
Romi dan Ela akhirnya kembali berjalan menuju rumah.
"Cishela apa mereka selalu seperti itu memperlakukan kamu?" tanya Romi.
"Tidak apa Pak, mereka hanya iri. Kata Bapak dan Ibu begitu. Para gadis - gadis di sini gak ada yang tamat SMA. Setelah tamat SMP mereka membantu orang tuanya di sawah atau menikah. Hanya aku dan Kak Ranti yang sekolahnya sampai perguruan tinggi. Karena kami memang tidak punya sawah dan Bapak bekerja diluar bukan di kampung ini" jawab Ela.
"Tapi mereka tetap tidak boleh berbicara seperti itu, itu fitnah dan dosanya besar" ujar Romi geram.
"Biar aja mereka yang berdosa Pak, pahala kita kan nambah dari orang - orang yang ngatain kita tadi" sambut Ela.
Romi menggelengkan kepalanya.
"Kamu memang wanita yang aneh tapi juga kuat" gumam Romi.
Ela bingung mendengar perkataan Romi tadi apakah itu pujian atau umpatan. Tapi Ela lebih memilih diam saja.
Akhirnya mereka sampai kembali ke rumah Ela.
"Lho cepat baliknya? Ibu kira masih bermain - main di sungai?" tanya Bu Budi.
"Nggak Bu panas" jawab Ela.
"Panas gimana nduk wong harinya sedikit mendung kok jadi gak begitu panas" sambut Pak Budi.
"Panas karena omongan orang - orang yang ada di sana Pak" ungkap Romi.
"Emangnya mereka ngomongin apa?" tanya Pak Budi penasaran.
"Mereka menuduh Cishela jadi wanita gak benar di Jakarta" jawab Romi kesal.
Pak Budi dan Istrinya menarik nafas panjang.
"Ya Allah... " sambut Bu Budi.
"Sudah.. sudah.. biar saja mereka bilang seperti itu yang penting semuanya tidak benar. Ada Allah yang tau apa yang kita kerjakan. Dunia ini hanya panggung sandiwara. Kita menjalankan lakon kita dengan baik dan berharap imbalan di akhirat. Tapi yakin lah dengan janji Allah, jika tujuan kita akhirat Allah akan memberikan kita dunia juga beserta isinya" nasehat Pak Budi.
Romi tersentak mendengar perkataan Pak Budi. Kini dia tau dari mana sifat Ela itu didapatkannya, ternyata dari Bapaknya. Dua tahun lalu Romi sempat berbincang-bincang dengan Pak Budi, dari situ dia bisa menilai kalau Pak Budi adalah pria yang hebat, kuat dan bertanggung jawab untuk keluarganya.
Pak Budi juga orang yang jujur dan disiplin. Selama seminggu Pak Budi dengan setia menemani kemanapun Romi pergi. Kemanapun Romi pinta dia pasti akan mengantar Romi tanpa kata lelah.
Benar kata Ela terkadang mereka pulang sampai larut malam dan beberapa kali Romi memintanya datang pagi - pagi sekali. Begitulah pekerjaan Pak Budi tak kenal lelah.
Dia akan melayani tamu Hotel dengan sangat baik. Pak Budi juga sangat taat beribadah. Setiap tiba waktu shalat Pak Budi selalu meminta izin untuk shalat di Mesjid.
Romi bisa melihat kehidupan Pak Budi sangat sederhana tapi dia sangat bahagia. Apalagi saat menceritakan tentang anak - anaknya yang saat itu si sulung baru lulus PNS jadi seorang guru sedangkan si bungsu masih kuliah semester lima.
Romi semakin salut melihat keluarga Ela dan dia sangat menghormati mereka. Ternyata kebahagian bukan hanya didapatkan dari harta kekayaan. Tapi didapatkan dari hati yang lapang.
Bersyukur dengan apa yang dimiliki dan menikmatinya tanpa berkeluh kesah. Hal ini yang sangat sulit dilakukan manusia. Banyak manusia yang selalu saja menyalahkan orang lain atas apa yang dia alami.
Bahkan ada yang lebih berani dengan menyalahkan Tuhan sebagai penyebab kesulitannya di dunia ini. Padahal disetiap kesulitan Allah pasti akan memberikan kemudahan asalkan kita bisa mengerti dan mengetahui apa kemudahan itu dan kemudian mensyukurinya.
