Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Empatpuluh Satu



Romi baru saja kembali dari Perusahaan Subrata yang kini sedang di pimpin oleh Ela kekasih hatinya. Romi melangkah masuk ke dalam Perusahaannya dan langsung naik ke lantai paling atas dimana ruang kerjanya berada.


Saat Romi keluar dari lift, Silva menyambutnya dengan senyuman nakalnya tapi Romi tidak pernah menanggapinya.


Romi sangat tau apa maksud perhatian Silva. Menyandang nama mantan Casanova membuat ilmunya tentang wanita sudah banyak bahkan sudah jadi senior. Romi tau maksud hati Silva mendekatinya.


Tapi Romi tidak pernah menganggapi sikap Silva ini. Selama Silva masih bekerja dengan baik menjalankan tugasnya Romi masih menghargainya sebagai salah satu karyawan di Perusahaannya tidak lebih.


"Pak didalam ada Ibu Pak Romi menunggu" lapor Silva.


"Sudah lama Mama datang?" tanya Romi.


"Sudah sekitar tiga puluh menit Pak" jawab Silva.


"Baik, terimakasih Silva. Apa sudah dihidangkan minuman dan makanan untuk Mama?" tanya Romi lagi.


"Sudah Pak" jawab Silva.


"Oke, saya masuk dulu" Romi berjalan menuju ruangannya.


"Mama... kok gak kabari Romi mau datang ke sini?" tanya Romi pada Mamanya.


Romi langsung meraih tubuh Mamanya dan memeluknya.


"Mama takut mengganggu pekerjaan kamu" jawab Bu Hidayat.


"Sudah lama Mama datang?" tanya Romi.


"Lumayan, cukup untuk mengetahui apa yang telah kamu lakukan dengan Ela selama dia bekerja di kantor ini" jawab Bu Hidayat tidak ramah.


"Apa maksud omongan Mama?" tanya Romi terkejut.


"Nih.. apa maksud dari semua foto - foto ini?" tanya Bu Hidayat sambil menunjukkan foto - foto Ela dan Romi yang tadi dia dapatkan dari Silva.


Romi meraih ponsel Mamanya dan melihat semua foto - foto dirinya bersama Ela.


"Dari mana Mama dapat foto - foto ini?" tanya Romi santai.


"Kamu gak usah tanya dari mana Mama mendapatkan foto - foto ini. Kamu cukup menjawab apa maksud foto - foto ini? Apa coba maksudnya kamu bertingkah seperti kucing - kucingan dengan gadis kampung ini. Mama gak suka kamu sepet ini" protes Mama Romi.


Romi tersenyum mendengar omelan Mamanya dan dia duduk santai di sofa tepat disamping tempat duduk Mamanya.


"Mama kan sudah tau hubungan kami. Jadi ngapain Mama protes. Kami tidak kucing - kucingan. Aku malah ingin lebih terbuka, agar semua orang di kantor ini tau kalau Cishela adalah calon istriku. Tapi Shela yang meminta seperti itu Ma. Awalnya dia tidak percaya diri, karena dia tau posisinya. Dia merasa tidak pantas berhubung denganku. Dia takut pandangan orang buruk menilainya. Akhirnya aku memilih seperti itu untuk menghargai keinginannya" jawab Romi.


"Bagus kalau dia sadar diri. Dia memang tidak pantas menjadi pendamping hidup kamu" sambut Bu Hidayat.


"Kenapa Ma? Karena dia berasal dari kampung, karena dia berasal dari keluarga yang sederhana?" tanya Romi.


"Hahaha... Mama belum tau siapa Shela sekarang. Kalau dia kaya apa Mama akan menerima dia sebagai calon istriku?" tanya Romi.


"Bagaimana bisa dia kaya dalam waktu secepat ini? Pasti dia jual diri sama pria hidung belang?" tuduh Mama Romi.


"Astaghfirullah Ma.. jangan terlalu jelek menilai Shela Ma. Shela itu wanita yang baik, wanita sederhana dan pekerja keras. Mama jangan nuduh sesuatu hal yang tidak dia lakukan sama sekali. Itu bisa bahaya Ma.. Itu melanggar hukum, menuduh tanpa alasan dan bukti - bukti" ucap Romi.


Bu Hidayat terdiam mendengar ucapan putranya.


"Pokoknya Mama tidak suka sama dia. Ti... tik... " protes Mama Romi.


"Tolong Ma kasih alasan padaku. Mengapa Mama tidak menyukainya?" tanya Romi serius.


"Dia hanya mengingkan harta kamu Rom, dia punya niat buruk kepada kamu" jawab Mama Romi.


