di kantor" balas Ela.
"Udah Rom, jangan di takut - takuti. Entar dia minggat dari kantor kamu baru tau rasa cari - cari dia lagi sampai bertahun - tahun. Udah syukur akhinya Cicimu di temukan. Udah ketemu malah mau diajak musuhan" bisik Aril.
"Kamu tenang aja.. Aku akan memberi pelajaran padanya. Aku merasa sudah dipermainkan olehnya" ungkap Romi.
Aril menggelengkan kepalanya.
"Serah kamu deh, tapi kalau diluar ekspektasi jangan nyesal kamu ya" ujar Aril.
.
.
BERSAMBUNG