Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Tigapuluh Tiga



"Maaf siapa mereka Ril?" tanya Sintia.


"Oh ini Reni adiknya Refan" jawab Aril memperkenalkan Reni.


"Sintia" ucap Sintia ramah sambil tersenyum dan menyodorkan tangannya ke arah Reni.


"Reni" sambut Reni.


"Ini Bela, sekretarisku di kantor dan ini Ela Kabag Keuangan di Perusahaan Subrata Corp yang saat ini di pegang Refan. Mereka berdua ini adalah sahabat Reni" ucap Aril memperkenalkan Bela dan Ela kepada Sintia.


"Oh hai saya Sintia, senang berkenalan dengan kalian" sambut Sintia.


"Ela"


"Bela"


Mereka saling berjabat tangan.


Aku hanya dikenalkan sebagai sekretaris? Tapi yaaah memang begitulah kenyataannya. Aku kan bukan siapa - siapanya Mas Aril. Tapi kok hatiku sangat sakit ya mendengarnya? Batin Bela.


"Ikut bergabung dengan kami yuk" ajak Sintia ramah.


"Mmm.. makasih kami sudah mau pulang" tolak Bela segera.


"Iya" sambut Ela yang sejak tau mengetahui kegalauan Bela karena melihat Aril sedang bersama wanita lain.


"Tapi anakku pengen makan bersama Mas Aril" rengek Reni.


"Hahaha.. anak kamu itu manja banget ya padaku.. Dasar Setan Kecil" umpat Aril.


"Lho kamu sedang hamil?" tanya Sintia terkejut.


"Iya Sin, Reni menikah dengan kakaknya Bela ini" jawab Aril.


"Iya Mbak, dan Mas Aril sudah aku kenal sejak aku kecil karena dia adalah sahabat Kakakku. Jadi aku sangat dekat dengan Mas Aril dan sepertinya anakku juga ngefans sama dia. Kalau mau apa - apa paling suka suruh Mas Aril" sambut Reni.


"Bilang aja kamu mau balas dendam isengin aku" jawab Aril.


"Hahaha.. kalian lucu. Ayo mari duduk, gabung aja bareng kami. Pesan lagi gih makan dan minumnya" ajak Sintia ramah.


"Makasih Mbak" jawab Reni, Bela dan Ela.


Bela duduk tepat di tengah antara Reni dan Ela. Dan karena meja yang mereka tempati bulat saat ini Bela duduk tepat di depan Aril jadinya.


Sehingga dengan begitu Bela bisa melihat jelas interaksi antara Aril dan Sintia. Sintia terlihat sangat luwes bercanda dan berbincang dengan Aril. Bela rasanya tak sanggup melihat pemandangan ini.


Reni memesan kembali makanan yang dia inginkan sedangkan Bela dan Ela hanya memesan minuman karena mereka sudah kenyang. Aril dan Sintia melanjutkan acara makan mereka sambil terus ngobrol.


"Minta nomor handphone kamu donk Ril" pinta Sintia.


"Boleh, sebentar ya" Aril meraih dompetnya dan mengambil selembar kartu namanya, kemudian menyerahkannya kepada Sintia.


"Nih Sin" ujar Aril.


"Makasih Ril, aku catat ya" Sintia menekan nomor ponsel Aril di handphonenya dan menelpon Aril.


Aril terkejut karena ponselnya berdering dan segera meraih ponselnya.


"Itu nomorku, disimpan ya" ujar Sintia.


"Oke Sin" jawab Aril dengan ramah.


Reni, Bela dan Ela hanya memandangi mereka berdua yang asik ngobrol. Mata Bela sudah tak tahan lagi, rasanya sangat panas sekali melihat kemesraan mereka.


Tak lama pelayan datang membawa makanan pesanan Reni dan minuman untuk Reni, Bela dan Ela. Mereka mulai ikut menyantapnya bersama Aril dan Sintia.


"Eh kita keasikan ngobrol sampai lupa kalau ada Reni, Bela dan Ela di sini. Oh iya Bel, kamu sekretaris Aril kan? Gimana pesona Aril di kantor? Bijaksana kah atau playboy?" tanya Sintia.


Bela menelan salivanya. Rasanya sangat sulit bercerita tentang sifat Aril kepada Sintia. Bela melirik Aril tapi tatapan Aril sudah berubah. Tidak ada lagi tatapan lembut untuknya.


