Playboy Insaf

Playboy Insaf
Sembilanpuluh Enam



Akhirnya tiba saat lamaran Reni. Bimo dan keluarga besarnya sudah tiba di rumah Refan. Para sahabat juga diundang dalam acara tersebut.


Hari pernikahan sudah ditetapkan satu bulan dari hari ini dan diadakan di Labuhan Bajo. Pernikahan akan dihadiri oleh keluarga inti saja dan para sahabat.


Hal ini disambut bahagia oleh para sahabat Bimo dan Reni. Bahkan Aril dan teman - teman sudah merencanakan perjalanan mereka satu bulan lagi


Bukan hanya calon pengantin saja yang sudah tidak sabar, Aril dan jawab - jawab juga sama. Mereka sudah membayangkan disana mereka akan menikmati keindahan dunia ini ditemani para bidadari surga.


"Cie... setan kecil udah gede guys... sebentar lagi mau nikah" goda Aril.


"Mas Aril iri" balas Reni.


"Ya kalau lihat dari sudut pandang kamu ya jelas iri. Kamu umur masih muda udah langsung nikah aja. Tapi kalau lihat dari sudut pandang Bimo aku ikhlas. Kasihan kalau di tunda - tunda. Bisa - bisa makin karatan" jawab Aril.


"Kayak kamu nggak aja" potong Riko.


"Yah kita semua yang jomblo ini kan sedang proses Ko. Kamu juga kan?" jawab Aril.


"Semua sudah punya jalan masing - masing, hanya tinggal menunggu waktu saja. Saat ini Reni dan Bimo duluan, selanjutnya siapa yang nyusul gak ada yang tau. Bisa jadi aku duluan, kamu atau Romi. Kalau kisah aku memang berat, tapi setidaknya aku dan Dini sudah memiliki perasaan yang sama tinggal sama - sama berjuang untuk mendapatkan restu dari Papanya Dini. Lagian sekarang juga sudah mulai ada peluang. Walau Papanya belum bisa menerima aku tapi setidaknya aku tidak pernah di usir lagi setiap datang ke rumah Dini. Lah kamu dan Romi, calonnya saja belum jelas " sindir Riko.


"Benar itu. Saat ini Riko udah ganti warna lampu rambu - rambu cinta cuy. Dari merah udah jadi kuning. Kalian berdua malah rambu - rambu cintanya masih di larang masuk" ledek Bagus.


"Hahaha.. benar itu" sambut Refan.


"Aku, no comment. Nanti salah jawab di bilang lagi membuat hambatan di tengah jalan" ujar Bimo.


Untung saja Bela dan Ela sudah balik ke dapur untuk mengambil makanan ringan. Mereka tidak mendengar pembicaraan para jomblo, baru lepas jomblo dan yang sudah punya pasangan.


"Jadi nanti honeymoon nya di labuhan bajo donk" ujar Aril.


"Kenapa Mas, mau ikutan?" sindir Reni.


"Gak ah ngapain cuma jadi nyamuk" elak Aril.


"Habis kelihatan banget wajah mupeng kamu" potong Refan.


"Ah aku juga sekalian ah honeymoon ke dua. Biar Bayu juga punya adek seperti Salman" potong Bagus.


"Kamu Gus buat Aril semakin panas kalau sudah disinggung tentang honeymoon" ujar Refan.


"Duh pengen cepat - cepat nikah" ucap Aril.


"Mana bidadari surganya?" tanya Bagus.


"Masih di dapur, hilang sinyal. Dari kemarin gak bisa nyambung" jawab Aril kesal.


"Habis operator kamu lola, masak gak bisa kirim sinyal - sinyal cinta ke Bela" potong Refan.


"Mungkin dapat bisikan dari Bimo makanya Bela gak mau nangkap sinyal kamu" sambut Bagus.


"Aku tetap no comment. Jujur aku tidak ada bilang apa - apa pada Bela. Semuanya terserah Bela. Kalau dia bahagia aku akan mendukung" jawab Bimo.


"Tuh calon kakak ipar udah kasih restu eh malah yang punya badan belum ngerti kalau dia lagi di taksir" ejek Refan.


"Kalau kamu bagaimana Rom?" tangan Bagus.


"Sudah hampir kuning bro. Setidaknya sudah gak musuhan lagi sama Ela. Udah mulai jinak dia" jawab Romi.


"Emangnya merpati pakai jinak - jinakan" potong Reni.


"Yah emang pakai pribahasa itu Ren. Jinak jinak merpati. Semakin enak kalau didekati eeaaa.... " jawab Romi.


Tak lama Bela dan Ela muncul lagi dari dapur.


