
Ela sedang duduk menyendiri di dekat dapur, Bela merasa aneh dengan kondisi Ela. Dengan penasaran Bela menghampiri Ela.
"El kok kamu sendirian disini, ngapain?" tanya Bela.
"Bel aku pulang duluan ya" ucap Ela. Wajahnya tampak sedikit pucat.
"Kamu kenapa, sakit?" tanya Bela.
"Aku takut Bel" ungkap Ela.
"Takut pada siapa?" tanya Bela penasaran.
"Aku takut sama Pak Romi Bel. Kamu ingat gak sekitar dua tahun lalu saat kakak kamu meninggal. Aku kan ikut kamu ke Jakarta trus tinggal di rumah majikan budeku. Saat itu aku diajak sama majikan budeku ke diskotik dan aku ditinggal mereka. Trus aku diganggu sama dua orang pria lalu aku lari dan di tolong oleh Pak Romi. Dia membawaku keluar dari diskotik dan membawaku makan setelah itu mengantarkan aku pulang" ungkap Ela.
"Trus kenapa kamu takut, emangnya kamu ada salah?" tanya Bela.
"Ya nggak sih, tapi kata teman - teman di kantor CEO kami kejam orangnya. Aku pernah sih beberapa melihat Pak Romi itu dikantor, aku gak tau kalau dia ternyata CEO nya, aku kira dia adalah asisten CEO" jawab Ela.
"Hahaha.. Ela.. Ela.. masak kamu gak bisa bedain sih gaya CEO dengan asisten pribadinya?" ucap Bela.
"Saat itu aku hanya melihatnya sekilas sehingga aku tidak begitu memperhatikan tampilan pria yang ada di sampingnya" ungkap Ela pasrah.
"Jadi sekarang apa yang kamu takutkan?" tanya Bela bingung.
"Aku takut di pecat Bel, kamu gak lihat sih gimana tadi dia menatap aku. Serem banget tatapan matanya" jawab Ela.
"Besok kamu minta maaf saja padanya. Maaf karena belum sempat menyapa dia secara khusus dan mengucapkan terimakasih karena sudah menerima kamu bekerja di perusahaannya" ucap Bela mengajari.
Ela tampak masih belum puas dengan kata - kata Bela.
"Dari yang aku dengar dari Reni, Mas Refan dan Mas Bimo, semua teman - teman Mas Refan baik - baik kok. Kata Reni sih dulu mereka mantan playboy jadi kita harus berhati - hati dekat dengan mereka. Aku saja sampai sekarang tetap jaga jarak sama Mas Aril. Takut dia berbuat macam - macam" ungkap Bela.
"Ah mana mungkin Bel, kamu kan adiknya Mas Bimo dan adik iparnya Mbak Kinan suaminya Mas Refan. Pasti Mas Aril tidak akan berbuat macam - macam sama kamu. Apalagi Bapak dan Ibu sudah kenal baik dengan Mas Aril" sambut Ela.
"Ya aku hanya jaga hati El, gak mau terluka aja karena kena bujuk rayu mereka. Walau katanya mereka sudah bertaubat tapi aku masih tetap takut jadi korban" sambung Bela.
"Iya ya kamu kan sekretarisnya Mas Aril kalau di kantor, setiap hari pasti bertemu dan selalu dekat ngurusin pekerjaan. Untung aku dibagian keuangan dan jabatan aku juga masih rendah jadi aku tidak pernah berinteraksi langsung dengan CEO. Fiuuuh... mudah - mudahan besok Pak Romi tidak marah atau menghukumku" doa Ela.
Bela menepuk bahu Ela memberi semangat.
"Udah ah gak usah dipikirin bikin makin sakit kepala. Mending kita gabung sama Reni dan Dini. Ternyata Dini adalah calonnya Mas Riko lewat proses ta'aruf tapi hubungan mereka terhenti karena kendala restu orang tua. Kasihan kisah mereka padahal aku lihat keduanya sama - sama saling suka" ujar Bela.
"Iya, aku lihat Mas Riko dari tadi lirik - lirik Dini terus. Dini juga beberapa kali curi - curi pandang sama Mas Riko. Aaah.. masalah hati ruwet banget ya. Kalau jodohku tiba semoga semuanya bisa berjalan dengan lancar" doa Ela.
"Aamiin... Cie... udah mikirin jodoh ni ye.. udah punya calon di kantor?" sindir Bela.
"Ih belum donk, mana mungkin secepat itu. Baru juga sebulan kerja belum sempat tebar pesona" ucap Ela.
