Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Sembilan Belas



Riko melakukan mobilnya dengan kecepatan yang diatas rata - rata. Rasanya ingin sekali dia segera sampai di Bandung.


Ponsel Riko berdering dan lagi - lagi nama Anita yang tertera di layar ponselnya.


"Assalamu'alaikum Nit, kalian sudah sampai dimana?" tanya Riko.


"Wa'alaikumsalam Mas. Kami sudah sampai di rest area. Mas masih jauh?" tanya Anita.


"Tidak, aku sudah dekat. Sekitar lima menit lagi aku akan tiba di sana" jawab Riko sambil melirik jam tangannya.


"Baik Mas kami tunggu, hati - hati ya" pesan Anita.


"Iya Nit" balas Riko.


Riko menekan gas dan menambah kecepatan mobilnya. Lima menit kemudian dia sudah sampai di rest area tol Jakarta - Bandung. Dari kejauhan Riko bisa melihat mobil Galuh sudah parkir di rest area.


Riko langsung turun dan berjalan menghampiri mobil Galuh. Riko menjabat tangan kedua orang tua Dini yang duduk di kursi belakang mobil Galuh.


Saat menjabat tangan Papa Dini, pria itu langsung menarik cepat tangannya. Tapi Riko tak mempermasalahkan hal itu.


"Bapak, Ibu mau pindah di mobil saya? Biar Mas Galuh, Anita dan Yoga saja di mobil ini?" ucap Riko menawarkan diri.


"Tidak perlu. Kami disini saja" tolak Papa Reni langsung.


"Pa... " potong Anita.


"Sudah Nak Riko kita lanjutkan saja perjalanan biar segera sampai. Bapak dan Ibu biar tetap di mobil Anita ya" ucap Mama Dini dengan lembut.


"Baik kalau begitu. Ayo Mas Galuh kita lanjutkan perjalanan" sambut Riko.


"Yuk Ko" sahut Galuh.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju Bandung. Satu jam kemudian mereka sudah keluar dari jalan tol dan langsung menuju Rumah Sakit tempat Dini di rawat.


Saat mereka tiba di depan ruangan Dini, ada teman kos Dini yang menyambut mereka.


"Dini mana?" tanya Mamanya Dini.


"Dini sedang istirahat Bu di dalam, lagi tidur setelah dikasih obat penghilang rasa sakit oleh Dokter" jawab wanita itu.


Mereka masuk ke ruang Dini dengan pelan - pelan, takut membuat Dini terbangun.


Riko menatap wajah putih pucat bidadari surganya. Rasanya gak tega melihat Dini terbaring seperti ini.


"Gimana ceritanya Dini bisa pingsan?" tanya Anita.


"Sore tadi Dini mengeluh perutnya sakit, biasa kalau datang bulan Dini kan memang seperti itu. Jadi tadi setelah shalat isya saya mau ajak Dini makan malam, saat saya buka kamarnya saya melihat Dini sudah pingsan di atas tempat tidur. Saya langsung hubungi nomor Mbak Anita" jawab teman Dini.


"Dokter sudah periksa keadaan Dini?" tanya Riko khawatir.


"Sudah Mas, tapi katanya besok baru dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Dokter sudah memberikan obat penghilang rasa sakit" jawab teman Dini.


"Ya sudah yang penting kita semua sudah ada di sini dan sudah bertemu Dini. Sebaiknya biarkan Dini istirahat dengan tenang. Nita tolong kamu antarkan Dewi kembali ke kos" perintah Mama Dini.


"Gak usah Tante, saya sudah dijemput sama teman kos lainnya. Santai aja, tante dan semuanya juga istirahat saja" tolak teman Dini.


"Beneran Dew, kamu sudah di jemput? Biar Mbak antar aja gak usah sungkan" tanya Anita.


"Beneran Mbak. Saya ke depan ya, teman saya sudah menunggu di depan" pamit Dewi.


"Makasih banyak ya Dewi" ucap Mamanya Dini.


Dewi teman Dini keluar dari kamar Dini dan kembali ke kos. Kini tinggal Riko dan seluruh keluarga Dini di dalam kamar rawat inap Dini.


"Lebih baik kalian cari penginapan di dekat sini. Biar Mama saja yang jagain Dini di sini" perintah Mama Dini.


"Papa mau di sini saja Ma" sambut Papa Dini.


