
Mereka sudah sampai di sebuah Cafe Artap. Cafe yang terbuat dari bangunan semi outdoor yang sangat artistik.
Aril sangat terpesona dengan Cafe tersebut. Inilah tempat dimana seni, kreativitas dan makanan lezat berpadu menjadi satu.
Bukan hanya sekedar cafe untuk mengisi perut namun juga sebagai tempat untuk melepas dahaga akan kreativitas dan karya seni.
Konsep Cafe Artap ini memang menyatukan cafe dan galeri seni dengan apik. Bukan itu sahabat, bahkan tempat ini memang sangat sering digunakan untuk menyelenggarakan art workshop.
Dengan doninasi warna abu, cafe ini terlihat minimalis namun tetap artistik dengan kursi berbentuk setengah lingkaran lampu gantung yang menghiasi seluruh ruangan
Jika datang siang dan sore hari, sinar matahari masuk dari atap kaca membuat cafe ini terlihat lebih cerah. Namun saat malam hari datang, cahaya lampu yang redup serta penampilan live music membuat suasana cafe berubah menjadi lebih romantis.
Selain karena desain tempatnya yang istagrammable, tentu saja para pengunjung datang ke sini untuk memburu aneka makanan dan minumannya yang oke punya.
Di sini bisa mencicipi Laksa Spaghetti atau Dori Sambal Matah on Rice untuk pecinta pedas. Dan untuk minumannya, bisa pilih kopi atau aneka smoothies untuk pilihan yang lebih sehat.
Cafe ini terletak di Jalan Soekarno Surabaya dan harga makanannya juga sangat terbangkau membuat banyak anak remaja yang datang berkunjung ke Cafe ini.
"Bagus ya cafe ini" puji Aril.
"Ini cafe yang lagi hits di Surabaya Mas. Banyak anak remaja nongkrong di sini" sambut Bela.
"Aku sudah sering ke Surabaya tapi baru kali ini datang ke sini" ujar Aril.
"Ya namanya Mas udah gak remaja lagi alias udah tuir" sindir Reni.
"Setan keciiiill" ucap Aril memberi peringatan.
"Hahaha.. soalnya kalau Mas kan dulu tempat nongkrongnya beda, kalau gak diskotik ya hotel" ledek Reni.
"Kamu mau jatuhin harga diriku di depan Bela" bisik Aril kepada Reni.
"Bukan.. bukan.. justru tujuan aku itu bagus. Biar dia bisa terima Mas apa adanya hahaha" Reni tertawa.
"Ehm... kalian mau pesan minum apa?" tanya Bela kepada Reni dan Aril.
Bela memberikan daftar menu yang barusan diberikan pelayan kepada mereka.
"Mmm... aku beef hamburger dan minumnya honeydew ginger ale" pilih Reni setelah melihat buku daftar menu.
"Mad kaya toas dan coffee aja. Masih kenyang" sambut Aril.
"Aku japanese hambu, minumnya infused beer (manggo, kiwi, strawberry)" pinta Ela.
"Aku Creamy Carbonara dan minumnya Crunchy Hazelnut" ucap Bela.
Pelayan mencatat semua makanan dan minuman yang mereka pesan.
"Baik, tunggu sebentar ya Mbak, Mas" sambut pelayan.
Pelayan kembali ke dapur dan kini hanya tinggal Aril dan tiga dara cantik.
"Gimana Bel, besok kamu jadi temani Mas meeting?" tanya Aril.
"Mmm.. boleh Mas. Sekalian hitung - hitung aku belajar jadi sekretaris. Tapi benar kan tugas aku hanya mencatat saja?" ucap Bela.
"Iya kamu tenang saja gak usah dengerin omongan Reni dia emang suka banget jadi kompor" sambut Aril.
"Apa sih? Aku gak ada ngomong apapun pada Bela. Kalau gak percaya tanya aja sendiri sama Bela" ucap Reni kesal.
"Sorry Ren habisnya kan kamu suka banget usil" ucap Aril merasa bersalah.
"Eh guys nanti kalau kami balik ke Jakarta kalian ikut aja sekalian. Kamu Bel kan bisa langsung kerja di perusahaan Mas Aril sedangkan Ela nanti kami bantuin deh cari kerjaan untuk kamu. Sahabat Kakakku banyak bukan hanya Mas Aril doank" Reni melirik ke Aril dengan tatapan mengejek.
