
Sudah seminggu Aril, Reni dan Bimo ada di Surabaya, sudah tiba saatnya mereka kembali ke Jakarta.
Setelah berpamitan dengan kedua orang tua Bimo dan Bela mereka berangkat ke Bandara Internasional Juanda.
Ela akhirnya ikut bersama dengan mereka ke Jakarta karena orang tuanya sudah memberikan restu kepada Ela untuk mencari pekerjaan di Jakarta. Apalagi Bimo, Aril dan Reni berjanji akan membantunya untuk mencarikan pekerjaan di sana.
Sesampainya di Bandara mereka membawa koper masing - masing. Aril sudah memesan tiket untuk mereka semua. Saat hendak memasuki ruang tunggu Bandara tiba - tiba mereka dikejutkan oleh suara seseorang.
"Deeeeer.... " ucap seseorang mengejutkan mereka.
"Rizaaaaal" teriak Bela terkejut.
"Lho kamu mau ke Jakarta juga hari ini?" tanya Ela.
"Iya donk, emangnya kalian saja yang bisa cari kerja di Jakarta" jawab Rizal.
"Kita satu pesawat Zal?" tanya Reni.
"Sepertinya begitu" jawab Rizal dengan senyum penuh arti.
Sial.. Ngapain sih anak ingusan itu ada di sini? Mana satu pesawat lagi. Kenapa ya dunia ini sempit, dimana - mana selalu ketemu sama dia. Apa gak ada pesawat lain apa? Mengapa harus satu pesawat dengannya. Umpat Aril dalam hati.
Aril sangat kesal melihat wajah Rizal yang tersenyum ramah kepada Bela, Reni dan Ela. Aril menyikut lengan Bimo.
"Lihat cowok ingusan itu pengen deketin target kita" ujar Aril kepada Bimo.
"Siapa target kita?" tanya Bimo bingung.
"Ah kamu pura - pura deh Bim. Aku tau kamu naksir Reni dan kamu juga tau aku naksir sama adik kamu Bela" jawab Aril.
"Kalau begitu mungkin dia naksir Ela kali" balas Bimo.
"Emangnya Rizal tau kamu naksir Reni? Bisa saja dia mau deketin Reni. Kalau Bela sih aku yakin dia gak berani karena aku sudah tegaskan padanya kalau aku ini adalah calon suaminya Bela" ujar Aril dengan penuh percaya diri.
"Cih yakin sekali kamu? Kamu pikir gampang untuk mendapatkan restu kedua orang tuaku? Aku saja sampai lari dari rumah selama sepuluh tahun karena gak dapat restu" sambut Bimo.
Aril terdiam sesaat dan menelan salivanya.
Benar juga, walau Bapak dan Ibu Akarsana tampak menyambut aku dengan baik tapi bisa saja mereka tidak setuju kalau aku mendekati putri mereka. Aduuuuh... apakah nasib cintaku akan sama dengan Riko? Batin Aril panik.
"Aku kan seakidah Bim, ditambah lagi aku baik, tampan dan soleh ehem.... " jawab Aril sambil bercanda.
"Hahahaa... " tawa Bimo pecah membuat Reni, Bela, Ela dan Rizal terkejut melihat Bimo dan Aril.
"Ketawanya pecah banget Mas, cerita apa sih? Bagi - bagi ke kami gitu?" tanya Bela.
"Hanya pembicaraan pria tua seperti kami, tidak cocok untuk anak remaja seperti kalian" jawab Bimo.
"Enak aja tua. Aku belum tua, menikah aja belum pernah. Kalau kamu yang terlihat tua ya terserah aja. Aku gak terima kalau dibilang tua" protes Aril.
"Mas Aril kan emang udah tua" sindir Rena.
"Awas kamu ya setan keciiiil" teriak Aril.
Aril mengejar Reni dan hendak mencubit hidung Reni. Spontan Reni mengelak dan berlari kemudian mendekati Bimo untuk mencari perlindungan tanpa sadar kakinya tersandung dengan kakinya yang lain dan hampir saja terjatuh.
Untung Bimo langsung sigap menangkap Reni kalau tidak bisa dipastikan wajah Reni akan mencium lantai Bandara.
"O.. oooooo" teriak yang lain ketika melihat Bimo dan Reni berpelukan.
Reni dan Bimo langsung tersadar dan saling melepaskan diri.
"Nggak apa Ma.. Mas... Makasih udah nangkap aku kalau tidak aku pasti jatuh tadi" jawab Reni salah tingkah.
"Cieee... ada yang malu - malu" sindir Aril.
Aril langsung sigap mengambil ponselnya dan memotret Bimo dan Reni.