"Cuma satu orang Pa yang boleh jaga. Benar kata Mama lebih baik kita cari penginapan di dekat sini" sambut Galuh.


"Tapi pasti Dini belum makan siang Bu. Tadi kan kata Dewi, dia ke kamar Dini mau ajak makan malam. Karena Dini pingsan pasti dia belum makan sampai sekarang" potong Riko.


"Mama... Papa.. kalian semua mengapa ada di sini?" tanya Dini bingung dan terakhir pandangannya tertuju pada Riko.


Mas Riko juga ada di sini? Tanya Dini dalam hati.


"Kami tadi dapat kabar dari Dewi kalau kamu pingsan dan dibawa ke rumah sakit" jawab Mama Dini.


"Aku hanya datang bulan biasa, mengapa harus di opname?" tanya Dini.


"Din, semua harus jelas. Kamu harus di periksa. Apa yang menjadi penyebab kamu selalu kesakitan setiap kali kamu datang bulan" jawab Riko.


Papa Dini melirik ke arah Riko.


"Ini cuma datang bulan biasa Mas. Semua wanita juga merasakannya" ujar Dini.


"Iya kamu benar tapi yang sesakit kamu itu tidak ada Din" balas Riko.


"Nak Riko benar Din, Mama dan kakak kamu tidak merasakan hal yang sama seperti kamu. Lebih baik kita periksa dengan jelas nak agar kita semua lebih tenang dan kamu juga tidak merasakan sakit lagi seperti ini setiap bulannya" jawab Mama Dini.


"Sudah.. sudah.. biar Dini istirahat sekarang" potong Papa Dini.


"Kamu sudah makan?" tanya Riko penuh perhatian.


Dini menggelengkan kepalanya.


"Belum Mas. Aku belum makan malam" jawab Dini.


"Ya sudah aku cari makan dulu sebentar ya. Kamu mau apa?" tanya Riko.


"Apa aja Mas, terserah Mas saja" jawab Dini.


"Baik kalau begitu aku cari dulu ya" Riko langsung bergegas pergi meninggalkan kamar rawat inap Dini.


"Sudah aku bilang ngapain kalian hubungi anak itu? Aku tidak suka lihat dia ada di sini? Gayanya kayak udah paling berkuasa pada Dini. Dia kan bukan siapa - siapa kita? Belum nikah udah sok berkuasa" oceh Papa Dini tak suka.


"Pa..Riko berbuat seperti itu karena dia khawatir pada kesehatan Dini" jawab Galuh.


"Emangnya kita semua gak khawatir? Papa ini orang tuanya Dini, pasti Papa yang lebih khawatir dari pada dia. Cih... gak usah mau sok jadi pahlawan" ujar Papa Dini.


"Pa.. jangan ribut di sini. Dini butuh ketenangan. Lebih baik Papa bersabar dan redam emosi Papa sampai Dini sembuh. Gak enak kalau harus ribut - ribut di Rumah Sakit" pesan Anita.


Tak lama Riko kembali dengan membawa makanan untuk mereka semua.


"Lho banyak sekali ini Nak Riko?" tanya Mama Dini.


"Kita semua juga belum makan kan karena tadi buru - buru berangkat biar cepat sampai ke sini. Makanya aku beli makanan untuk kita semua. Biar bisa kuat untuk jagain Dini yang lagi sakit" jawab Riko.


"Makasih ya Ko. Aku aja sampai lupa kalau belum makan dari tadi" sambut Galuh.


"Pa makan nih" ujar Mama Dini.


"Papa gak lapar" tolak Papa Dini.


"Paaaa.... " panggil Dini.


Papa Dini menatap wajah anak bungsunya.


"Papa makan ya, pleaseee.... " pinta Dini dengan mata berkaca - kaca.


Entah mengapa melihat kejadian tadi perasaan Riko jadi gak enak. Feelingnya mengatakan ada sesuatu terjadi diantara mereka saat Riko pergi tadi.


Tapi Riko tidak tau harus bertanya pada siapa. Di sini dia adalah orang lain. Belum ada ikatan apapun pada keluarga ini. Jadi Riko sadar batasannya sampai mana. Riko tidak mau terlalu berlebihan bisa - bisa nanti Papa Dini semakin tidak suka padanya.


Akhirnya mereka semua makan malam bersama di kamar rawat inap Rumah Sakit malam itu.


.


.


BERSAMBUNG