
Esok harinya sesuai jadwal yang telah di susun Riko dan Dini mereka akan pergi menjelajahi Pantai Ora. Dengan semangat empat lima keduanya bersiap - siap setelah sarapan pagi.
Menyambut mata hari yang semakin bersinar mereka berjalan menyusuri pantai Ora. Dipinggir pantai ada beberapa pengunjung yang datang sama sepet mereka ingin menikmati keindahan alam pantai ini.
Pantai yang sangat bersih, air yang sangat jernih, udaranya juga tak kalah bersih, pemandangan hijau mengelilingi pantai Ora membuat teduh mata memandang.
Sambil bergandengan tangan mereka berjalan tanpa alas kaki. Menikmati salah satu ciptaan Allah untuk Indonesia yang mungkin tidak banyak orang yang tau.
Buktinya Dini juga baru kali ini mendengar nama pantai ini. Dia tidak pernah mendengar orang - orang menyebut namanya. Dia juga tidak pernah melihat tempat ini di promosikan lewat jejaring sosial media.
Padahal tempat ini sangat indah sekali. Bersyukur Dini memiliki Riko yang mengajaknya untuk kemari.
Dini dan Riko melihat beberapa pengunjung sedang bermainan ayunan kayu yang diikat dipohon besar dan tinggi.
"Kamu mau menaikinya?" tanya Riko.
"Mau Mas" jawab Dini dengan gembira.
"Yuk kita ke sana" ajak Riko.
Riko dan Dini menghampiri petugas yang menjaga permainan itu. Dengan bantuannya Dini naik di atas ayunan kayu itu dan mulai berayun. Tentu saja tetap memakai alat pengamanan agar tidak jatuh.
"Menjerit saja sayang... keluarkan semua beban dihati kamu biar kamu lebih plong" ucap Riko.
"Iya Mas" teriak Dini yang mulai berayun tinggi.
"Aaaaaaaaaaaaa" jerit Dini.
Riko tersenyum menatap wajah istrinya dari kejauhan. Tak lupa moment indah itu dia abadikan di ponselnya.
Segala bentuk wajah Dini sudah dia foto. Ada wajah ceria, gembira, tertawa, takut, tegang dan lainnya. Riko tersenyum sendiri sambil memandangi wajah istrinya itu.
"Maaaaaaaaas seruuuuuuuuu... kamu harus cobaiiiiiiin" teriak Dini lagi.
"Iya sayaaaaaaang" balas Riko tak kalah berteriak.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa" teriak Dini dengan kuat.
Hatinya sangat plong sekali. Sesuai saran Riko dia mengeluarkan semua beban di hatinya melalui teriakan. Melepaskan semua pikiran yang selama ini membelenggunya hingga berpengaruh pada rumah tangga mereka.
Dini juga berteriak dalam hati.
Ya Allah aku ridho dan ikhlas apapun yang KAU gariskan untuk rumah tangga ku. Jika memang aku dan Mas Riko tidak KAU beri kepercayaan untuk memiliki anak itu adalah hakMU ya Allah.. Kuatkan kami untuk tetap saling menyayangi dan istiqomah di jalanMU. Gantilah kekecewaan kami dengan hadiah istimewa yang lain. Doa Dini dalam hati.
"Aaaaaaaaaaaaaaaa" Dini berteriak dengan lantang sambil air mana menetes dari sudut matanya.
Bukan air mata kesedihan tapi air mata keihklasan.. Wanita mana yang tidak ingin memiliki anak. Dan wanita mana yang tidak akan rapuh seperti dia menjalani rumah tangga jika tau dia memiliki kekurangan.
Dia yang sangat menyukai anak - anak, sejak dulu sudah bermimpi untuk memiliki anak yang banyak tapi harus kecewa karena memiliki kekurangan seperti ini.
Walau dokter berkata semua baik - baik saja tapi rasa percaya dirinya sebagai wanita tetap saja hilang dengan ketakutan - ketakutan yang menyerang pikirannya.
Beruntung dia memiliki Riko di sampingnya. Bersyukur dia mempunyai suami seperti Riko yang selalu mendukung setiap keinginannya. Benar kata Riko disini dia harus melepaskan semua beban itu, dia harus meninggalkan semua pikiran buruk itu.