Jepreeeet...
"Mas Ariiiiil... bikin kesal aja deh" teriak Reni.
Yes... foto ini nanti akan aku kirim ke Bimo, pasti dia senang. Misiku harus terus berjalan agar jalanku untuk masa depan juga lancar. Batin Aril.
Ting.. Tong...
Perhatian.. perhatian.. kepada para penumpang dengan nomor penerbangan xxx dari Surabaya menuju Jakarta dengan pesawat xxx yang akan terbang pukul. 10.00 Wib silahkan masuk ke dalam pesawat.
Terdengar intruksi dari suara yang menggema di dalam ruang tunggu. Bimo dan rombongan segera bersiap - siap karena sebentar lagi mereka akan masuk kedalam pesawat.
Ternyata tempat duduk Aril dekat dengan Bela dan Ela sedangkan Bimo berdekatan dengan Reni dan Rizal duduk jauh di belakang mereka.
Fiuuuh... untung anak tengil itu duduknya jauh. Hahaha... kamu tidak bisa mengalahkan aku. Aku punya kesempatan yang lebih besar dari kamu. Aril mau dilawan, heheh... mana bisaaaa... Teriak Aril dalam hati.
Ela meminta duduk paling pinggir dekat jendela sedangkan Bela duduk di tengah tepat disamping Aril. Aril tersenyum menang ke arah Rizal.
Dari kejauhan Rizal merasa sangat sedih karena kesempatan dia untuk mendekati Bela sepertinya memang benar - benar tidak ada. Tak mungkin rasanya bersaing dengan pria mapan seperti Aril.
Dengan menarik nafas berarti Rizal harus mengikhlaskan nasibnya yang malang dan mulai memikirkan masa depan untuk melupakan Bela. Mudah - mudahan di Jakarta nanti dia bisa mendapatkan pengganti Bela.
"Bel besok kan hari pertama kamu bekerja. Aku jemput ya" ujar Aril pada Bela.
"Mas jangan ah.. aku gak enak. Kamu kan Bos aku di kantor. Biar aku minta Mas Bimo aja yang antar aku besok" tolak Bela halus.
"Aku juga besok mau ketemu Refan pagi, ada yang mau aku bicarakan dengannya jadi sekalian ketemu kamu disana. Ngapain coba Bimo repot - repot antar kamu wong kita satu arah. Udah deh Bel... kamu gak usah segan - segan sama aku. Kamu kan adeknya Bimo dan keluarga dari Kinan istri sahabat aku. Hubungan kita ini sudah sangat dekat jadi kamu gak perlu canggung sama aku" ucap Aril meyakinkan.
Walau sungkan tapi apa yang Aril katakan memang benar. Lagi - lagi Bela hanya bisa pasrah. Sebenarnya dia sangat takut untuk dekat - dekat dengan Aril. Apalagi nanti kalau di kantor.
Bela bisa membayangkan kalau dia anak baru, tiba - tiba datang ke kantor hari pertama langsung bareng Aril pemilik perusahaan. Apa coba yang harus dia katakan kepada teman - teman barunya nanti.
Bela sangat malu kalau masuk ke perusahaan itu dengan jalan mulus karena ada relasi dengan Aril. Tapi Bela tidak bisa menolaknya karena memang dia sangat membutuhkan pekerjaan.
Apalagi tawaran Aril sangat menggiurkan jadi sekretaris CEO di perusahaan yang besar. Itu adalah impian para pengangguran yang baru tamat kuliah seperti dia. Sangat sayang sekali kalau kesempatan seperti itu dilewatkan.
Bela menarik nafas dalam dan pasrah.
"Baiklah Mas, besok aku akan ikut dengan Mas berangkat bareng ke kantor. Tapi janji ya cuma besok saja. Besok - besoknya aku akan pergi dengan Mas Bimo. Kalau Mas tetap memaksa lebih baik aku mengundurkan diri dari perusahaan Mas aja deh dan siap - siap cari kerja di tempat lain. Aku malu Mas kalau di kantor Mas dikira ada hubungan macem - macem sama Mas. Aku kan akan baru" ucap Bela.
Aril tersenyum menang.
"Iya Mas janji, cuma besok aja kok. Tapi omongan orang gak usah dipikirin Bel. Biar saja anjing menggonggong kita mah lewat aja wong anjingnya juga diikat, tidak akan ngejar apa lagi gigit" jawab Aril cuek.
Bela hanya menggelengkan kepala bingung dengan jawaban Aril. Apa coba arti pepatahnya itu. Mungkin hanya Aril saja yang tau apa artinya.
.
.
BERSAMBUNG