Playboy Insaf

Playboy Insaf
Empatpuluh Enam



Siang hari mereka memutuskan untuk meninggalkan kawasan Bromo dan mencari Restoran yang terkenal di dekat daerah itu.


Setelah selesai mengisi perut mereka, akhirnya mereka melanjutkan perjalanan kembali menuju Surabaya.


Mereka tiba di Surat malam hari. Walau badan sangat letih tapi Aril harus tetap mempersiapkan bahan - bahannya untuk pertemuan bisnis besok dengan clientnya.


Aril keluar dari kamarnya hendak mencari udara segar di luar.


"Belum tidur Mas?" tanya Bela yang sepertinya baru keluar dari dapur.


"Iya mau buat bahan untuk pertemuan besok tapi mataku udah gak bisa diajak kompromi. Mau cari udara segar dulu biar melek" jawab Aril.


"Mau aku buatin kopi?" tanya Bela menawarkan.


"Boleh kalau kamu tidak keberatan" jawab Aril antusias.


"Cuma buat kopi aja kok, gak berat" balas Bela.


"Nanti kalau kamu jadi sekretaris aku, bakal setiap hari nih aku rasain kopi buatan kamu" sambut Aril.


"Emangnya gak ada office boy yang biasa nyediain?" tanya Bela.


"Biasa yang buat kopi sekretaris aku" jawab Aril.


"Oo ya udah. Nanti aku akan minta ajarin sama Mbak sekretaris Mas gimana cara buat kopi untuk Bos" ujar Bela.


"Kamu buat aja dulu kopi buatan kamu. Nanti akan aku rasain, kalau ternyata memang lebih enak, ngapain lagi kamu minta diajarin buatin kopi sama Silvi" jawab Bela.


"Baiklah.. akan aku coba buatkan kopi terbaik buatan aku. Biasanya Bapak paling suka kopi buatan aku. Katanya enak lho" ujar Bela.


"Aku jadi semakin penasaran dengan rasanya. Kalau Bapak bilang begitu aku rasa aku juga akan menyukainya. Karena sepertinya selera kami tak jauh beda" jawab Aril menggoda.


Wajah kamu mirip banget sama Ibu kamu Bela. Bapak suka wajah Ibu kamu dan aku suka wajah kamu. Berarti selera aku dan Bapak kamu sama kan? ucap Aril dalam hati.


Bela membuatkan kopi untuk Aril di dapur dan Aril menemaninya di dapur. Bela memasak air dan menyeduh kopi. Tak lama kemudian dia menyuguhkannya kepada Aril.


"Silahkan diminum Mas" ucap Bela.


"Terimakasih Bel" sambut Aril.


Aril mulai mengangkat cangkit kopinya dan menyeruput kopi dari pinggiran cangkir sedikit demi sedikit.


"Sruuuup... aaaah... enak Bel" puji Aril.


"Serius Mas?" tanya Bela tak percaya.


"Serius... ini memang benar - benar enak. Fix kamu gak perlu belajar lagi. Nanti kamu buatin aja aku kopi racikan kamu sendiri" perintah Aril.


"Syukurlah kalau Mas Aril suka" ujar Bela.


Mereka duduk di meja makan berdua saling berhadap - hadapan.


"Bel lusa bisa gak temani aku ketemu sama client aku?" pinta Aril.


"A.. aku.. Mas?" tanya Bela tak percaya.


"Iya kamulah siapa lagi. Gak mungkin Reni apalagi Ela. Kamu kan nanti akan jadi sekretaris aku, pasti kamu akan sering menemani aku bertemu dengan rekan dan client" jawab Aril


Bela masih diam sambil berpikir untuk mempertimbangkan ajakan Aril.


"Udah ikut aja, hitung - hitung magang untuk belajar jadi sekretaris aku" ucap Aril.


"Nanti disana aku ngapain Mas?" tanya Bela takut.


"Kamu gak akan dibawa kemana - mana. Hanya temani aku dan catat point yang penting - penting dari pembicaraan aku dan client. Biasanya kami akan membuat kesepakatan. Nanti catatan kamu itu yang akan dibuat menjadi perjanjian kesepakatan" terang Aril


Bela menarik nafas panjang.


"Baiklah Mas, besok aku bilang Bapak sama Ibu dulu ya.. " jawab Bela.


"Oke, aku tunggu ya Bel jawabannya besok" balas Aril.


