Playboy Insaf

Playboy Insaf
Sembilanpuluh Satu



Pagi harinya keluarga Ela sudah bangun sebelum adzan subuh.


"El coba bangunkan Pak Romi apa dia mau ikut shalat subuh ke Mesjid?" tanya Pak Budi


"Baik Pak" jawab Ela.


Ela mengetuk pintu kamarnya yang ditempati Romi. Tapi sudah tiga kali ketukan tidak ada jawaban dari dalam. Itu artinya Romi pasti masih tidur.


Ela mendorong pintu kamarnya ternyata tidak terkunci dari dalam. Ela masuk dan melihat Romi memang sedang tidur nyenyak. Ela memandang wajah polos Romi yang masih tertidur.


Wajah kamu memang cakep banget Pak, hampir aja dinding pertahananku roboh Pak. Bapak sangat jauh dari jangkauanku Pak. Sepertinya aku memang harus mengubur perasaanku.


Ela menyentuh tubuh Romi mencoba untuk membangunkannya.


"Paaak... Pak Romi..... " panggil Ela.


Romi menggerakkan tubuhnya dan membalikkan tubuhnya. Kemudian tidur lagi.


"Pak Romi.. Paaaaak.. " ulang Ela.


Perlahan Romi membuka matanya dan sangat terkejut ketika melihat Ela sudah ada di hadapannya.


"Oh Ya Allah...... MasyaAllah" ucap Romi terkejut.


"Maaf Pak. Terkejut ya.. " balas Ela.


"Iya, ada bidadari" jawab Romi.


Ela terdiam karena bingung dengan jawaban Romi.


"Ada apa Cishela?" tanya Romi.


"Sebentar lagi adzan subuh Pak. Bapak saya tanya, Bapak mau ikutan shalat ke mesjid?" tanya Ela.


"Ikut.. saya ikut. Tunggu sebentar" jawab Romi sigap.


Romi langsung duduk tepat di hadapan Ela. Membuat Ela jadi salah tingkah. Ela langsung berjalan keluar dari kamar karena dia tidak ingin Romi mendengar detak jantungnya yang begitu kencang.


"Gimana El?" Pak Budi langsung menyambut dari luar kamar.


"Kata Pak Romi ikut Pak, dia lagi bersiap" jawab Ela.


Ela langsung ke dapur membantu Ibunya. Tak lama Romi keluar kamar sambil membawa handuk.


"Pak masih sempat kan saya bersih - bersih dulu?" tanya Romi.


"Oh masih sempat Pak Romi" Jawab Pak Budi.


"Oke, tunggu sebentar ya Pak" balas Romi.


Romi berjalan menuju kamar mandi yang terletak di dapur, dia melihat Ela dengan lihai membantu Ibunya memasak. Romi tersenyum melihat keindahan pemandangan pagi ini.


Kemudian Romi masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi dan berwudhu. Setelah itu Romi kembali ke kamar dan berpakaian.


Bersamaan dengan itu terdengar adzan subuh.


"Apakah kita terlambat Pak?" tanya Romi.


"Nggak Pak, mesjidnya dekat kok Pak. Ayo Pak" jawab Pak Budi.


Mereka berdua berjalan menuju Mesjid yang tak jauh dari rumah Ela. Setelah selesai shalat subuh kebiasaan di Mesjid sebelum pulang para warga saling berjabat tangan.


"Siapa Pak Budi?" tanya salah satu warga kepada Pak Budi.


"Oh keluarga saya dari Jakarta" jawab Pak Budi.


"Oh bareng Ela datangnya?" tanya yang lain lagi.


"Iya. Yuk mari.. kami duluan ya" Pak Budi langsung mengajak Romi pulang.


Ketika mereka sudah berjalan berdua Romi langsung bertanya kepada Pak Romi.


"Ini di kampung Pak, kalau saya katakan Bapak bukan keluarga mereka akan berpikiran macam - macam. Di rumah saya ada anak gadis Pak. Saya takut mereka berpikiran buruk tentang putri saya" jawab Pak Budi.


"Maaf Pak saya tidak memikirkan sebelumnya. Kalau begitu nanti sore sepulang kerja saya kembali ke Hotel saja" sambut Romi.


