Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Tujuh Belas



"Ternyata disini kalian?" tanya Romi.


Ela dan Bela merasa lega karena bertemu. Bela merasa tenang karena dari tadi dia bosan hanya bicara masalah kantor dengan Aril. Sedangkan Ela sejak keluar dari rumah orang tua Romi jadi merasa canggung dan khawatir hubungannya dengan Romi terhalang restu Mamanya.


"Kami gabung ya" ujar Romi.


"Lho katanya mau makan malam bareng Bonyok?" tanya Aril.


"Nyokap lagi gak enak badan" Jawab Romi kesal.


Aril melirik curiga ke arah Romi.


"Pesan saja makanan kalian. Kami makan duluan ya, makanan kami sudah datang dari tadi gak mungkin kami menunggu makanan kalian" ujar Aril.


"Ya.. silahkan kalian lanjutkan makan kalian" sambut Romi.


Romi memanggil pelayan dan mereka memesan makan malam. Tiba - tiba ponsel Aril berdering tanda panggilan masuk. Aril segera mengangkat teleponnya.


"Ya Bim.. Kami lagi di Cafe CGF. Oh ya udah kami tunggu" ujar Aril.


Kemudian Aril menutup teleponnya. Karena semua mata memandangnya akhirnya Aril buka suara.


"Bimo dan Reni akan menyusul ke sini. Katanya Reni merengek pengen makan bareng aku. Heran anaknya kok malah pengen dekat - dekat aku ya. Sedangkan sama Bimo malah musuhan" ujar Aril.


"Reni hamil?" ucap Bela dan Ela bersamaan.


"Lho kalian belum tau?" tanya Romi.


Bela dan Ela menggelengkan kepala mereka.


"Belum" jawab mereka lagi serentak.


"Jadi ceritanya Reni dan Bimo datang ke rumah Refan dalam keadaan Reni mual - mual dan muntah - muntah. Jadi Tante Suci curiga kalau Reni hamil. Akhirnya Reni di suruh tes kehamilan dan ternyata beneran hamil. Makanya mereka tadi baru pulang dari Dokter Kandungan" ungkap Romi.


"Pantesan tadi pagi Reni muntah - muntah terus, aku kira masuk angin" sambut Bela.


"Dia bukan masuk angin tapi kemasukan benda tumpul" sambut Aril cuek.


"Ih Mas Aril" Bela tanpa sadar memukul lengan Aril karena omongan Aril barusan.


"Hahaha... biasa Bel bercanda" sambung Aril.


"Jadi sekarang mereka sudah dimana?" tanya Ela.


"Katanya udah dekat sini sih, sebentar lagi juga sampai" jawab Aril.


Ternyata memang benar ucapan Aril. Bimo dan Reni sudah sampai di Cafe tempat mereka berkumpul tanpa sengaja.


"Kita duduknya jauhan aja ya Mas. Aku mau satu meja sama Ela dan Bela. Kalian para lelaki di meja yang berbeda" pinta Reni.


Bimo kembali menggaruk kepalanya yang tak gatal dan menarik nafas panjang. Demi istri dan calon anaknya harus banyak - banyak bersabar dan mengalah pada permintaan istrinya.


"Ya sudah kalau itu mau kamu. Bel, Ela kalian pindah di meja sebelah ya. Reni kalau makan dekat - dekat aku suka mual sekarang" ujar Bimo.


"Iya Mas" jawab Bela dan Ela.


Ela membantu Bela memindahkan makanan dan minuman yang tadi Bela pesan. Bimo segera memanggil pelayan dan memesan makanan dan minuman untuknya dan istrinya di meja sebelah.


Sambil menunggu makanan mereka datang akhirnya mereka saling ngobrol.


"Eh Ren, kata Mas Romi kamu hamil ya? Kok gak kasih kabar kami sih. Kami kan teman serumah kamu?" tanya Ela.


"Maaf ya teman - teman. Aku benar - benar lupa. Maksudku nanti setelah sampai rumah baru aku kasih tau kalian" jawab Reni.


"Alhamdulillah semuanya sehat. Aku dan calon adek bayi juga sehat" balas Reni.


"Senangnya lihat kamu bahagia seperti ini . Aku juga ingin segera menyusul kamu tapi sayang nasibku juga gak bisa seperti itu"


"Gimana El pertemuan kamu tadi dengan orang tuanya Mas Romi?" tanya Bela.


