
Romi, Ela dan Bela akhirnya pergi berbelanja mencari seserahan yang akan dibawa nanti pada saat bertemunya dua keluarga dalam rangka melamar Ela secara resmi.
Romi dan Ela duduk di depan sedangkan Bela duduk di belakang. Sepanjang jalan Romi dan Ela asik bercerita, sesekali mereka mengajak Bela ikut serta dan bercanda tapi ternyata Bela tidak menyambutnya.
Bela terlihat murung dan lebih pendiam dari biasanya. Membuat Romi dan Ela saling lirik.
"Bela kenapa?" bisik Romi pada Ela.
Ela mengangkat kedua bahunya yang mengartikan kalau dia tidak tau apa yang terjadi dengan sahabatnya saat ini.
"Mungkin lagi galau kali Mas" jawab Ela pelan.
"Ehm... Bel" panggil Romi.
Bela sedang melamun menatap keluar jendela mobil. Dia tidak mendengar panggilan Romi untuknya.
"Belaaaa" Panggil Romi lagi. Kali ini suara Romi lebih kuat sehingga membuat Bela terkejut.
"Eh iya Mas" jawab Bela.
"Kamu melamun?" tanya Romi.
"Ha.. ah enggak. Aku cuma sedang memikirkan sesuatu" jawab Bela salah tingkah.
"Mikirin Aril?" goda Romi.
"Ha...? ah nggak kok. Ngapain juga mikirin Mas Aril. Dia kan lagi kerja dan aku sedang menikmati cuti panjangku" ucap Bela.
"Menikmati kok malah melamun Bel. Kamu cuti bukan untuk melamun terus. Dari tadi kamu gak fokus diajak bicara. Ada masalah Bel?" tanya Romi.
"Ng.. gak ada Mas" jawab Bela cepat.
"Ya siapa tau aja kamu lagi ada masalah sama Aril sampai harus ambil cuti seminggu penuh untuk menghindarinya" ujar Romi.
"Gak ada Mas. Aku gak ada masalah dengan Mas Aril. Hubungan kami baik - baik saja sebagai Bos dan sekretarisnya" jawab Bela.
"Ya siapa tau ada masalah dengan hubungan kalian sebagai seorang pria dan wanita" sambung Romi.
"Ti.. tidak Mas. Tidak ada masalah" elak Bela.
"Kalau kamu butuh bantuan jangan sungkan padaku Bel, katakan aja. Mungkin aku bisa kasih bantuan, solusi atau mungkin aku bisa beri peringatan kepada Aril. Agar dia tidak terlalu keras dan rewel kepada kamu sebagai Bos. Sehingga membuat kamu tertekan bahkan saat cuti seperti ini. Harusnya kamu sekarang bersenang - senang Bel menikmati hari libur kamu. Apalagi sekarang lagi di kampung halaman kamu. Biasanya pasti kan lebih semangat lagi" ungkap Romi.
Bela tampak sedang menarik nafas dengan berat.
"Iya Mas, sungguh tidak ada masalah apa - apa. Apalagi dengan Mas Aril, gak ada" balas Bela.
"Ya sudah kalau begitu. Syukurlah kalau tidak ada masalah. Tapi kalau memang benar ada, jangan sungkan untuk cerita pada kami ya Bel. Mas ini kan sahabat kakak kamu. Kamu juga sahabat Ela yang sebentar lagi akan jadi istri Mas. Aku harap kami bisa membantu kalau kamu dalam masalah, apalagi yang berat. Kamu harus mengatakannya kepada kami" desak Romi.
"Iya Mas, beneran. Aku sedang tidak ada masalah pada siapapun juga" jawab Bela sungkan.
Ela melirik ke belakang ketempat duduk Bela. Tampak Bela kembali menatap keluar jendela mobil.
Akhirnya mereka sampai di Mall yang terbesar di Kota Surabaya. Mereka bertiga jalan mengelilingi Mall tersebut. mencari apa yang dibutuhkan dalam acara lamaran nanti.
"Kamu mau cari cincin nikah kita di sini?" tanya Romi.
"Ih Mas Romi. Belum juga di tetapkan kapan kita nikahnya" sambut Ela malu.
"Ya nggak apa - apa donk, kita siapkan dari sekarang" ujar Romi.
"Nanti aja deh. Yang penting kita harus dulu kan apa - apa saja yang diperlukan dalam acara nanti" balas Ela.
Bela melirik ke arah calon pasangan baru yang sebentara lagi akan mengadakan proses lamaran.
