Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Tujuhpuluh Tujuh



"Shiiit.... bagaimana mereka bisa tahu kalau aku belum belah duren sama Bela? Duh.. kalau mereka tau malam ini juga masih gagal pasti aku akan di bully" gumam Aril.


Tak lama kemudian Bela keluar dari kamar mandi sambil menggunakan bathrobenya. Aril langsung menelan salivanya.


"Mas cepatan mandi keburu habis waktu ashar" panggil Bela.


"Iya yank.." Aril masuk kedalam kamar dan berjalan menuju kamar mandi.


Aku tidak boleh menyentuh Bela dulu. Sudah satu bulan hasrat ini aku tahan, kalau aku sentuh dia, aku tidak bisa menahannya lagi. Padahal Bela masih terlarang. Batin Aril.


Tak lama kemudian Aril sudah selesai mandi dan langsung shalat ashar.


"Mas tadi Bapak telepon. Mau ngajak kamu shalat maghrib bareng di Mesjid Hotel" ucap Bela.


Duh mau aku tolak ini permintaan mertua. Kalau aku turuti aku pasti bertemu para kampre* itu. Pasti aku akan di bully habis - habisan. Umpat Aril dalam hati.


"Mas" panggil Bela.


"Eh iya sayang" jawab Aril.


"Kok malah melamun sih? Nanti Bapak ngajak Mas shalat maghrib di Mesjid" ulang Bela.


"Iya.. nanti aku akan turun" jawab Aril.


Bela segera mempersiapkan pakaian shalat untuk suami tercintanya. Aril langsung bersiap - siap untuk turun ke bawah dan berkumpul dengan mertua dan orang tuanya.


Benar dugaan Aril para sahabatnya sudah menunggunya dengan wajah senyum - senyum durjana.


"Ehm pengantin baru" goda Bagus


"Kamu Gus seperti gak pernah ngerasain saja" sambut Bimo.


Refan merangkul bahu sahabatnya.


"Aku juga dulu sama Kinan tidak langsung bro. Malah kami sempat pisah ranjang diawal pernikahan kami" ucap Refan.


"Beda kasus bro. Kamu kan awal nikah emang belum ada rasa. Lah Aril panas dingin bro seminggu cuma bisa icip - icip gak boleh celup" ledek Romi.


"Hahaha.. kayaknya kamu kena azab hantu pelaminan bro" sambung Riko.


Apa iya.. waktu akad Bela datang bulan. Nah ini sekarang setelah resepsi Bela datang bulan juga. Apes banget gue. Batin Aril.


Mereka berjalan menuju Mesjid Hotel dan shalat maghrib bersama - sama. Setelah itu mereka sempat berbincang - bincang.


"Kamu gak buru - buru balik ke kamar Ril? udah malam nih?" goda Riko lagi.


"Panas bro di kamar. Cuma bisa icip gak bisa celup" timpa Bagus.


"Lho kenapa gitu?" tanya Romi ingin tau.


"Kamu lupa Aril nikah pas sebulan. Itu artinya kena jadwal Bela datang bulan lagi" jawab Bagus tertawa menang.


Aril hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Senang banget ya kalian ledekin aku" ucapnya kesal.


"Ya Tuhan mengapa nasib temanku ini menyedihkan. Sudah jatuh ketimpa tangga lagi. Bukan tangganya yang patah tapi kakinya yang patah. Apes banget kan?" goda Romi.


"Sompre* kalian" umpat Aril kesal.


"Huus... di Mesjid nih bro" ucap Bimo mengingatkan.


"Kami sahabat sejati kok. Kami akan setia menemani kamu sampai larut malam. Kasihan kalau kamu cepat - cepat balik ke kamar ngapain juga kan" ujar Bagus.


"Hahaha.. " tawa mereka.


"Sial.. " umpat Aril.


Tibalah waktu shalat Isya. Mereka kembali shalat berjamaah dan setelah selesai shalat.


"Bapak duluan ya" ucap Para orang tua.


"Iya Pak" jawab mereka sopan.


"Aku balik juga ya Ril. Kasihan Reni kalau sudah malam kakinya suka pegel. Biasanya pasti minta pijat" ucap Bimo.


"Aku juga Ril, kasihan Kinan jaga si kembar" sambut Refan.


"Aku juga mau ke kamar. Mau honeymoon mumpung nginap di Hotel" goda Bagus.


"Lah tadi katanya teman setia?" tanya Romi.


"Kalian aja. Kamu dan Riko kan masih single" jawab Bagus.


"Aaah dari pada bertiga sama kalian mending aku balik kamar. Walau gak bisa celup tapi masih bisa icip" ujar Aril.