Aril menyeruput kembali kopi yang ada di cangkir. Sebenarnya ingin berlama - lama di sini berdua dengan Bela. Tapi malam semakin larut, Aril tak enak dengan Bapak dan Ibu Akarsana. Nanti mereka pikir Aril ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Sudah malam Bel, kamu balik aja ke kamar dan istirahat. Aku sebentar lagi akan melanjutkannya pekerjaanku" perintah Aril.


"Gak apa - apa nih Mas Aril aku tinggal sendirian?" tanya Bela.


"Gak apa - apa. Aku masih ingin menikmati kopi panas buatan kamu dan melemaskan otot - otot mataku agar lebih segar lagi nanti untuk bekerja" jawab Aril.


"Baiklah, kalau begitu aku ke kamar ya Mas" ucap Bela.


"Oke, selamat tidur. Semoga mimpi indah" balas Aril.


Mimpiin aku ya Bel.. jadi imam dalam rumah tangga kita. hahahaha.. romantis banget yak... Aril tertawa sendiri dalam hati.


Bela segera berlalu dari hadapan Aril dan meninggalkan Aril sendiri di dapur. Aril melanjutkan aktivitasnya menikmati kopi buatan Bela. Dia tidak berbohong, kopi buatan Bela memang sangat enak.


Aril jadi membayangkan kalau nanti dia menikah dengan Bela. Lebih baik lembur bekerja di rumah dari pada di kantor. Karena di kantor ada istrinya yang akan menemaninya sampai larut malam seperti ini.


Tanpa sadar Aril tersenyum malu karena membayangkan masa depannya nanti bersama Bela. Hal yang akhir - akhir ini berubah menjadi impian Aril.


Setelah kopi di gelas Aril habis barulah Aril kembali masuk ke kamarnya dan melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi. Satu jam kemudian baru Aril tidur. Karena dia butuh istirahat. Besok dia akan bertemu clientnya untuk membahas kerjasama perusahaan mereka.


*******


Selama Aril bekerja di Surabaya, Reni bersama Bela dan Ela keliling kota Surabaya.


Sepulang dari pertemuannya dengan client hari ini entah mengapa Aril memutar mobilnya untuk berjalan - jalan sebentar. Tanpa sengaja dari kejauhan dia melihat tiga orang gadis sedang berjalan di atas trotoar.


Aril menepikan mobilnya dan hendak menyapa ketiga gadis tersebut.


Tin.. Tiiiiin...


Aril menekan klakson mobilnya sehingga membuat Reni, Bela dan Ela melirik kearah suara yang membuat mereka kebisingan.


"Hai gadis - gadis cantik.. Apakah kalian bisa menemaniku keliling kota ini?" tanya Aril menggoda merek.


"Ya ampun... Mas Aril rupanya. Aku kira siapa tadi yang berani gangguin kami. Hampir saja aku telepon Mas Bimo minta bantuan" sambut Bela.


"Nanti aja Bel minta bantuan Mas Bimo nya kalau sudah urgent. Siapa tau playboy ini nanti main kasar sama kamu di kantor" ucap Reni.


"Heh... setan kecil kamu pikir aku akan melakukan KDDP" ujar Aril.


"Apa tuh KDDP?" tanya Reni tak mengerti.


Bela dan Ela juga sebenarnya ingin tau juga.


"Kekerasan Dalam Dunia Perkantoran" jawab Aril.


"Hahaha... Mas Aril ini ada - ada saja" sambut Ela tertawa. Bela juga senyum - senyum di samping Ela.


"Yuk kita nongkrong" ajak Aril.


"Dimana?" tanya Reni.


"Minta tunjukin aja sama Bela dan Ela dimana disini tempat nongkrong paling seru" jawab Aril.


"Dimana Bel, Ela?" tanya Reni.


"Udaaaah... kalian masuk aja dulu ke mobil. Setelah itu baru kita bicarakan" ajak Aril.


Bela, Ela dan Reni langsung masuk ke dalam mobil Aril. Reni sengaja menarik Ela duduk di belakang agar Bela yang duduk di depan disamping Mas Aril.


"Bel kamu tunjukin jalan sama Mas Aril ya" perintah Reni.


"Baiklah... ya sudah Mas jalan aja. Nanti aku tunjukin tempatnya" sambut Bela.


Mobil kembali dinyalakan oleh Aril dan bergerak mengitari bundaran alun - alun kota Surabaya sore itu.


.


.


BERSAMBUNG