Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Delapanbelas



Pagi harinya Romi terbangun karena suara kaca yang pecah. Romi segera tersentak dan duduk. Sesaat dia mengumpulkan nyawa karena tadi rohnya sedang terjebak di dalam mimpi malam pertamanya yang juga gagal karena suara kaca pecah barusan.


Romi mulai sadar kalau saat ini dia sedang berada di rumah sakit menjaga Aril yang sedang sakit tadi malam. Romi segera mencari sumber suara.


Ternyata Aril sudah sadar dan sedang menggapai meja yang ada di dekat tempat tidur. Pecahan kaca dari gelas sudah berserakan di lantai.


"Kamu sudah sadar Ril?" tanya Romi terkejut.


"Ro.. rom... aku haus" ucap Aril lemah.


Romi bangkit dari sofa dan berjalan menghampiri Aril. Kemudian memberikan botol minuman kepada Aril.


"Aku kenapa Rom?" tanya Aril bingung.


"Kamu pernah makan gurita selama ini?" tanya Romi.


Aril menggelengkan kepalanya dengan lemah.


"Tidak... baru tadi malam aku makan sate gurita. Emangnya kenapa? A.. aku sedang di rumah sakit kan? Bukan di alam baka?" tanya Aril bingung.


"Kalau kamu dialam baka, aku tidak akan sudi menemani kamu. Karena aku belum malam pertama dengan istriku. Semua karena siapa? Ya karena kamu" jawab Romi kesal.


Aril menatap Romi dengan tatapan bingung dan bertanya.


"Kamu itu alergi gurita. Dan tadi malam kamu pingsan karena reaksi dari alergi kamu" ungkap Romi.


Aril mencoba mengingat - ingat kejadian tadi malam.


"Badanku terasa panas seperti terbakar, lalu gatal luar biasa. Setelah itu leherku seperti tercekik karena tidak bisa bernafas dan aku tak ingat kemudian" ungkap Aril.


"Kamu pingsan dan baru sadar pagi ini" balas Romi.


"Mana Bela?" tanya Aril.


Aril mencari - cari keberadaan istrinya di ruangan ini.


"Bela di Hotel. Aku melarang dia ikut ke Gorontalo. Dia kan sedang hamil Ril, kasihan kalau dia capek nanti bahaya untuk kandungannya" jawab Romi.


"Jadi kamu yang temani aku di sini dari kemarin malam?" tanya Aril lagi.


"Iya, Ela temani Bela di Hotel" jawab Romi.


Mata Aril kembali berkaca - kaca. Dia terlihat sangat sedih dan merasa bersalah.


"Ya Allah... lagi - lagi aku menggagalkan malam pertama sahabatku. Maafkan aku Rom, sungguh kali ini tidak ada niat aku untuk mengganggu honeymoon kalian. Aku memang ingin liburan karena sudah satu bulan aku terjebak dalam ngidam yang aneh" ungkap Aril.


Romi menatap dalam wajah Aril. Dia tau seiseng - isengnya Aril tidak akan mungkin dia melakukan sesuatu yang membahayakan jiwanya. Apalagi Bela sedang hamil saat ini.


"Sudahlah Ril semua sudah berlalu. Yang penting kamu bisa segera sembuh. Kata Dokter kalau keadaan kamu semakin membaik kita bisa pulang hari ini" sambut Romi.


"Iya Rom, aku merasa sudah lebih baik. Pernafasanku juga sudah mulai normal, tidak seperti tadi malam saat aku baru saja selesai makan sate gurita" ungkap Aril.


"Syukurlah.. Bela sangat mengkhawatirkan kamu. Aku jadi takut melihatnya, apalagi dia sedang hamil muda tidak boleh stres kan?" tanya Romi.


"Iya Rom. Bisakah kamu hubungi dia. Aku mau bicara sama istriku" pinta Aril


"Baiklah" sambut Romi dengan cepat.


Romi segera mengambil ponselnya dan menghubungi Bela.


"Assalamu'alaikum Bel" ucap Romi.


"Wa'alikumsalam Mas. Gimana keadaan Mas Aril pagi ini Mas?" tanya Bela khawatir.


"Alhamdulillah semakin baik, ni dia mau bicara sama kamu" jawab Romi.


Romi mengarahkan ponselnya ke hadapan Aril.


"Assalamu'alaikum sayang" sapa Aril masih sedikit lemas.