Romi meraih lembut tangan Mamanya dan menggenggamnya penuh dengan kasih sayang. Dia mencoba bersabar untuk menghadapi Mamanya kali ini. Mudah - mudahan dengan begitu hati dan pikiran Mamanya terbuka dan mau menerima Ela dengan baik.


"Maa... berapa kali Romi sudah katakan kalau Shela adalah wanita yanga sederhana. Dia tidak pernah melihat harta yang Romi miliki Ma. Kalau dia wanita matre pasti dia tidak akan menolak setiap kali Romi memberikan dia sesuatu. Shela berbeda dengan wanita - wanita lain di luar sana Ma.. Shela wanita solehah yang bisa menjaga auratnya dan pergaulannya Ma. Shela itu juga jago beladiri Ma, dia wanita bersih yang bebas dari pria manapun. Dia sangat pintar menjaga dirinya dan juga nama baik keluarganya" ungkap Romi.


"Tapi dia tetap saja gadis kampung" celetuk Bu Hidayat.


"Ma.. dia gadis kampung yang berprestasi. Mama tau, Shela sekarang sudah menjadi CEO di Perusahaan Subrata. Aku sebenarnya sangat berat sekali melepasnya. Karena Shela adalah karyawan yang berpotensi dan berprestasi tapi aku tidak mau egois Ma. Aku ingin dia maju dengan kemampuan yang dia miliki sendiri tanpa bantuanku. Agar Mama bisa melihat kalau Shela mempunyai banyak kelebihan dibandingkan wanita - wanita lain. Apa Mama lupa apa hobbyku dulu sejak kuliah sampai saat aku belum mengenal Shela?" tanya Romi.


Bu Hidayat terdiam.


"Aku mantan palyboy Ma. Jadi aku sangat tau bagaimana ciri - ciri wanita matre, wanita yang baik dan tak baik, wanita tulus dan yang punya niat terselubung, wanita munafik, wanita yang hanya ingin bersenang - senang dan wanita yang serius. Aku berubah sejak mengenal Shela Ma, sejak bertemu dengannya aku merasa dia wanita yang berbeda tapi Allah punya rencana lain. Aku hanya mengenalnya sekali saja. Setelah itu bertahun - tahun aku mencarinya aku tidak pernah menemukannya. Kemudian aku sadar bahwa jalan hidupku sudah salah, aku bertaubat dan merubah cara hidupku. Baru Allah mempertemukan kami kembali setelah kami berdua sama - sama berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Apa Mama tau apa maksud Allah mempertemukan kami sekarang Ma? Mungkin inilah yang dinamakan jodoh. Aku sangat yakin Shela adalah jodohku dengan atau tanpa restu Mama. Tapi aku tidak mau memulai hidupku dengan Shela dengan sebuah kesalahan. Aku ingin saat aku berumah tangga kelak kebahagiaanky full. Mama mengertikan maksud perkataanku? Aku ingin Mama merestui pernikahan kami kelak. Agar rumah tanggaku dan Shela lebih berkah dengan restu kedua orang tua kami. Dan Mama tau mengapa aku mempunyai pemikiran seperti itu? Semua karena Shela Ma. Dia yang mengajak aku berjuang untuk mendapatkan restu Mama. Dia berjuang siang malam tak kenal lelah bekerja di Perusahaan Subrata hingga mendapatkan jabatannya yang sekarang demi apa Ma? Demi mendapatkan restu Mama. Agar Mama bisa memandangnya layak berada disampingku" ungkap Romi dengan mata berkaca - kaca.


Bu Hidayat terpaku dengan ucapan putranya dan juga keseriusan Romi. Hingga dia tidak bisa berkata - kata lagi. Romi memang benar - benar serius menjalin hubungan dengan gadia itu.


Selama ini Bu Hidayat tidak pernah melihat wajah putranya yang seperti ini. Ternyata putranya sudah dewasa sekarang.


Bu Hidayat melepaskan genggaman tangan Romi dan meraih tasnya. Kemudian dia berdiri hendak meninggalkan Romi. Romi terkejut dan tampak kecewa. Ternyata usahanya meyakinkan Mamanya gagal.


"Besok aja Cishela makan malam di rumah" ucap Bu Hidayat sebelum dia beranjak dari ruang kerja putranya.


Romi sangat terkejut ketika mendengar ucapan Mamanya yang terakhir tadi. Seketika wajah Romi kembali ceria.


"Yes.. Alhamdulillah... terimakasih ya Allah.... " ucap Romi sembari terus bersyukur.


.


.


BERSAMBUNG