"Ya sudah kalian santai aja dulu di depan, masakan Ibu sebentar lagi selesai kok" perintah Bu Budi.
Ela akhirnya membawa Romi duduk di depan rumahnya. Mereka duduk tepat dibawah pohon jambu air yang rindang. Di cabang yang besar Pak Budi sengaja membuat ayunan untuk Cucunya kalau datang bermain ke rumahnya.
"Bapak ngejek ya" sambut Ela.
"Ngejek gimana?" tanya Romi bingung.
"Rumah Bapak pasti lebih besar dan mewah dari rumah saya. Apartemen Bapak saja pasti juga lebih besar dari rumah saya. Masak Bapak bilang rumah saya nyaman" jawab Ela.
"Besar kecil sebuah rumah kan gak menjamin kenyamanan di dalamnya. Rumah besar dan mewah tapi orang yang ada di dalamnya selalu bertengkar tetap saja rumahnya seperti neraka. Tapi rumah walaupun kecil tapi kalau asri dan adem seperti ini nyaman banget Cishela" ungkap Romi.
Ela melirik ke arah Romi.
"Keluarga kamu semuanya baik. Aku sudah mengenal Bapak kamu sejak dua tahun yang lalu. Kami sempat bercerita tentang keluarga, waktu itu aku tidak tau kalau Pak Budi adalah Bapak kamu. Dia bercerita tentang keluarganya, tentang anak - anaknya, wajahnya tampak bahagia sekali. Dari situ aku bisa menilai Bapak kamu adalah pria yang baik. Dia bisa menasehati aku walau saat itu posisinya hanya sebagai supir Hotel yang siap kapan saja mengantar aku kemanapun. Tidak ada kesan menggurui malah lebih kepada kesan antara orang tua dengan anaknya. Saat - saat itu sangat berkesan sekali padaku sehingga nomor Bapak kamu tetap aku simpan di ponselku. Dan keinginanku jika suatu saat aku kembali ke Kota ini aku akan menemui Pak Budi lagi. Eh ternyata beliau adalah Bapak kamu" sambung Romi.
"Pantas saja tadi saat di Bandara Bapak menghubungi seseorang. Rupanya itu adalah Bapak saya" sambut Ela.
"Iya, aku sudah mengabarkan kedatanganku ke Surabaya kemarin sore dan meminta waktu Pak Budi selama aku di Surabaya dia yang akan mengantarkan aku kemanapun aku pergi" ujar Romi.
"Jadi selama dua tahun ini Bapak belum pernah datang ke Surabaya?" tanya Ela.
"Belum karena belum ada proyek di kota ini dan aku sibuk di Jakarta" jawab Romi.
"Jadi dua tahun lalu Bapak ke sini karena ada proyek?" tanya Ela.
"Ya.. proyek masa depan tapi tertunda karena aku tidak menemukannya" jawab Romi.
"Tertunda? Maksudnya?" tanya Ela bingung.
"Ya yang namanya tertunda berarti bisa dilanjutkan. Sekarang aku sedang kembali menjalankan proyek masa depan itu dan aku harap kali ini akan berjalan mulus dan aku bisa memenangkan proyek masa depan itu" jawab Romi.
Yaitu kamu.. sambung Romi dalam hati.
"Oh jadi proyek kita besok itu adalah proyek masa depan Bapak yang sudah tertunda dua tahun?" tanya Ela polos.
"Bisa di bilang begitu" jawab Romi sambil tersenyum.
"Jawaban Bapak membingungkan" protes Ela.
Romi tertawa lepas.. hari ini hatinya sangat bahat sekali bisa seharian bersama Ela dan bisa berkenalan dengan seluruh keluarga Ela.
"Eeeel ajak Pak Romi masuk, makanan sudah siap. Yuk kita makan" panggil Bu Budi dari dalam rumah.
"Iya Bu" jawab Ela.
"Yuk Pak kita masuk, pasti Bapak dan Ibu sudah menunggu kita di depan meja makan" ajak Ela.
"Ya sudah ayo.. " jawab Romi sambil berdiri.
Mereka berjalan masuk ke dalam rumah dan ternyata benar perkataan Ela, seluruh keluarga sudah menunggu di depan meja makan. Mereka siap menyantap masakan sederhana yang disajikan oleh Bu Budi dan Ranti kakaknya Ela.
.
.
BERSAMBUNG