"Pak Aril bijaksana kok Mbak" jawab Bela.


"Katanya su.. sudah tobat" balas Bela.


"Oh ya?" Sintia melirik ke arah Aril. Aril hanya diam sambil menikmati makanannya.


"Aku gak percaya kalau kamu sudah tobat Ril" sindir Sintia.


"Tidak ada yang abadi kecuali perubahan. Umur terus berjalan, tak mungkin selamanya aku berbuat seperti itu. Aku juga ingin serius menjalani masa depanku. Aku ingin menikah dan punya rumah tangga yang harmonis" jawab Aril.


"Udah dapat pasangannya?" tanya Sintia.


"Belum, aku sedang mencari seseorang yang mau menerima keadaanku apa adanya tanpa memandang masa laluku" jawab Aril tanpa melirik sedikitpun kepada Bela.


Prok.. prok.. prok...


Sintia bertepuk tangan.


"Waah.. kamu emang beneran udah berubah Ril, gak nyangka aku kamu bisa bersikap seperti ini. Aku kira kamu makan sendirian tadi karena sedang mencari mangsa" puji Sintia.


"Teman - temanku sebahagian sudah menikah. Refan dan Bagus sudah menikah, Riko sedang proses menjelang pernikahan. Romi sudah mendapatkan pujaan hatinya yaitu Ela hanya tinggal aku yang belum. Makanya aku jadi lebih sering jalan sendiri. Tak enak kalau mengganggu urusan mereka. Pasti mereka punya lebih banyak urusan saat ini. Bukan seperti aku yang sendirian dan belum menemukan tujuan hidup" ujar Aril.


"Hahaha.. jawabnya kok kayak putus asa gitu, masih banyak cewek jomblo yang baik Ril. Kamu sabar aja nanti pasti akan ketemu" sambut Sintia.


"Ngapain cari lagi, di sini juga ada kok" sahut Aril.


Seeer... jantung Bela berdetak kencang saat Aril berkata seperti itu. Apakah Aril akan mengatakan kalau Aril mencintainya? Batin Bela.


"Siapa?" tanya Sintia.


"Kamu" jawab Aril.


Nyeees... Bela langsung sesak nafas..


Mengapa rasanya sakit sekali ya Allah.. Mas Aril gak salah sih, kan aku udah nolak dia, jadi wajar - wajar aja kalau dia berkata seperti itu. Tapi mengapa aku jadi sedih karenanya. Ada apa denganku ini? Batin Bela.


"Uhuk.. uhuk... " Reni tiba - tiba batuk karena terkejut mendengar jawaban Aril.


"Minum Ren... " Aril spontan memberikan minumnya pada Reni.


Reni membesarkan matanya ke arah Aril dengan wajah marah, sedangkan Bela hanya tertunduk dengan wajah merah karena sedih dan malu.


"Hahaha... kamu Ril, lihat gara - gara ucapan kamu Reni sampai tersedak dan batuk" sambut Sintia.


"Maaf Mbak.. aku buru - buru tadi minumnya" ucap Reni sambil melirik Bela.


Bela terlihat tetap menunduk dan tidak mengangkat wajahnya.


"Ren, tadi katanya kamu masih mau cari sesuatu. Yuk kita pergi, ngapain coba kita gangguin Mas Aril di sini" ajak Ela.


Ela mengerti kalau Bela saat ini sedang merasa serba salah. Karena dari tadi Bela hanya menunduk dan tidak berkata apapun.


Untung saja Reni mengetahui dan mengerti kode yang diberikan oleh Ela. Reni segera menghabiskan minumannya setelah makanan.


"Ya sudah yuk kita pergi saja. Mbak Sintia kami pergi dulu ya.. Mas... " Reni mengacungkan dua jarinya, jari telunjuk dan jari tengah kemudian meletakkannya ke depan matanya. Dan mengancam Aril untuk tidak berbuat macam - macam.


"Iya.. iya.. setan kecil. Aku sudah tobat tidak akan berbuat nakal" jawab Aril mengerti.


Bela dan Ela juga berpamitan pada Sintia dan Aril.


"Makasih ya Mas" ucap Ela dan disusul Bela.


Reni, Bela dan Ela kemudian pergi meninggalkan Aril dan Sintia melanjutkan pertemuan mereka dan berbincang - bincang bersama.


.


.


BERSAMBUNG