
Setelah selesai makan siang Ela bermain dengan ponakannya di teras depan rumah. Romi kembali duduk di bawah pohon jambu sambil menyaksikan interaksi Ela dan Seli.
"Tante.. mana oleh - oleh untuk Seli? Katanya kalau Tante pulang mau bawain mainan untuk Seli?" pinta Seli.
"Oh iya Tante lupa.. Ada kok oleh - oleh untuk Seli Tante bawa dari Jakarta. Tunggu sebentar ya" jawab Ela.
Ela masuk ke dalam rumah dan berjalan ke kamarnya untuk mengambil oleh - oleh untuk ponakannya. Tak lama kemudian Ela keluar dan membawa oleh - oleh untuk Seli.
"Nih oleh - oleh untuk kamu" ujar Ela dan menyerahkan bungkusan kepada Seli.
"Asiiik... Mama.. Mama... aku dapat oleh - oleh dari Tante" teriak Seli
Bapak dan Ibu Budi juga Ranti keluar rumah setelah mendengar teriakan Seli.
"Waaah senangnya, dibuka donk sayang" perintah Ranti.
Seli membuka bungkusan yang diberikan Ela. Ela tersenyum melihat aksi Seli.
"Waah barbie... " teriak Seli senang.
"Bilang apa sayang?" tanya Ranti pada putrinya.
"Alhamdulillah ya Allah.. terimakasih Tante Ela" Seli memeluk Ela dengan erat.
"Seli dapat oleh - oleh, eyang nggak" ucap Bu Budi pura - pura sedih.
"Ada.. semua kebagian. Nih oleh - oleh untuk Ibu, ini untuk Bapak, ini untuk Kak Ranti dan Mas Agung" Ela memberikan beberapa bungkusan lagi kepada keluarganya.
Bu Budi dan Ranti tak sabar dan segera membuka bungkusan yang diberikan Ela.
"Ya Allah Nduk bagus banget oleh - oleh yang kamu beli untuk Ibu" ujar Bu Budi haru.
"Iya Dek, cantik banget. Bisa dipakai untuk lebaran ini bajunya" sambut Ranti.
Ela tersenyum penuh bahagia.
"Pak buka bungkusan Bapak" perintah Bu Budi.
Pak Budi membuka bungkusan yang diberikan putrinya.
"MasyaAllah.. bagus Nduk bajunya dan juga ada kain sarungnya. Bapak akan pakai sarung ini setiap hari ke Mesjid" ujar Pak Budi dengan senang.
Ela memeluk kedua orang tuanya dengan penuh haru. Romi yang menyaksikan itu dari kejauhan juga ikut merasa haru. Dia juga sangat bahagia ternyata perbuatannya kemarin sangat berarti bagi keluarga Ela.
Dia tidak menyangka ide gilanya bisa berakhir seindah ini. Dia bisa membuat bidadari surganya tertawa bahagia bersama keluarganya. Kebahagiaan yang tak bisa dibeli dengan uang.
Romi merasa malu selama ini dia selalu menghambur - hamburkan uang untuk hal - hal yang tidak penting sementara ternyata banyak orang yang sulit untuk mendapatkan apa yang telah dia buang - buang itu.
Contohnya keluarga Ela, dengan keterbatasan mereka. Romi tau berapa harga pakaian Ibu dan Kakaknya Ela, pakaian Bapak dan Kakak iparnya Ela beserta kain sarungnya dan terakhir mainan Selo. Bagi Romi itu tidak ada artinya dan sangat murah tapi sangat berharga bagi keluarga.
Diam - diam Romi mengambil ponselnya di saku celananya dan mengambil foto kebersamaan Ela dengan keluarganya. Mereka tampak sangat bahagia.
Terimakasih Cishela.. kamu sudah menunjukkan kepadaku indahnya rumah tangga kita kelak jika kamu bisa menjadi bidadari surgaku. Pasti keluarga kita akan sebahagia ini. Aku akan berjuang untuk mendapatkan cintamu.. walau mungkin aki harus bersabar dan berjuang seperti Riko, walau waktunya akan lama. Aku akan berusaha kuat untuk bertahan sampai kamu benar - benar mau menerimaku. Batin Romi.
"Eh iya aku lupa masih ada Pak Romi" ujar Ela.
"Hahaha... sudah kepalang tanggung Bu, nasi sudah menjadi bubur. Pak Romi udah melihat semuanya" sambut Pak Budi.