"Maafkan aku yank, kalian semua sudah khawatir kan keadaanku. Aku tidak tau kalau aku alergi pada gurita. Kalau tau kan aku tidak akan memilih menu itu" ujar Aril.


"Iya Mas gak apa - apa yang penting kamu sudah sadar. Cepat sembuh ya Mas biar kamu bisa pulang. Aku tidak mau sendirian di hotel sedangkan kamu di Rumah Sakit" balas Bela.


"Iya aku sudah lebih baik. Aku akan minta pada dokter untuk pulang hari ini juga" ucap Aril.


"Jangan khawatirkan aku Mas, yang penting kamu sehat dulu. Ada Ela kok di sini" jawab Bela.


"Iya tapi kira sudah mengganggu honeymoon mereka sayang. Kita juga kan sedang liburan. Aku tidak mau merusak liburan kita dengan menginap di rumah sakit" ujar Aril.


"Kalau begitu Mas yang semangat ya, aku tunggu di sini" ucap Bela memberi semangat.


"Iya sayang.. udah dulu ya. I miss you" Aril menutup panggilan teleponnya.


"Me too" sambut Bela.


Romi menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku. Tak lama dokter dan perawat datang.


"Pagi Pak Aril, gimana perasaannya pagi ini?" sapa dokter.


"Alhamdulillah sudah lega bernafas nya dok" jawab Aril.


"Sudah dilepas sendiri ya oksigennya" ledek Dokter ramah.


"Tadi saya coba - coba. Lho kok enak, jadinya saya coba lagi. Lho kok tambah enak, akhirnya saya lepas semuanya" jawab Aril berkelakar.


"Hahaha.. Pak Aril sudah bisa bercanda itu artinya memang sudah benar - benar sembuh. Kalau begitu saya akan kasih resep saja untuk Bapak bawa pulang. Kemarin Pak Romi sudah jelaskan kepada saya kalau kalian sedang honeymoon ke sini" ungkap dokter.


"Tidak.. tidak.. dokter. Eh maksud saya memang benar saya dan sahabat saya ini datang ke sini untuk honeymoon. Tapi bukan kami berdua. Dokter jangan salah sangka" sangkal Aril.


Romi tampak kesal dengan ucapan Aril.


"Iya Pak saya tau. Pak Romi baru menikah kemarin dan langsung honeymoon bersama istrinya sedangkan Pak Aril sedang ngidam honeymoon kan, karena istri Pak Aril sedang hamil" ucap Dokter.


"Iya.. iya.. tepat sekali" sambut Aril.


"Pak Aril ini ternyata lucu pantas saja sahabat Bapak sangat takut sesuatu terjadi kepada Bapak tadi malam. Kini saya mengerti, dia pasti tidak mau kehilangan sahabat lucu seperti Bapak" sambut Dokter.


Aril terharu mendengar ucapan dokter. Dia menatap wajah Romi dengan tatapan lembut dan penuh kasih sayang.


"Sudah Ril.. kamu jangan menangis. Aku tidak akan terharu" ejek Romi.


Perawat dan Dokter tersenyum melihat canda dua sahabat itu. Semalam Romi terlihat sangat panik dan mengkhawatirkan keadaan Aril sekarang mereka bercanda seperti bermusuhan.


"Kalian berdua memang lucu sekali Pak" ucap perawat.


"Oke Pak Aril siang setelah menyelesaikan administrasi dan ambil resep obat, Bapak sudah boleh pulang. Dan selamat honeymoon ya, semoga Pak Romi dan istri bisa segera menyusul Pak Aril dan istrinya. Mendapatkan keturunan yang sehat dan lucu sepet kalian. Saya pamit dulu" ucap Dokter.


"Terimakasih Dokter" sahut Aril dan Romi bersamaan.


Dokter dan perawat keluar dari kamar Aril.


"Yes pulaaang... aku bisa melanjutkan malam pertama yang tertunda dengan istriku. Awas kalau kamu ganggu lagi, aku tidak akan peduli dengan kamu lagi" ancam Romi.


"Kamu tenang saja Rom, aku janji tidak akan ganggu honeymoon kamu" sahut Aril.


"Ya sudah aku bereskan dulu administrasi kamu dan tebus obat kamu siap - siap biar kita pulang" perintah Romi.


"Oke.. aku tunggu kamu di sini ya" jawab Aril.


Romi langsung pergi ke ruangan administrasi rumah sakit untuk membayar biaya perawatan Aril.


.


.


BERSAMBUNG