Wajah Reni langsung berubah sedih.


"Sepertinya Mamanya Mas Romi gak setuju dengan hubungan kami" jawab Ela.


"Ah masaaak? Mamanya Mas Romi itu sayang banget lho sama Mas Romi. Apapun permintaan Mas Romi pasti di penuhi. Mas Romi, Mas Riko dan Mas Aril, mereka semua anak tunggal. Apapun permintaan mereka pasti dikabulkan sama orang tua mereka" sambut Reni tak percaya.


"Benar lho Ren, sejak awal Mama Mas Romi melirik aku dengan pandangan tak suka. Setelah itu dia mengajak Mas Romi dan Papanya masuk ke dalam katanya ada yang mau mereka bicarakan. Tak lama kemudian Mas Romi dan Papanya keluar tanpa Mamanya. Katanya Mamanya sakit padahal sebelumnya aku lihat Mamanya Mas Romi sehat - sehat aja. Setelah itu Mas Romi mengajak aku makan malam di luar saja padahal sebelumnya dia bilang akan makan malam bersama dengan kedua orang tuanya" ungkap Reni sedih.


Reni dan Bela masing - masing menggenggam tangan Ela untuk memberikan semangat.


"Kamu yang sabar ya El. Namanya kita hidup pasti ada aja cobaannya. Kamu dan Mas Romi harus kuat dan saling mendukung seperti Mas Riko dan Dini. Buktinya perlahan - lahan Papanya Dini udah mulai bisa nerima Mas Riko datang ke rumah. Walau tidak pernah bertegur sapa tapi setidaknya Mas Riko tidak pernah diusir lagi saat datang ke rumah Dini" hibur Reni.


"Iya El... setidaknya hati kamu dan Mas Romi sudah saling terpaut" Sambut Bela.


"Kamu sendiri Bel, kok bisa makan berdua bareng Mas Aril. Bukannya kamu bilang belakangan ini Mas Aril jaga jarak sama kamu karena kamu tolak. Ini kok malah makan malam diluar berduaan?" tanya Ela bingung.


"Mas Aril tadi sebelum maghrib datang ke rumah mau ketemu Mas Bimo. Tapi kan Mas Bimo dan Reni ke rumahnya Mbak Kinan" jawab Bela.


"Iya, Mas Aril telepon aku, hatinya udah mendung banget. Aku tau kalau Bela pasti takut banget kan sendirian di rumah? Jadi aku minta tolongin Mas Aril untuk temani Bela di rumah. Tapi gak tau juga kenapa bisa makan di luar" sambut Reni.


"Kata Mas Aril bahaya kalau berdua saja di rumah" jawab Bela.


"Hahaha... Mas Aril masih ada rasa tuh sama kamu. Dia gak kuat kalau berduaan aja sama kamu. Takut lepas kontrol, makanya Bel terima aja cinta Mas Aril. Entar keburu disambar orang baru kamu nyesal. Aku dengar - dengar kemarin Mas Refan minta pada Mbak Kinan untuk kenalkan Mas Aril sama sepupunya Mbak Kinan lho" ungkap Reni.


"Wah bahaya tuh... Kamu gak takut kehilangan Bel? Kalau sudah tiada baru terasa lho. Kalau Mas Aril udah ta'aruf sama gadis lain kamu pasti menyesal" sambung Ela.


Bela menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Gak tau ah.. aku gak tau.. Bicara yang lain donk. Aku bingung kalau cerita masalah itu" pinta Bela.


Sementara di meja para lelaki.


"Sepertinya makin parah aja mualnya Reni sampai dia gak mau satu meja sama kamu Bim?" tanya Aril.


"Iya, dari tadi aku udah pusing" sambut Bimo.


"Gimana donk kalau nanti malam junior pengen ayank - ayank?" goda Romi.


"Puasa dulu bro.. Reni masih hamil muda" potong Aril.


"Gitu ya?" tanya Romi kepada Bimo.


"Gak tau, aku lupa tanya sama Dokter" jawab Bimo.


"Lagian kalau dokter bilang boleh, emangnya Reni mau deketan sama kamu? Hahaha... bisa - bisa kena muntahan lu bro" ujar Aril pada Bimo.


Bimo menarik nafas panjang memikirkan nasibnya selama Reni hamil. Apakah semua ini segera berlalu atau Reni akan sepet ini selama kehamilannya. Bimo jadi bingung sekali.


.


.


BERSAMBUNG