"Orangnya datang guys" ucap Aril takut ketahuan Bela dan Ela isi pembicaraan mereka.


"Lho pada diam, ada yang lewat?" tanya Bela.


"Nih si Setan Kecil yang lewat" ujar Aril.


"Mas Aril udahan donk manggil setan kecil. Aku kan bukan anak - anak lagi" protes Reni.


"Iya udah bisa buat anak" potong Romi.


"Tuh kaaaaan" ujar Reni kesal.


"Yang emang betul kan? Sebentar lagi juga mau nikah, tujuannya apa donk kalau gak buat anak" sindir Romi.


"Ih tapi gak gamblang gitu juga ngomongnya" protes Reni.


"Hahaha... " tawa Refan dan Bimo.


"Udahlah Ren, ikhlaskan saja kalau nama kamu itu sudah kami nobatkan sebagai Setan Kecil di hati kami. Itu sebutan spesial lho dari kami berempat. Harusnya kamu bangga, gak ada wanita lain yang kami sebut Setan" ujar Aril.


"Aneh nih Mas Aril, di panggil Setan kok malah bangga" sahut Bela.


"Itu kan panggilan sayang Belaaaa" jawab Aril.


"Trus panggilan sayang untuk Bela apa donk?" jebak Romi.


"Ayank Bela" jawab Aril tanpa sadar.


"Apa sih Mas Aril" protes Bela.


"Sorry Bel gak sengaja. Maksud aku sekretaris sayang eh kesayangan" ralat Bela.


"Ada aja" Bela menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Trus kalau Romi panggil Ela apa donk?" tanya Refan.


"Cishela donk" sahut Romi.


"Cieee... paket lengkap nih ye... " sindir Reni.


"Lho kan nama Cishela emang itu kan? Aku gak salah donk" jawab Romi.


"Bener gitu El, Mas Romi panggil kamu?" tanya Reni.


"Iya" jawab Ela sambil menganggukkan kepalanya.


Wajah Ela terlihat memerah karena malu. Sejak kembali dari Surabaya Ela sudah tidak membohongi dirinya sendiri. Diam - diam dia sudah mencintai Romi.


"Iya gak salah juga Ren, emang itu nama Ela" sambut Bela.


"Jadi El, sampai sekarang Mas Romi masih galak gak?" tanya Reni.


Ela melirik Bosnya takut - takut.


"Galak kalau lagi badmood" jawab Ela.


"Gampang El obatnya, kamu senyumin aja dia mah. Mantan playboy kena senyuman maut langsung klepek-klepek" ujar Reni.


"Aliran sesat" protes Romi. Takut isi hatinya ketahuan Ela. Soalnya Romi masih membangun image Bos berkharisma di depan Ela.


Sedangkan Ela semakin malu karena semua orang sepertinya sedang mencoba menyocokkannya dengan Romi. Ingin rasanya hati Ela bersorak tapi dia sangat takut kecewa.


"Jaim lo" ejek Aril.


"Ren, Bela, Elaaa... kesini sebentar donk tolongin Mbak" panggil Kinan.


Reni, Bela dan Ela langsung masuk ke ruang keluarga karena di panggil Kinan.


"Kalian ini, aku masih pendekatan sama Ela, jangan sampai dia tau dulu maksud dan tujuan aku. Nanti dia menjauh" protes Romi pada teman - temannya.


"Aaah lambat banget gerakan kamu. Mending kayak Riko udah jelas. Cuma nasibnya aja yang belum jelas" potong Bagus.


"Hahaha.." tawa Refan dan teman - temannya.


"Sabar aku sudah susun rencana di Labuhan Bajo. Aku akan membuat kenangan yang tak pernah bisa dilupakan disana" ungkap Romi.


"Wah Romi sudah mulai bertindak, kamu gimana Ril?" tanya Bagus.


"Sepertinya aku mengalah dulu deh. Biar Romi duluan. Aku cari moment lain aja yang lebih tepat. Aku belum yakin kalau Bela akan menerimaku" jawab Aril tak bersemangat.


"Kamu mengapa sangat yakin Rom?" tanya Refan penasaran.


"Ternyata Cishela itu anak dari supir yang aku temui dua tahun lalu ketika mencari keberadaan Cici. Disitu aku semakin yakin kalau garis pertemuan kami adalah jodoh. Ditambah lagi keluarga Cishela menyambut aku dengan sangat baik. Aku penuh harapan nasibku tidak akan sama dengan Riko. Tolong do'ain aku ya semoga aku bisa memastikan perasaan Cishela padaku" tegas Romi.


"Semoga berhasil bro. Aku sangat senang kalau jalan cinta kamu lebih mulus dari aku" sambut Riko tulus.


.


.


BERSAMBUNG