"Tidak apa Pak, sekarang sudah aman. Kan saya sudah bilang ke mereka kalau Bapak adalah saudara saya" balas Pak Budi.


"Oh gitu ya, syukurlah... " ucap Romi lega.


Mereka kembali ke rumah dan di meja sudah tersedia kopi panas beserta roti.


"Mari Pak Romi minum kopi dulu sebelum kita sarapan pagi dan bersiap untuk bekerja" ajak Pak Budi.


Dua pria itu duduk di depan teras sambil menikmati kopi buatan Ela dan menikmati suasana pagi hari dikampung Ela.


"Enak ya Pak tinggal disini? Warganya ramah - ramah" ujar Romi.


"Yah begitulah tapi mungkin hanya sesekali Pak Romi enaknya. Lebih enak di Jakarta. Buktinya banyak orang yang ingin pergi ke sana" jawab Pak Budi.


"Jakarta sudah terlalu padat Pak, masayarakatnya juga hidup sudah tidak sehangat di desa. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing, saling cuek. Apalagi tinggal di apartemen. Bahkan terkadang sesama tetangga tidak saling kenal karena tidak pernah bertemu" ungkap Romi.


"Yah dalam hidup ini semua ada plus minusnya Pak, gak ada yang sempurna. Bagi orang kota lebih enak tinggal di desa sedangkan bagi orang desa tinggal di kota adalah cita - cita mereka. Sebenarnya itulah sifat manusia. Tidak pernah merasa puas. Allah sudah kasih begini malah minta begitu. Lupa cara bersyukur sehingga tak pernah merasa cukup, ada saja kurangnya. Sudah punya rumah kecil masih kurang pengen punya rumah yang besar. Punya satu rumah pengen tambah lagi jadi dua. Begitu seterusnya " sambung Pak Budi.


Romi mendengarkan ucapan Pak Budi dengan serius. Dia merasa kejadian dua tahun yang lalu terulang lagi. Hal - hal seperti inilah yang dia suka saat berbincang - bincang bersama dengan Pak Budi.


Dari pandangan orang tua, Pak Budi pintar sekali menyusun kata - kata yang dapat membuat Romi terdiam dan terpaku. Kata - kata Pak Budi langsung masuk ke relung hatinya yang paling dalam.


"Pak sarapan pagi sudah siap" panggil Ela.


Pak Budi menatap tamu rumahnya.


"Yuk Pak Romi kita sarapan pagi" ajak Pak Budi.


Romi sarapan pagi bersama keluarga Ela pagi ini. Ternyata disajikan nasi goreng spesial telur mata sapi. Dan secangkir teh manis panas untuk menyambut pagi ini. Mereka mulai menyantap hidangan dengan lahap.


"Enak sekali bu nasi gorengnya. Sudah mirip sama nasi goreng Hotel bintang lima" puji Romi.


"Maaf Pak Romi bukan Ibu yang masak tapi Ela" jawab Bu Budi.


Romi melirik ke arah Ela.


"Benarkah kamu yang masak?" tanya Romi.


Ela menganggukkan wajahnya.


"Iya Pak, terimakasih atas pujiannya" jawab Ela.


Waaah selain cantik, solehah, dan pintar ternyata kamu juga pintar masak. Benar - benar bidadari surgaku. Aku pasti akan sangat beruntung jika kamu menjadi istriku nanti. Batin Romi.


Romi melahap makanan yang ada di dalam piringnya sampai kandas karena hidangan sarapan pagi ini memang sangat enak sekali.


Setelah selesai sarapan pagi baik Romi, Ela dan Pak Budi bersiap untuk berangkat kekantor client Romi yang kemarin mereka temui.


Tepat jam delapan pagi Pak Budi dan Romi sudah menunggu di teras.


"Eeel cepat" teriak Pak Budi.


"Biar saja Pak masih banyak waktu kok. Biasa wanita.. harus dandan biar cantik" sambut Romi.


Tak lama Ela keluar dari kamarnya lengkap dengan pakaian kerja. Pagi ini a memakai baju kemeja biru dipadu dengan celana kain warna navy dan jilbab senada membuat Romi sulit sekali menyembunyikan tatapan matanya yang ingin terus menatap kearah Ela.


"Yuk Pak aku sudah siap" ajak Ela.


.


.


BERSAMBUNG