Menyongsong masa depan yang lebih cerah, meninggalkan kegelapan prasangka dan bayang - bayangan hitam yang menghantui pikirannya selama ini.
Dari atas ayunan Dini menatap wajah suaminya yang sangat tampan, tersenyum tulus saat melihatnya bahagia seperti ini.
Ya Allah aku serahkan hidupku untuk beribadah padaMU bersama lelaki itu. Tunjuki aku jalan yang bisa membuat dia selalu bahagia. Pinta Dini dalam hati.
Waktu permainannya sudah selesai, kini Dini sudah turun kembali. Mereka melanjutkan perjalanan menjelajahi pulau ini. Menikmati air kelapa muda di tepi pantai.
Siang harinya mereka juga menikmati hidangan masakan khas pulau ini di tepi pantai. Honeymoon kali ini memang berbeda kondisi dan situasinya.
Mereka lebih rileks dan santai karena momentnya benar - benar ingin bersantai dan liburan.
"Mas lusa kita snorkeling ya" pinta Dini.
"Yakin lusa?" tanya Riko memancing.
"Yakin" jawab Dini bingung.
"Gak mau besok?" goda Riko.
"Besok kan jadwal kita di kamar" jawab Dini.
"Oh ya aku lupa" sambut Riko pura - pura.
Dini langsung memukul mesra lengan Riko.
"Mas pura - pura ya padahal paling senang tuh" ledek Dini.
"Ya walau pun senang tapi kalau memang besok kamu mau snorkeling tidak apa - apa. Aku bisa menundanya" ucap Riko.
"Jangan Mas... jangan merusak apa yang sudah kita sepakati sejak awal" sambut Dini.
"Baiklah sayang kalau itu mau kamu" balas Riko sambil memeluk tubuh istrinya dengan mesra.
Sore harinya mereka balik ke kamar untuk shalat setelah itu lanjut duduk di balkon kamar menikmati matahari tenggelam sambil berpelukan.
"Kamu suka disini?" tanya Riko.
"Suka Mas" jawab Dini dengan cepat.
"Kalau begitu kita tinggal di sini?" goda Riko.
"Jangan donk" protes Dini langsung.
"Kenapa?" tanya Riko.
"Aku tidak siap untuk hidup sepet penduduk di sini. Aku tidak tau harus melakukan apa jika tinggal menetap di sini" jawab Dini.
"Kita membuka resort di sini" ujar Riko.
"Disini bukan kota kelahiran kita Mas, bukan juga kota tempat kita dibesarkan. Di sana ada keluarga dan sahabat yang menunggu kita pulang. Kalau Mas mau buat resort disini silahkan. Kalau memang prospeknya bagus. Nanti kita jadi bisa datang ke sini lagi mungkin ajak keluarga dan teman - teman" ungkap Dini.
"Aku tidak ahli di bidang resort dan perhotelan. Biar Bimo saja yang punya usaha itu. Nanti kita rekomendasi kan tempat ini kepadanya siapa tau dia tertarik dan mau membangun resotty disini. Kalau kita ke sini kan kita bisa dapat diskon" ujar Riko.
"Maunya diskonan" ledek Dini.
"Hahaha itu alamiah sayang, wajarkan? Ya mungkin gak dapat diskon setidaknya kita dapat servis yang bagus karena resortnya milik kenalan kita" balas Riko.
Dini menatap jam di tangannya.
"Sebentar lagi masuk shalat maghrib Mas. Yuk kita siap - siap" ajak Dini.
"Oke sayaaang.. " Sebelum bangkit dari tempat mereka Riko mengecup lembut kening istrinya.
Baru mereka bangkit dan berjalan masuk ke kamar untuk membersihkan tubuh mereka. Setelah itu bersiap untuk beribadah dan meminta doa kepada Sang Pencipta. Karena kekuatan doa tak bisa dinilai harganya.
Apa saja bisa terjadi dengan sebuah doa. Walau Riko dan Dini sudah pasrah dengan keadaan mereka saat ini tapi doa tetap saja mereka panjatkan.
Meminta Allah memberikan bonus pada mereka anak - anak yang soleh dan solehah. Menjadi penyejuk hati dan penentram jiwa. Wujud sebagai bukti cinta kasih mereka.
Keturunan yang kelak selalu mengingatkan mereka kepada Allah untuk terus bersyukur karena kehadiran mereka.
.
.
BERSAMBUNG