"Gak apa - apa Pak. Saya sangat senang berada di rumah ini bisa bersama kalian merasakan kehangatan sebuah keluarga. Yah maklumlah di Jakarta sibuk dengan hiruk pikuk dunia. Bahkan sesama anggota keluarga jarang bertemu. Sibuk dengan urusan masing - masing. Saya saja sudah lama gak tinggal bareng dengan orang tua saya dan sudah lama juga gak bertemu dengan mereka. Melihat keluarga kalian begitu harmonis saya malah iri dan rindu dengan kedua orang tua saya. Mungkin setelah kembali dari Kota ini saya akan segera menemui mereka " jawab Romi.
"Pak Romi sebanyak apapun harta yang kita punya tetap harta yang paling berharga itu adalah keluarga. Selagi orang tua Pak Romi masih lengkap sayangilah mereka bersama dengan saudara - saudara Pak Romi yang lain" ujar Pak Budi.
"Saya anak tunggal Pak, saudara saya adalah sahabat - sahabat saya" jawab Romi.
"Nah apalagi Pak Romi anak tunggal. Hanya Pak Romi satu - satunya yang dimiliki orang tua Pak Romi. Pak Romi adalah harta mereka dunia dan di akhirat. Saat di dunia Pak Romi lah kelak yang akan mengurus mereka di hari tua. Dan di akhirat hanya Pak Romi yang bisa mendoakan mereka. Karena doa anak yang soleh langsung sampai kepada orang tuanya" sambut Pak Budi.
Romu terdiam mendengar ucapan Pak Budi. Dia benar - benar tersentuh dan tersadar akan isi pesan Pak Budi. Sama ini dia jarang sekali bertemu dengan orang tuanya. Bukan hanya dia saja yang sibuk. Orang tuanya juga sibuk dengan bisnis mereka dan sering bepergian keluara negeri.
Itu juga alasan Romi mengapa dia tinggal di apartemen karena rasanya tetap sama ketika dia tinggal di rumah orang tuanya atau apartemennya dia tetap merasa sepi dan sendirian.
Semua itu sudah dilalui Romi sejak kecil makanya saat kuliah dia lebih betah dan sering menginap di rumah Refan. Karena rumah Refan lebih nyaman dan keluarga Refan lebih hangat.
Refan memiliki seorang kakak dan seorang adik. Dari mereka juga Romi mengerti arti saudara dan bagaimana cara bersaudara.
Oleh sebab itu Romi sangat menyayangi Reni adeknya Refan seperti adiknya sendiri dan juga Romi sangat dekat dengan kakaknya Refan yaitu Jelita.
"Iya Pak, InsyaAllah setelah pulang dari Surabaya saya akan memperbaiki hubungan saya dengan kedua orang tua saya. Saya akan sering menjenguk mereka" balas Romi.
"Alhamdulillah.. semoga Allah mendengar niat baik Pak Romi dan melancarkan jalan menuju kebaikan" sambut Pak Romi.
"Aamiin.. " jawab Romi.
Ela menatap Romi dengan tatapan yang sulit diartikan. Bahkan Romi hampir tersipu malu karenanya.
Duh mengapa aku jadi grogi karena Cishela melihat aku seperti itu. Selama ini tatapanku yang selalu bisa membuat wanita panas dingin. Aah cinta.. memang bisa membuat apa saja. Aku bukanlah Romi yang dulu karena cinta. Semua kata - kata mesraku hilang saat aku bertemu dengan orang yang aku cintai. Batin Romi.
"Sudah sore Pak Romi. Maaf bukannya saya ingin mengusir Pak Romi dari rumah saya. Saya juga sangat senang Pak Romi ada di rumah saya. Tapi apakah Bapak tidak ingin ke Hotel sekarang? Siapa tau Pak Romi mau istirahat?" tanya Pak Budi hormat.
"Oh boleh Pak... Kita bisa kembali ke Hotel sekarang. Setelah itu Bapak boleh pulang ke rumah lagi. Karena saya tidak akan keluar hotel malam ini. Besok pagi Bapak jemput saya sekalian bareng Cishela" jawab Romi.
Ela dan keluarganya yang lain berdiri dan berjabat tangan dengan Romi sebagai penghormatan bahwa Romi adalah Bosnya Ela.
"Saya pamit dulu ya Bu, Mbak. Cishela besok jangan lupa bawa semua perlengkapan yang kita butuhkan" ucap Romi.
"Baik Pak" jawab Ela.
Romi dan Pak Budi masuk ke dalam mobil dan bergerak menuju Hotel tempat Romi menginap.
.
.
BERSAMBUNG