"Hahahaha... " yang lain tertawa melihat wajah kesal Aril.


Aril berjalan menuju kamarnya. Saat dia masuk kedalam kamar ternyata Bela sudah memakai pakaian dinasnya untuk menyambut Aril.


Walau masih malu - malu tapi Bela menguatkan dirinya. Demi kebahagian suami dan dia juga tentunya. Aril menelan salivanya berulang kali.


Aduh Bela kenapa pakai baju itu sih. Imron aku udah gak kuat. Si Otong udah ngaceng dari tadi. Tangis Aril dalam hati.


"Eh iya sayang, yuk.. aku juga udah laper" sambut Aril.


Mereka segera menyantap makan malam spesial yang tadi diantar pelayan Hotel untuk servis spesial pengantin baru.


Aril dan Bela mulai makan dengan sinar lilin aromaterapi yang dipasang ditengah meja mereka.


"Kamu gak kedinginan Yank?" tanya Aril.


"Kedinginan sih Mas, tapi demi permintaan kamu" Jawab Bela.


"Maksudnya?" tanya Aril bingung.


"Kan Mas yang minta, katanya nanti kalau Mas sudah pulang aku harus pakaian ini" jawab Bela.


Aril tersenyum dan merasa terharu, ternyata istrinya mengabulkan keinginannya.


"Kok lama shalatnya tadi?" tanya Bela.


"Diajak teman - teman ngobrol" jawab Aril.


"Oo.. aku kira ketiduran, kan kamu pasti capek banget kan" balas Bela.


Setelah selesai makan Bela kembali ke kamar mandi untuk bersih - bersih. Aril duduk sandaran di kepala tempat tidur mereka sambil mengecek email dan kabar terbaru tentang pabriknya di Singapore.


Tak lama Bela keluar, sepertinya dia baru bersihin wajahnya yang terlihat bersinar dan seger. Bela berjalan menghampiri Aril dan naik ke atas tempat tidur.


"Maaas... " panggil Bela.


"Heeem... " sahut Aril masih asik melihat ponselnya.


"Maaaaas" panggil Bela lagi.


Aril segera meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Ya sayaaaang" jawab Aril sambil merapatkan wajahnya ingin mencium pipi Bela.


Hemm.... kamu kok wangi sekali sayang. Duh apa si Otong bisa kuat ya.. Tangis Aril dalam hati.


"Kalau mau pacaran bersih - bersih dulu. Mas bau rokok" protes Bela.


Aril mencium bau badannya sendiri.


Iya bener aku bau rokok tadi kan habis makan aku merokok sebentar di balkon. Batin Aril.


Aril turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk sikat gigi. Setelah selesai Aril menyemprotkan parfum ke tubuhnya agar wangi rokoknya hilang.


Setelah itu Aril kembali ke tempat tidur, terlihat Bela sedang resah berbaring diatas tempat tidur.


"Kamu kenapa yank?" tanya Aril.


"Kakiku pegel banget Mas" jawab Bela pura - pura meringis.


"Sini aku pijitin" ujar Aril menawarkan diri.


"Gak usah, Mas Aril kan capek juga. Masak iya mau pijitin aku lagi. Itu namanya aku istri durhaka" tolak Bela.


"Gak apa sekalian icip - icip" gumam Aril pelan.


"Apa Mas?" tanya Bela karena suara Aril sangat pelan.


"Kamu punya baby oil atau handbody gak?" tanya Aril.


"Ada, tuh di tas aku dekat nakas. Tolong ambilin Mas" pinta Bela


Aril segera bangkit dan mengambil sesuatu didalam tas Bela. Tanpa sengaja Aril menyentuh sesuatu yang ternyata adalah mukena. Aril memperhatikan bentuk mukena itu sepertinya baru saja dipakai.


Aril langsung mendekati Bela dengan semangatnya.


"Yank kamu tadi shalat?" tanya Aril.


"Iya shalatlah. Shalat kan wajib Mas. Emang kenapa Mas tanya gitu?" Bela balik bertanya.


"Berarti kamu gak sedang datang bulan yank?" tanya Aril memastikan.


"Nggak" jawab Bela.


"Kok bisa?" Aril masih tidak percaya.


"Bulan ini datang bulannya lebih cepat dari jadwal dan entah kenapa cuma beberapa hari saja. Mungkin karena aku stres kali" ungkap Bela dengan wajah malu - malu.


"Yes.. kita bisa belah duren donk yank.. Alhamdulillah" Aril dengan semangat langsung menerkam Bela.


"Aaaaaaah Mas Ariiiiiiiil" teriak Bela.


.


.


BERSAMBUNG