Jujur dalam hati Bela, sangat iri melihat Romi dan Ela yang sedang membicarakan masa depan mereka bersama. Lagi - lagi Bela menyesali keputusannya dulu yang telah menolak lamaran Aril.
Coba kalau saja dulu aku terima lamaran Mas Aril, pasti aku yang duluan nikah dari Dini dan Ela. Batin Bela kesal pada diri sendiri.
Bela duduk di dekat pintu masuk sebuah butik tempat Ela memilih beberapa baju untuk dia pakai saat acara lamaran dan dibawa untuk salah satu seserahan. Dia menyaksikan Romi dan Ela yang sibuk memilih apa yang mereka butuhkan.
Seketika pandangan Bela jadi berubah dan membayangkan kalau dia dan Aril lah yang sedang berada di butik ini.
"Mas aku mau gaun yang itu" pinta Bela.
"Boleh, semua juga boleh. Bila perlu aku beli semua isi butik ini" jawab Aril.
Bela tersenyum senang karena Aril mengabulkan semua permintaannya.
"Bel... " panggil Ela.
Tiba - tiba lamunan Bela hilang seketika saat Ela memanggilnya.
"Bel.. Belaaa" panggil Ela lagi.
"Eh iya El" jawab Bela tersadar.
"Sorry.. sorry... " ucap Bela.
"Bel, cakepan yang mana nih gaunnya?" Ela meminta pendapat Bela.
"Mmm.. gaun yang ada di tangan kanan kamu" jawab Bela setelah melihat pilihan yang diberikan Ela.
"Tuh kan Mas benar apa yang aku bilang. Bela juga berpikiran sama" ucap Ela kepada Romi.
Romi menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Terserah kamu aja deh El, aku tinggal bayar aja. Pilih semua yang kamu mau" ucap Romi.
Ela tersenyum manis kepada Romi.
"Terimakasih Mas" jawab Ela.
Bela kembali dalam lamunannya.
"Kamu cantik banget pakai gaun ini" ujar Aril.
"Makasih Mas" jawab Bela tanpa sadar.
"Makasih atas apa Bel?" tanya Romi.
Ela juga terkejut tiba - tiba Bela ngomong sendiri dan gak tau dengan siapa dia berbicara.
"Eh... gak ada Mas" jawab Bela.
Bela menarik nafas panjang. Sedangkan Romi dan Ela saling pandang dan menggelengkan kepala mereka.
Diam - diam Romi meraih ponselnya dan mengambil foto Bela yang sedang duduk sambil melamun di atas sofa butik tempat mereka mencari gaun untuk Ela.
Tentu saja Bela tidak tau aksi Romi itu. Setelah mendapatkan beberapa foto Bela, Romi segera mengirimkan foto itu ke nomor Aril.
Romi
Sekretaris kamu dari tadi melamun mulu. Mana wajahnya sendu gitu kayak baru kehilangan sesuatu.
Romi membuat pesan dibawah foto Bela yang sedang melamun.
Tak lama ponsel Romi bergetar tanda pesan masuk.
Aril
Kenapa dia bisa sesendu itu? Apa ada orang yang sudah menyakitinya? Siapa?
Romi tersenyum membaca pesan sahabatnya itu.
Romi
Kamu lah pelakunya 😝
Aril
Kok aku? 😦
Romi
Sepertinya ilmu kamu sudah tumpul. Apa perlu aku asah lagi biar indra kamu tajam lagi? Bela itu galau gara - gara kamu.
Aril
Serius? 🤔🤔
Romi
Bodoh kok dipelihara. Untung kamu sahabat aku.. Hati - hati bro.. sepupu Riko datang lho ke acara lamaran aku dan Ela. Kamu mau Bela di samber pemuda tengil itu?
Romi menunggu beberapa saat tapi ponselnya tak bergetar lagi. Akhirnya Romi tersenyum lebar dan sudah bisa menduga apa yang akan terjadi.
"Dasar Aril bodoh" umpat Romi sambil tersenyum.
.
.
BERSAMBUNG
Minal Aidin Walfaidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 H bagi para readers yang merayakannya.
Maaf ya kalau novel ini slow respon, dikarenakan keadaan aku yang sedang mudik lebaran dan banyak kegiatan yang lain. Sebisa mungkin aku akan update terus tapi apa daya terkadang ilham datang dan pergi begitu saja.
Terimakasih yang sudah setia membaca novel ini. Semoga pembacanya bisa lebih banyak dari Novel Pernikahan ke 2 ya 😍😍😍