Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Empatpuluh



Lautan yang jernih, alam yang indah, serta udara yang bersih adalah sedikit gambaran tentang keindahan di Pantai Ora. Bahkan ada pula yang menyandingkannya dengan keindahan yang ada di Maldives atau Maladewa.


Alam Indonesia sungguh sangat mengagumkan, potensi alam yang dimilikinya begitu beragam. Mulai dari air terjun, danau, bukit, gunung, juga pantai.


Pantai Ora, membuat siapa saja terpikat. Keindahan Pantai Ora memberikan suasana romantis dalam kedamaian, sehingga banyak juga pengunjung yang datang untuk honeymoon bersama pasangan.


Seperti itulah saat ini Riko dan Dini.. Mereka sarapan pagi di balkon kamar mereka yang berada di atas lautan. Sambil menatap keindahan laut dan juga keindahan pemandangan di dalam laut yang langsung bisa di lihat dari atas karena kejernihan airnya.


Sambil menyantap sarapan pagi mereka berbicara santai merencanakan perjalanan honeymoon mereka selama di Pantai Ora.


"Apa rencana kita hari ini Mas?" tanga Dini tak sabar.


"Di kamar aja" jawab Riko iseng.


Dahi Dini berkerut.


"Mas yakin? Dengan semua keindahan alam Pantai Ora ini, Mas lebih memilih di kamar aja?" tanya Dini tak percaya.


"Ada yang lebih indah dari semuanya" jawab Riko.


"Apa?" tanya Dini penasaran.


"Kamu" jawab Riko dengan senyum jahilnya.


"Iiih Mas Riko.... " ucap Dini malu.


"Hahaha... " tawa Riko pecah.


"Kamu maunya kita ngapain yank?" tanya Riko.


"Snorkeling, keliling Pantai ini. Aku ingin menjelajahi semua ini Mas" jawab Dini.


Melihat Dini begitu antusias Riko semakin semangat mengabulkan semua permintaan Dini.


"Boleh, tapi ingat kita di sini masih lama sayang. Aku gak mau kita terburu - buru sehingga tidak menikmati quality time kita berdua saja di kamar. Gimana kalau kita buat kesepakatan sehari kita jalan di luar dan hari berikutnya kita istirahat di kamar?" tanya Riko.


Dini terlihat sedang mempertimbangkan ide Riko.


"Mmm.. boleh juga. Tapi apa waktunya cukup Mas untuk menjelajahi semua tempat - tempat yang indah di sini?" tanya Dini penasaran.


"Cukup sayang.. cukup banget. Kamu harus siap - siap gosong karena teriknya matahari di sini" jawab Riko.


"Aku sih tidak masalah Mas. Kamu mungkin yang keberatan kalau aku gosong" jawab Dini.


"Aku tidak akan keberatan seperti apapun bentuk kamu sayang.. Yang penting kamu tetap menjadi Dini istriku yang paling aku cintai" ungkap Riko.


"Terimakasih Mas.. kamu begitu sabar dan ikhlas menerima aku. Terkadang hal itu membuat aku tidak percaya diri bila berada di sisi kamu" ungkap Dini.


"Hey.. aku yang harusnya merasa seperti apa yang kamu rasakan sayang. Kamu itu istri solehah, wanita baik - baik. Sedangkan aku pria yang banyak dosa. Masa laluku kotor dan kamu bisa menerima semua itu" balas Riko.


Dini langsung memeluk erat tubuh Riko.


"Bagaimana kalau kita buat kesepakatan saja. Kita tidak perlu merasa saling tidak percaya diri dengan mencari - cari kekurangan kita masing - masing. Lebih baik kita saling mengisi dan menjalani rumah tangga kita dengan saling percaya dan bergandengan tangan. Apapun yang akan terjadi dengan kita di masa yang akan datang akan kita terima sama - sama" ucap Riko.


Dini menatap mata Riko. Riko sangat serius saat berkata seperti itu.