"Benar Bel, Ela kalian ikut aja bareng kamu. Bela kan juga bisa langsung belajar sama sekretaris lamaku Si Silvi. Kasihan juga dia perutnya semakin besar, semakin repot kalau ke kantor" sambut Aril.
"Baik deh Mas kalau aku gak masalah. Sebelumnya kan emang begitu rencananya. Gak tau nih Ela" ujar Bela.
"Aku pamit sama keluargaku dulu ya Mas. Soalnya aku belum bilang sama Bapak dan Ibu kalau aku mau ke Jakarta" ucap Ela.
Tak lama hidangan sampai di depan mereka. Dengan semangat empat lima tiga dara itu langsung menyantap hidangan mereka.
Berjalan keliling kota dari siang sampai sore ternyata menguras tenaga dan isi perut juga langsung kosong. Untung ketemu Aril sebelum pulang.
Aril tersenyum melihat tiga dari ini semangat sekali makannya. Sementara dia sendiri hanya menikmati roti dan kopi karena memang perutnya masih kenyang setelah makan siang bersama clientnya.
Tak lama setelah mereka manyantap makanan, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah.
"Mas kita antar Ela dulu ya" ujar Bela.
"Boleh" jawab Aril.
Aril melajukan mobilnya menuju rumah Ela. Sesampainya di rumah Ela, Aril bisa melihat rumah yang sederhana.
Ternyata Ela berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Kemarin saat wisuda Aril sempat bertemu dengan Bapak, Ibu dan keluarga Kakaknya. Mereka keluarga yang baik.
Ela juga sopan dan cantik, walau penampilannya memang lebih tomboy dari pada Bela dan Reni tapi dia gadis yang menarik.
Aril berjanji akan membantu Ela untuk mencari pekerjaan di Jakarta. Mungkin dengan cara begitu Ela bisa membantu kehidupan orang tuanya.
"Makasih ya Mas" ucap Ela pada Aril.
"Iya El, sama - sama" jawab Aril.
"Gak singgah dulu Mas, Ren, Bel?" tanya Ela.
"Kayaknya lain kali ya El, udah kesorean. Takut maghrib di jalan" tolak Aril dengan halus.
Ela tersenyum menatap teman - temannya.
"Sampai jumpa besok ya El" ujar Reni.
"Oke Ren" balas Ela.
"Jangan lupa pamit sama Bapak dan Ibu untuk ke Jakarta minggu depan" ucap Bela.
"Iyaaaa.. " jawab Ela.
"Daaaah... " teriak Bela dan Reni.
Mobil bergerak meninggalkan rumah Ela.
"Bapak Ela kerja apa Bel?" tanya Aril.
"Bapaknya supir Mas di sebuah hotel di kota ini. Ela berasal dari keluarga sederhana, seperti yang kalian lihat tadi. Dia anak yang pintar sejak SMA sampai kuliah dia selalu mendapatkan beasiswa. Walau mereka hidupnya pas - pasan tapi Bapaknya sangat ingin semua anak - anaknya tamat kuliah. Kakaknya seorang guru dan sudah PNS. Alhamdulillah sudah menikah dan mendapatkan suami yang baik. Hanya tinggal Ela anak paling kecil yang menjadi tanggung jawab Bapaknya" ungkap Bela.
"Kamu kenal Ela sejak kapan?" tanya Reni.
"Saat kuliah, sejak pertama masuk kampus. Aku diganggu sama beberapa orang preman dan Ela yang membantuku. Ela itu pintar beladiri. Semua preman itu habis dia hajar. Di kampus Ela terkenal jadi pembasmi preman kampus. Sudah berapa preman berhasil dia cobloskan ke penjara. Kampus aman sejak ada Ela" jawab Bela.
"Hebat ya Ela... " sambut Reni.
Aril yang mendengar cerita Bela tiba - tiba teringat akan sesuatu yang sudah lama dia dengar.
"Bel siapa nama lengkap Ela?" tanya Aril.
"Cishela Mas... Cishela Budianto" jawab Bela.
Cishela... Ci.. She.. La.. Ci.. ci.. Ya Cici hahahaha... aku yang pertama menemukannya. Kamu pasti terkejut saat kamu bertemu gadis ini nanti. Teriak Aril dalam hati.
.
.
BERSAMBUNG