"Hahahaha.. udah pinter tebar pesona ya" goda Bela.
"Nggak ah aku cuma bercanda. Aku masih serius mau kerja yang bagus biar bisa bantuin Bapak dan Ibu di kampung. Kalau tabunganku cukup aku ingin mereka buka usaha di rumah dan Bapak berhenti bekerja" ungkap Ela.
"Itu kan memang impian kamu dari dulu" sambut Bela.
"Iya Bel. Do'ain ya semoga terkabul" pinta Ela.
"Aamiiin... " jawab Bela.
"Yuk Bel, katanya mau gabung sama Reni dan Dini" ajak Ela. Bela dan Ela berjalan menuju ruang keluarga dimana Reni dan Dini sedang asik ngobrol bersama Anita dan Kinan.
"Iya Nan, tapi Papa selalu menolak" jawab Anita merasa bersalah. Wajah Dini juga sangat sendu.
"Sabar ya Din, ini ujian buat kamu dan Mas Riko. Kalau kalian berjodoh pasti semua kenangan itu akan berubah menjadi indah. Tiap - tiap kehidupan pasti beda cobaannya tapi yang jelas tidak ada kehidupan yang mulus dan lancar" pesan Kinan.
"Iya Mbak Kinan. Aku hanya merasa tidak enak sama Mas Riko" jawab Dini.
"Mas Riko pasti mengerti. Papa kalian kan punya alasan tersendiri menolak kedatangan Mas Riko. Bisa saja itu hanya sebuat test, dia ingin melihat sejauh mana keseriusan Mas Riko untuk melamar Dini. Selama ini kan Papa kalian taunya Mas Riko itu playboy, suka mempermainkan wanita. Makanya mungkin di test sekuat itu agar dia bisa melihat kalau Mas Riko benar - benar bisa berubah dan nanti suatu saat ketika kalian menikah Mas Riko akan lebih menghargai kamu karena dapetin kamu sangat susah. Dia sudah melakukan banyak pengorbanan untuk kamu" ungkap Kinan menghibur Dini.
"Semoga seperti itu ya Mbak keadaannya. Semoga Mas Riko sabar, karena Papa juga orangnya sangat keras. Sulit membuat Papa bisa berubah pikiran" sambut Dini.
Dini mulai meneteskan air matanya.
"Kamu yang sabar dek, nanti Mbak Nita akan coba bantu bilang sama Papa" ujar Anita.
"Terimakasih Mbak" balas Dini.
"Mbak.. maaf mengganggu.. " potong Dini.
"Ya Din?" tanya Kinan.
"Kalau Pak Romi itu gimana profilnya? Apakah dia kejam?" tanya Ela penasaran.
"Sejauh ini Mas Romi baik kok tapi coba tanya Reni. Reni sudah lama mengenal mereka semua" jawab Kinan.
"Gimana Ren?" tanya Ela pada Reni.
"Mas Romi itu hampir sama sifatnya seperti Mas Aril. Suka iseng dan bercanda. Tapi lebih parah Mas Aril memang. Santai aja El, kalau pun dia marah kamu gak akan di bunuh sama dia" jawab Reni.
"Astaghfirullah Reen.. " potong Kinan.
"Hehehe... maaf Mbak. Kamu khawatir besok ya?" tanya Reni kepada Ela.
Ela menganggukkan kepalanya.
"Paling besok dia rada jaim. Ikutin aja apa perintanya secara dia kan memang Bos di kantor kamu. Tapi percayalah dia tidak akan berlebihan kok dan dia juga tidak kejam" ungkap Reni memberi semangat pada Ela
Ela bisa sedikit bernafas lega.
"Mereka bertiga Mas Riko, Mas Aril dan Mas Romi memang mantan playboy tapi aku sangat yakin mereka bertiga sudah berubah, jauh berubah" ujar Reni.
"Kan sekarang mereka sudah rajin pengajian" potong Kinan.
"Oh ya?" tanya Bela dan Ela.
"Iya, tanya Mbak Anita. Suaminya yang selalu mencarikan Ustadz yang akan menjadi penceramah saat mereka pengajian rutin mingguan" jawab Kinan.
"Benar itu... Kata suami Mbak, mereka susah sangat bersungguh - sungguh ingin bertaubat dan berubah untuk hidup yang lebih baik" sambut Anita.
"Fiuuh... syukurlah. Aku sedikit lebih tenang sekarang Mbak" ucap Ela.
.
.
BERSAMBUNG