"Kamu hanya punya satu kekurangan sayang tapi seolah - olah kamu merasa sangat bersalah. Kalau kita saling mencari kekurangan. Kekurangan aku lebih banyak dari kamu. Tapi apakah kita harus terus mencari kekurangan kita itu? Kalau begitu kita gak maju - maju donk, kita terus berdiri di tempat. Aku ingin hidup bahagia bersama kamu. Aku ingin kita jalani rumah tangga kita dengan ceria dan gembira. Aku tak bisa jamin kamu tidak akan menangis tapi setidaknya terimalah niat baikku untuk membuat kamu selalu tersenyum " sambung Riko.


Riko membalas pelukan Dini dan mengecup lembut kening Dini.


"Nah gitu donk.. aku tidak menyangka kita akan cepat mendapatkan kesepakatan ini. Masih belum satu hari kita di sini. Aku kira butuh waktu berhari - hari untuk meyakinkan kamu untuk tidak larut dalam sebuah kekurangan yang kita punya. Tapi ternyata istriku ini memang sangat cerdas, gak salah aku memang memilih kamu. Hatiku tidak keliru sejak pertama menatap kamu. Aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama sayang" ungkap Riko.


"Kamu tau.. aku juga sudah menyukai kamu saat tanpa sengaja kita bertemu di dapur rumahnya Mbak Kinan" balas Dini.


"Oh ya?" tanya Riko tak percaya.


Dini termasuk wanita yang pendiam dan Riko sangat terkejut Dini mau bercerita seperti ini.


"Kamu sangat tampan Mas, rapi dan wangi. Bukan hanya kamu yang mengira aku sudah menikah. Aku juga sudah mengira kalau kamu sudah menikah saat itu. Aku melihat kamu berbincang-bincang dengan Mas Refan, aku kira kamu juga pasti sudah menikah. Makanya pada saat Mbak Kinan mengenalkan kamu kepadaku, aku juga sangat terkejut" jawab Dini.


"Ternyata itulah jodoh ya.. dalam hal perasaan, pikiran dan prasangka saja kita sudah sehati" ujar Riko.


Mereka tertawa bersama dan saling berpelukan.


"Jadi hari ini kita pilih yang mana dulu nih? Mau istirahat di kamar aja atau kita mulai dengan berjelajah pulau ini sayang?" tanya Riko.


"Kita mulai berjelajah aja ya" jawab Dini.


"Baiklah" sambut Riko sedikit kecewa.


"Berjelajah di kamar saja maksudku" sambung Dini.


"Hahaha.. kamu mulai nakal ya sekarang" goda Riko.


"Kan Mas gurunya" balas Dini.


"Iya.. iya.. kamu memang murid yang pintar. Cepat menyerap ilmu yang aku ajarkan" sambung Riko.


Mereka tertawa lepas bersama.. Setelah selesai makan Dini dan Riko masuk kembali ke kamar mereka. Seperti kata Dini honeymoon mereka akan dimulai dengan berjelajar di kamar.


Honeymoon kali ini berbeda dengan honeymoon mereka yang pertama. Saat pertama mereka mungki masih fokus ibadah umroh dan ada ketakutan kalau mereka melanggar peraturan saat umroh.


Disamping itu juga Dini masih malu - malu pada Riko. Maklum itu adalah pertama kalinya dia mempunyai pengalamannya seperti itu.


Kalau Riko sih jangan ditanya lagi berapa banyak pengalamannya. Pasti tidak bisa dihitung dengan jari lagi.


Kali ini dengan suasana yang lebih rileks, ditambah Dini juga sudah tidak lagi malu - malu membuat penjelajahan mereka lebih berenergi.


Dengan suka cita Riko menyambut keberanian wanitanya. Sungguh Riko semakin mencintai wanita pendiam ini yang kini sudah mulai nakal di hadapannya.


Tidak perlu tergesa - gesa mereka punya waktu seharian untuk berjelajah. Masih banyak waktu apalagi hari masih pagi. Dengan penuh lemah lembut Riko memulai penjelajahan mereka.


Banyak tempat yang disinggahi tentunya dengan sensasi yang berbeda - beda. Semakin lama rasanya semakin panas untuk keduanya. Membuat mereka akhirnya melakukan percintaan yang sangat luar biasa.


Keduanya saling berkeringat, puas sekaligus ketagihan. Ingin terus mengulang dan mengulanginya lagi. Tentu saja masih banyak waktu, tidak perlu terburu - buru karena tidak akan ada yang mengganggu.


.


.


BERSAMBUNG