Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Sembilanpuluh Lima



Dua minggu berlalu keadaan kesehatan Pak Rahardian semakin membaik. Sekarang dia sudah bisa dijenguk oleh keluarga dan rekan bisnisnya tapi tetap saja harus dibatasi.


Hari ini giliran Pak Hidayat yang datang berkunjung.


"Assalamu'alaikum Dian" ucap Pak Hidayat.


"Wa'alaikumsalam Yat" sambut Pak Rahardian dengan suara yang masih agak kurang jelas.


Efek stroke yang membuat bentuk wajah dan bibir Pak Rahardian sedikit berubah sehingga mempengaruhi suaranya saat bicara.


"Lama tidak bertemu ya.. sejak perusahaan aku serahkan kepada Romi kita tidak pernah bertemu lagi" ungkap Pak Hidayat.


"Iya, kamu terlalu cepat pensiun" sambut Pak Rahardian.


"Hahaha.. aku ingin secepatnya menikmati hidup hari tuaku. Kamu juga sebenarnya bisa juga sepertiku" ujar Pak Hidayat.


"Kamu sih enak, punya anak laki - laki. Anakku perempuan Yat dan dia tidak berminat masuk didunia bisnis" ungkap Pak Rahardian.


"Kamu kan punya menantu laki - laki. Anak kamu kan sudah menikah, sudah saatnya kamu pensiun dan menikmati hidup. Semenjak istri kamu meninggal dunia beberapa bulan yang lalu aku tau kamu pasti kesepian. Makanya kamu sekuat tenaga menahan putri kamu untuk tetap berada disisi kamu. Tapi putri kamu itu bukan tahanan dia juga punya kehidupan sendiri. Masih banyak jalan menuju kebahagiaan Yan.. Kamu dan putri kamu bisa meraih kebagay bersama - sama dengan hidup berdampingan tanpa saling menyakiti" ujar Pak Hidayat.


"Caranya?" tanya Pak Rahardian.


"Berdamai dengan hidup, terima menantu kamu dengan baik. Kamu bimbing dan arahkan dia agar bisa menjadi seorang pemimpin yang baik di perusahaan kamu. Anak kamu pasti bahagia tidak berpisah dengan keluarga kecilnya dan kamu juga akan bahagia tidak berpisah dengan anak dan cucu kamu" jawab Pak Hidayat.


Pak Rahardian terdiam mencoba memikirkan ucapan Pak Hidayat.


"Calon mantuku ternyata sangat mengenal menantu kamu. Mantu kamu dulu senior calon mantuku di kampus. Calon mantuku bilang mantu kamu itu pria yang baik dan pintar. Dia anak yang baik hanya saja memang berasal dari keluarga yang sederhana. Buktinya sebelum menikah dengan putri kamu, mantu kamu itu pernah bekerja di salah satu bank BUMN di Jakarta ini" ungkap Pak Hidayat.


Pak Hidayat menarik nafas panjang.


"Calon Mantuku juga tak jauh beda dengan Mantu kamu. Dia berasal dari keluarga sederhana dan dari kampung. Tapi aku lihat, sejak berhubungan dengan dia Putra ku berubah menjadi anak yang baik, padahal kamu tau sendiri kan bagaimana dulu pergaulan Putraku. Aku malah heran kok bisa - bisanya kamu mau menjodohkan putri kamu dengan putraku yang mangan playboy itu" sambung Pak Hidayat.


Pak Rahardian masih diam mendengarkan.


"Awalnya istriku juga tidak setuju Romi berhubungan dengan Ela. Alasannya ya sama seperti kamu. Tapi aku menasehati istriku. Yang penting dia wanita baik dan bisa membuat putra ku jadi orang baik dan yang terpenting putraku bahagia. Itu yang paling penting dalam hidup ini. Dari pada melarang mereka yang berujung kita jadi saling menyakiti. Kalau kami melarang hubungan mereka, bisa - bisa putraku kembali hidup di dunia hitam yang dia jalani dulu. Oleh sebab itu akhirnya istriku berubah dan merestui mereka. Tentu saja setelah dia juga mencari tau wanita seperti apa Ela. Setelah dia bisa membuktikan secara langsung kalau Ela gadis yang baik, istriku pun merestui hubungan mereka" sambung Pak Hidayat.


Pak Hidayat kembali menarik nafas panjang.


"Aku harap kamu kamu belajar dari kisah keluarga kami. Semuanya lebih lega Yan, percayalah.. Kamu akan bahagia bisa melihat senyuman putri kamu lagi. Ajak anak kamu, cucu dan mantu kamu tinggal bersama kamu agar kamu tidak kesepian lagi di rumah. Biarkan Mantu kamu yang bekerja di perusahaan sedangkan kamu di rumah bermain dengan cucu dan dirawat sendiri oleh putri kamu. Coba kamu bayangkan betapa bahagianya saat - saat tua kamu Yan" ucap Pak Hidayat mencoba membuka pikiran Pak Rahardian.


Pak Hidayat meraih tangan Pak Rahardian dan menggenggamnya memberi semangat.


"Aku tidak memaksa kamu. Itu hidup kamu, kamu yang berhak memutuskannya. Aku hanya memberi kamu beberapa pilihan hidup. Mudah - mudahan belum terlambat" ucap Pak Hidayat.


Pak Rahardian menatap wajah rekan bisnisnya itu. Walau mereka bukan teman dekat tapi hubungan mereka selama ini cukup baik. Karena itu juga alasannya mengapa dia ingin menjodohkan putrinya dengan Romi putra Pak Hidayat.


"Terimakasih Yat, akan aku pikirkan semua kata - kata kamu itu" jawab Pak Rahardian.


"Iya" balas Pak Rahardian.


*****


Sementara di Hotel tempat berlangsungnya pernikahan Dini dan Riko, semua sudah berkumpul untuk gladi resik acara pernikahan mereka yang akan berlangsung besok.


Acara demi acara telah selesai latifannya kini mereka sedang duduk santai di aula Hotel.


"Gimana masalah kamu Rom?" tanya Bagus.


"Alhamdulillah sudah tenang, bahkan aku sudah menarik tuntutan ku pada Paj Rahardian. Dia masih berbaring di Rumah Sakit karena penyakit stroke. Aku rasa itu sudah cukup menghukumnya. Kemarin Papaku juga sudah menemuinya di Rumah Sakit. Semoga dia bisa berdamai dengan putrinya dan menerima Edo sebagai menantunya" jawab Romi.


"Syukurlah akhirnya semua bisa selesai dengan damai" sambut Galuh suami Anita sahabatnya Kinan sekaligus kakaknya Dini calon istri Riko.


"Papa yang memintaku mencabut tuntutan. Lagi pula memang kasihan juga sih lihat Pak Rahardian masih sakit harus dihukum di penjara. Aku kok merasa malah jadi orang jahat menuntutnya tanpa hati nurani" sambung Romi.


"Iya betul itu, mengalah bukan berarti kalah. Lagian semua sudah jelaskan, berita kamu dengan Klara sudah diklarifikasi. Kini sudah tidak ada lagi halangan dan rintangan. Tinggal banyak - banyak istirahat saja biar semakin kuat saat hari H" potong Aril.


"Halaaah pikiran kamu pasti gak jauh - jauh dari urusan ranjang" sindir Bagus.


"Aku yakin bro, pikiran Riko dan Romi saat ini juga gak jauh dari situ. Mereka pasti udah gak sabar" jawab Aril membela dirinya.


"Aku sih gak sabar melihat Dini besok, pasti dia cantik banget. Rasanya perjuangan aku dulu mendapatkannya terbayar sudah" ucap Riko lega.


"Honeymoon kemana Ko? Kata Ela, Dini ngajuin cuti seminggu?" tanya Romi.


"Emangnya Aril aja yang bisa main rahasiaan" jawab Riko.


"Kamu sudah pastiin kan kalau Dini gak datang bulan? Jangan sampai nasib kamu seapes Aril" tanya Refan.


"Hahahaha... InsyaAllah amaaan.." jawab Riko.


"Waaaah Riko lebih beruntung dari kamu Ril?" sindit Bagus.


"Nasib orang kan beda - beda. Yang penting aku bisa lebih dulu menikah dari mereka dan aku duluan pemenangnya" balas Aril bangga.


"Dasar gak mau kalah" ucap Romi


"Hahahaha.... " semua tertawa melihat tingkah Aril dan Romi yang saling sindir dan tidak ada yang mau mengalah.


.


.


BERSAMBUNG